
Elio menyeruput caffe hangatnya sambil menunggu kedatangan Alexi, jam ditangannya menunjukkan 15:30, seharusnya dia sudah sampai dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Secepat mungkin ia harus bergegas sampai di Zkenti, desa itu akan berkabut jika telah memasuki malam.
Tring, suara pintu terbuka menandakan seseorang masuk, sosok Alexi masuk dengan menggunakan kemeja hitam bermerek versace dengan celana abu yang terlihat sangat modis, orang lain yang melihatnya pastilah tahu bahwa pakaian yang dipakainya itu sangat mahal.
Semua pandangan pelayan maupun tamu wanita di sana melirik ke arahnya tanpa memalingkan pandangan mereka, Alexi tidak melirik mereka sedikit pun, ia malah merapikan gulungan kemeja yang dilipatnya sampai lengan, hal itu memperlihatkan lengannya yang berotot terawat, kulit coklat juga menambah keseksian di sana.
" Apa kau menunggu lama ? ", sapanya pada Elio.
Sedari tadi Elio memerhatikan tingkah kawannya itu, ia tersenyum sambil meminum kembali caffe di depannya.
" Kau sangat mempesona Al "
" Jangan merayu El, aku tidak akan percaya dengan katamu itu "
" Ha hahahaha, kau masuk dengan gaya elegan seperti itu, lihat sekitarmu, mereka tidak memalingkan wajah darimu ".
Alexi tidak menggubris candaan Elio, bukan hanya dirinya saja yang menarik di sini, Elio pun merupakan pria yang mempesona dan pastinya wanita di sekitarnya akan sangat senang jika dapat senyum dari pria di depannya ini. Memikirkan hal itu terlintas kembali wajah Aqela pagi ini yang memintanya memperkenalkan Elio.
' Tidak, dia harus menjauhinya ', benaknya.
Elio menyodorkan Amplop biru dengan bukti beberapa tanda tangan persetujuan kerjasama mengenai pembangunan hotel sebelumnya.
" Sudah teratasi, sepertinya Mr. Arthur tidak menyulitkan mu untuk membeli tanahnya "
Alexi mengeluarkan beberapa dokumen dan membacanya singkat.
" Ini berjalan tanpa kendala ".
" Sangat mudah "
" Bukannya harus bersyukur ? " ucap Elio.
" Ya "
Pelayan datang mengantarkan minuman yang di pesan Alexi.
" Terima kasih " ucapnya pada pelayan itu, ia tersenyum tersipu sambil pamit ke belakang kembali.
" Kau sangat Playboy Lex "
" Tutup mulutmu El, aku tidak sepertimu ".
Elio tersenyum kembali sambil melihat bingkisan coklat di sampingnya.
" Untuk siapa ? "
" Azkia " ucapnya tersenyum pada Alexi.
" Kau sangat jatuh untuknya El ", ucap Alexi sambil menatap wajah sobatnya itu serius.
...****************...
Dokter keluar dengan melihat wajah-wajah yang menunggu dengan cemas. Ia membenarkan kacamatanya sambil melepas stetoskop dan menggantungnya di daerah lehernya.
" Keluarga Miss.Bell ? ", tanya Dokter
__ADS_1
" Ia, kami pa' "
" Mmm... Kepalanya sepertinya terbentur cukup kuat, hal ini mengakibatkan syok hingga pasien belum sadar saat ini, pasien harus dirawat untuk memastikan kondisinya bapak "
" Apa separah itu dok ? " tanya paman Jen pada Dokter yang menangani Miss. Bell.
" Kami belum bisa memastikannya, silahkan menunggu dulu, kami akan melakukan yang terbaik ", ucap dokter mengakhiri pembicaraan dan pergi meninggalkan mereka.
" Hah, kita harus kembali terlebih dahulu ", ucap paman Ben.
" Aku dan Gisel akan tetap di sini, Ben, Mr. Forest kalian bisa kembali ke desa, ah Ben kamu bisa mengantarkan kami barang-barang yang dibutuhkan Miss. Bell selama perawatan "
" Mmm " paman Ben menjawab dengan anggukan.
" kau harus mencari Azkia juga Ben " sambung paman Jen.
Serasa menyadari suatu yang terlupakan paman Ben menggemeretakkan giginya. Ia bergegas berdiri dan melangkah pergi.
" Kami akan kembali " ucapnya kemudian. Paman Forest mengikuti dari belakang.
Gisel terduduk lemas, ia terisak menangis membayangkan apa yang akan terjadi pada Azkia, Miss. Bell di temukan dalam kondisi yang memprihatinkan, jika seperti itu bagaimana nantinya dengan Azkia ?.
" Ah, paman Jen bisakah kita mengabari Elio ?, kau memiliki nomernya kan ? "
Menyadarinya paman Jen langsung mengambil Handphone nya dan menghubungi Elio.
Dringg...
Suara itu menandakan bahwa nomor itu tersambung, selang beberapa menit kemudian.
" Paman Jen ? "
" Semuanya baik-baik saja bukan ? "
Seakan menyadari sesuatu Elio bertanya.
" Kau sedang dimana ? "
" Kota Zefro paman "
" Ah, syukurlah, bisakah kau ke Rumah Sakit Muara, kami akan menunggumu "
" Baik paman "
" Pelan-pelan saja El, jangan ngebut "
" Baiklah "
Telepon terputus.
Setelah menutup telepon Elio bergegas merapikan barangnya dengan terburu-buru.
" Ada apa ?, wajahmu tiba-tiba tidak terlihat baik "
" Aku harus ke rumah sakit Muara sekarang "
__ADS_1
" Siapa yang sakit ? "
" Aku tidak tahu, tapi sepertinya orang yang ku tahu, tidak mungkin paman Jen menghubungiku jika hal ini tidak urgent".
" Aku akan ikut El "
Mereka berdua pun berjalan terburu menuju mobil mereka masing-masing dan menuju Rumah Sakit Muara.
...****************...
" Paman dilantai berapa ? "
" lantai 3 El "
" Baiklah aku segera naik "
Elio kembali memerhatikan jam ditangannya, 20:35.
' Sudah malam rupanya ' pikirnya, sambil mengusap muka lelahnya.
Lif terbuka, diujung lorong lantai 3 terlihat Gisel yang terlihat lelah dan paman jen yang berdiri di depan pintu sambil memandangi ruangan yang entah dihuni oleh siapa.
El berlari ringan.
" Paman ", sapa Elio.
Gisel berdiri menyadari kehadiran Elio.
" Ka' Eelll....." ucapnya berjalan ke arah Elio, memeluknya ringan.
" Apa yang terjadi, kau terlihat sangat lelah ", ucap El menepuk kepala Gisel yang telah dianggapnya adik itu.
" Miss. Bell, sedang tidak baik-baik saja " ucap Gisel.
Elio terlihat bingung menyadari keadaan yang ada, ia melepas pelukan Gisel pelan sambil berjalan ke arah ruangan. Dari luar terlihat Miss. Bell sedang terbaring tidak sadarkan diri, selang infus dan ventilator terpasang padanya. Ia membuka pintu pelan dan masuk ke ruangan tersebut, mendekati sosok wanita yang dianggapnya keluarga itu.
" Hei, kau bisa mendengar ku Miss. Bell ", ucapnya ringan dan halus sambil membelai kepala dan menggenggam tangannya. Tidak ada jawaban dari wanita itu.
" Dokter mengatakan bahwa luka di kepala menyebabkan dia syok dan belum sadarkan diri ", ucap paman Jen.
" Mengapa ini bisa terjadi?, dia jatuh ? "
Paman Jen menggeleng pelan.
" Tidak ada yang tahu apa yang terjadi ", jawabnya dengan wajah putus asa.
Menyadari sesuatu Elio berjalan bergegas menuju depan ruangan dan pojokan, namun dia tidak menemukan seseorang yang dicarinya.
" Paman, Azkia ? ada dimana ? " tanyanya kemudian.
Wajahnya dipenuhi rasa khawatir yang luar biasa, melihat tatapan mata paman Jen membuatnya tahu bahwa ini pasti jawaban yang sangat tidak baik untuknya.
" Azkia menghilang, kami tidak bisa menemukannya "
Kepala Elio terasa pening memikirkan.
__ADS_1
" Pasti kedua lelaki itu yang menculiknya ", Gisel menyela ditengah kebisuan.
" Ceritakan "