KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
Teman baru


__ADS_3

Mencari pekerjaan dalam kota dengan mengandalkan keberanian saja sangatlah sulit juga melelahkan. Sedari tadi Azkia sudah lama berjalan dari berbagai tempat, cafe maupun restoran yang dilewatinya akan dimasukinya untuk bertanya mengenai lowongan pekerjaan yang tersedia. Namun tidak satu pun yang menerimanya.


" Hah, apa yang harus ku lakukan ? " ucapnya sambil menyeka keringat yang mengalir di keningnya.


Matahari sangat terik, itu membuat Azkia berkeringat cukup banyak, ia tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan dan sampai dimanakah ini ?. Setelah berjalan cukup lama, Ia memutuskan berhenti sejenak dan duduk di kursi yang tersedia di samping taman kecil di depan sebuah bangunan berwarna coklat kayu yang terlihat kecil dari depan.


" Apa harus menyerah saja ? " keluhnya. Namun tekadnya bukan se lembek ini. Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu untuk membantu Elio kedepannya.


Azkia menyandarkan punggungnya dan merentangkan kakinya, ia melepas sepatu putih crem yang dikenakannya hingga kakinya dapat beristirahat dari pengap dan panasnya cuaca. Angin berhembus pelan siang itu.


' Ternyata anginnya juga cukup panas, aku rindu Zkenti ' batinnya sambil menatap langit diatasnya.


Tring, bunyi bel yang bergerincing menandakan pintu terbuka maupun tertutup dari dari bangunan unik dibelakangnya.


Azkia menoleh dan mendapati seorang wanita dewasa dengan baju yang cukup terbuka menurutnya. Baju yang dikenakannya berwarna hitam, wajahnya terlihat cantik dengan balutan syal berbulu coklat yang menghiasi lehernya, ah alis yang rapi, bulu mata yang lentik dan warna lipstik pada bibirnya juga menyempurnakan make up nya.


" Wahh ", ungkapan rasa kekaguman keluar darinya tanpa di sadari. Wanita itu menengok pada Azkia dan memerhatikannya. Melihat seorang gadis polos dengan pakaian sabrina selutut dan berwajah cantik, wanita itu perlahan mendekat dan duduk disamping Azkia yang tidak bisa memalingkan pandangan darinya.


" Sangat menganggu ", ucap wanita itu menghirup rokok di bibirnya.


Tersadar akan sikapnya Azkia kelabakan, mengulurkan tangan dan meminta maaf.


" Ah, perkenalkan, oh maksud saya, maaf atas sikap lancang saya " ucap Azkia.


" Yah, santai saja " ucapnya lagi sambil menghirup rokok di tangannya dan menghembuskan asap rokoknya santai.


Azkia terbatuk karenanya, selama ini laki-laki di sekitarnya tidak ada yang perokok, baru kali ini dia sedekat ini dengan perokok. Hal ini merupakan pengalaman baru yang di dapatkannya.


" Rokok ? ", ucap wanita itu menawarkan.


Azkia menggeleng, ia kemudian memakai sepatu dan merapikan ikat tali sepatunya dan bersiap untuk melanjutkan perjuangannya mencari pekerjaan. Sebelum ia hendak berdiri, wanita itu bertanya padanya.


" Kau mau kemana ? "

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Azkia kembali duduk dengan santai sambil memerhatikan lantai dibawah sepatunya.


" Aku akan lanjut mencari pekerjaan " ucapnya.


" pekerjaan rupanya " ucap wanita itu kemudian.


" Hem ", Azkia mengiyakan.


" Kau ingin bekerja di sini ? " tanyanya menawarkan.


Azkia mengikuti arah jempol wanita itu mengarah pada tanda papan pengenal bangunan dibelakang mereka. Terlihat tulisan kapital dengan kata ' B A R ' di sana.


" Kerja, apa yang akan ku kerjakan nantinya ? " tanya Azkia.


" Hah, bukankah sudah jelas ?, kau harus melayani para tamu yang datang, pekerjaan seorang pelayan ", mendengar hal itu Azkia terlihat berpikir keras.


" Kau hanya perlu mengantar minuman dan membersihkan ruangan saja ", jelas wanita itu kemudian.


" hemm, baiklah aku akan berusaha ", ucap Azkia memantapkan tekadnya.


" Azkia, Azkia Arabella " ucapnya mengulurkan tangannya.


Wanita itu meraih tangannya dan tersenyum cool pada Azkia.


" Seriana "


...****************...


" El, cappucino ? cokolate ? Kofi ? "


" Yang ku butuhkan sekarang sepertinya cokolate, baik pa' pelayan aku akan menunggu dengan baik disini "


Mendengar gurauan Elio, Alexi melemparkan bola kasti di sampingnya.

__ADS_1


" Hati-hati bung " ucap Elio setelah menangkap bola kasti lemparan Alexi.


Tanpa memedulikan Elio, Alexi meninggalkan ruang kantornya dan pergi mengendarai mobilnya ke cafe di daerah yang tidak jauh dari kantor mereka. Perjalanan kesana tidak memakan waktu lama, dengan mengendarai mobil, cafe itu sangat dekat, 10 menit mengendara, ia pasti telah sampai.


Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya di depan cafe, ia memasukinya dan memesan kofi dan cokolate pesanan Elio, tidak lupa pula ia membeli sedikit roti isian keju dan salad sayur untuk makan breakfast mereka. Saking sibuknya mereka waktu makan pun tidak teratur.


Selang beberapa menit kemudian pesanannya sudah ready, Alexi menerima pesanannya dan ia bersiap hendak kembali ke kantor. Namun betapa bingungnya ia mendapati Azkia yang keluar dari sebuah BAR tepat di depan cafe langganannya itu. Azkia terlihat memakai baju hitam kaos dan celana jeans panjang dengan menenteng sebuah plastik besar yang di buangnya dalam tong sampah di pinggir jalan yang telah tersedia disana. Alexi terdiam sesaat mengawasi pergerakan Azkia. Ia sangat serius dengan pekerjaannya dan tidak menyadari kehadiran Alexi. Alexi pun enggan untuk menegurnya, ia terlihat sibuk dan terlihat sangat kelelahan. Alexi merasa ia akan mengganggunya jika bertemu seperti ini. Alexi pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Azkia dengan berbagai macam pertanyaan dan rasa penasaran akannya.


'apa Elio tahu ? ' pikirnya.


' Tapi bukannya BAR sangat tidak cocok untuknya ?, jika Elio tidak tahu dan kemudian mengetahuinya, entah apa yang akan terjadi nantinya '.


Memikirkannya membuat Alexi tambah khawatir. Mengapa juga ia harus khawatir dengan segala urusan tentangnya ?.


Alexi menyalakan mobilnya untuk kembali ke kantor, dari kaca spion ia masih melihat sosok Azkia disana, ia terlihat sangat lelah dengan gelagatnya yang sering menyeka keringatnya yang mengalir dari keningnya. Mobil melaju pelan, sebelum pembelokan yang menandakan meninggalkan wilayah itu Alexi menghentikan mobilnya berpikir sejenak.


' Haruskan aku kembali ?, ini terasa tidak betul '


Pikiran lainnya juga muncul seolah memberikan penolakan atas argumen dan pemikiran Alexi saat ini.


' Siapa kau Alexi ?, kau tidak ada hubungannya dengan ini ', pikirnya menyadarkan diri. Disamping tempat duduk pengemudi Alexi menatap Handphone nya.


' Apa ku hubungi saja, dan menyuruhnya kemari ? ' terbesit niat Alexi bimbang sambil meraih handphone nya dan menekan nomor Elio.


Suara masuk terhubung terdengar darinya.


' Haruskah ? ' ia tidak yakin tentang rencananya ini.


" Kau sangat lama, apa yang kau lakukan pa' " terdengar suara Elio mengomeli Alexi yang pergi cukup lama.


" El, tentang Azkia... apa dia...per


" tiba-tiba saja, kenapa kau bertanya tentangnya ? " ucap Elio memotong pembicaraan dengan nada dingin disana.

__ADS_1


" eemmm..., Jadi "


__ADS_2