
Dari kejauhan Aqela dapat melihat gelagat ke 2 pria tampan itu dari jauh.
' Apa yang sedang mereka bicarakan dengan wajah tegang dan serius itu ? ', pikirnya.
Alexi terlihat sangat kalut dan gelisah, sedangkan pria di sampingnya berdiri tegap dan menatapnya dengan dingin.
Haih, Aqela mengeluh pada diri sendiri.
' Ngapain juga kau memikirkan apa yang tidak kau ketahui Aqela'
Semenit kemudian Alexi meninggalkan pria itu sendiri, Aqela menatap punggungnya yang lebar, entah apa yang terjadi, tetapi ia sangat penasaran dengannya dan memutuskan untuk menghampirinya.
Aqela berjalan mendekatinya dan menegurnya.
" Mmm... apa kau menyukai pemandangannya ?" tanya Aqela pada Elio.
Elio menyadari kehadiran gadis itu, meliriknya sekilas, membalas pertanyaannya sambil kembali menatap laut di hadapannya.
" Mmm..." jawaban yang singkat.
" Jawaban yang singkat, apa memang kau orang yang sedingin ini? "
" Kau adik dari Alexi bukan? "
" Ya, apa kakaku pernah menceritakan ku? " tanya Aqela balik.
" Tidak, hanya saja kalian sangat berbeda "
Aqela merasa tersinggung mendengar pernyataan pria ini.
" Atas dasar apa kau menilai seperti itu ? ", ucap Aqela dengan nada kesal.
" Banyak hal yang bisa ku bandingkan, apa kau ingin mendengarnya ? " tantang Elio.
" Apa itu ? "
" Salah satu kesopanan seseorang jika bertemu dengan orang baru adalah mengenalkan diri, Alexi selalu bersikap seperti itu, tapi kau sama sekali tidak ", ucap Elio menatap kedepan.
Aqela tidak berkutik di buatnya, memang dirinya merupakan gadis aktif dan melakukan seseorang dengan sesukanya. Jika tertarik pada seseorang dia akan mendekat dengan agresif.
Namun mendengar pria ini berbicara tentang kesopanan memancing jiwa perbandingannya keluar. Ia tidak ingin menerima saja ucapan dari pria ini.
" Hah, kau tahu, dirimu juga sangat berbeda dengan adikmu "
Elio berbalik pada.
' *Sangat tiba-tiba* ', mata mereka bertemu.
Aqela maju dan menatap mata Elio sambil mendongakkan kepalanya agar ia bisa balas menatap matanya coklat Elio.
" Jika seseorang berbicara, bukannya sangat tidak sopan jika tidak menatap matanya ? "
Elio memperhatikan Aqela.
__ADS_1
" Apa berbicara harus sedekat ini ? " ucap Elio sambil berjalan selangkah ke arah Aqela.
Menyadari bahwa jarak mereka amat sangat dekat membuat Aqela, spontan mendorong Elio menjauh. ia gelagapan di buatnya.
Aqela pun sedikit menjauh dari Elio dan kembali berbicara padanya.
" Baik, aku mengaku kurang baik dalam perkenalan ini, perkenalkan aku, maksudku nama Aqela " ucapnya sambil mengulurkan tangan.
" Elio " ucapnya sambil menerima salaman gadis depannya itu.
...****************...
" Aaa... akhh.. " Roy tersadar dari pinsannya. Tubuhnya bergetar ketakutan, rasa sakit di tangannya masih sangat terasa perih. keadaannya saat ini sangat memprihatinkan.
Ibunya yang selama ini menemaninya menyadari bahwa anaknya sadar, bergegas memanggil suaminya.
" Apa kau mengenali ku sayang ? " tanya miss. Arthur pada anak lelaki semata wayangnya itu.
Roy Mengangguk, mengiyakan.
Tuan Arthur masuk dan menghampiri Roy yang terbaring lemah, melihat anaknya mengalami kesakitan seperti itu, amarahnya kembali, dan ia berjanji akan memberikan pelajaran bagi orang yang telah menyakiti putranya.
" Aku pasti akan membuat orang yang melakukan ini terhadapmu menderita Roy " ucap Tuan Arthur menenangkan anaknya.
Roy yang mendengar hal itu gelisah cemas dan buru-buru menghentikan ayahnya.
" Tidak ayah, jangan lakukan apapun, lencana, keluarga pria itu, kita akan habis jika berurusan dengannya ". ucap Roy ketakutan.
Mendengar rencana ayahnya malah membuat Roy tambah gelisah saja, apa ayahnya ini lupa bahwa Alexi itu adalah anak dari Tuan Wil?, orang yang paling dihindari untuk berselisih?.
" Tidak ayah, ini tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Will, kita tidak boleh menyentuh mereka seujung jari pun, jika kau mengusik mereka, semuanya justru akan semakin rumit dan tidak akan ada jalan keluar lagi jika kita berseteru dengan 2 keluarga mengerikan itu." ucap Roy ketakutan.
Tuan Arthur yang mendengar penjelasan anaknya itu terheran. Keluarga manakah yang di maksud oleh anaknya ini.
Namun Tuan Arthur tidak secepat ini menyerah, dia menganggap bahwa Roy sedang berada dalam tekanan ketakutannya sehingga berkata seperti itu. Namun masuk akal juga jika menghindari salah satu keluarga yang kuat. Tuan Arthur akan mengesampingkan urusannya dengan keluarga Will dan akan fokus ke arah si gadis saja. Dari penjelasan Roy pun dia tidak menyinggung mengenai si gadis ini.
' *Jangan main-main, mereka harus tetap waspada dengan keluarga Herven ini* '
...****************...
" Lex, kami akan berangkat langsung dari sini, aku akan menunggumu di Zkenti " ucap Elio
" Ok, hati-hati " ucap Alexi sambil menepuk pundak Elio.
Azkia yang berdiri di samping Elio pun melangkah maju mendekati Alexi. Beberapa hari ini yang di alaminya di kota Zervo merupakan pengalaman baru baginya, meskipun banyak hal yang tidak di inginkan, tapi ada juga hal yang harus di syukuri.
Seperti halnya pertemuan mereka dan rahasia yang terjadi diantara mereka berdua.
" Terima kasih untuk beberapa hari ini ", ucap Azkia tersenyum menatap Alexi.
" Ya".
Alexi menjawab dengan singkat, entah kata apa yang harus disampaikannya pada Azkia, ia malas memikirkannya. Lagi pula beberapa hari kedepan ini Alexi akan berkunjung lagi ke rumah Elio di Zkenti. Mereka akan secepatnya bertemu lagi.
__ADS_1
Mendengar jawaban Alexi, Aqela menepuk pundak kakaknya ringan, dan maju mendekat ke arah Azkia dan mengandeng tangannya.
" Hei, namamu Azkia kan, sebelumnya kita sudah kenalan, hati-hati di jalan dan ku harap kita bisa berteman " katanya sambil meraih tangan Azkia hangat.
Mendapat perlakuan sehangat itu, Azkia tersenyum dan sangat bersyukur.
" Ya, ku harap kita bisa berteman, lain kali kau bisa menemuiku di desa Zkenti ".
Mata Aqela berbinar mendengarnya.
" Baiklah, hati-hati di jalan, ku harap kita akan berjumpa dengan segera ".
Aqela pun melepas tangan Azkia dan melihatnya berjalan menjauh dari dirinya dan Alexi. Elio memintanya agar cepat menghampirinya, agar mereka tidak akan kemalaman di jalan nantinya.
Aqela dan Alexi menatap mereka dari jauh. Terlihat Elio merapikan barang bawaan mereka di bagasi mobil dan Azkia melambai ke arah mereka berdua sebelum masuk dalam mobil.
Aqela membalas lambaiannya.
Menyadari sesuatu, Aqela berlari kecil menghampiri mereka yang sudah berada di dalam mobil yang hendak pergi.
" Hei Elio, kau juga hati-hati menyetirnya " Ucapnya dari balik jendela mobil.
" Mmm.. sampai bertemu lagi Aqela " balas Elio dengan senyuman. perkenalan mereka tempo hari tidaklah bagus untuk diingat, oleh karena itu Elio harus memperlakukannya dengan baik sebelum mereka berpisah di sini. Entah kapan lagi mereka akan bertemu.
Aqela terpana, pria di hadapannya sekarang ini tidak pernah menunjukkan senyumnya barang sedikit pun padanya dalam beberapa hari ini, namun kali ini dia tersenyum.
Aqela yang sejak awal menaruh perhatian pada Elio terpana dengannya dan spontan memberikan kecupan ringan di pipinya. Elio terkaget.
' Gadis ini', benaknya sambil menengok ke arahnya.
Azkia menutup mulutnya tak kalah kagetnya dengan Elio. Alexi yang melihat dari jauh menggelengkan kepala putus asa melihat kelakuan adiknya yang tidak tahu didapatkannya dari mana. Jika ayah mereka melihat hal ini, tentu saja Elio akan dalam masalah biar pun Aqela yang membuatnya.
"Maafkan aku El " ucapnya lirih prihatin.
" Sampai berjumpa kembali " ucap Aqela menghiraukan expresi kaget Elio dan kemudian berlari menghampiri Alexi.
Elio melihatnya dari spion mobilnya, setelah di hadapan Alexi, pria itu memberikan jitakan pada adiknya itu dan gadis itu sepertinya mengeluh akannya.
Elio menjalankan mobilnya dengan senyuman yang masih menghias bibirnya.
" Ekhmm... El, kau tersenyum sangat lama, sepertinya bukan aku yang sedang menyukai seseorang "
" Jangan berpikir terlalu jauh Kia, dia hanyalah anak kecil bagiku "
Mendengar itu Azkia tersenyum kembali, baru kali ini ada seorang gadis yang mendekati Elio seagresif seperti itu. Ia turut senang karenanya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan perasaan mereka masing-masing.
Tanpa disadari, tidak jauh dari mereka mobil sport hitam mengikuti dari kejauhan.
" Jangan sampai kehilangan jejak mereka ".
" Baik Bos ".
__ADS_1