KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
Ketahuan ?


__ADS_3

Mobil hitam milik Alexi memasuki kediamannya, setelah pamit pada Miss. Bell dan lainnya dari rumah sakit Alexi memutuskan untuk pulang, belakangan ini ia sangat sibuk dan jarang tidur. Perdebatan dengan Elio tadi membuatnya tak habis pikir, apa yang dia pikirkan hingga melayangkan pertanyaan curiga seperti itu ?, akhirnya ia memberikan jawaban asal dan pastinya akan berdampak ke depannya.


" Hahh"


Alexi turun dari mobilnya dan berjalan santai menuju pintu rumahnya, Setelah terbuka ia menatap rumah yang gelap dan luas itu, sangat sepi dan terasa dingin. Seperti biasa tidak ada kehangatan disana. Alexi mengabaikannya.


Ia masuk melepas sepatunya, menggantung kunci mobil di box gantungan samping pintu dan langsung menuju lantai 2 untuk istirahat. melihat kasur, ia pun merebahkan tubuhnya dengan bebas dan menutup matanya sejenak, namun rupanya ia merasa gerah dan memutuskan untuk mandi.


Alexi melepas kemejanya, melemparkannya di sofa dan langsung menuju shower, ia menekan tombol on dan membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya. Air hangat membuatnya merasa rileks dan menenangkan pikirannya. Ia memejamkan mata menikmati kenikmatan air yang mengguyur tubuhnya.


Hari ini cukup panjang dengan berbagai macam kejadian yang tidak terpikirkan. Kejadian tadi terbesit lagi di kepalanya, Terutama ketika Azkia yang tiba- tiba menggenggam kemejanya.


" Hah ~ " kali ini ia banyak menghela nafas, entah itu karena lelah maupun lega.


Ting tong,.....3x


Suara bel berbunyi.


' Siapa yang malam- malam begini datang kemari ? ' pikirnya.


Ting tong..., suara bel kembali berbunyi, Alexi pun menyudahi mandinya, memakai baju dan buru-buru kebawah membuka pintu.


Alexi membuka pintu dan melihat adik bungsu kesayangannya berdiri di sana, dengan menggunakan baju tidur favoritnya.


" Ka' apa benar yang terjadi pada Elio ? " ucapnya dengan wajah khawatir tanpa bertanya kabar Alexi terlebih dahulu, ia pun belum masuk dan langsung bertanya tentang lelaki lain dihadapan kakaknya?, Alexi memijit keningnya yang terasa berdenyut, ia seketika pusing lagi dibuatnya. Ia tak menyangka bahwa hal ini akan menganggu moodnya.


" Bisakah kau masuk dulu?, diluar sangatlah dingin " ucap Alexi meninggalkan adiknya didepan pintu tanpa menunggunya dan masuk terlebih dahulu sambil mengeringkan rambutnya yang masi basah.


Aqela pun masuk mengikuti Alexi yang sedang berjalan menuju sofa lalu mendesaknya untuk menjawab pertanyaannya sebelumnya.


" Jawab pertanyaanku ka' !" desaknya dengan nada kekhawatiran disana.


" Dia baik- baik saja, kenap kau sangat heboh", tanya Alexi mengernyitkan alisnya.


" Huff... Heh, tidak bisakah kau melihat bahwa aku tertarik padanya ? " jawabnya tanpa malu.


Alexi menjitak kepala Aqela dengan cukup keras, bukannya ia tidak menyukai kepribadian Elio, namun sobatnya itu tidak dapat ditebak, sejauh ini dia hanya bermain-main saja dengan gadis atau wanita yang dia temui, dan lagi usia mereka cukup jauh, mengingat itu Alexi enggan untuk mendukung perasaan adiknya itu.


"Akhh.." jeritnya kecil sambil memegang kepalanya yang terasa sakit, kali ini beneran sakit.


" Buang jauh-jauh pikiran itu, jika tak ingin sakit hati " ucapnya mengingatkan.

__ADS_1


" Tidak bisakah kau mendukungku sekali saja ? " pinta Aqela memeluk lututnya dan menunduk dalam.


" Aku tidak akan bermurah hati, dan kau, pastikan untuk mengingatnya " tatapnya pada Aqela.


" Akh... Aku ingin tidur saja, malam ini aku akan menginap" Aqela bangun dari sofa, ia kesal dengan perilaku kakaknya, namun dia lega, bahwa semuanya baik-baik saja, masih merasa kesal, ia pun melihat kembali Alexi dengan wajah cemberutnya yang cukup imut.


" Kau sangat kaku dan tidak menyenangkan ka' " ucap Aqela menjulurkan lidahnya mengejek, sambil berjalan menuju lantai 2 dan akhirnya meninggalkan Alexi sendirian disana.


Alexi merebahkan kepalanya dan membiarkan handuk lembab itu menutup separuh wajahnya hingga menutup mata dan sebagian hidungnya. Membahas mengenai Elio membuatnya teringat kembali dengan Azkia. Bukannya ini sangat menganggu ?


...****************...


" Kau harus rajin makan dan lekas sehat Miss. Bell, kau tahu ? pelanggan setia rotimu pasti sudah menunggu untuk merasakannya kembali " celoteh Gisel sambil mengupas buah apel ditangannya.


" Hahaha.... Kau sangat cerewet hari ini Gisel, ini menyadarkan ku bahwa aku kembali hidup " ucap Miss. Bell dengan tawa.


Gisel menghentikan aktifitas nya sambil menatap tajam sedikit kesal dengan candaan Miss. Bell yang tidak lucu.


" Miss. Bell, kau tidak di izinkan berbicara seperti itu, kau tahu kami semua cemas padamu beberapa hari belakangan ini, tidakkah kau lihat paman Ben dan Jen sangat kurusan ? Kau sangat keterlaluan " ucap Gisel kesal sambil melanjutkan pengupasan buahnya.


" A.aaa...sepertinya aku membuatmu kesal " ucap Miss. Bell kemudian.


" Kau harus menebusnya Miss. Bell " kata Gisel sambil menyodorkan piring berisi buah apel yang telah dikupasnya pada Miss. Bell.


" Kalian datang ? Bukannya kalian punya kesibukan lain ? "


" Kami baru saja datang dan itu yang kau katakan ? Aku merasa kau tak senang dengan kehadiran kami " ucap paman Ben.


" Kau tahu bukan itu maksudku bukan " Miss. Bell menanggapinya dengan nada menggoda canda.


" Tapi ada apa dengan wajahmu Gisel ? "


" Aku kesal kali ini " ucap Gisel sambil melirik pada Miss. Bell.


" Oohhh... Kau tahu aku hanya bercanda sayang " ucap Miss. Bell.


Paman Jen tersenyum melihat suasana menyenangkan seperti biasanya. Paman Ben mendekati Gisel dan mengacak-acak rambut gadis itu.


" Paman " kesal Gisel mencoba menepis tangan paman Ben.


" Apa yang kau lakukan pada orang sakit bocah "

__ADS_1


" Hentikan paman~, rambutku akan lepek kembali " keluh Gisel.


" Hentikan kalian berdua, Miss. Bell akan terganggu nantinya " ucap paman Jen mengingatkan.


Mendengar ucapan paman Jen membuat ke 2 nya menghentikan pertikaian kecil menyenangkan paman Ben. Sangat seru membuat Gisel kesal seperti itu.


" Tapi di mana Azkia ? , aku tidak melihatnya pagi ini " tanya Miss. Bell.


Gisel kaget, menatap paman Ben dan juga paman Jen yang saling pandang.


" Aa..hhh..dia sedang keluar sebentar "


" Mmm..."


Pintu ruangan Miss. Bell terbuka kembali, disana terlihat Elio dengan wajahnya yang serius sedang menatap pada setiap orang yang berada dalam ruangan. Ia menatap Gisel yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya ?. Saat ini ia tidak menemukan Azkia disana. Ia sangat ingin menemukan sosok itu , namun tidak didapatinya.


Elio berjalan menuju Gisel yang sedang duduk di sofa, mendapati Elio menatapnya dengan tatapan dingin yang tidak biasa, Gisel menjadi takut tanpa sebab. Paman Jen mendekatinya dan menegurnya .


" El, apa yang sedang kau perbuat ? Gisel tidak nyaman karena mu ! "


" Mana Azkia ? " tanyanya dengan nada dingin.


Gisel terdiam menatap wajah ke 2 pamannya meminta bantuan. Ia tidak akan bisa berbohong kali ini, pastinya Ka' El akan tahu jika selama ini dibohongi.


" Hei, berbicaralah dengan lembut El " ucap Miss. Bell mencoba meredam suasana yang seakan menusuk. Namun Elio tidak terpengaruh oleh hal itu.


Paman Ben pun maju mendekat dan menepuk pundak Elio pelan.


" Tenanglah dan mari kita duduk dulu "


" Paman, siapa yang membayar biaya perawatan Miss. Bell bulan ini ? apa paman ? " tanya Elio melirik paman Ben disampingnya.


" Oohh.. Soal itu ? "


" Paman ? Sebaiknya kau tidak membuatku menunggu untuk pertanyaan kecil semacam ini " ucap Elio Sinis.


Mendengar nada suara Elio yang seperti itu menyulut emosi dan rasa tidak suka paman Ben yang memang lebih emosian dibanding paman lainnya.


" Heii... Bukannya nada itu sangat tidak sopan anak muda ? " ucap paman Ben kesal.


Menyadari suasana yang tidak menyenangkan ini membuat paman Jen maju dan mengingatkan mereka bahwa ini rumah sakit dan juga ruangan pasien.

__ADS_1


" Kalian berdua keluar, bicarakan dengan baik-baik, kau tidak melihat bahwa Miss. Bell sedang membutuhkan istirahat ? "


Keduanya pun terdiam dalam gejolak rasa yang tidak menyenangkan.


__ADS_2