KETIKA HATI TLAH MEMILIH

KETIKA HATI TLAH MEMILIH
Janji


__ADS_3

Pkak....


Sebuah pukulan mendarat di punggung Elio


" Aww.... aku tahu itu adalah perbuatan mu, kau sangat nakal ", ucapnya meringis kesakitan sambil memegang pundaknya,


Pelaku pemukulan itu menghindar menjauh dari Elio sambil tersenyum lebar ke arahnya.


" Rasakan, jangan marah El, kau harus lebih berusaha lembut padaku, aku ini adalah pasien " ucapnya membela


" Ya, dan kuharap kau cepat pulih, agar aku bisa membalas perbuatan mu " balasnya kemudian sambil memijit ringan bahunya yang lelah akibat pekerjaan yang sangat menumpuk.


" El, tidak bisakah kau membawaku jalan-jalan? " tanya Azkia


" Ok, jika kerjaan ini telah selesai, aku berjanji kita akan pergi berkeliling kota, bagaimana ? " ucapnya memastikan


'Hemmm..mm' Azkia menggelengkan kepalanya pelan


" Aku ingin melihat pantai El, kau pernah berjanji padaku ? "


" Ah... pantai ?, sepertinya menarik, kau belum pernah menikmati wisata pantai kota Zefro dan aku yakin kau akan sangat merasa bahagia karenanya " Elio tersenyum sambil membayangkan expresi dan wajah senang Azkia jika melihat keindahan tersebut.


Selama ini ia sangat senang dengan pemandangan laut, ia akan duduk di pinggir pantai, membiarkan kakinya terkena hempasan air laut dan akhirnya ia akan dengan senang hati membiarkan dirinya basah. Meskipun pegunungan dan taman juga cukup indah di sekitar Desa Zkenti, namun Azkia sangat memfavoritkan laut dan pantai.


Elio teringat kembali, sekitar 2 bulan lalu mereka melakukan perjalanan ke pantai bersama paman Jen dan Zen, Azkia sangat bersemangat, senyum sumringan tidak lepas dari bibirnya, ia pun membuat Elio berjanji agar mereka akan kembali lagi bersama nantinya.


"Mmm.. aku akan memikirkannya" ucap Elio


" Oh yang pastinya, kita akan melakukannya jika pekerjaan ini telah selesai, Ok ? "


Azkia termenung memperhatikan Elio yang sedang duduk agak jauh darinya, ia sedang membaca dokumen kerja sepertinya.

__ADS_1


" Ok, baiklah, ku harap kau selalu sehat dan punya waktu untukku dibandingkan kertas menumpuk di hadapanmu itu " ucapnya, kemudian berdiri dan berbalik meninggalkan pria itu.


Azkia tidak ingin mengganggunya lama, ia sadar bahwa Elio bukanlah orang yang punya banyak waktu untuknya, tapi rasanya belakangan ini sangat sepi dan membosankan kan.


' Baiklah, Aku akan ke kebun belakang ' benaknya. sambil berjalan ke arah pintu yang tertutup. Namun..


Plakk...... suara benturan itu cukup keras.


"Aak.... " ucapnya sambil memegang jidatnya yang terbentur pintu.


Suara merintih itu mengagetkan Elio dan juga Alexi, yang tidak lain adalah orang diseberang pintu. Azkia meringis kesakitan, sambil mengelus ringan keningnya, belum pula lebam di pipinya sembuh, luka baru pun bertambah. Apakah bulan ini merupakan bulan kesialannya?


Alexi yang menyadari situasi dengan sigap menghampiri Azkia dan memperhatikan wajahnya, apakah luka?, berdarah?.


" Apakah kau baik-baik saja? " ucapnya sambil memperhatikan wajah Azkia


" Ya, kurasa ini tidak kenapa, tidak perlu khawatir " ucapnya menerangkan.


" Apakah ini benar baik-baik saja?" tanyanya kembali sambil memperhatikan wajah Azkia mencari jawaban jujur. ia menatap lekat mata wanita mungil dihadapannya itu, ia tak ingin dia menyembunyikan sesuatu di depannya.


" Ia, aku baik-baik saja"


" Maaf, seharusnya aku mengetuk pintu lebih dahulu" kata Alexi yang berdiri di samping Elio dengan raut wajah menyesal, ia tidak menyangka jika Azkia ada di balik pintu dan hendak keluar.


" Ini bukanlah kesalahanmu, untuk apa mengetuk jika di rumah sendiri, aku yang kurang hati-hati, jadi jangan meminta maaf " ucapnya, " aahh dan kejadian ini adalah hal yang biasa, ini tidak akan meninggalkan bekas " kata Azkia menenangkan suasana dan mendorong Elio untuk melanjutkan pekerjaannya.


" Baiklah aku akan keluar, kalian bekerjalah "


Azkia pun meninggalkan kedua pria itu dengan senyuman meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Hah... aku tidak akan sengaja melakukannya El"

__ADS_1


Elio terdiam sejenak sebelum menjawab pengakuan Alexi.


" Yah, ini adalah hal yang tidak dapat dielakkan, lagi pula jika kau sengaja aku pasti akan memukul kepalamu 10 kali lipat lex, ok baiklah, sekarang mari kita fokus dengan kertas-kertas itu ".


Mereka pun kembali menyibukkan dirinya dengan membaca kertas-kertas dan dokumen di meja mereka.


...****************...


" Ada urusan apa, sampai kau datang sepagi ini Eden ? "


" Tuan ini menyangkut tuan muda Alexi "


" Mmm, ceritakan lah "


" Tuan, sepertinya tuan muda Alexi terlibat perkelahian dan cederanya anak keluarga Herven " ucap Eden, pengurus rumah sekaligus sekretaris dari Mr.Will.


Eden telah mengikuti Mr. Will jauh sebelum Alexi lahir dan ia sangat di percaya oleh keluarga Will ini, semua keluarga sangat nyaman serta menyayanginya juga, ia bagaikan paman untuk anak-anak keluarga Will.


" Ini sangat jarang terjadi, tidak biasanya dia menyukai perkelahian seperti ini".


" Ada seorang wanita muda yang dia lindungi, tapi saya belum pernah bertemu dengannya selama ini "


Mr. Will mendengarkan dengan baik penjelasan Eden sambil mengusap dagunya santai.


" selidiki wanita itu dan laporkan perkembangannya, jangan sampai anak keras kepala itu tahu "


" Baik tuan "


" Dan katakan padanya bahwa hari ini aku ingin bertemu di ruang utama "


" Baiklah, saya akan menyampaikan nya "

__ADS_1


__ADS_2