
Elio merasa lalai sebagai orang terdekat Azkia di rumah ini, ia tau bahwa Azkia pasti akan merasa bosan dan lagi pekerjaan apa yang bisa di lakukan gadis itu di rumah yang asing baginya ini?. Gadis di ruangan Alexi menyadarkannya, bahwa Azkia sedang tidak baik-baik saja.
"Hah, aku sangat tidak peka" ucapnya pada diri sendiri.
Ia mempercepat langkah kakinya untuk segera bertemu dengan Azkia, tidak tahu mengapa, gadis itu sudah menjadi prioritasnya semenjak Elio mengenalnya. awal melihatnya membuat dadanya berdetak kencang, itu terasa sakit, perasaan sedih tiba-tiba muncul tak tertahan, Elio bingung dengan dirinya sendiri.
' Apa yang terjadi pada dirinya?' pikirnya saat itu. Sekelebat gambar yang entah dari mana juga muncul di kepalanya dan itu membuatnya sangat kesusahan. namun sakit itu tidak bertahan lama dan akhirnya ia sibuk dengan kepindahannya di desa itu, ia pun tidak memusingkannya kemudian.
Mengingat kembali kejadian itu membuatnya kembali terpikir, ' apa mungkin kejadian itu ada sangkut pautnya dengan Azkia ?', namun ia secepatnya menepis pikirannya. Itu tidak masuk akal, tidak mungkin Azkia terlibat, ia tidak ada hubungannya dengan keluarga Randof selama ini.
'' Hentikan El, jangan konyol'
Elio akan sampai di kolam setelah lorong panjang yang terhubung dengan dapur, ia berjalan sedikit berlari agar segera dapat menemui gadis itu, ia akhirnya tiba, Azkia terlihat sedang memainkan kakinya dengan santai santai.
" Ekhm"
Azkia berbalik, sesikit terkejut menyadari ada seseorang dibelakangnya. Elio menghampirinya dan menyucek rambutnya.
" Hah, apa yang sedang kau lakukan di sini?, ku kira kau akan tidur siang ini "
Azkia tersenyum kecil mendengar perkataan Elio.
" Ada apa?, apakah sangat bosan? " tanya Elio kemudian.
" Cukup bosan "
" Baiklah, aku akan menemanimu seharian ini "
" Benarkah ?, kita akan keluar hari ini ? "
Elio senang melihat Azkia yang bersemangat, oleh perbuatan kecilnya itu.
" Maaf Kia, bukan hari ini, tapi aku janji, besok kita akan melakukan perjalanan ke pantai " ucap Elio yang tiba-tiba teringat akan percakapan Alexi dan gadis kecil tadi.
" Baiklah, aku akan menunggunya " Ucapnya semangat, matanya terlihat berbinar membayangkan perjalanan besok yang selama ini di tunggunya.
'Tunggu aku pantai'
...****************...
" Tidak bisakah kalian bekerja dengan becus?, sampai detik ini pun kalian tidak bisa menemukan pelakunya? "
Tuan Arthur kembali melayangkan pukulan di wajah bawahannya. Emosi yang beberapa hari ini ditahannya mulai meledak kembali.
" Apa yang kalian lakukan selama ini HAH? "
Tongkat di tangannya akan kembali memukul pengawalnya, namun terhenti dengan teriakan dari kejauhan.
"Tuan, Tuan"
__ADS_1
Dari pintu utama seseorang pengawalnya berlari mendekat pada ketua mereka, matanya terlihat iba melihat ketuanya bercucuran darah disana sini, keningnya pastilah robek lagi akibat pukulan tongkat di tangan tuannya. ia duduk di samping ketuanya dan membisikkan sesuatu.
" Tuan, kami mendapatkan informasi menyangkut kejadian tuan Roy "
Tuan Arthur yang semula tidak bisa menahan emosinya, kini menurunkan tongkatnya dan mendengarkan.
" Katakan "
" Perempuan yang terlibat sekarang ini ada bersama Tuan muda keluarga Will "
Mendengar " keluarga will" keluar dari mulut bawahannya itu membuat Tuan Arthur mengernyit kesal, siapa yang tidak tahu dengan keluarga berpengaruh itu, bukan hanya koneksinya di bidang bisnis, orang-orangnya pun juga banyak dan semuanya memiliki koneksi yang kuat.
Cshekk... ia berdecak kesal, akan sangat susah menangkap dan mengintrogasi anggota keluarga Will, hanya sedikit yang tahu bahwa mereka merupakan keluarga mafia yang terpandang, namun keluarga herven salah satu keluarga yang berpengaruh juga sehingga mereka mengetahui sedikit permasalahan berbagai keluarga di sekitarnya.
Satu-satunya cara adalah dengan menjauhkan gadis itu dari anggota keluarga Will.
" Perhatikan setiap gerak gerik gadis itu, jika kalian melihat kesempatan, culik dia dan bawa ke hadapanku, MENGERTI !? "
" Baik Tuan "
...****************...
Pantai
Cuaca pagi ini sangat terik sehingga membuat mata mereka silau karna cahayanya.
Mendengar ocehan Aqella membuat Alexi kesal dan menjitak kepala adiknya itu.
" Hei itu sakit " keluhnya.
Alexi berjalan meninggalkannya dan mengabaikannya.
" Dasar kak berhati batu " teriaknya kesal.
Namun Alexi tidak meladeninya, ia berjalan menuju air laut, entah sudah berapa lama ia tidak mengunjungi tempat ini. Banyak kenangan yang terjadi disini, Alexi melihat sekitar, tidak banyak yang berubah, hanya saja pohon kelapa di sekitarnya bertambah tinggi, rumput-rumput dan bunga liar juga rimbun.
Angin berhembus kencang membuat sebagian pasir terbang, Alexi memiringkan wajahnya, menahan pasir agar tidak mengenai mata dengan telapak tangannya. Sejajar dengannya, sekitar 10 langkah, gadis itu sedang berdiri menikmati hembusan angin, ia membiarkan angin memainkan rambutnya yang ikal, sangat Indah.
Menyadari sesuatu yang lain, Alexi melihat ke arah Elio, dia sedang duduk memerhatikan Azkia, 'apakah selama ini Elio tidak menyadari tatapan rindu itu?', orang lain pun akan tahu, bahwa tatapan itu bukanlah bualan semata.
ada arti yang tersembunyi dalam tatapannya. Namun Alexi tidak ingin menggali masalah Elio lebih dalam lagi.
" Hah...bisakah kau jangan ikut campur Alexi? " Ucapnya pada diri sendiri sambil memejamkan mata mencoba mengikuti gadis seberang.
Kenangan kembali terbesit di kepalanya.
" Lex, lexi, bisakah kau mencarikanku kerang yang cantik, aku sangat mengiginkannya ", ucap gadis kecil yang dirindukannya.
__ADS_1
" Baiklah tunggu di sini ya, jangan pergi kemana-mana "
" Baiklah, Aku akan menunggumu " ucapnya tersenyum.
" Baiklah, kau berjanji nitha, jangan membohongiku ".
Alexi kecil pergi menggali di beberapa gundukan pasir, namun sangat susah untuk mencari kerang cantik, semua kerang yang di dapatnya tidaklah indah dan mempunyai retakan di beberapa bagiannya.
" Ternyata sangat susah mencarinya, tapi tenang saja, aku akan mendapatkannya untukmu Nith "
Gadis kecil yang sedari tadi duduk tidak jauh darinya, berjalan mendekati Alexi kecil sambil berlari ringan.
" Hei, apa yang kau lakukan, hati-hati" ucapnya khawatir, ia bisa saja jatuh jika lari di atas pasir dengan kaki yang pendek seperti itu.
" Aku akan membantumu Lex, ayo kita cari bersama " ucapnya sambil mengandeng tangan Alexi.
" Baiklah ", Alexi bertambah semangat mencarinya.
" Mmm... apakah kita tidak bisa mencarinya di air saja, sepertinya banyak kerang yang terbawa ombak, aah lihat itu Lex" ucap gadis kecil itu, sambil melangkahkan kakinya menuju air laut.
Alexi kecil menariknya dengan sigap.
" NITHA, apa yang kau lakukan? jika kau seperti ini aku akan memarahimu untuk membantuku, kau naik saja dan biarkan aku mencarinya sendiri " Ucap Alexi meninggikan volume suaranya .
Mata gadis itu memerah, ia terkejut dan sedih, baru kali ini Alexi meneriakinya, hal itu membuatnya sakit hati dan sedih.
" Mengapa kau berteriak padaku?, aku benci padamu lex, kakaku pun tidak pernah memarahiku "
Alexi gelagapan, ia hanya terlalu mengkhawatirkan gadis kecil dihadapannya. Apakah salah ?
" Nith, aku tidak bermaksud "
HMM... ia memalingkan wajahnya yang imut itu dari Alexi.
" Bisakah kau memaafkanku kali ini?" ucapnya dengan nada iba.
Melihat wajah Alexi yang sedang menyesal membuat gadis itu luluh dan melawan egonya.
" Baiklah, tapi dengan syarat! "
" Apa itu, aku akan mengusahakannya "
" Kalau begitu " gadis kecil mendekat ke telinga Alexi sambil berbisik sesuatu dan hal itu membuat keduanya tertawa.
" Apakah kau, itu janji? "
"Ya, kau harus menepatinya Lex "
"Baiklah, aku berjanji" Ucap Alexi sambil melingkarkan jari kelingkingnya pada Nith.
__ADS_1
...****************...