KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
aku menyesal


__ADS_3

Dari kejauhan Azkia melihat Elio yang sedang duduk didepan ruang perawatan miss. Bell dengan tertunduk. Tangannya terkatup, Azkia tidak dapat menilai expresi wajah maupun pandangan matanya.


'Apa dia pusing ? Ada masalah ? ' tanya Azkia pada diri sendiri.


Ia pun menegaskan langkahnya bergegas menuju Elio, Elio mendengar suara langkah kaki yang mendekat padanya dan menoleh ke arah Azkia. Azkia melihatnya dan memberikan senyum manis seperti biasanya, namun Elio memejamkan matanya dan memijit kepalanya yang rasanya semakin sakit sedari tadi.


" El, apa kau baik-baik saja " ucap Azkia bergegas menuju Elio, ia meletakkan tangannya pada kening Elio dan memeriksa suhu tubuhnya dan membandingkannya dengan dirinya.


" Tidak ada yang berbeda, apa kau pusing ? " ucapnya lagi sambil meraih tangan Elio yang memijit jidatnya. Elio menepis ringan tangan Azkia dan menatapnya penuh kecewa.


Sadar akan pandangan Elio yang tidak biasa membuat Azkia bertanya-tanya, apa arti dari tatapan itu !


" Haahh....kau " ucap Alexi sambil menghindari Azkia dan memunggunginya.


Azkia bingung dengan keadaan yang terjadi sekarang, Elio rasanya sangat marah saat ini, ia sedang menahan amarahnya.


Elio mencoba menenangkan hatinya dan mengatur moodnya, ia kembali menatap Azkia yang kini dian menatap handphone ditangannya.


' Handphone ? ' pikirnya.


" Apa aku berbuat salah ? " tanya Azkia melirik Elio. Saat ini ia merasa cukup bersalah, Elio sangat jarang berperilaku seperti ini.


Elio melangkah mendekat pada Azkia dan berhenti tepat didepannya. Elio memberikan secarik kertas pada Azkia, Azkia pun mengambilnya, merapikan kertas yang kusut itu dan membacanya.


' Pelunasan perawatan '


Itu tertera disana, dan nama pelunasannya tertulis jelas disana. Rasa bersalah menyelimuti Azkia setelah mengetahui sebab dari kekecewaan Elio.


" El, dengarkan " ucap Azkia menatap Elio. Ia harus menjelaskan semuanya pada Elio meskipun ia akan dimarahi nantinya. Saat ini percuma saja berbohong pada Elio, ia pasti akan lebih sedih jika Azkia menyembunyikan sesuatu yang lain.


" Kau... Mendapat uang dari mana ? " tanya Elio menatap Azkia. Ia mencoba bersabar dengan jawaban yang akan diberikan Azkia.


'Akh', Azkia merasakan kakinya kram saat ini, kakinya pasti kelelahan akibat banyaknya pelanggan tadi, dan lagi saat ini situasinya membuatnya gugup.


" El, bisakah kita duduk dulu ? " pinta Azkia, ia sangat lelah berdiri ditengah ketegangan seperti ini.


Alasan yang diutarakan Azkia padanya membuatnya kembali berburuk sangka, segigih itukah Azkia menyembunyikannya dari Elio ?


Saat ini Elio sadar bahwa mereka bukanlah keluarga sesungguhnya, bahkan bisa dikatakan orang lain, tapi rasa kepeduliannya pada Azkia lebih besar dan ia tidak dapat mengabaikan hal apa saja yang dilalui gadis kecilnya itu. Rasa akan ketidak pedulian Azkia membuat Elio sadar bahwa mereka tidak memiliki ikatan lain selain persahabatan membuatnya memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur dan hendak pergi menenangkan dirinya. Elio harus perga saat ini untuk meredam amarah yang sulit ditanganinya ini.

__ADS_1


" Jika kau tidak ingin mengatakannya, itu tidak masalah, aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi " ucap Elio berjalan melewati Azkia.


Azkia terkejut dengan expresi dingin Elio padanya, hatinya berkata bahwa ia harus menghentikan Elio dan menjelaskan maksud dari tindakannya ini, Azkia meraih tangan Elio sebelum ia pergi lebih jauh lagi.


Paman Ben mendengarkan mereka dari balik pintu ruang perawatan miss. Bell, ia mengantisipasi jika keadaan tidak dapat terkontrol dan menyebabkan kekacauan dirumah sakit dan malah memperburuk kondisi miss. Bell. Mendengar percakapan mereka berdua membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Paman Ben berharap bahwa Elio dapat meredam amarahnya. Sementara itu paman Jen dan Gisel sedang berada di samping pembaringan Miss. Bell sambil mengobrol santai, ia harap masalah mereka tidak berkepanjangan.


Azkia masih menggenggam tangan Elio, Elio terhenti, ia melihat tangan Azkia yang menahan lengannya. Ingin rasanya dihempaskan nya tangan kecil Azkia dan membiarkannya menyesali perbuatannya.


" Apa yang membuatmu begitu marah sampai meninggalkanku tanpa mendengarkanku dahulu ? " ucap Azkia dengan suara bergetar, ia pasti akan menangis sebentar lagi. Lengan yang digenggamnya ini sangat besar dari jari tangannya yang kecil, jika Elio tetap menjauh tanpa melepasnya, maka ia pasti akan jatuh.


" Aku bekerja di bar " ucap Azkia jujur sambil memejamkan mata, ia tidak akan sanggup menatap wajah Elio saat ini. Mendengar jawaban Azkia justru tidak membuat Elio membaik, emosinya kembali dan ia sangat berusaha menahan diri untuk tidak membentak Azkia sekarang juga.


' BAR ? '


Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya, pekerjaan pertamanya di kota ? tangannya mengepal menahan gejolak amarah yang tersembunyi dibalik saku celananya. Azkia merasakan lengan Elio menegang hingga menimbulkan urat-urat pada tangannya.


" Lepas " ucap Elio pada Azkia.


Azkia menggeleng, matanya memerah menahan air mata yang akan jatuh. Elio yang ingin cepat pergi pun menarik tangannya dan membiarkan Azkia terisak menatapnya dari jauh.


...****************...


Saat masuk ia menatap paman Ben yang telah berdiri disampingnya, tepatnya disamping pintu, ia tahu bahwa paman Ben tahu dengan situasinya. Menatap wajah paman Ben membuat Azkia kembali mengingat Elio dan akhirnya tidak dapat menahan air matanya.


" Pammann..." ucap Azkia mulai sesegukan, ia sekuat tenaga menahan air mata dan rasa bersalahnya.


Paman Ben mendekatinya dan memberikannya pelukan hangat menenangkan.


" Tenang, ini pasti akan segera berlalu, bukannya kalian sering bertengkar ? " ucap paman Ben menenangkan.


Miss. Bell, paman Jen dan Gisel turut prihatin dengan keadaan Azkia, Miss. Bell sangat merasa bersalah saat ini, bukannya mereka seperti ini karenanya ?.


Azkia kemudian mengusap air matanya dan menatap seisi ruangan. pandangannya tertuju pada Miss. Bell dan ia tersenyum.


" ini bukan karena mu miss Bell. Aku akan jujur saat ini "


Azkia pun mendekat pada Miss. Bell dan menceritakan pekerjaan yang sebenarnya dia lakukan selama beberapa bulan ini. Sesekali miss. Bell menutup mulutnya karena tidak percaya dengan keputusan yang diambil Azkia. Azkia juga menceritakan kejadian yang menyebabkannya libur beberapa hari lalu dan menunjukkan lukanya yang belum kering. Paman Ben dan Jen sedikit memarahi Azkia setelah mendengarkannya. Gisel menangis dan memeluk Azkia menguatkannya.


" tentu saja Elio sangat marah " ucap Miss. Bell.

__ADS_1


" Tidak ingatkah kau saat menjual roti di sekolahmu saat itu ?, ia bahkan memberimu uang jajan yang lebih dari cukup setelah itu dan memarahi mu untuk menjual lagi, ia pasti merasa sangat tidak bisa diandalkan dan sangat kecewa denganmu kia, saat itu ia bahkan mengusulkan untuk membuatku berhenti bekerja membuka toko" ucap Miss. Bell membelai rambutnya.


Mengingat momen itu membuat Azkia menyadari betapa seriusnya masalah kali ini, dan lagi ia bekerja tanpa sepengetahuan dan bahkan membohonginya.


" Ah... Aku sangat keterlaluan saat ini " ucap Azkia menyesal.


Wajah Elio yang melewatinya tadi dengan dinginnya kembali menghantui Azkia.


" Kali ini apa Elio akan memaafkanku ? " tanya Azkia pada diri sendiri disela tangisnya.


" Dia pasti akan melakukannya, ia sangat memperdulikan mu " jawab Miss. Bell menenangkan Azkia.


" Aku ingin meminta maaf " ucap Azkia sangat.


Gisel menepuk pundak Azkia halus, jika ia sedikit saja memiliki rasa keberanian, ia pasti akan mengejar ka' Elio dan menjelaskan padanya. Jika mengetahui bahwa Azkia terluka, ia pasti akan sangat khawatir dan langsung memaafkan Azkia, pikirnya. Namun ia tidak memiliki keberanian itu, lagi pula dia tidak tahu dimana ka' Elio berada saat ini.


Sreeettt..


Pintu ruangan miss. Bell kembali terbuka. Gisel segera menoleh, ingin memastikan.


' Dia kembali ? '


Namun itu bukanlah ia, melainkan sosok pria berjas hitam yang berdiri di sana sambil menenteng kresek berwarna pink. Azkia menoleh, ia berharap itu adalah Elio yang kembali, namun ternyata salah.


Pria itu menatap Azkia penuh tanya, ia melihat Azkia menangis lagi, apa dia mungkin sedang terharu ? Namun sepertinya tidak. Pikirnya.


" Permisi " ucapnya mengucap salam pada seisi ruangan. kedua paman melambai dan tersenyum singkat padanya. Azkia yang melihatnya saat ini pasti bingung dengan kehadirannya, ia pun mengangkat kresek pink itu, ini adalah barangnya yang ketinggalan dan ia memutuskan untuk mengantarnya kembali.


Azkia berjalan kearahnya, ia juga tersenyum pada miss. Bell dan kembali melihat Azkia yang datang mendekat.


" Hei, apa yang terjadi ? " tanyanya pada Azkia yang nampak sakit dalam kesedihan.


Tidak ada jawaban darinya, Azkia hanya diam sambil sesekali segukan, langkahnya semakin dekat, jarak Azkia pun semakin dekat, setelah berhadapan, Azkia menyandarkan kepalanya di dada Alexi yang terdiam dengan masi menggenggam kresek plastik milik wanita di depan nya ini.


" El,.. Elio sudah mengetahuinya" ucap Azkia sesegukan.


Alexi mengelus rambut Azkia dan menenangkannya.


" Semua akan baik-baik saja Azkia, tenanglah " ucap Alexi menenangkan.

__ADS_1


__ADS_2