KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
Akan baik-baik saja


__ADS_3

Melihat Azkia yang cukup nyaman bersamanya, Alexi sepertinya berhasil menenangkannya kali ini. di perjalanan menuju rumah sakit, Azkia menceritakan pengalamannya bekerja hampir sebulan ini.


Selama ini Alexi mengira bahwa Azkia adalah sosok yang pendiam dan menutup diri, namun setelah mengobrol dan membuka diri seperti ini, ia cukup aktif dan riang. Sangat disayangkan ia banyak mengalami kejadian sulit belakangan ini. Jika mengingat apa yang selama ini di deritanya, ingin rasanya Alexi memberikan apa saja padanya.


Sebenarnya Alexi cukup merasa bersalah pada Azkia, hampir setiap hari ia memperhatikan Azkia setelah mengetahui bahwa gadis ini bekerja disana. Tentunya ia melihatnya dari jauh, ia juga beberapa kali masuk menjadi pelanggan hanya untuk melihat aktifitas Azkia di sana. Untunglah selama ini Azkia tidak menyadari dirinya, tentu saja Alexi mengubah sedikit penampilannya dengan menggunakan jaket hitam berbulu dan topi yang dibelinya secara asal di toko terdekat. Memikirkan perjuangannya dan usahanya selama ini, bukannya dia adalah teman yang baik ? El harus berterima kasih tentang ini, pikirnya.


Berbicara mengenai Elio, Beberapa hari ini ia membohongi kawannya itu, ia beralasan bahwa ia harus memajukan jadwal pulangnya karna tugas yang di berikan ayahnya padanya. Alexi merasa bersalah juga padanya, saat ini ia bisa membayangkan Elio yang masih bergelut di depan laptop dan kertas-kertas didepannya. Namun ia malah mengawasi Azkia ditempat yang tidak terlihat tanpa disadari gadis itu.


Kejadian barusan yang menimpanya menyadarkan Alexi bahwa ia harus memasang beberapa lampu di sana. Jalanan itu sangat gelap untuk dilalui orang-orang, untuk seorang gadis itu lebih berbahaya, hah apa yang dilakukan penjaga keamanan disana ? keluhnya membatin.


" Kau takut gelap ? " spontan pertanyaan itu keluar dari bibir Alexi.


" Ya, bukankah itu memalukan ? " ucapnya tertawa kecil.


" sama sekali tidak, apa yang harus membuatmu malu ? "


" Aku sudah sebesar ini dan penakut "


" itu sangat wajar, tidak semua orang dapat mengerti ketakutan apa yang kita rasakan, cukup kau mengerti bahwa ada seseorang yang akan selalu menerimamu "


" Haha.. baru kali ini aku mendengar mu berkata-kata panjang seperti itu "


" Apa setidak cocok itu " ucap Alexi yang fokus dengan setirannya.


" Tidak, hanya saja ternyata kau orang yang cukup menyenangkan "


Senyum terukir di bibir Alexi, tidak ada sesuatu hal yang memungkinkannya untuk tersenyum, namun setelah mendengar ucapan Azkia, itu terasa tidak buruk.


Mobil memasuki kawasan rumah sakit, Azkia bersiap untuk keluar dari mobil dan bergegas naik ke ruang Miss. Bell.


" Kau tidak ikut ? " tanya Azkia pada Alexi.


Alexi menggeleng. " Aku punya urusan, lain kali aku akan datang bersama Elio "


" Ah, baik kalau begitu, terima kasih sudah mengantarku "


" Ya "


...****************...


" Dimana Azkia ? "

__ADS_1


" Ah, hem, dia keluar membeli sesuatu di toko depan rumah sakit " jawab Gisel sambil menatap jam dinding di belakang Elio dengan resah. Ia terkejut dengan kedatangan Elio yang lebih cepat dari biasanya. Azkia pun belum tiba, situasi ini membuat Gisel gugup saking kagetnya.


Elio berjalan menghampiri Miss. Bell melewati Gisel, Gisel menahan nafasnya gugup, mengira bahwa Elio mengetahui alasan asalnya. Gadis itu berharap bahwa Azkia akan cepat datang.


" Bagaimana keadaanmu Miss. Bell ? " ucapnya tersenyum hangat menatap wajah Miss. Bell yang kian hari bertambah kurus.


" Lekaslah sehat, aku merindukan ocehan mu, ah dan juga roti buatanmu " ucap Elio tersenyum kecil. Selama ini wanita ini pasti akan memarahinya jika Elio terlalu sibuk dan tidak memakan roti yang biasa di siapkannya untuknya. Ia tidak akan segan-segan menjitak kepala Elio dan mengomelinya.


Elio melihat jam tangannya, 20 menit berlalu sejak ia sampai, tapi Azkia belum juga tiba. Elio mulai gelisah mengingatnya.


" Gisel, apa Azkia sudah lama perginya ? "


" Ya ?, oh tidak, sepertinya 5 menit setelah kau sampai disini "


" Hem.. bukankah sudah cukup lama ? apa aku harus menyusulnya ? "


" Tidak perlu, sepertinya itu tidak perlu, sebentar lagi dia pasti akan datang " cegahnya berusaha.


" Baik, kita tunggu 5 menit lagi "


Gisel yang kian resah tanpa sadar menggigit ringan tangannya, kebiasaan ini merupakan kebiasaannya jika ia khawatir dan panik.


Untunglah sebelum 5 menit berlalu pintu terbuka dan Azkia terlihat disana, Gisel yang lega akhirnya dapat duduk lega dan menyandarkan tubuhnya di sofa dengan tenang tanpa tegang. Azkia bertanya pada Gisel dengan kode yang hanya mereka berdua saya yang memahami.


" Kau sudah sampai ? dari mana saja ? "


" Dari depan, aku membeli sesuatu tadi ", jawabnya yang entah mengapa itu sejalan dengan alasan asal Gisel. Mendengar hal itu Gisel menghela nafas lega sekali lagi. dan memberikan isyarat jempol pada Azkia. Bukanya mereka sangat baik dalam hal ini ?


" Mana belanjaan mu ? "


" Ahh, aku memakannya di jalan, aku membeli es crime kesukaanku dan aku sudah menaruhnya di sini " ucap Azkia menepuk perutnya dengan canda.


Elio terlihat mengangguk mengerti dan kembali melihat dan membetulkan selimut Miss. Bell. Azkia mendekatinya dan menyandarkan kepalanya di lengan Elio.


" Bukankah ini sudah 1 bulan lamanya ? "


" Mmm... "


" Apa dia akan baik- baik saja ? "


Elio terdiam sejenak, ia menenangkannya sambil mengelus rambut Azkia lembut.

__ADS_1


" Tentu saja, jangan terlalu khawatir "


" Mmm "


Gisel memperhatikan mereka dalam diam, matanya mulai berkaca-kaca, ia belum memberitahukan mengenai kondisi Miss. Bell pada Azkia dan Elio.


2 jam yang lalu Dokter memeriksa keadaan Miss. Bell dan memberitahukan keadaan dan kondisinya sekarang ini, semua perawatan yang telah dijalani tidak menampakkan adanya kemajuan, respon maupun gerakan kecil tidak diperlihatkan Miss. Bell selama ini. Jika 1 minggu kedepan masihlah sama, Dokter mengatakan diagnosa terburuk bahwa Miss. Bell mengalami brain death yang berarti mati otak, hingga menyebabkannya kritis dan tidak sadarkan diri. Bagaimana caranya memberitahukan hal ini pada mereka ?


" Oh ya, apa ini ? " tanya Elio melihat telapak tangan Azkia terluka.


Menyadari hal itu, Azkia menarik tangannya. " Aku sempat jatuh tadi ", ucapnya bohong, syukurlah Elio tidak terlihat curiga dan mengabaikan luka ringannya itu.


" Mmm...Kau harus hati -hati, kau bukan lagi anak kecil Azkia "


" Ya baik, Oh ya Gisel "


Azkia berbalik, mendekati Gisel yang sedang memperbaiki suasana hatinya dan buru-buru menyeka matanya yang sedikit berair.


" Heeiii.. apa ini ? kau menangis lagi ? "


" Tidak, aku hanya kesepian saja beberapa hari ini ".


Azkia menyubit ringan tangan Gisel, sambil memperhatikan Elio yang telah duduk tidak jauh dari ranjang Miss. Bell sambil bergelut dengan handphonenya.


" Huss.... jangan keceplosan sel " bisiknya.


" Sorry ", sesalnya.


" Kau sudah makan ? " tanya Azkia.


" Tanang saja, paman Jen tadi datang membawakan ku sesuatu, tapi dia dengan cepatnya pamit pergi dengan tergesa setelah menerima panggilan "


" Hng ? " panggilan sepenting apakah itu ? pikir Azkia.


" Ah, baiklah yang penting kau tidaklah kelaparan, maaf aku telat "


" Ok, apa hatimu menyenangkan ? " tanya Gisel.


Azkia mengingat lagi kejadian menakutkan tadi, namun ia juga mengingat kembali pembicaraan yang cukup asyik dengan Alexi, hal itu membuatnya senang dan tersenyum.


" Hem, cukup menyenangkan "

__ADS_1


__ADS_2