KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
Bekerja


__ADS_3

2 Minggu berlalu, tak ada perubahan dan tanda-tanda bahwa Ms. Bell akan sadar dari tidur panjangnya. Elio yang tidak bisa terus-terusan menetap di rumah sakit dan meninggalkan pekerjaannya harus kembali dengan rutinitas sehari-harinya. Namun ia sering menelpon memberi kabar dan bertanya mengenai kondisi Azkia dan juga Miss. Bell.


Gisel juga selalu menemani Azkia, sebenarnya rumah sakit ini mengerjakan perawat yang sangat handal dan fokus pada setiap pasien yang di tanganinya, mereka bisa saja memercayakan perawatan Miss. Bell pada mereka, namun Azkia dan lainnya ingin memastikan seseorang ada di sampingnya ketika ia bangun.


Azkia memejamkan mata menikmati dinginnya angin pagi sejenak, lalu menatap keluar jendela rumah sakit, ia berpikir mengenai situasinya saat ini, biaya pengobatan Miss. Bell pastinya tidaklah murah dan Azkia tidak bisa membiarkan Elio untuk membayar itu semua. Entah berapa lama Miss. Bell akan sadar. Ia harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya dan bergaji cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan mereka selama di kota Zefro.


" Sudah lama sejak Miss. Bell mengomel " ucap Gisel menatap wajah wanita tua di hadapannya.


Azkia menoleh padanya yang berada tepat di samping pembaringan Miss. Bell, ia menyisir rambut pendeknya yang telah beruban.


" Aku merindukannya juga, tapi tenang saja, aku tahu dia itu wanita yang kuat, bukankah begitu Sel ? " ucap Azkia tegar.


Gisel menatap Azkia dengan senyum kecilnya yang dipaksa. Ia tahu bahwa Azkia lebih sedih di bandingkan dirinya, Miss. Bell sudah seperti ibu kandung baginya, bagaimana mungkin ia akan tetap tenang dengan semua kejadian yang menimpanya. Ia akan malu padanya jika bersikap seperti ini terus, seolah-olah ia tersakiti dibanding dirinya.


" Yah " balasnya singkat dengan senyum kecut dan wajah murung yang tak pernah berubah semenjak kejadian itu.


Diluar ruangan 2 pria sedang bersiap masuk ke ruang perawatan Miss. Bell. Pintu terbuka, paman Jen dan Ben masuk dengan menenteng 2 bungkus mangkuk bubur di tangan mereka. Dengan senyum khasnya ia menyapa Gisel dan Azkia dengan mengangkat tangannya tinggi untuk melakukan tos.


" Bersemangat lah anak-anak kalian harus makan " ucapnya sambil mengangkat bubur di tangannya.


Paman Jen berjalan menuju Miss. bell, mengamati wajah tidur nyenyaknya dan bertanya padanya tanpa mengharap balasan.


" Apa kabarmu Miss. Bell, kau tidak lelah tertidur lama ? bangunlah, Azkia sangat kesusahan menghawatirkan mu" ucapnya sambil merapikan selimut Miss. Bell.


" Apa ada perubahan ? "tanya paman Ben yang telah berada di samping paman Jen. Paman Jen menggeleng.


" Kita harus lebih sabar lagi " ucap Jen menguatkan.


Azkia dan Gisel menyantap bubur buatan Paman Ben yang sangat banyak untuk porsi mereka. ini sangat enak, namun terlalu berlebihan. Mereka berdua tahu bahwa kedua paman itu menghawatirkan mereka juga, 2 gadis ini harus memperhatikan asupan makanan mereka, sehingga tidak jatuh sakit dan lebih memperkeruh keadaan.


Pintu terbuka, dokter masuk bersama dengan beberapa perawat yang biasanya merawat dan mengecek kesehatan Miss. Bell. Dokter menanyakan hal- hal kecil mengenai kondisi atau pun respon singkat Miss. Bell dalam beberapa hari ini. Azkia dan Gisel menggeleng pelan, ia tidak sekali pun menunjukkan reaksi yang diharapkan.

__ADS_1


" Saya harap semua keluarga jangan terlalu khawatir, hal ini sering terjadi pada pasien usia lanjut yang mengalami shok "


" Bagaimana dengan benturan di kepalanya dok ? " tanya paman Jen.


" Setelah hasil ronsen keluar, tidak ada luka parah pada kepalanya dan otaknya baik-baik saja, mari kita tunggu dan berharap yang terbaik untuk kesehatan pasien" ucap dokter menjelaskan keadaan Miss Bell.


" Kalau begitu kami permisi " ucapnya pamit undur diri.


Paman Ben merapikan selimut Miss Bell dan tersenyum menatapnya.


" Dia pasti akan mengomel nantinya " ucap paman Ben dengan senyum kecilnya.


" Pff... membayangkannya saja terasa lucu, aku akan menuntut makan gratis nantinya, ia harus membayar kerja keras kita dalam merawatnya, bukan begitu anak-anak ? " ucap paman Ben menyemangati.


" Ya, dan aku tidak akan mengatainya penyihir tua lagi " ucap Gisel dengan nada menyesal penuh janji.


Azkia tersenyum menyadari sesuatu setelah mengamati sekitarnya, ternyata selama ini dia terus memaksakan diri dan membiarkan tanggung jawab dari rasa bersalah membuatnya lebih menderita. Rasa bersalah dari kejadian ini membuatnya memutuskan bahwa dialah yang seharusnya terbaring disana. Dirinya sangat terpukul dengan ini semua, hari-hari terasa berat, meskipun luka lebam belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya, ia lebih merasa sakit di bagian dadanya. Ada yang kurang tanpa kehadiran wanita tua yang sedang terbaring dengan beberapa selang di pembaringan rumah sakit ini.


" Paman "


" Aku akan mencari kerja untuk saat ini "


Paman Jen dan Ben saling melihat dan kemudian fokus pada pengakuan Azkia. Mengapa tiba-tiba membahas kerja ?


" Kau akan bekerja ? " tanya paman Ben memastikan.


" Ya, aku ingin cari pekerjaan selama di kota "


" Uang dari Elio apa kurang ? " tanya Gisel.


Azkia menggeleng pelan dengan wajah sendu. Memikirkan bagaimana kedepannya jika mereka kekurangan uang untuk pengobatan Miss. Bell. Jerih paya Elio tidak untuk mereka saja, ia tidak ingin menyusahkannya lebih banyak lagi.

__ADS_1


" Selama ini Elio pasti kesusahan dengan pembayaran rumah sakit ini, dan lagi Miss Bell bukanlah tanggungannya" Jelasnya.


Paman Jen menopang kepalanya dengan lengan kananya sambil memijit keningnya ringan.


" Hemm.., Elio pasti akan terluka jika mendengar kata-kata itu keluar darimu Azkia " ujarnya.


Selama ini tentulah Elio yang mengurusi semua kebutuhan Azkia dan Miss Bell setelah semua hal yang terjadi. Tidak pernah terdengar keluhan atau pun kesulitannya dalam masalah finansial nya. Paman Jen dan Ben tentulah akan berbuat hal yang sama jika di perlukan. Sedari kecil, bertahun tahun yang telah mereka lewati tidak akan bisa di ukur dengan mengeluarkan beberapa uang yang bisa di cari, meskipun jumlahnya akan sangat banyak.


" Jangan katakan padanya, aku ingin membantu dan berguna walau sedikit saja paman " pinta Azkia.


" Kau akan dapat masalah nantinya Kia " ucap Gisel.


" Itu tidak akan bertahan lama Azkia, dia pasti akan segera tahu dan pastinya akan memarahimu " ujar paman Ben mengingatkannya.


Banyak yang terjadi sebelum ini tentunya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Azkia akan begitu mudah baginya untuk tahu. Paman Ben, paman Jen dan Miss Bell selalu terkejut akannya.


" Bukanya ka' Elio akan kecewa nantinya ? " ucap Gisel.


" Tidak di pungkiri lagi, tapi ini keputusanku, aku harus membantu bagaimana pun caranya, paman bisa kan ?" pintanya.


" Haiihh....aku tidak bertanggung jawab akan itu " ucap paman Ben acuh.


Azkia tersenyum " Terima kasih paman " ucap Azkia memeluknya. " Ah dan aku mohon bantuannya untuk mengawasi Miss Bell " ujarnya sambil membungkuk.


Ketiga orang dalam ruangan itu tersenyum melihat tingkahnya yang kembali bersemangat, mereka harap semua akan baik-baik saja.


" El, El, ELIO " Suara yang cukup keras dan pukulan ringan di bahunya menyadarkannya bahwa Alexi telah sampai dan sekarang menatapnya kesal.


" Apa yang kau lakukan El, belakangan ini kau tidak bisa fokus, mari bedakan Urusan kantor dan pribadi "


" Aku minta maaf soal ini, tapi sangat mengherankan bukan ? " ucapnya sambil melirik koran dengan kematian Roy di dalamnya.

__ADS_1


" Kali ini aku akan membantumu mengatasi masalah ini, setelah beberapa kertas ini di singkirkan, bagaimana ? " ucap Alexi memaksanya agar kembali fokus.


" Baik, ayo kita kerjakan, dan mari selesaikan, aku tidak bisa merasa khawatir seperti ini terus ". Alexi menepuk pundak sobatnya itu menguatkan.


__ADS_2