KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
Siapa ?


__ADS_3

Azkia terduduk lemas sembari mengatur nafas yang terasa berat. Di depannya berdiri seorang pria tinggi berbaju hijau tua yang membawa cangkul.


" Paman Forest ? " ucapnya meyakinkan.


Pria tinggi itu mengulurkan tangannya dan membantu Azkia berdiri. Gisel yang menyadari hal itu berjalan ke arahnya dan memukul lengannya kuat.


" Paman, apa yang kau lakukan ? kau membuat kami ketakutan, dan kenapa kau tidak menjawab ucapan kami barusan ?! " ucap Gisel dengan nada tinggi berteriak.


" Apakah kau bertanya sebelumnya ?, aku tidak mendengarnya ", jawabnya kebingungan.


" Ku pikir aku akan mati " ucap Gisel pelan mengatur nafas.


Azkia memegang dadanya menenangkan diri. Paman Forest salah satu paman yang dekat dengan mereka, ia kakak dari ibu Gisel. Makanya dia tidak ragu dan takut memukul ringan paman kandungnya itu.


' Ah bukannya paman forest memiliki pendengaran yang tidak baik ?, karena itukah dia tidak mendengar suara kecil kami ? , mungkin saja seperti itu ', pikir Azkia.


" Sudahlah Gisel, paman apa yang menyebabkan mu sampai masuk ? "


" Tadi, aku akan masuk kehutan mencari jamur, tapi sepertinya pintumu terbuka dan ada 2 orang laki-laki bertubuh besar sedang berdiri di depan pintumu, mereka memerhatikan keadaan hendak masuk "


Azkia terkejut, rasa dingin menjalari tubuhnya.


" jadi aku menghampiri mereka, namun setelah itu mereka bergegas pergi, melihat pintumu yang terbuka dan tidak seorang pun ku lihat, aku memutuskan masuk dan melihat sekeliling, saat itu aku melihat sepatu Gisel dan mulai panik, ku sangka kalian sedang kesusahan, maka dari itu aku bergegas mengetok pintu dengan begitu keras, jika saja tidak terbuka, maka pasti ku dobrak pintu ini, tapi untunglah kalian baik-baik saja. ", ucap paman Forest tersenyum lega.


Badannya kembali gemetaran setelah mendengar penjelasan paman Forest. Siapa para laki-laki itu, jika saja tadi paman tidak ada, apakah yang akan terjadi padanya ?.


' Mungkinkah ini masih teror dari keluarga herven ?, aku takut '. Azkia menggenggam sebelah lengannya, berusaha agar ke 2 orang di hadapannya tidak menyadari gelagat anehnya.


' Apa yang harus ku lakukan ?, apa aku katakan saja pada Elio ?, tentang kejadian malam itu ? '


" Kia, kau masih takut ", ucap Gisel menyentuh pundak Azkia, ia sepertinya ketakutan, ia tidak menjawab panggilan Gisel yang kedua kalinya, hal itu membuatnya mendekati Azkia dan menyentuhnya menenangkan.


Terlihat Azkia terperanjat kaget dengan teguran Gisel.


" Maafkan aku Gisel, hari ini aku cukup lelah "


Keringat terlihat di keningnya, wajah pun pucat, keadaannya tidak baik-baik saja.


' Wajah itu lagi ' benak Gisel


" Baiklah, aku akan pulang dan membiarkanmu istirahat, telfon aku jika kau membutuhkan sesuatu ok ".


" Baiklah ", ucap Azkia tersenyum.


" Jangan menanggung semuanya sendiri, aku juga sudah besar, kau tahu ? ", ucap Gisel kembali menawarkan bantuan diri dan menghiburnya.


" ya, by Gisel, paman Forest "


" Ok by kia, ah jangan lupa kunci pintunya rapat-rapat " Ingat Gisel lagi.

__ADS_1


Azkia melambai pada gadis dan paman itu, lalu buru-buru mengunci pintu dan jendelanya. sepertinya malam ia akan kesusahan untuk tidur.


' Siapa yang harus ku hubungi ? '


...****************...


Didepan perapian Miss.Bell sedang duduk menyeruput kopi manisnya, perasaannya sedang gundah, menyangkut tentang kebenaran yang akan dikatakannya pada Azkia membuatnya sangat berhati-hati.


' Apa anak itu siap dengan cerita ini ? '


' Mungkinkah tidak perlu saja ? '


Hahh..., untuk kesekian kalinya ia menghela nafas seperti itu.


Miss. Bell melirik jam pada dinding ruangan itu, 20:00.


" Rupanya sudah semalam ini ya "


Tok tok tok


" Miss. Bell, apa kau sudah tidur ? "


" kau kah itu Gisel ? "


" Ya ", Jawanya.


" Masuklah sayang, aku tidak mengunci pintunya "


" Apa yang kau lakukan malam-malam begini ?, angin diluar sangatlah kencang ! "


Gadis itu tidak menjawab, terlihat kebimbangan dimatanya. Miss Bell kemudian menyodorkannya secangkir kopi panas buatannya.


" Terima kasih Miss "


" Mmm... miss Bell, bolehkah aku meminta tolong padamu? " lanjutnya.


Miss. Bell tampak tersenyum melihat tingkah Gisel yang canggung-canggung padanya.


" Ada apa denganmu ? kau terlihat lucu dengan itu semua "


" Serius lah Miss. Bell, ini menyangkut Azkia "


" Ada apa ? "


Gisel pun menceritakan kejadian siang tadi dengan kecemasannya yang tiada henti.


" dia terlihat sangat takut dan kerang sehat, sepertinya dia tidak enakan meminta bantuanku, bisakah kau menemaninya malam ini Miss.Bell ? "


Setelah mendengar penjelasannya itu, Miss. Bell beranjak berdiri, mengambil jaketnya dan bergegas menghampiri Azkia.

__ADS_1


" Baiklah, aku akan pergi melihatnya dan kau gadis kecil pulanglah dengan hati-hati ok "


" Baik Miss. Bell "


Sebelum mereka berpisah Gisel memeluk erat Miss. Bell, setelah itu mereka pun berpisah.


Jalan menuju rumah Azkia tidaklah jauh dari rumahnya, namun cukup memakan waktu 10 menit pada kegelapan malam dengan pencahayaan yang remang-remang.


'Apa yang sedang dia lakukan dengan keadaannya yang seperti itu, gadis itu semakin dewasa saja'. pikirnya.


Ketika umurnya sekitar 10 tahun ia tidak akan bisa jauh dari Miss. Bell dan selalu berkeluh kesah. Sakit sedikit pun akan selalu mengeluh dan merengek padanya. kini umurnya 23 tahun.


' Rupanya gadisku sudah mulai dewasa ', benaknya.


Tidak terasa Miss. Bell sudah berada di depan rumah Azkia.


" Azkia, apa kau di dalam anak nakal ? "


Beberapa menit kemudian pintu terbuka dan gadis itu memeluk Miss. Bell lega.


' Rupanya dia masih bocah ', sambil mengelus kepalanya lembut.


" Apa yang terjadi ?, ayo kita masuk " ucap Miss. Bell


Azkia mengikuti tanpa jawab sambil menutup wajahnya.


...****************...


" Ada apa El ? " tanya Alexi.


" Kau tidak mengangkat telpon dariku dan kau bertanya balik ? "


" Jika tidak ada yang harus di bahas, aku akan mematikannya "


" Eits... tunggu, tidak bisakah kau berbasa-basi sedikit ? "


" Hei aku sedang tidak dalam kondisi yang baik saat ini "


" Baiklah langsung saja, sepertinya berita mengenai Roy tidaklah benar,aku sudah menyelidikinya dan orangku tidak menemukan kuburan maupun rumah sakit yang mengurus mayatnya, bukankah dia sedang di rawat di Rumah sakit ? , entah rencana apa yang di pikirkan pihak sana ".


" Mmm.... kali ini cukup pantau saja, akan ku pastikan lagi mengenai hal ini El, jangan bertindak sembarangan "


" Baiklah, aku akan berdiam diri, kalau begitu beristirahatlah "


" Hem, ngomong-ngomong kau ada di Zkenti ? "


" Tidak, aku sedang mengunjungi paman dan bibiku, sudah seminggu lebih aku meninggalkan desa, Ada apa ? "


" Ah, baik cukup El, se you ", Ucap Alexi kemudian mematikan panggilan handphone nya tanpa memedulikan pertanyaan Elio yang tidak sempat di jawabnya.

__ADS_1


' jika Elio tidak ada di sana, apa dia akan baik-baik saja? , ku harap dia aman- aman saja ' benaknya sambil menutup mata. Sebaiknya dia tidur cepat saja malam ini, sangat melelahkan setelah berbicara dengan ayahnya.


' Ku harap besok akan menjadi hari yang menyenangkan '


__ADS_2