
Azkia duduk di depan cermin kamarnya, matanya sembab akibat tangis semalam, ujung bibir dan pipinya membiru akibat pria semalam, ia menatap dirinya yang kacau. entah apa yang akan dikatakannya jika Elio melihat dirinya seperti ini.
Lebih membingungkan lagi mengapa ada seseorang yang ingin menculiknya?
Dari percakapan semalam, sepertinya penculikan dirinya telah lama di rencanakan, mereka pun mengikuti Azkia sampai ke vila ini. Rasa ngeri mulai dia rasakan, apa mereka akan mengikutinya kemana pun?.
Ahh, dia harus secepatnya meminta Elio untuk pulang ke desa Zkenti, semenjak ia berada di kota Zervo, kejadian mengerikan selalu terjadi pada dirinya. Azkia pun mengingat nasehat Miss. Bel kalau kota itu sangatlah menakutkan.
Matanya kembali menatap pada cermin.
' Tapi aku harus mengatasi mata ini dan menutupinya ', batinnya.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
" Kia?, Azkia apa kau masih tidur? "
' Oh tidak, itu Elio, apa yang harus kulakukan?'
" Ya, aku baru saja bangun, kau duluan saja, aku akan menyusul nantinya " kata Azkia
" Mengapa suaramu serak?, kau baik-baik saja bukan? "
Azkia semakin cemas.
" Ya aku baik-baik saja " jawabnya sambil memperhatikan suaranya agar normal dan tidak serak.
" Apa yang sedang kau lakukan di dalam ? "
" Aku sedang menyisir rambutku, Mmm.. El aku baik-baik saja, berhenti bersikap seperti itu dan 5 menit kemudian aku akan turun sarapan", ucapnya meyakinkan.
" Baiklah aku masuk "
Azkia terkaget dengan jawaban dari luar pintunya, sangat jarang Elio bersikap over seperti ini, biasanya dia akan mempercayai Azkia apa pun yang terjadi selama ini.
Azkia berlari melompat ke kasurnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya untuk menghindari Elio, jika ia mengetahui kejadian semalam, Azkia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Handle pintu terdengar terbuka
Cklek...
' Siapa pun tolong hentikan Elio '
...****************...
Cahaya matahari menyilaukan mata Alexi pagi ini, rupanya semalam ia lupa untuk menutup tirai jendela kamarnya.
Ia menoleh ke arah jam di samping kasurnya, waktu menunjukkan 8:30, ia duduk dan merapikan rambutnya yang acakan. Ia terdiam sejenak menata hati, tiba-tiba ia teringan akan kejadian semalam.
' Apa dia baik-baik saja?, ahh bukannya setiap pagi Elio akan membangunkannya dan mengecek keadaan gadis itu ', ingatnya.
__ADS_1
Alexi pun turun dari kasurnya, berjalan perlahan keluar dari kamarnya, samar-samar ia mendengar suara Elio yang sedang berdiri di depan kamar Azkia.
' Yang benar saja El? ' pikirnya tidak terkira.
" Baiklah, aku masuk "
Elio bersiap-siap akan masuk, ia sudah menggenggam handle pintu, itu terbuka dan ia hendak masuk, namun Alexi berlari kecil ke arahnya dan menghentikan sahabatnya itu dengan berbasa-basi.
" Pagi El "
" Mm, pagi Lex " jawab Elio dengan mata menyipit heran.
" Wah, ada apa pagi ini?, kau sangat cepat untuk bangun, sangat jarang Lex " tanya Elio heran.
" Aku merasa harus olahraga dan berlari di sekitar pantai, maka dari itu, aku bergegas bangun "
" Oh baiklah, kau bisa pergi " ucap Elio mengabaikan Alexi, sambil meneruskan niatnya untuk masuk ke kamar Azkia dan melihat keadaannya.
Namun Alexi menahannya lagi.
" Ayo kawan, kita harus bersama untuk olahraga pagi ini " ucap Alexi menahan.
" Apa yang kau lakukan Lex, kau sangat aneh pagi ini, dan lagi mana sepatu olahraga mu?, kau bahkan belum siap-siap dan sekarang mengajakku? "
" Untuk itulah, ayo kita bersiap-siap, oh dan apa Azkia sudah bangun? "
"Iya, tapi sebelum itu aku ingin melihatnya dulu, kau bersiaplah dahulu, aku akan menyusul ".
Alexi menyerah, ia tidak akan bisa membelokkan niat Elio yang sekuat baja itu, gadis yang di cemaskannya ini sangat penting baginya. ia merasa kasihan dan bersalah pada Azkia. Wajahnya tertunduk kecewa dengan dirinya sendiri.
Elio yang keluar dari kamar Azkia terheran melihat Alexi masi berdiri disana dengan pakaian tidurnya, bukannya ia harus mengganti bajunya jika ingin pergi berolahraga?
" Kau masih disini? " Tanya Elio
" Aku baru hendak pergi El, tapi kau sangat cepat keluar, apa Azkia baik-baik saja? "
" Ah, dia sedang di kamar mandi, jadi aku memutuskan untuk membiarkannya "
Mendengar penjelasan Elio, Alexi menghela laga, tunggu...
Kenapa ia harus merasa lega?, ini bukan urusannya dan lagi, ini menyangkut orang lain yang belum lama di kenalnya. Ada yang salah padanya.
" Hei Lex, ayo " ajaknya mengingatkan akan rencana olahraga Alexi
" Maaf El, sepertinya aku masih mengantuk dan akan melanjutkan tidurku, maaf kawan "
Elio terdiam di buatnya, dia yang mengajak, dia pula yang membatalkan, apa-apakan dia pagi ini? membuat mood orang buruk saja.
Alexi pun berjalan meninggalkan Elio yang sedang pusing akan tingkahnya.
Ahhh, Elio menyadari sesuatu.
__ADS_1
' Pagi ini, Alexi menunjukkan sikap basa-basi yang aneh, apa ada yang terjadi di antara mereka semalam ? ' ..
...****************...
" Kapan kalian akan balik Elio? " suara dari seberang telepon bertanya dengan nada khasnya.
" Kami akan balik besok Miss. Bel, " jawab Elio meyakinkan.
" Baiklah, aku ingin berbicara dengan Azkia, aku sangat merindukannya "
" Kau tidak merindukanku nyonya? " jawabnya nakal penuh canda.
" Cepatlah berikan anak nakal ".
" Baiklah "
Elio pun memberikan handphonenya kepada Azkia yang sedang duduk di sampingnya.
Beberapa hari ini Azkia menggunakan masker hitam untuk menutup wajahnya, alasannya pada Elio bahwa ia tidak ingin membuat kulit wajahnya terbakar matahari nantinya. Elio yang mendengarkan alasannya pun dapat mengerti. berbeda hal dengan bajunya yang berlengan panjang, tidakkah ia merasa panas?, panasnya matahari dengan di barengi dengan baju lengan panjang pasti akan membuat orang kegerahan. biasanya pun Azkia tidak akan membungkus diri seperti ini jika ke pantai, tapi kali ini berbeda.
Tak ingin ambil pusing dan berprasangka lain, Elio pun mencoba mengerti. mungkin saja inilah yang di maksud dengan ' kau tidak akan pernah tahu keinginan pasti wanita '
" Mis. Bel, aku sangat merindukanmu "
" Oh sayang, cepatlah pulang, aku berjanji tidak akan menyuruhmu untuk bekerja keras lagi "
Azkia tertawa kecil mendengar permintaan wanita tua itu.
" Baiklah, besok kami akan pulang, kau pasti sangat merindukanku bukan? "
Elio yang mendengar mereka berbicara pun ikut tersenyum, ia bisa membayangkan wajah wanita tua itu sedang mengeluh-eluhkan keadaannya sekarang pada Azkia. dan gadis di sampingnya juga menanggapinya dengan penuh sopan dan perasaan.
"Hei ayo kita bicara " suara Alexi membuatnya terkaget, entah dari mana pria ini datang.
Elio pun berdiri dan mengikuti Alexi. Setelah cukup jauh Alexi menyodorkan sebuah koran kepadanya.
Kabar berita di sana mengejutkannya.
" MENINGGALNYA AHLI WARIS ANAK PRIA SATU-SATUNYA KELUARGA ARTUR HERVEN "
" Sepertinya ini bukan hal yang kecil El, bukannya kau katakan bahwa kau melakukannya tidak berlebihan ?"
Wajah Elio sedikit kaget namun tidak terdapat kekhwatiran di sana.
" Bukan aku yang membunuhnya Lex! " , ucapnya tegas sambil menatap wajah Alexi.
Mendapati sorot mata seperti itu darinya membuat Alexi kesal. permasalahan ini akan menjadi sangat besar jika Tuan Arthur tahu bahwa pelaku pemukulan putranya adalah Elio.
" Aku tidak menyalahkan El, tapi bukannya kau harus berhati- hati mulai dari sekarang?, ini bukan saja menyangkut keselamatanmu, tapi dia juga berperan khusus dalam kejadian malam itu , kau harus tahu itu ". ucap Alexi mengingatkan.
" Aku sangat bersyukur mengenal dan bersahabat baik denganmu Lex, keselamatan Azkia biar aku yang mengurusnya ",
__ADS_1
Kata-kata Elio sangat tegas terlintas di pendengaran Alexi, jika bersungguh-sungguh Elio pasti bisa melindungi Gadis itu. ujung mata Alexi menatap Azkia yang sedang asyik berbicara di telepon.
" El, jangan biarkan dia sendirian, jika tidak kau akan menyesal "