
Suara tembakan pistol malam itu menambah ketakutan, terdengar langkah kaki beberapa orang sedang mengejar dari arah belakang, sesekali Alexi memeriksa keadaan gadis kecil yang ingin dilindunginya, ia menarik tangan kecil itu berlari untuk menemukan tempat bersembunyi yang aman.
" Nitha, ayo kau pasti bisa, lebih cepat " ucapnya menyemangati gadis kecil yang terlihat sangat lelah berlari sadari tadi.
" Hah, hah, hah ", nafasnya terdengar berat
" Lexi kakiku sakit " ucapnya mengadu.
Alexi pun dengan sigap membungkuk, dan menyuruh Nitha agar naik di pundaknya, setelah memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja di punggungnya, ia berlari lagi sekuat mungkin.
' Aku harus sampai di vila keluargaku jika ingin menyelamatkan Nitha, seharusnya tadi aku mengajak paman yohan untuk mengantarku menemuinya', pikirnya kesal dalam hati.
Jika seperti itu mereka berdua tidak akan sesusah ini menghadapi pria besar yang sekarang mengejar mereka.
Alexi berhenti sejenak mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan. Dari jauh terdengar seseorang memanggil Nitha.
" ZENITH " teriaknya kencang.
" Zenith ini paman bisakah kau berhenti bersembunyi ? " susul suara itu kemudian.
Alexi kecil menoleh ke arah gadis itu dengan cemas. Mendengar suara yang tak asing Nitha yang mendengar suara itu menghentikan Alexi yang berniat untuk meneruskan larinya.
" Lex, sepertinya itu suara pamanku, aku yakin dia datang untuk menyelamatkanku ", ucap Nitha lega, ia sangat yakin bahwa pamannya datang untuk mencarinya.
" Apa betul?, kau tidak salah kan? ", tanya Alexi kecil ragu.
" Ya aku yakin, kita bisa menunggu di sini ", pinta Nitha meyakinkan.
Alexi pun menurunkannya, suara langkah kaki dari kejauhan kian mendekat.
" Paman aku disini, paman ", ucap Nitha memberi petunjuk, suara khas anak kecil menggema di sekitar mereka di antara pohon-pohonan tinggi. Setelah itu, beberapa menit kemudian seorang pria dengan setelan jas merahnya berjalan mendekat ke arah mereka, ditangannya samar-samar Alexi melihat barang yang sering dilihatnya pada saat ayahnya berburu, ia menggenggam sebuah pistol.
__ADS_1
Melihat pria itu datang Nitha tersenyum senang, ia akan bergegas mendekatinya namun Alexi menahan tangan gadis kecil itu. ia berusaha melindunginya sekuat tenaga dengan tubuh kecilnya, Alexi menuntun Nitha ke belakangnya.
" Paman, bisakah kau menyingkirkan pistol itu terlebih dahulu ? ", pinta Alexi kecil waspada, melihat sosok pria di hadapannya ini, menimbulkan kewaspadaan, wajahnya pun tidak terlihat bersahabat dan dapat di percaya, hal itu membuat ia tidak mempercayainya sepenuhnya.
Pria itu menatap penuh tanya, merasa terganggu dengan tatapan Alexi kecil yang enggan membiarkan keponakannya itu mendekat.
' Rupanya ada serangga lain selainnya ', pikirnya.
" Hmm, siapa ini ?, bisa kau menyingkir ? ", ucap pria yang dipanggil paman oleh Nitha dengan raut wajah menyeramkan. Aura dan ekspresi yang ditunjukkannya sangat tidak bersahabat.
' Ia memiliki niat jahat ', batin Alexi kecil.
Alexi memberanikan diri menarik Nitha menjauh beberapa langkah dari pria itu.
" Hei nak, tidakkah kau melihat keponakanku merindukanku ? " ucapnya mengulurkan tangan.
Melihatnya mendekat Alexi mengancamnya dengan menggunakan nama keluarga.
Mendengar ancaman Alexi pria itu tertawa mengejek. Baru kali ini ia merasa bersemangat seperti ini, sudah lama rasanya ia tidak berhubungan dengan keluarga Will yang arogan itu.
" Haha, Sangat lucu, takdir macam apa ini? ternyata kau anak dari Monster itu", ucapnya menatap sinis.
" Hei nak serahkan gadis itu, jika kau tidak ingin mati di sini ", susulnya.
Tubuh kecil Alexi gemetar mendengar ancaman itu, tentu saja tubuh kecilnya tidak dapat berbuat banyak di kondisi mereka saat ini. Sedangkan Nitha yang berapa di belakangnya bingung dengan situasi yang terjadi.
Beberapa hari yang lalu pamannya mengajaknya untuk bermain tembak-tembakan dengan pistol tanpa peluruh, hal itu sudahlah biasa dilakukannya.
' Mengapa Alexi tidak membolehkannya menemui pamannya ? ' pikirnya polos.
" Lex, tidak apa-apa, paman itu adalah adik mama, sebentar lagi kami akan menemui orang tuaku, ia kan paman " ucap Nitha menerangkan dengan polosnya.
__ADS_1
' Tidak kah kau melihat niat jahatnya Nith ?', pikir Alexi menatap Nitha tidak percaya. Bagaimana pun dia masihlah anak kecil.
Nitha menepuk punggung Alexi pelan.
" dada lex", pamitnya melambai. Alexi tidak dapat menahannya pergi. Nitha menghampiri pamannya berlari kecil sebelum Alexi dapat meraih tangannya kembali.
" ini bukanlah hal yang baik Nith " ucap Alexi lirih menatap sosok kecil mungil itu menjauh darinya.
Langkah kecilnya kian dekat oleh pamannya, perasaan Alexi kian resah melihat hal itu.
Semakin dekat Nitha dengan pamannya membuat Alexi merasa gundah dan waspada. Ia bisa saja menarik tangan Nitha untuk menjauh dari sosok pria itu.
Dari kejauhan anak pria sebaya dengan dirinya berlari mendekati mereka dengan tangan menjulur kedepan, ia berteriak memanggil nama Nitha ingin mengingatkan sesuatu. Semakin dekat dirinya, suaranya semakin jelas, itu sebuah peringatan agar lari menjauh.
" Zenith menjauh, lari, LARI ".
Suara teriakan anak lelaki itu menghentikan langkah Nitha.
" Kakak " panggil Nitha senang menyadarinya.
Anak itu berlari ke arah paman berjas merah menabrakkan dirinya pada pria itu. Hingga tubuh mereka sama-sama terjatuh. Pria yang ditabraknya mengumpat kesal karenanya.
" Sial ", ucapnya marah.
Ia menatap anak itu geram. ' Rupanya masih hidup kau setan ', batinnya. Ia mengamati sekitarnya, pistol yang semula ditangannya juga terlempar entah dimana, namun dengan cepatnya ia menemukannya dan mengarahkannya pada mereka.
Tangannya terangkat, ia mengarahkannya ke arah lelaki yang tiba-tiba datang itu. Namun melihat Nitha mendekatinya, pistol pun mengarah padanya, Alexi dengan sigap melompat dan mendorong Nitha agar tidak terkena tembakan itu dan.
Dor, suara peluru di tembak terdengar, tubuh kecil itu roboh, Nitha menangis sesegukan, darah segar mengotori gaun ungu mudanya.
...****************...
__ADS_1