
Dering handphone terdengar, Alexi mengambilnya dari saku celana dan melihat layarnya, disana tertera nama yang tidak asing lagi, itu panggilan dari Elio.
" Kau belum menjawab pertanyaan ayah Lex ", ucap Mr.Will menginginkan jawaban.
Alexi menekan tombol cancel dan memasukkan handphone nya kembali. Ia tidak ingin membuat ayahnya merasa tidak nyaman.
" Ah dia adik Elio, rekan kerjaku ", jawabnya singkat.
" Baiklah, jika seperti itu, tidak ada alasan aku harus berhati-hati kedepannya ".
Alexi mengerutkan dahi mendengar perkataan Mr.Will, apa yang di dengarnya ini merupakan peringatan padanya ?, ia merasa kesal menaikkan rambutnya yang sedikit acak.
" Ayah, apa maksud dari perkataanmu ?, tidak bisakah aku mengurus kehidupanku sendiri ? "
" Hah, kau ingin diperalat lagi?, apa pengalaman sebelumnya tidak menjadikanmu belajar? ", ucap Mr.Will dengan nada merendahkan.
Perkataan Mr.Will sungguh mengena dan membuat Alexi sangat tersinggung dibuatnya, meski pun ia tahu bahwa pria tua dihadapannya itu menunjukkan kepedulian terhadapnya, tapi ucapannya sungguh membuat Alexi mengingat kembali masa-masa berat itu. Tanpa sadar ia tidak bisa menahan emosinya.
Brak
Ia memukulkan tangannya dimeja yang berada disampingnya, menahan gejolak di dadanya yang masih terasa menyesakkan.
Mr.Will melirik anak sulungnya itu, memastikan apakah dia baik-baik saja. Ia menunduk dalam, tangannya mengepal dan badannya bergetar, entah apakah itu amarah ? ataukah kesedihan ?, Mr. Will tidak mengetahuinya.
Beberapa tahun semenjak wanita murahan itu membuat anaknya menjadi semenyedihkan ini ia sangat marah sehingga seringkali perkelahian mereka dimulai dengan ucapannya yang selalu mengarah pada sosok wanita itu. Jika mengingat anak sulungnya diperlakukan seperti itu membuat emosinya juga tidak dapat ditahannya dan melimpahkan semuanya ke Alexi. Meskipun ia tahu bahwa itu bukanlah kesalahan Alexi, tapi ia tidak bisa menutup mata dari kejadian itu dan malah membuat anaknya itu terus-terusan sakit hati dan marah kepadanya.
" Hahh.., tidak bisakah kau melupakannya ?, ini terasa sangat menyedihkan jika kau yang mengatakannya ayah!, aku seakan ingin mencari wanita itu dan mencekik lehernya hingga patah " ucap Alexi menatap tajam Mr.Will.
Ia kemudian menegakkan badannya sambil mengatur nafasnya yang tidak teratur tadinya.
" Aku sudah melupakannya, kau tidak perlu khawatir yah, jika saja ibu tidak menyuruhku memberikannya seorang cucu, aku pastinya tidak akan pernah mendekati wanita manapun lagi ".
Setelah selesai menyampaikan itu, ia berbalik dan meninggalkan ayahnya itu dengan diam, tidak ada kata perpisahan disana. Pintu terdengar tertutup dan Mr.Will kembali memperhatikan kolam dihadapannya.
' Apa yang kulakukan terhadap anak itu ', pikirnya dengan raut wajah sedih.
...****************...
" Hei kau tidak akan menceritakannya padaku ? " desaknya pada Azkia setelah melihat bekas luka di lengannya yang masih membiru. Azkia berusaha mengacuhkan temannya itu.
" Ayolah, apa Elio memukulmu ? "
Pikirannya lama kelamaan semakin melantur, bukannya dia memiliki imajinasi yang sangat tinggi untuk seukuran gadis desa yang polos ?.
__ADS_1
" Gisel..., bukannya kau akan membuat Elio merasa sedih dengan pikiran yang sangat tidak masuk akal itu ? "
Membayangkan hal itu, membuat Gisel merasa bersalah.
" Ini adalah salahmu Kia ", ucapnya manyun, dan meneruskan protesnya pada Azkia.
" Mungkin saja Miss. Bel tidak tahu mengenai bekas luka yang tidak kau perlihatkan itu, untung saja aku datang dan melihatnya langsung, jika tidak, kau tidak akan mengatakannya pada siapa pun kan ? ". Celotehnya lagi.
" Yah, tapi kebiasaanmu itu harus di hentikan Gisel, kau membuatku takut ketika tiba-tiba masuk saat aku sedang mengganti pakaianku ", ucap Azkia kesal.
" Ah, untuk masalah itu, aku minta maaf Kia, hahh.. karna kau tidak ingin juga menceritakan sebab lukamu itu, aku tidak akan bertanya langsung ", Azkia menepuk pinggang Gisel ringan.
" Anak yang baik ", ucapnya menggodanya.
" Sudahlah ", tepis Gisel.
" Kau memperlakukanku layaknya anak kecil, kita hanya berbeda 4 tahun saja Kia ".
Mendengar hal itu Azkia tertawa pelan, itu adalah jumlah tahun perbedaan usia yang cukup jauh, namun ia tidak ingin memulai percekcokan kecil lebih jauh lagi.
" Gisel ku harap Miss.Bell tidak akan pernah tahu masalah ini ok "
" Baiklah karena aku anak yang baik, aku akan melakukannya ".
Sudah 1 minggu berlalu sejak ia dan Elio pulang dari kota Zefro, beberapa hari yang lalu Elio berpamitan pada Azkia bahwa dia akan pergi ke kota lagi untuk urusan mendadak.
" Yah, dia adalah seorang yang super sibuk, kita tidak perlu memikirkannya Gisel "
" Baiklah ", ucapnya tanpa pertanyaan susulan. Ini sudah sering terjadi, Elio berhari-hati bahkan berbulan-bulan tidak terlihat di desa Zkenti, namun ia pasti akan mengatakan keadaannya pada Azkia apapun yang terjadi. Karena itulah jika bertanya mengenai Elio, maka baiknya bertanya pada Azkia.
Kedekatan mereka berdua kadang disalah pahami oleh banyak penduduk desa, namun tidak pernah ada yang tahu mengenai hubungan mereka secara pasti. pada paman dan bibi yang mengenal mereka hanya senang saja menjahili mereka dengan menjodoh-jodohkan mereka, namun Gisel tahu bahwa mereka tidak dalam hubungan percintaan, lebih ke arah adik dan kaka yang sangat harmonis.
" Apa yang kau pikirkan " Ucap Azkia membuyarkan lamunannya.
Gisel terdiam menatap Azkia, Azkia yang mendapat tatapan itu menatapnya balik.
" Kia "
" Ya Gisel "
" emmm... aku tahu ini sering kutanyakan padamu, tapi akau akan memastikannya lagi "
Azkia memundurkan kepalanya yang semula sangat dekat dengan Gisel akibat saling tatap-tatapan.
__ADS_1
" Baiklah "
" KAU TIDAK MENYUKAI ELIO KAH ? " teriaknya cukup kuat.
Azkia menggeleng dan kembali merapikan baju di sekelilingnya, sebelum Gisel datang ia memang sedang merapikan beberapa pakaian yang di cucinya kemarin.
" Pertanyaan macam apa itu, kau sudah tahu jawabannya bukan ! "
" Yah, aku bertanya saja, seumpama hatimu berubah dengan kebaikannya selama ini "
" Yah... itu tidak akan seperti itu ", Jawaban yang cukup membingungkan bukan ?
Azkia terdiam memikirkan sesuatu, Gisel pun merasa bersalah dengan kesunyian yang terjadi tiba-tiba pada teman dihadapannya itu.
Tok tok tok...
Ketukan itu membuyarkan kediaman mereka.
" Siapa ? " tanya Azkia memastikan.
Tidak ada balasan dan jawaban terdengar
TIK TOK TOK
Suara ketukannya semakin keras.
Gisel segera berlari dan memeluk Azkia, mereka berpelukan, Azkia meraih sapu yang dekat dengannya dan bertanya lagi.
" Kau kah itu paman Ben ? "
Tidak ada jawaban lagi...
Azkia pun memberanikan dirinya melangkah mendekat kearah pintu kamarnya.
' Tunggu ', Azkia teringat sesuatu.
' Bukankah aku menutup pintu rumah ?, ah apakah Gisel lupa untuk menutupnya ? '
Azkia kembali menatap Gisel yang sedang berdiri tidak jauh di belakangnya.
Ssttt... Azkia mengisyaratkan tanda diam dan tenang pada Gisel. Namun gadis itu berteriak ketakutan dengan suara ketukan pintu sangat keras dari sebelumnya.
Hal itu membuat Azkia ketakutan juga, ia menguatkan genggaman sapu di tangannya dan memantapkan diri untuk maju. Ia meraih ganggang pintu dan membukanya dengan berani.
__ADS_1
Ia terduduk lemas setelah melihat sosok di depannya.