
Suasa diruang makan cukup senyap dengan beranggotakan Mr. dan Ny. Will serta Alexi. Kedua saudarinya entah mengapa belum pulang hingga jam makan malam. Untunglah kehadiran Ny. Will membuat Alexi cukup nyaman berada di meja makan bersama ayahnya itu.
" Bagaimana perkembangan pembangunan hotel baru kalian ? " Mr. Will bertanya.
" Baik-baik saja "
" Dengan siapa saja kau bekerja sama ? "
" Beberapa kenalan yang tentunya tidak anda ketahui " jawab Alexi sambil memasukkan potongan daging di mulutnya.
Ke 2 pria milik Ny. Will ini sangat tidak bisa berdamai, Alexi yang menjawab dengan ketus dan Mr. Will yang bertanya tanpa rasa. Rumah besar ini terasa lebih senyap dengan kekakuan mereka berdua.
" Hentikan pembicaraan kalian tentang kerja, aku ingin menikmati makan malam tanpa pembahasan itu ", pinta Ny. Will.
Kedua pria itu terdiam sambil meneruskan makannya. Suara yang terdengar hanyalah decitan pisau dan garpu yang sibuk melakukan tugasnya memotong steak Kobe Beef yang dipanggang sangat sempurna malam ini.
" Hah, aku merindukan 2 putriku yang manis, duduk diantara kalian membuatku jadi emosi sepanjang makan malam ini, sayang berhentilah mengerutkan keningmu seperti itu dan kau Alexi berbicara yang hangat pada ayahmu " omel Ny. Will.
" Baik mam ", jawab Alexi tersenyum.
" Lusa nanti, temuilah anak Tn. Tonny, ia akan menelpon mu, jangan bersikap dingin dan acuh ", ucap Mr. Will.
Alexi menghentikan makannya, meletakkan pisau garpunya dengan setenang mungkin. Lagi-lagi Mr.Will melakukan janji tanpa sepersetujuannya. Ia merasa kesal dan jenuh karenanya.
" Bisakah ayah berdiskusi padaku sebelum mengatur pertemuan ini ? " kesalnyanya.
" Apa yang harus di diskusikan ?, kau hanya perlu menemuinya dan berbincang ringan " ucap Mr. Will
" Hahh, ayah aku akan mencari sendiri, jika aku menyukai seseorang, aku akan membawanya di hadapanmu, jika tidak ada aku mungkin akan melajang seumur hidup "
Mendengar jawaban Alexi membuat Mr. Will marah hingga menatap anaknya itu dingin, bisa-bisanya dia berbicara sesuka hatinya seperti itu ? Alexi pun menatap ayahnya dengan berani.
Ny. Will tidak menyangka bahwa Alexi akan mengucapkan ucapan yang sangat menyedihkan itu. Orang tua mana yang akan senang jika mendengar kata 'Melajang seumur hidup' untuk putra semata wayangnya ? Kali ini ia mendukung suaminya itu.
" Anak ini " ucapnya mencubit lengan Alexi.
" Meskipun kau tidak menyukainya, kau tidak boleh berbicara dengannya seperti itu ", ucap Ny. Will sambil memijit kepalanya pelan.
Mr. Will melihat istrinya yang memijik kepalanya dengan khawatir. Tidak ada moment yang baik jika mereka berdua sedang beradu mulut. Pastinya Ny. Will akan pusing karenanya, entah itu permasalahan mengenai kencan atau pun pekerjaan.
' Tidak biskah mereka akur ? ' pikir Ny. Will
" Kau tidak kenapa sayang ? " tanya Mr. Will
Mendengar suara suaminya yang melembut membuatnya bertambah sakit kepala, kapankah kedua pria besarnya ini bisa berdamai dengan diri mereka ? bukankah ini sudah bertahun-tahun lamanya ?
" Lepas, Ayah Alexi, apa kau ingin kehilangan istri secepat mungkin ? "
Mendengar ucapan Istrinya Mr. Will semakin khawatir.
" Apa yang kau katakan ? itu tidak mungkin, aku sangat membutuhkanmu " ucapnya memegang pundak istrinya halus.
" jika seperti itu berdamai lah dengan putramu dan Alexi jangan terlalu dingin dan ikuti permintaannya sesekali, itu karena kami mengkhawatirkan mu "
Alexi memainkan gelas di tangannya dan menjawab seadanya.
" Ya " ia menjawab singkat.
Lama Alexi terdiam, ia tahu bahwa sebetapa dingin dan acuh ayahnya terhadapnya, ia masih memikirkan masa depannya. jika di pikir-pikir, Mr. Will sudah meringankan segala keputusannya selama ini. Mengenai pewarisan kepemimpinan kelompok, mengenai bisnis perhotelannya, Ayah sama sekali tidak pernah menghambatnya sama sekali, meskipun ketika penolakan kepemimpinan kelompok menimbulkan perdebatan yang cukup lama dan merepotkan. Tapi Mr. Will tidak bernah benar-benar membuatnya mengharuskan sampai memaksa dengan keras akan penerimaan itu. Meskipun belakangan ini perdebatan tidak terlihat lagi di antar kelompok, tapi Alexi enggan untuk memiliki keterkaitan dengan para tetua-tetua yang merepotkan seperti ayahnya itu.
__ADS_1
" Sorry Yah " ucapnya kemudian setelah diam cukup lama.
" Ya, tapi kau harus tetap menemuinya kali ini " ucap Mr. Will mengingatkan.
" Hng "
...****************...
Sebuah tendangan tiba-tiba datang menghentikan langkah pria itu. Disana terlihat seseorang dengan badan yang cukup kekar sedang menatap penuh amarah kepadanya.
" Hei, kau yang melakukan itu ? " tanyanya dengan tatapan penuh dendam.
Bingung dengan pertanyaan yang didengarnya, ia melepaskan tangan pria yang mencengkram kerahnya.
" Apa yang kau tanyakan ? aku tidak mengerti " jawabnya bingung.
" jangan beralasan kau lupa, seolah tidak melakukannya, Siapa yang menyuruhmu ? " ucapnya sambil menjambak rambut pria kurus di depannya itu.
" Akh, aku tidak tau, apa sebenarnya kemauanmu ? "
" Bukankah kau yang menyerang wanita tua di desa Zkenti ?" tanyanya kemudian.
" Ah.. " Pria kurus itu mengingat kembali kejadian sebulan lalu. Ia mengingat penculikan yang melibatkan seorang wanita cukup tua dengan rambut sebahu.
' Apa dia mati ' pikirnya.
" Hah, aku mencarimu dengan susah paya, kau tahu ? "
Merasa tidak akan sanggup mengalahkannya, pria kurus itu mencoba menenangkannya dengan permintaan maaf.
" Maafkan aku, aku dibayar untuk melakukannya !, aku hanya mencari nafkah untuk diriku, apa itu salah ? " ucapnya membela.
" Bagaimana kau melakukannya sebulan lalu ? " ucapnya sambil menjambak keras rambut pria kurus itu.
" A..a..ak "
" JAWAB " bentaknya.
Pria itu hanya diam dengan rintihan sakit yang keluar dari mulutnya. ia mengeretakkan giginya kesakitan.
" Kau memukul kepalanya ? " tebaknya.
Pria kurus itu terdiam takut, tidak pernah terbayangkan bahwa ia yang akan menjadi target pemukulan suatu hari nanti. Namun sekarang ia merasakannya. Tubuhnya bergetar ketakutan melihat pria yang sedari tadi memukulnya berjalan ke sudut ruangan dan mengambil balok berdiameter besar. Jika ia dipukul menggunakan itu, pastinya ia akan mati.
" A...a... a...Aku minta maaf "
" Kau meminta maaf ?, hah, bukannya menakutkan ? "
" Akh, a.. itu sangatlah besar, aku memukulnya dengan kayu yang tidak segitu besarnya, kau harus berbelas kasih " ucapnya dalam kengerian.
Pria itu tidak mendengarkan ucapan pria itu dan memukulnya sekali. Pria itu masih sadar dan mengumpat.
" Sial " sambil membuang ludah akibat darah dari bibirnya.
" Siapa yang menyuruhmu ? apa yang di inginkannya ? " tanyanya lagi dengan memberinya pukulan yang keras.
Tidak ada respon dari pria yang dipukuli tadi, dia pingsan darah mencucur dari keningnya.
" Hah kau tidur rupanya, tenang saja, aku akan membangunkanmu " ucapnya sambil mengayunkan balok di tangannya sekali lagi, namun sebelum itu mendarat di pria kurus itu, sebuah tangan menghentikannya.
__ADS_1
" En, Hei Ben, Heii tidakkah kau mendengarku memanggilmu Ben ? "
Ben menoleh ke asal suara di sampingnya.
" Ah Jen, aku menemukan pelaku yang memukul Miss. Bell. " ucapnya dengan senyum diwajahnya.
" Hei, sadarlah, kau harus berhenti Ben ", ucap Jen lembut, sambil mengambil balok dari tangannya dan membuangnya jauh dari Ben. Ben melihat balok itu jatuh jauh dari dan melihat perbuatannya terhadap pria itu.
" Ah, Maaf Jen " ucapnya penuh kecewa.
" Aku tidak bisa tenang, selama 1 bulan ini aku sangat marah dan frustasi, bagaimana bisa kita membiarkan ini Jen ?, mereka menculik Azkia dan bahkan membuat Miss. Bell berbaring tidak sadarkan diri, kau bisa tenang ? " ucapnya mengontrol emosi.
" Hah Ben " Jen mendekat ke arah saudaranya itu, memeluknya menenangkan.
" Jika kita kehilangan Miss. Bell, aku mungkin akan gila Jen" ucap Ben menyandarkan kepalanya di bahu Jen.
" Ia akan bangun Ben "
" Jika dia pergi, aku mungkin akan kembali seperti dulu ", ucapnya putus asa. Air mata membasahi pipinya dan ketakutan merayapinya.
" Tidak Ben, kau mempunyai ku, Ayo kita pulang, aku akan menghentikanmu, dan dia akan memukulmu jika tahu kau seperti ini "
" Hem " ucapnya penuh harap.
Jen pun melepaskan ikatan pada pria kurus itu, ia memeriksa nadi serta lukanya, itu tidaklah parah hingga dapat menghilangkan nyawa, untunglah ia segera sampai dan menghentikan ini semua. Mereka berdua pergi meninggalkan pria kurus itu dan pulang untuk membersihkan diri serta merawat punggung tangan Ben yang terluka.
Sesampainya di desa paman Forest sedang menunggu di depan rumah dan melihat kondisi Ben saat itu, memahami situasi, paman Forest membantu Jen menopang Ben yang sedang tertidur lelah.
Pastilah ia tidur, selama beberapa hari ini, ia sibuk memeriksa dasbor kamera setiap mobil yang terparkir di desa. setelah melihat dan mengenal wajah beberapa orang dalam penyerangan ia mencarinya tanpa mengenal waktu.
" Apa dia membunuhnya ? " tanya paman Forest.
" Aku menghentikannya "
" Hahh, syukurlah, dia akan menyesal jika melakukannya lagi "
" Ya "
Mereka pun membaringkan Ben di kasurnya dan Jen melepaskan baju Ben serta menyelimutinya. Ia keluar dari kamar Ben dengan perlahan tak ingin menganggu.
" Siapa orang itu ? " tanya Paman Forest dengan tatapan yang sangat jarang dia tunjukkan beberapa tahun ini.
" Ada yang menyewanya untuk melukai Azkia "
" Hah.. beraninya mereka " ucapnya dengan mengepal tangannya.
" Tenanglah, Ben sudah cukup merepotkan, kau tidak akan membuat kekacauan kan Fors "
" Ya, kau tenang saja, aku sedikit lebih tenang darinya,
Hei Jen tidakkah mereka tahu tentang desas desus kelompok di desa ini ? "
" Itu sudah lama berlalu, kita sudah tidak melakukanya "
" Tapi jika penduduk tahu mengenai hal ini, mereka pastinya akan sangat marah "
" Maka itu, kita harus diam dan tenang " ucap Jen mengingatkan.
" Baik, ku harap semuanya berjalan dengan baik seperti hari-hari biasanya "
__ADS_1
" Heng "