
Elio melirik kalender yang berada diatas meja pada kamar tidurnya, tanggal 15 April disana telah ditandai dengan spidol merah yang terletak tidak jauh dari kalender tersebut, Elio yang sedang mengeringkan badan sehabis mandi mengingat maksud dari penanda itu dan kembali menyibukkan dirinya berganti baju.
Kemarin pihak rumah sakit tempat Miss. Bell dirawat mengirimkan pesan pada Elio, rupanya itu mengenai biaya perawatan bulan ini yang harus dilunasi, Ia pun bergegas bersiap dan langsung menuju rumah sakit untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Sebelumnya paman Ben dan Jen sempat menawarkan diri untuk menanggung biaya perawatan tersebut, namun Elio menolak dan bersikeras untuk menanggungnya. Mengingat ke 2 pamannya pun kerja di desa, sangatlah mungkin jika sumber ekonomi mereka juga menengah. Ia tidak ingin merepotkan semuanya, dan lagi Elio merasa bertanggung jawab pada Miss. Bell dan Azkia, jika menyangkut mereka berdua pastinya Elio tidak akan memandang pengeluaran yang kan di keluarkannya, biaya perawatan pun tidak seberapa baginya.
Elio mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang sekitar 60 km/jam. Beberapa kendaraan lainnya melaju dengan kecepatan yang sama dan juga Elio tidak begitu terburu-buru untuk sampai di rumah sakit.
Selang 20 Menit berlalu, mobil Elio pun memasuki pekarangan rumah sakit yang memang terkenal di kota zefro ini. Berapa kali pun dilihat, rumah sakit ini memang memiliki bangunan yang indah dan fasilitas yang bagus, tidak heran orang-orang akan percaya pada layanannya, tentu saja Elio pun berfikir demikian pula.
Setelah memarkir mobil Elio menuju bagian administrasi, tak lupa ia membawa kartu walinya sebagai tanda pengenal.
" Permisi, wali atas nama Nyonya Belliar "
" Baik, tunggu sebentar " ucap staff administrasi didepannya. Ia mengetik nama pada komputer dan memperhatikan layar beberapa menit, Elio meraih kantong celananya untuk mengeluarkan dompet dan memberikan kartunya pada staff tersebut.
Staff itu tersenyum ramah dan mengembalikan kartu Elio kembali, Elio menatap staff tersebut dengan tanya.
" Maaf pak pembayaran atas nama Nyonya Belliar sudah dilunasi " ucapnya.
Elio menerima kartunya dengan diam. Mungkinkah pamannya yang sudah membayar karena keterlambatannya ?
' Siapa yang melunasi ? ' pikirnya, penasaran Elio pun bertanya lebih jelas lagi.
" Bisa saya tahu nama penebusnya ? " tanya Elio.
" Baik tunggu sebentar "
Elio menunggu dengan gelisah dan rasa tak nyaman, Staff administrasi itu mem print lembar bukti pelunasan dan langsung menyerahkannya pada Elio. Elio menerimanya dengan senyum kecil serta ucapan terima kasih.
" Terima kasih " ucapnya.
Ia pun berbalik, berjalan meninggalkan ruang administrasi dan hendak menuju rungan Miss. Bell. Namun ia terhenti setelah melihat nama yang tertera di kertas itu, ia tiba-tiba saja mengingat kejadian-kejadian yang janggal dengan ketidak hadirannya selama ini. Elio menggenggam kertas itu dan berjalan tergesa.
' Apa ini ? ' batinnya kesal.
...****************...
" Dimana Azkia ? " tanyanya pada Gisel.
Gadis itu menunduk tak berani melihat tatapan Elio yang tajam padanya. Ia melirik pada ke 2 pamannya seraya mengirimkan sinyal meminta pertolongan, rasanya ia tak dapat berkata-kata saat ini. Pria dihadapannya saat ini sedang kesal, emosi Elio pada saat marah amat sangat menakutkan. Hal ini sangat diketahui oleh orang-orang disekitarnya yang mengenal Elio dengan baik.
" Hei, apa yang kau lakukan, Gisel ketakutan " ucap paman Ben mendekati Elio.
" Paman... Siapa yang melunasi perawatan Miss. Bell ? Apa paman ? " tanya Elio.
Paman Ben menyadari asal muasal dari kemarahan bocah besar dihadapannya ini, ia sangat marah kelihatannya, tangannya mengepal hingga menyebabkan urat-urat pada tangannya timbul karna kepalannya yang kuat. Paman Ben melihat secarik kertas ditangan Elio yang telah kusut dan menyadari keadaan saat ini, tentulah pria emosian didepannya ini melihat nama penebus yang tertera disana dan pastinya nama Azkia lah yang tertera. Paman Ben membuang nafas berat dan melirik pada Miss. Bell yang sedang kebingungan.
" Apa yang sedang terjadi ? " tanya Miss. Bell bingung.
Gisel yang menyadari adanya kesempatan kabur, lari menjauh dari Elio, ia langsung menuju ranjang Miss. Bell dan memeluk wanita tua itu. Ia enggan mendekati Elio saat ini. Meskipun ia tahu bahwa Elio tidak bermaksud untuk melakukannya.
" Tahan Emosimu, kita bicara diluar saja " ajak paman Jen.
Elio pun menurut dan mengikuti paman Jen dalam diam.
" Kertas apa itu ? " tanya paman Jen pada Elio setelah meninggalkan ruang Miss. Bell.
" Bukti pelunasan perawatan " jawab Elio datar.
" Huuh.. Ini tidak akan mudah " ucap Paman Ben.
__ADS_1
Elio mengerutkan keningnya mendengar ucapan paman Ben.
" Sebenarnya paman kan yang sudah melunasinya ? " tanya Elio menatap paman Ben penuh harap.
" Kau tidak melihat nama penebusnya ? "
" Ini tidak masuk akal, dia tidak akan punya uang sebanyak itu paman " ucap Elio.
" Yahh.. Jika dia tidak bekerja ? " ucap paman Jen menyambung.
" Kerja ? Hah " ucap Elio tak percaya. Ia bahkan tidak mengatakannya pada Elio.
" Jangan terlalu memarahinya jika dia pulang nanti " ucap paman Jen pada Elio sambil menepuk bahunya.
Elio tertunduk menatap kertas ditangannya, setelah mendengar penjelasan ke 2 pamannya itu Elio merasa kesal dan kecewa ?
" Dimana dia bekerja ? "
" Hem, kami pun tidak tahu lokasi pastinya El " ucap paman Ben jujur.
" Tidak bisakah kalian melarangnya saja paman ? " tutur El dalam kesal.
" Kau tahu dia juga sangat keras kepala bukan ? "
" Bicarakanlah baik-baik padanya, ia biasanya akan pulang kerja di jam 22.00"
Paman Ben dan Jen pun meninggalkan Elio didepan ruangan Miss. Bell dalam diam. Mereka masuk keruangan dan menjelaskannya pada Miss. Bell yang sedang bertanya-tanya dengan apa yang terjadi.
...****************...
" Azkia apakah kau menikmati hari liburmu ? "
" Betty " ucap Azkia berbalik mengikuti arah suara yang menegurnya.
" Sangat bagus " ucap Betty tersenyum melihat senyum Azkia. Ia terlihat sangat bahagia membahas Mis. Bell nya ini. Awal berjumpa Betty mengira bahwa Azkia adalah anak yang sangat pendiam dan sulit di hadapi, namun berjalannya waktu hal itu tidaklah benar, ia bahkan sangat nyaman berbincang dengannya.
Apalagi setelah kejadian yang melibatkan Betty dan Azkia, mereka menjadi sangat dekat dan juga sedikit terbuka padanya. Betty sangat ceria aslinya, namun penakut, jika pulang pada waktu bersamaan dia pasti akan menyuruh Azkia tuk pulang bersama melewati gang belakang bar yang gelap itu.
" Bagaimana luka mu ?, apa itu baik-baik saja ? " tanya Betty melirik lengan Azkia yang terluka.
" Itu baik-baik saja, aku merawatnya dengan baik " ucap Azkia sambil mengepak barang-barangnya ke dalam tas. Waktu kerjanya sudah habis, dan ia sedang bersiap-siap untuk pulang.
" Aiihh... hari selasa ini memang adalah waktu kerjaku yang paling melelahkan, kau sangat beruntung tidak mendapat shift malam Azkia " ucap Betty merasa iri.
Azkia memang telah mendiskusikan nya dengan Sabrina sebelumnya, jam 22:00 pun menurutnya sudah sangat larut malam baginya, namun ia harus profesional dan menerimanya karena dia sangat membutuhkan pekerjaan ini.
" Hengg.. Kau bisa membicarakannya dengan manajer Betty " usul Azkia.
" Hah ???... Lebih baik aku menerimanya saja jika begitu " ucap Betty menolak. Para karyawan lainnya tidak begitu dekat dengan Sabrina, hal ini karena perawakannya yang elegan hingga terlihat dingin dan sulit didekati, semua karyawan Bar pun lebih menghormatinya dengan kepribadiannya yang seperti itu. Aura wibawanya terpancar dan mengintimidasi jika ia marah, tidak sedikit karyawan yang takut padanya.
Azkia melihat jam tangannya, itu menunjukkan 22:30, menyadari itu ia harus bergegas untuk pulang dan pamit pada Betty, untunglah hari ini bukanlah jadwal Elio untuk datang, tidak mengapa jika ia terlambat sedikit.
" Kalau begitu semangat Betty, aku duluan ya "
" Ya, hati-hati " ucapnya melambaikan tangan pada Azkia.
Azkia pun berjalan melewati beberapa temannya yang masi bekerja, ia tak lupa pamit pada mereka. Azkia selalu pulang melewati pintu belakang, ia sudah terbiasa semenjak awal ia bekerja dan kali ini ia mendapatkan bantuan yang sangat membantunya.
Azkia membuka pintu belakang bar, ia berjalan sekitar 10 langkah dan berhenti disampingnya mobil berwarna hitam yang selama ini ditumpanginya.
" Tok, tok "
__ADS_1
Azkia mengetuk kaca mobil itu dan Alexi membukakan pintu untuk Azkia.
" Hai " ucap Alexi menyapa.
Azkia membalas sapaan Alexi dengan senyuman sambil memasuki mobil mewah milik Alexi.
" Kau menunggu lama ? " tanya Azkia.
" Tidak begitu lama " jawab Alexi sambil menjalankan mobilnya.
" Bagaimana hari mu ? "
" Hari ini sangat luang, Elio juga tidak sibuk hari ini "
" Mngg.. Kau sangat dekat dengan El ya ? " ucap Azkia.
Alexi melirik Azkia dan tersenyum.
" Aku mengenalnya cukup lama, tapi bisakah kau tidak mengatakan hubungan kami dengan kata-kata tadi, iyu membuatku sedikit geli " ucap Alexi.
Mendengarnya membuat Azkia tersenyum dan tertawa kecil. Beberapa hari ini Alexi menepati janjinya untuk mengantarnya pulang setelah bekerja. Namun jika dia memiliki kesibukan lain, ia akan mengirimkan seseorang untuk menjemput Azkia, dan ia pasti akan menyuruh orang tersebut menunggu tepat di depan pintu keluar belakang Bar. Kadang hal itu membuat Azkia takut, namun setelah mendengar nama Alexi keluar dari si pengganti, membuatnya sedikit lega.
Mobil Alexi kini memasuki halaman rumah sakit, Azkia melepaskan sabuk pengamannya dan hendak turun dari mobil. Namun Alexi menahannya.
" Kau... Ini " ucap Alexi menyodorkan kotak segi 4 panjang pada Azkia.
" Untukku ? "
" Ya "
Azkia pun menerima pemberian Alexi dan membukanya saat itu juga, itu adalah handphone, ia memang berencana untuk membelinya saat terima gaji di bulan selanjutnya, namun sekarang ia tiba-tiba mendapatkan nya ?
" Ini... Bukankah ini cukup mahal ? " ucap Azkia.
" Tidak seberapa, ku harap kau mau menerimanya " ucap Alexi mengalihkan pandangan pada furnitur mobil disamping kemudi.
" Hmm.. " Azkia berpikir sejenak.
" Ini memudahkan mu untuk dihubungi, jika aku tidak bisa menjemputmu lebih mudah untukku langsung menelpon dan mengabari mu " jelas Alexi.
Azkia menatap pemberian ditangannya itu. Ia pun akhirnya menerimanya.
" Terima kasih, kau sangat baik " ucap Azkia menatap handphone berwarna ungu muda ditangannya.
" Tidak seberapa "
" Hng, memiliki teman yang baik sangat menguntungkan " ucap Azkia tersenyum pada Alexi.
Teman
" Ya " jawab Alexi.
" Aku akan membalasnya nanti, oh ya aku akan pergi sekarang, selamat tinggal dan hati-hati di jalan " ucap Azkia melambai.
Belum jauh Azkia berjalan Alexi mengatakan sesuatu padanya sedikit berteriak.
" Nomorku,.. Ada di sana "
Azkia menoleh, mengangkat handphone ditangannya.
" Aku akan menghubungimu " jawabnya pada Alexi.
__ADS_1
Mereka pun tersenyum mengingat bahwa dirumah sakit ini tidak boleh berisik, saat ini mereka sama-sama melanggar pelanggaran yang manis.