
Dering Handphone bergetar sekali, namun tidak ada yang mengangkatnya. Paman Jun dan Ben sedang bersiap-siap memasak bubur untuk ke 2 gadis itu. Malam ini mereka akan menginap dan mengantikan mereka untuk menjaga Miss. Bell esok hari. Beberapa hari ini mereka tidak sempat mengunjungi miss. Bell karena urusan lainnya.
Dering handphone terdengar lagi, kali ini Ben mendengarnya dan bertanya pada Jun.
" Bukankah itu handphone mu Jun ? "
" Oh sepertinya begitu " jawabnya sambil mencuci beberapa sayur yang telah teriris rapi.
" Aku akan melihatnya, " Paman Jun bergegas meraih HP nya. "Oh ini dari Gisel " teriaknya kemudian.
" Telponlah lagi " ucap Ben sedikit berteriak pula, ia sedang berada di dapur saat ini dan Jun di ruang tamu. Namun sebelum ia akan menelponnya, panggilan itu kembali masuk. Paman Jun pun mengangkatnya.
" Halo, Ada apa Gisel ? "
" Pa~man ~😠", suara isak Gisel terdengar disana.
' Heng ?, anak ini menangis ?, ada apa ? ' pikir paman Jun, namun ia dengan cepat tersadar. Tubuh Paman Jun seakan beku memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi, pikirannya tak karuan mendengar suara isak tangis gadis itu, apa yang terjadi ? apa ? tidak, tidak mungkin.
" tenang, apa yang terjadi ? " tanyanya dengan suara bergetar.
" Mis~s. Bell ~~ 😠"
HAH, kaki paman Jun lemas seketika, ia hampir jatuh jika tidak berpegangan pada kerangka jendela di sampingnya.
' Apa ini betul terjadi ? ' pikirnya.
" kalian tenang, tenang dulu " paman Jun menenangkan dirinya.
" Fuuhh... " Ia menarik nafas panjang dan kemudian mengatur nafas perlahan.
" Miss. Bell paman ðŸ˜, segera kemari "
" Ia, kalian tunggu, aku akan segera tiba "
Telepon terputus, paman Jun berdiam sejenak mengatur hati dan perasaannya, rasa shock dan kaget yang dirasakannya mempengaruhi kekuatan tubuhnya dan membuatnya kesulitan bernafas.
" Hei, ada apa ? "
__ADS_1
Paman Jun terkejut dengan pertanyaan yang datang tiba-tiba, Hah, apa yang harus dilakukan paman Jun ?, Ia harus memberitahukannya meskipun berita ini sangat menyakitkan.
" Miss. Bell " ucap paman Jun tertahan.
Mendapati reaksi seperti itu dari saudaranya membuat paman Ben mengerti akan maksudnya. Paman Ben jatuh terduduk dilantai, kakinya terasa tidak bertenaga, ia merasa tidak dapat berdiri dan lumpuh seketika.
" BEN " Jun pun menghampiri saudaranya sambil menenangkannya.
" Kau baik- baik saja ? atur nafasmu " pinta Jun, Ben dengan susah payahnya mengatur nafasnya yang seakan terhimpit. Bayang-bayang miss. Bell yang terbaring dengan tubuh yang dingin terlintas dibenaknya, hal itu menambah kegelisahan dalam dirinya.
" Jun, bagaimana ini ? " Suara tertahan dari Ben membuat Jun kembali larut dalam kesedihan, ia mencoba menenangkan saudaranya itu sambil menepuk pundaknya.
Ben dan Jun saling menguatkan tanpa kata, hanya air mata saja yang mengalir dalam keheningan.
" Kita harus bergegas Ben " ucap paman Jun sambil membantunya berdiri. Waktu terus berjalan, punggung mereka terlihat sangat rapuh saat ini, mereka membutuhkan bantuan sokongan, ke 2 pria dewasa yang terlihat terluka itu menguatkan diri menuju seseorang yang membuat mereka se menyedihkan itu.
...****************...
Mobil melaju memasuki halaman Rumah sakit, tanpa menunggu Ben keluar dari mobil dan berlari meninggalkan Jun dan Forest yang sedang memarkir mobil.
Langkah kakinya terasa ringan. dalam pikirannya ia harus bergegas sampai kesana. Dengan cemas ia menunggu lift, kekhawatiran terlihat jelas disana, Orang-orang disekitarnya menatapnya bingung, aneh penuh tanya. Ia pun tidak memperdulikan sekitarnya, hanya berfokus pada kecepatan yang terasa lambat baginya, laju lift pun terasa sangat lambat.
Akhirnya tiba dilantai ruangan Miss. Bell, paman Ben Membuka pintu dengan terburu
Brakk...
Kepalanya menunduk menatap lantai, ia mengatur nafasnya sebelum masuk melihat. Beberapa perawat dan dokter berdiri disana, Azkia dan Gisel yang berada di samping kanan Miss. Bell mengarah langsung ke pintu menatapnya tanpa kata dengan pandangan yang tak dapat di artikan, satu hal yang pasti, mata mereka merah akibat tangis.
" Hahhh..~ " helaan nafas berat terdengar dari paman Ben, Ia sedang menguatkan diri. Tubuhnya terasa gemetaran.
Pelan ia menguatkan diri untuk melangkah masuk, saat ia mendongakkan kepala, senyum Miss. Bell terlihat disana. Matanya memerah menahan tangis, seketika rasa lega dan syukur membanjiri dirinya, ia memegang dadanya mencoba menahan kegembiraan dan tanpa sadar air mata penuh bahagia terlihat disana.
" Ada apa dengan senyum itu ? " ucap Paman Ben mengeluh lega, ia pun mendekatinya, menggenggam tangannya dengan perasaan syukur.
" Selamat datang kembali ".
" Ha, ha kau terlihat menyedihkan Ben " ucap miss. Bell menghibur.
__ADS_1
...****************...
" GISELL" keluh paman Forest menatap Gisel dengan nada kesal.
" apalagi yang salah dariku paman ?' paman Jen bukankah kau yang salah mengartikan ? Kenapa aku yang salah ? " keluhnya manja.
Paman Jen menepuk belakang kepalanya yang terasa berat, siapa yang tidak akan salah paham jika seseorang menangis sambil menelpon ?, hah.. Menyusahkan.
" Akuilah salahmu Sel, aku pun pasti akan sangat khawatir jika kau menelpon tidak jelas dan menangis tersedu seperti itu " ucap Azkia.
Paman Ben, Jen dan Forest mengangguk bersamaan, saat ini mereka setuju dengan pemikiran Azkia.
" Ah, apakah kau menelpon Elio dengan keadaan seperti ini ? " tanya Azkia menyadari.
" Yah, tapi setelah kata 'Halo' suara ka' Elio tidak terdengar lagi " ucapnya.
Mereka saling menatap dan bergegas mencari Handphone.
" Hei, cepat telpon dia, dia pasti sedang terburu-buru ke mari " ucap paman Jen panik.
Baru kali ini paman jen bersikap panik dan tak bisa menjaga ketenangannya, apa dia sangat khawatir ? Paman Ben menyaksikan dari sudut sofa, ia masih merasa takjub dengan keadaan yang dialaminya, untunglah semua baik-baik saja, ia pun berdiri untuk keluar dari ruangan, ia membutuhkan rokok secepatnya.
Miss. Bell melihat paman Ben keluar dan kemudian menatap sekelilingnya, ia tersenyum melihat mereka semua dalam keadaan yang baik-baik saja.
Brakkk..
Suara bantingan pintu yang sangat keras mengagetkan seisi ruangan.
" Miss. Bell ", teriaknya.
Semua orang menatap sosok yang baru datang itu, semuanya terdiam cukup lama, semua orang paham dengan situasi yang terjadi, namun lebih takjub lagi dengan penampilannya yang sangat tidak rapi, baru kali ini terlihat, dengan tali sepatu yang tidak terikat, kemeja yang terkancing sembarang, apalagi rambutnya yang kusut tak tersisir.
Ia menatap sekitarnya bingung sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat berlari, mimik ketakutan terlihat disana, dari belakangnya muncul sosok yang Azkia kenal dengan penampilan yang tak kalah acaknya, namun tak menutupi ketampanannya.
Dalam keheningan penuh kebingungan Gisel tertawa kecil melihat kekagetan dan kebingungan di wajah Elio yang datang dengan keadaan seperti itu.
" Bukankah baru kali ini terlihat ? PFTT..." semua orang pun menatap kembali Elio dan ikut merasa lucu akannya, dengan cepat semua tertawa bahagia karenanya.
__ADS_1
" Hah, apa-apaan ini ? " ucapnya masi dalam kebingungan.