
Tidak terlihat apapun, semuanya gelap bagi Azkia, matanya tertutup kain berwarna hitam hingga cahaya pun tidak nampak sedikit pun.
' Kemana mereka akan membawaku ? '
Pikirannya kalut, disampingnya ia bisa merasakan salah satu pria yang membawanya sedang duduk dan menghisap rokok, Azkia terbatuk karenanya.
" Kau mau ? " ucapnya sambil menyodorkannya ke arah Azkia, ia menolak secepatnya menoleh dan menutup erat mulutnya. Suara tawa ejek terdengar dari pria itu.
" Sangat membosankan " ucapnya kemudian.
Mobil melaju dengan cepat hingga beberapa jam kemudian ia berhenti. Entah dimanakah mereka saat ini, penutup mata ini menghalangi pandangannya.
Pintu mobil terdengar terbuka, mereka turun dan menarik Azkia turun dengan kasar, mereka membimbingnya masuk ke sebuah ruang, terdengar suara pintu terbuka, suara pintu berdecit sangat memekakkan telinga hingga membuat Azkia merasa ngilu.
Krrriiieeetttt...
Azkia berjalan sebanyak 20 langkah dengan hati-hati, mereka sangat kasar memperlakukan Azkia, meski pun di depan Azkia ada kursi atau barang lainnya, mereka tidak memberitahunya atau memberikan aba- aba waspada kepadanya.
lalu mendudukkan Azkia di sebuah kursi dan mengikat tubuhnya kuat. Ke 2 pria itu terdengar membicarakan sesuatu.
" Kita harus mengubungi tuan secepat mungkin bos "
" Jangan memerintah ku, ia akan segera sampai ke sini "
Sementara mereka berbincang Azkia berusaha untuk melepaskan ikatannya, bisa saja ia beruntung dan dapat meloloskan diri. Namun tidak semudah yang dipikirkannya, ikatan tali yang mengikat tangannya sangatlah kuat hingga ia merasa perih akibat usaha yang di paksakannya.
" Hei, apa yang kau lakukan ? "
Teguran itu mengagetkannya.
Ditempat lain paman Ben dan Jen telah sampai di toko roti Miss. Bell, biasanya mereka akan melihat wanita tua itu berdiri di dapurnya yang menghadap ke arah jalan, namun hari ini tidak terlihat seorang pun disana dan lagi Azkia juga tak terlihat.
" Miss. Bell ", teriak paman Ben yang masuk dengan semangat, karakternya memanglah seperti itu, ia sangat periang.
" Jangan berteriak Ben, kau sangat gaduh ", ucap paman Jen mengingatkan, ia akan dapat masalah jika Miss. Bell akhirnya menghampiri mereka dan memberikan peringatan pukulan cinta sapu padanya.
Paman Jen tidak mendapat balasan dari peringatannya, tidak mungkin Ben mengalah padanya, ia sangat benci mendengar nasehat Jen, biasanya ia akan membalas dengan kata cemoohan yang sering kali dia lontarkan.
" JEN, MISS. BELL " panggil paman Ben dengan nada tinggi.
" Jangan membuat gad, oh tidak ", paman jen berjalan dengan cepat ke arah perapian tempat paman Ben berada.
" Apa yang terjadi ? ", tanyanya.
__ADS_1
" tunggu, ini tidak bisa di biarkan, aku akan mengambil mobil dan membawanya ke rumah sakit ", ucap Paman Ben yang kemudian berlari tanpa menunggu jawaban dari paman Jen.
" Miss. Bell ", paman Jen berupaya memanggil-manggil namnya agar kesadarannya bisa pulih. Darah segar terlihat di daerah keningnya.
" Apa yang terjadi ", tanya pada diri sendiri.
Tidak lama kemudian mobil pun tiba dan paman Ben, paman Forest dan beberapa tetangga lainnya membantu untuk mengangkat Miss. Bell ke mobil.
Gisel juga terlihat di sana dengan wajah pucat berkeringat dingin.
" Paman, apa kalian melihat Kia ?, dia tidak terlihat di mana pun ", ucap Gisel dengan wajah yang hampir menangis.
Paman Ben dan Jen saling menatap penuh khawatir. Sepertinya ada yang tidak beres dengan keadaan ini, namun Miss. Bell kini adalah prioritas utama. Mereka harus menyelamatkannya terlebih dahulu.
" Gisel tenang dan jangan kemana-mana, setelah ini kita akan mencarinya ", ucap paman Jen tetap tenang.
" Bisakah aku ikut saja paman ? , aku akan mencoba tenang, lagi pula aku juga khawatir dengan Miss. Bell "
" Hahh.. baiklah "
Mereka ber empat naik ke mobil dan paman Ben pun melajukan mobil dengan cepat.
" Siapa yang berani mengganggu kedamaian di desa kita ? Hah... ", ucap paman Ben dengan suara kesal.
Paman Ben tahu bahwa ia harus bersikap tenang dalam kondisi situasi ini, namun apakah masuk akal baginya untuk menyuruh untuk tenga?, didepan matanya ia melihat Miss. Bell tergeletak tidak sadarkan diri dengan luka di keningnya, Azkia pun tidak terlihat disana, bukankah ini situasi yang sangat berbahaya ?
" Aku tidak bisa setenang dirimu Jen " ucapnya kemudian dengan nda rendah mengancam.
Paman Jen melihatnya pasrah, Paman Ben memang memiliki tempramen yang kasar jika sudah emosi, dan hal itu sulit untuk di redakan, ia punya cara sendiri untuk mengontrol dirinya.
Dari kaca spion terlihat Miss. Bell yang tertidur di pangkuan Gisel pada bangku tengah mobil, sesekali Gisel menyeka luka Miss.Bell dengan lembut untuk menghentikan darah yang semenjak tadi keluar sedikit demi sedikit.
...****************...
" Hei ka', kapan lagi kau akan bertemu pria itu ? "
" Pria ?, siapa ? "
" Kau tidak peka sama sekali ", Aqela merajuk
" Hei anak kecil, ku peringatkan kau, jangan jatuh dengannya kalau tidak ingin sakit ", ucap Alexi.
Peringatan ini bukanlah bualan semata, selama berteman dan bersahabat dengannya, ia tidak akan sanggup melihat adiknya nantinya di perlakukan sama dengan wanitanya sebelumnya. Meskipun Elio lebih berpengalaman dalam berpacaran dan menjalin hubungan, tapi semuanya tidak berjalan lancar dan akhirnya putus.
__ADS_1
Pernah sekali dirinya dan Elio makan di cafe dan didatangi oleh wanita berambut pirang, sebelum Elio sempat menyapanya, sapaan tangan di pipinya mendarat deluan dan membuat sudut bibirnya berdarah.
" Dasar laki-laki pembohong, kau tidak menemuiku kemarin dan sekarang kau... " ucap wanita pirang itu sambil menatap Alexi dengan tatapan tidak percaya dan terluka.
" Hah, sudahlah kita putus mulai hari ini dan detik ini " ucap wanita itu kemudian.
Elio menyeka ujung bibirnya yang terluka dan tersenyum masam.
" Dasar cewek sialan " ujarnya.
Dan sekarang adiknya tertarik pada temanya itu ? Elio ?
" Oh tidak, sebaiknya kau mencari pasangan lainnya " ucap Alexi lagi.
" Apa-apaan ini, aku tertarik padanya ka' "
Elio diam mendengarkan, ia tidak ingin meneruskan pembicaraan ini.
" Bukannya kau akan senang jika kami bersama ? " ucap Aqela.
Alexi menatapnya tanpa expresi dan tersenyum datar melihat adik bungsunya itu.
" Tidak sama sekali " ujarnya
" Mmm... baiklah kalau kau tidak ingin membantu, aku akan berusaha sendiri ", ucapnya sambil tersenyum dan meninggalkan Alexi yang makin pusing dibuatnya.
" Ku harap semua itu tidak berjalan baik ", ucapnya sangat.
Ia tidak ingin hubungannya dengan Elio jadi renggang dan canggung akibat adiknya adalah mantan Elio kelak.
Membayangkannya saja sudah membuat dirinya merinding.
Nada ringtone handphone berbunyi, nomor yang tidak asing lagi.
" Al, kau ada dimana ?, ayo bertemu di cafe Xxxx sebelum aku berangkat ke Zkenti "
" Bukannya kau harus mendengar balasan dari ajakan yang sepihak itu El ? "
" Ayolah kawan "
" Hah, sangat kebetulan El "
" Apa-apaan itu, cepatlah, aku akan tiba sebentar lagi "
__ADS_1
telepon terputus.