KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
Akhirnya


__ADS_3

Perban ditangannya adalah masalah yang harus di sembunyikan Azkia dari Elio dan tentunya oleh ke 2 pamannya juga. Jika ini terjadi mereka pasti akan menyuruhnya berhenti dan akan mengomelinya. Selama ini Azkia tidak pernah mendapatkan luka serius seperti terkena pecahan botol atau pun lainnya, ia baru menyadarinya setelah terluka. Bukankah selama ini dia sangat beruntung ?


" Hah " ia menghela napas berat memikirkan alasan apalagi yang akan diberikannya pada mereka semua.


Hari ini Azkia pulang cukup awal, diruang ganti tadi Betty menangis meminta maaf pada Azkia dengan tangan memohon didadanya sambil kemudian berlutut, tangisan gadis manis itu cukup lama, hingga teman-teman karyawan lainnya cukup kelelahan menenangkannya. Azkia pun mengatakan bahwa dia baik-baik saja, tapi setelah Betty melihat lengan Azkia yang diperban, membuatnya mewek dan hanyut dalam kesedihan dan penyesalannya. Ia sangat bersyukur teman karyawan lainnya membantunya untuk menenangkan Betty, jika tidak, kemungkinan ia masih berada bersama betty di ruang ganti malam ini.


" Aku kembali " ucapnya sambil membuka pintu ruang rawat Miss. Bell.


" kau pulang cepat hari ini ? " tanya Gisel sambil kembali fokus memotong apel di tangannya.


Azkia mendekatinya dan duduk berhadapan dengannya, ia tersenyum melihat temannya yang setia ini selalu ada untuknya. Selama ini mereka jarang sekali bertengkar, meskipun mereka beda beberapa tahun. Azkia lebih tua 2 tahun di bandingkan Gisel.


Azkia sedang menimbang-nimbang, apakah ia harus memberitahukan mengenai lukanya ini ? atau haruskan Azkia sembunyikan ? ia bimbang dengan keputusannya.


" Hei~ apa yang sedang kau pikirkan ? "


" Hem ? kau tahu ? "


Gisel menatap wajah Azkia sesaat, ia meletakkan pisau dan Apelnya kemudian menyentil jidat Azkia cukup keras.


" Auuu "


" Kau sangat menjengkelkan, ini aku dan bukan orang lain, apa yang tidak ku tahu tentangmu ? " ucapnya menyombongkan diri.


" Wooww, apa sejelas itu ? " Azkia takjub sesaat.


" Bibirmu, kau selalu menggigit sudut bibir kirimu saat sedang berpikir keras "


" Apa ia ? ", Azkia cukup kaget mendengar pengakuan Gisel mengenai kebiasaan yang tidak diketahuinya itu.


" Jadi ? " tanya Gisel kembali.


" Aahhh~~ "

__ADS_1


Azkia menarik lengan jaket yang digunakannya dan menunjukkannya pada Gisel. Melihat hal itu Gisel meraih tangan Azkia dan memerhatikan perban ditangannya yang terlihat cukup parah ?


" Apa ini ? " tanyanya.


" eee~ ditempat kerja tadi aku mengalami sedikit masalah"


Gisel menurunkan tangan Azkia perlahan dan menatapnya tajam penuh kesal.


" Kau ~~, apa kau tidak tahu seberapa menyeramkannya ke 2 paman itu ? dan Elio ? "


Azkia cengigiran dengan rasa bersalah.


" Ini bukanlah masalah besar jika kita merahasiakannya sel " ucap Azkia meraih tangan Gisel menghujaninya dengan senyum memohon. Melihat senyuman Azkia membuatnya bertambah marah dan kesal.


" Apa aku semudah itu ?? " ucap Gisel memalingkan wajah, belakangan ini ia sangat berbaik hati pada Azkia karena berbagai macam kejadian tidak mengenakkan menimpanya.


" Hei ~, kau tahu bukan seperti itu, aku tahu kau akan merahasiakannya, ok aku percaya padamu dan aku merindukan Miss. Bel, love you " ucapnya pada Gisel tanpa memedulikan responnya dan bergegas menghampiri Miss. Bell.


" Apa kabar Miss. Bell ?, kau harus lekas bangun ya " ucap Azkia sembari menggenggam tangannya penuh harap.


2 Bulan tak terasa sudah berlalu, beberapa hari ini akan memasuki minggu ke 11 semenjak Miss. Bell dirawat. Azkia dan semuanya sangat khawatir dengan kondisi wanita di hadapannya ini. Untunglah ruangan yang Elio pilih luas dan memiliki beberapa sofa yang cukup besar sehingga 3 atau pun 4 orang bisa menginap dan menjaga Miss. Bell.


Mata Azkia terasa berat, sepertinya belakangan ini ia cukup lelah, ia harus menggunakan hari liburnya ini dengan sebaik-baiknya, saat ini ia duduk di samping ranjang Miss. Bell, ia menyandarkan tangan kirinya pada penghalang ranjang dan membiarkan kepalanya sedikit beristirahat disana, tangan kanannya masih menggenggam lembut tangan Miss. Bell. sembari membagi kehangatan.


Mmmm ?


Azkia merakan sensasi menggelitik pada jarinya, Ia mendongakkan kepalanya kaget sambil menatap tangan dihadapannya penuh harap. 15 menit berlalu namun tidak ada gerakan disana namun Azkia tidak luput harapan, ia menunggu sedikit lagi dan jari itu bereaksi.


" Miss. Bell ? " panggilnya dengan suara bergetar menahan tangis. Azkia kembali memperhatikan wajahnya, matanya berusaha terbuka sedikit demi sedikit.


" ah~haaa.." racaunya dalam haru. Ia kembali memanggil nama Miss. Bell beberapa kali dan akhirnya mata wanita itu terbuka, matanya mengawasi sekitarnya, ruangan yang asing baginya dan Gadis kecilnya sedang menangis tersedu di sampingnya.


" Sel, Gisel " panggil Azkia.

__ADS_1


Gisel yang juga ketiduran bangun dengan terburu-buru mendekat pada Azkia, ia takut apa yang dikhawatirkan dokter tempo hari menjadi kenyataan.


" Ada ap... " ia ta' bisa melanjutkan kalimatnya dan ikut-ikutan larut dalam tangis.


" Ahhhh~~~~ Miss. Bell " ucapnya penuh rasa lega.


Miss. Bell tersenyum heran melihat mereka yang terlihat lucu. ia pun menepuk pundak Azkia lembut. air matanya pun ikut menetes, kejadian terakhir kali menyadarkannya, bahwa untunglah ia masi bisa melihat mereka kembali.


" Syukurlah kau bangun Miss. Bell " rengek Gisel.


...****************...


" Apa tidak ada keluhan lain yang anda rasakan ? " tanya dokter pada Miss. Bell.


" Sedikit pusing dan lemas "


" Baik, Itu faktor dari kurangnya asupan makanan yang diterima tubuh, berangsur-angsur akan pulih, kau harus semangat mengunyah Nyonya, syukurlah anda segera bangun, saya turut gembira dan mereka sangat menghawatirkan mu ".


Miss. Bell menoleh ke arah ke 2 Gadis di sampingnya itu. Mata sembab mereka terlihat lucu dan hal itu jadi penghibur tersendiri baginya. Ia tersenyum pada Dokter dan perawat.


" Yah, sepertinya aku cukup lama tertidur "


" Kau membuat kami khawatir 🥺 " ucap Gisel lega.


Azkia menatap penuh haru, ia sangat bersyukur karenanya. karena Miss. Bell bangun dan menyapanya lagi. ia sangat, sangat berterima kasih pada tuhan. Dokter dan para perawat lainnya tersenyum bahagia melihatnya.


Srett...


Pintu ruang perawatan terbuka dengan tiba-tiba dan membuat mereka semua terkejut. Ia terlihat ngos-ngosan dan lelah, mungkinkah ia berlari ?. Para Dokter, perawat dan Miss. Bell menengok melihat siapa yang datang dengan sangat terburu-buru. Setelah Miss. Bell melihatnya ia tersenyum kepadanya. Pria yang berdiri mematung disana terlihat menunduk menahan tangis haru bahagia.


" Kenapa kau tersenyum seperti itu ? " ucapnya sambil menyeka pipinya.


" Hah, selamat datang kembali " ucapnya membalas senyuman tulus wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2