KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
Pomeranian ?


__ADS_3

Alexi tidak bisa menahan senyumnya melihat Azkia yang keluar dari ruang ganti menggunakan baju yang sangat kebesaran untuknya. Meski begitupun ia menyembunyikannya dengan sangat baik, jangan sampai Azkia merasa tersinggung dengan senyuman lucu yang tiba-tiba di wajahnya.


" bisa kita berangkat sekarang ? " ajaknya.


Alexi pun mengangguk dan melangkah duluan menuju pintu untuk keluar dan menaiki mobil yang terparkir di depan rumah Elio. perjalanan mereka berdua menuju Rumah Sakit penuh diam, tidak tahu apa yang akan mereka katakan atau perbincangkan dalam situasi dan kondisi seperti ini. Azkia juga tidak ingin menimbulkan sesuatu yang semestinya akan membuat hubungan mereka bertambah lenggang.


Mereka menikmati perjalanan dalam keheningan setelah beberapa menit kemudian mobil pun memasuki halaman rumah sakit dan Azkia dengan cepat melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Azkia meninggalkan Alexi yang memarkir mobil, ia tidak bisa menunggu lagi, ingin rasanya ia bergegas untuk melihat kondisi Miss Bell yang sedang terbaring di ruang perawatan.


Azkia memasuki elevator dan menekan tombol 3 untuk lantai 3 rumah sakit, sebelum tertutup Alexi terlihat berlari tergesa ke arah Azkia dan syukurlah pintunya masih terbuka. ia berdiri di samping Azkia yang terlihat gelisah, kakinya sedari tadi bergerak tidak karuan ingin lekas bertemu dengan Ms. Bell.


Ting.


pintu elevator terbuka, terlihat di kejauhan elio terduduk di depan ruangan dengan menyandarkan kepalanya di kursi. ia terlihat sangat tidak karuan dengan lengan baju yang tergulung acak serta rambut yang tidak rapi.


menyadari elevator terbuka elio menoleh.


' Ia datang dengan cepat ', pikirnya.


namun setelah melihat dan menyadari sosok Azkia, ia kemudian berdiri, berlari menggapai gadis itu. sosok gadis yang selama ini dicarinya dan membuatnya sangat khawatir telah berdiri di hadapannya. Elio memperhatikan seluruh wajah dan tubuh Azkia dengan mata lelahnya. banyak bekas luka dan ada bekas tamparan pada pipinya. hal itu membuat Elio menatapnya dengan rasa bersalah yang sangat.


tubuhnya bergetar entah amarah atau rasa lega yang menghampirinya. Azkia menenangkannya menepuk pundak lelaki tinggi besar di hadapannya, ia tahu bahwa lelaki ini sangat menyayanginya dan ia pun sebaliknya.


pelukannya tidak melemah sedikitpun, Azkia merasa sesak dibuatnya, iya harus menyadarkan Elio sebelum dirinya sesak dan mati dibuatnya.


" apa Miss Bell baik-baik saja ? " tanya Azkia menepuk punggung Elio, memintanya untuk melepaskannya.


" dia belum sadarkan diri " ucap Elio putus asa, sambil melepas pelukannya pada Azkia dan menatap wajah Azkia kembali. melihat perban, bekas obatan di pipi dan sudut bibirnya membuat Elio lega.


' tentunya Alexi sudah mengobatinya '.


Elio melihat Alexi yang sedari tadi melihat mereka dalam diam. ia merasa bersyukur mempunyai teman yang sepengertian Alexi. ia tersenyum lega. kemudian memandu Azkia ke ruangan Miss Bell.


melihat wanita yang selama ini kuat dan tidak terlihat lemah terbaring tak sadarkan diri membuat Azkia kembali meneteskan air matanya, kepingan-kepingan kejadian yang mengakibatkan Miss Bell terluka kembali memenuhi kepalanya, rasa bersalah itu mencekik dirinya. iya merasa akibat ulahnya Mis.Bell menjadi seperti ini, mungkin saja dia tidak akan terluka jika ia tidak terlalu bergantung padanya.


Azkia mendekati Miss Bell menggenggam tangannya erat penuh kasih. iya menangis sesegukan memohon atas kesadaran Miss. Bell.


" Semua ini salahku ", ucapnya menyalahkan diri.


" Tidak, kau korban Kia, jangan menghukum dirimu seperti itu ". ucap Elio menenangkan dalam pelukan.


...****************...


" Air ? " ucap Alexi menyodorkan sebotol air mineral pada Elio.


Elio tersenyum kecil menerima air tersebut.


" Kau menemukannya dimana ? "


" Tepat di depan rumahmu, tubuhnya penuh dengan memar, sebaiknya kau lebih memperhatikannya kedepan "


Elio mengangguk sambil menatap punggung Azkia yang masih setia berada di samping Ms. Bell. Ada yang aneh, ia akhirnya menyadari sesuatu dan menatap Alexi.

__ADS_1


" Bukankah itu bajumu ? "


Alexi melihat sejenak baju yang dikenakan Azkia sambil mengangguk diam.


" Tidak banyak pikir, aku membiarkannya, lagi pula dia Azkia "


" Sejak kapan kau akrab dengannya ? ", tanya Elio.


" Belum terlalu dekat "


" Jangan mendekatinya dengan sembarang Lex, kau tahu aku tidak akan tenang jika menyangkut dia ", tatapnya serius.


" Ya, aku akan mengingatnya El "


Ke duanya pun mengistirahatkan badan mereka sambil menutup mata terduduk di kursi tunggu depan ruangan. 3 hari ini mereka tidak dapat beristirahat dengan baik. Makanan yang dikonsumsi pun sangat sedikit, karena tak nafsu dengan kondisi keadaan.


Ting.


' Ah, siap yang datang ', pikir Elio.


Lantai 3 rumah sakit ini sudah di pesannya, jadi tidak akan ada seorang pun yang dapat di rawat selain Miss. Bell. Orang-orang yang datang berkunjung pastilah kerabat saja.


' Apa paman Ben ?, tentu saja bukan paman Jen yang baru saja pamit pulang untuk mengurus sesuatu di desa '. pikirnya kembali.


Sebuah tangan menyentuh kedua pipinya membuatnya terkejut hingga membuka mata. Gadis di depannya seakan-akan akan menangis menatapnya.


" dimana yang sakit ?, kau baik-baik saja "


" Aku bertanya kau baik-baik saja ? "


" Aqela, El sedang.."


" Ssttt... Kaka aku tidak bertanya padamu ", katanya memotong omongan Alexi.


" Aku baik ", ucap Elio singkat.


" Whaaa...., syukurlah ", tangisnya lega, sambil memeluknya erat.


" Tunggu, apa-apaan ini Lex ?, adikmu ? "


" Hah " Alexi menutup wajahnya malu dengan kelakuan adik bungsunya itu.


" sebenarnya apa yang kau lakukan Aqela ? ", tanyanya pada Aqela yang masih bersandar pada Elio.


" kau menelpon dan mengatakan bahwa kau di rumah sakit dengan Elio, aku begitu khawatir ". jelasnya.


" Kau menghawatirkan Elio?, bukan aku ? "


" Kau kuat ka', aku mengenalmu "


" Jadi ?, Ah cukup, lepaskan pelukan itu, kau membuat Elio tertekan dengan sikapmu "

__ADS_1


" Apa seperti itu ? ", tanya Aqela pada Elio sambil menatap wajah tampan meskipun sedang lelah.


" yah bisa lepaskan ?, aku belum mandi beberapa hari ini, sangat tidak nyaman "


" Betulkah ? " tanya Aqela sambil mengendus badan Elio. Elio terkejut geli.


" Kau tidak bau, aku suka bau ini "


Oh tidak, Elio tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat Alexi dan meminta tolong padanya.


" AQELA ", Suara Alexi menyadarkannya bahwa ia sudah keterlaluan. Alexi pun menarik pelan adik bungsunya itu, membawanya ke sudut ruangan dan memarahinya.


" Kelakuan macam apa itu Aqela "


" Maafkan aku, aku sangat khawatir dan juga bahagia bisa memeluknya sedekat itu ", ucapnya memainkan kelima jarinya.


" Ah, ku membuatku bertambah pusing "


" Apa kau kemari sendirian ? "


" Ya "


" Baik, kita pulang dulu, aku akan mengantarmu " ucap Alexi.


Elio merasakan sensasi menggelitik ketika Aqela memeluknya. Bukankah kelakuan seperti itu jarang terjadi di sekitarnya?, selama ini tidak ada perempuan yang berani memeluknya sebelum diizinkan. tapi gadis gila ini tiba-tiba menerjangnya tanpa aba-aba, membuat dirinya merasa aneh. Sebabnya, entahlah Ia baru merasakan nya kali ini.


' Dan beraninya dia mengendus ? apa dia pikir dia itu sejenis pomeranian ? '



" El, maaf atas sikap kekanakannya "


" Ya, itu cukup mengejutkan Lex "


" Hah, aku tahu itu " ucapnya sambil melihat wajah letih Elio.


Ke duanya tertawa ringan dengan kejadian tadi, kehadiran Aqela rupanya mencairkan suasana yang sangat tegang, dari penculikan Azkia, tidak sadarnya Ms. Bell, semua pasti akan baik-baik saja.


" Aku akan mengantar Aqela, selalu berkabar "


" Ok "


Elio pun mengantar Alexi sampai depan Lif, Aqela berdiri di samping Alexi, ia bertingkah malu setelah menyadari perbuatannya tadi.


" Hati-hati, dan jangan berlaku seperti itu pada sembarang orang Aqela ", lambainya.


Aqela terpana dengan senyum manisnya, ia tanpa sadar tersenyum lega sambil menatap sosoknya yang sedikit lagi hilang dibalik pintu lif.


' Ada yang berubah ', pikirnya.


Sebuah jitakan kecil mendarat di kepalanya.

__ADS_1


" Aw " Keluhnya.


__ADS_2