
Matanya menatap tajam dokumen dihadapannya, kekhawatiran terlihat jelas diwajahnya, ia memijat ringan keningnya gusar, teringat lagi akan kejadian 27 tahun lalu.
" Bukankah kita harus melakukan sesuatu sayang? " ucap wanita yang duduk tidak jauh darinya.
" Tidak, sebaiknya kali ini kita pantau pergerakan keponakan merepotkan itu " ucapnya tanpa mengalihkan matanya dari dokumen yang di pegangnya.
" Sayang, apa jadinya jika dia tau bahwa kejadian itu adalah ulahmu? " ucapnya khawatir, suaranya bergetar takut dengan apa yang akan terjadi nantinya. Mengingat wajah keponakannya yang penuh emosi membuatnya merinding ketakutan, meskipun keponakan suaminya itu tampan, dia akan menggila jika dia mengingat kejadian itu dan entah apa yang akan terjadi dengan keluarga mereka nantinya.
" Selama ini, tidak ada saksi, dia pun lupa ingatan, tenanglah, jika kau bersikap seperti itu, maka orang tua itu pun akan tahu perbuatan kita, ku harap kau bersikap seperti biasanya "
Wanita itu menghela nafas berat, mencoba menenangkan diri, jika ketahuan oleh ke-dua orang itu, maka nyawa mereka tidak akan terselamatkan.
" Baiklah, aku akan mengingatnya ", ucapnya meyakinkan diri.
" Oh ya, dimana anak manjamu itu? aku tidak melihatnya pagi ini ketika sarapan! "
" Yah kau tahu kebiasaannya, dia sedang bersenang-senang dengan temannya di vila "
Mendengar penjelasan istrinya membuat emosinya memuncak, anak itu hanya tahu menghamburkan uang tanpa tahu menghasilkannya.
" Hah, sebaiknya kau perhatikan dan urus anak itu, sebelum aku mengusirnya dari keluarga ini " ucapnya ketus sambil berjalan meninggalkan istrinya yang kesal.
Mendengar itu nyonya blestrein kesal dan tidak terima dengan ucapan suaminya.
"HENRI " teriaknya kesal.
' Bisa-bisanya dia, hah bisakah dia bersikap ramah dan tidak emosian? ' pikirnya dongkol.
...****************...
Pemandangan bulan dari balik jendela sangatlah indah, malam ini ia sangatlah terang, sesosok pria itu sedang menatap keluar jendela di sudut ruangannya. entah mengapa bulan malam ini terlihat begitu menenangkan baginya.
Suara langkah kaki mendekat, seorang pria muda masuk dengan menggunakan jas berwarna hitam yang rapi, usianya berkisar 25 tahun, ia masuk dan menghadap pada pria itu sambil mengucapkan salam hormat.
" Permisi Tuan muda, saya melapor ", ucapnya menunduk hormat.
Ia pun mengangkat tangannya mempersilahkan pria itu berbicara mengenai hal yang ingin diketahuinya.
" Selama ini tidak terjadi pergerakan apapun dalam beberapa bulan ini tuan "
" Hmm... Bagaimana kondisi dalam keluarga?, apa ada pergerakan yang mencurigakan dari paman ? "
__ADS_1
" Tidak sama sekali tuan muda, keadaan di rumah utama sangat damai, dan belakangan ini tidak terjadi permasalahan serius, kecuali masalah yang di timbulkan tuan muda Yuven."
Mendengar nama Yuven membuatnya kembali mengingat wajah brengsek adik sepupunya itu, hal itu mengganggu waktu tenangnya saat ini.
" Baiklah, kau bisa pergi, aku tidak ingin mendengar sesuatu yang tidak penting tentangnya. dan jangan kehilangan fokus mu Rey " ucapnya mengingatkan.
Mendengar itu Rey mengangguk.
Rey adalah nama yang diberikan tuan muda padanya. terhitung tahun ini ia sudah bersamanya selama 20 tahun, Rey sangat menghormati dan menghargai tuan mudanya itu. Meskipun tuan muda yang dikenalinya bersikap dingin namun dia adalah seorang pria yang sangat pengertian pada orang-orang yang melayaninya.
Bukan hanya Rey saja yang senang dan hormat padanya, setiap pelayan dirumah ini sangat menjunjung dan mematuhi perintahnya.
Sebenarnya tuan muda sangatlah jarang pulang ke kediaman Blestrein ini. Ia datang sebulan sekali dan besoknya kembali dengan kerjaan sampingannya. Entah apa pekerjaan itu, ia pun tidak tau dan hanya melaksanakan semua yang di perintahkan padanya.
Berkatnya Rey saat ini bisa menikmati kehidupan yang layak di banding tinggal di asrama panti di desa yang selama ini menyiksa dirinya. Dalam hidupnya ia tidak akan mengkhianati tuan mudanya itu.
" Baik, permisi tuan " ucapnya pamit meninggalkan tuan muda dengan kesendiriannya.
Sepeninggal Rey, ia melihat sekeliling, kediaman Blestrein ini sangatlah luas dan megah, namun dirinya seakan kosong dan melupakan sesuatu yang sangat penting.
"Haahhh".. helaan nafas yang cukup berat, seakan ia putus asa dalam memikirkan sesuatu. Dadanya terasa ditindik oleh batu yang sangat berat dan besar hingga ia kesusahan untuk bernafas.
' Ini terulang lagi ' batinnya.
Sinar bulan semakin terang dan menyadarkannya, matanya kembali melihatnya tanpa melepas genggaman di dadanya, ia semakin terang dengan majunya waktu, semakin gelap malam, bulan pun seakan tak ingin kalah dan ditelan oleh kegelapan malam. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya membasahi pipi.
' Mengapa sangat berat, kapan ini akan berakhir ? Haaahhh.... dimana lagi aku harus mencari mu ? siapakah dirimu? apa kau tidak mengenalku? atau mungkin kau melupakanku ? sama seperti diriku? ' batinnya memandang jauh.
" Apa yang harus aku lakukan jika kau melupakanku? aku pun tidak bisa mengingatmu! " ucapnya dengan suara rendah kecil dan dalam.
...****************...
" Pagi Mom " sapa Alexi sambil mengecup kening ibu tercintanya.
" Kapan kau dirumah Lex? " tanya ibunya heran, bukankah kemarin ia belum pulang?
" Aahh.. tengah malam mam, kau pun pasti sudah tidur dengan lelap. Oh ya mam aku tidak melihat kedua saudariku, apa mereka sedang tidak dirumah? "
" yah, Aqela sepertinya masih tidur dan yang satunya sedang berkencan dengan tunangannya di luar kota "
Mendengar itu Alexi mengangguk.
__ADS_1
" Oh ya, ayah? "
" Dia ada di halaman belakang, sudah 3 minggu sejak hari itu kau tak pulang, ibu kira kau akan pulang dengannya sehabis pesta itu "
Alexi tersenyum mendengar ucapan ibunya.
" Kau tahu ibu, sepertinya aku akan mendapatkan masalah kagi kali ini " katanya sambil tersenyum ke arah ibunya.
Mendengar ucapan anaknya itu, Miss Will langsung memukul cukup keras pundak Alexi.
" Apa yang telah kau lakukan lagi Lex, oh tidak kepalaku, ibu harap kau tidak perlu bertengkar lagi dengan pria tua itu sayang "
" Ha ha ha aha " Alexi tertawa melihat expresi lucu ibunya, tentu saja ia juga berharap akan hal itu, jika Mr Will bertanya mengenai malam pesta itu, entah apa yang harus di jawabnya, tentu saja ia tidak akan bisa berbohong mengenai kejadian malam itu, dan tentu saja paman yohan sudah melaporkan kejadiannya secara terperinci. Alexi harus siap dengan semua yang akan terjadi.
" Baiklah mam, aku akan berlari padamu jika pria tua itu akan memukulku, aku akan menemuinya sekarang, dia akan bertambah kesal jika aku tidak langsung menyapa " ucap Alexi sambil mengecup kening ibunya dan beranjak pergi.
Miss Will melihat punggung anaknya yang berjalan menjauh, punggungnya terlihat lebar dan kuat, ia berharap kebahagiaan segera menghampiri pria besarnya itu.
'Ku harap kalian tidak bertengkar lagi ', harapnya.
Sosok pria tua sedang berdiri dengan tegap di depan kolam ikan kesayangannya, Alexi melihatnya dari kejauhan berjalan menghampiri. Sosok ayah bagi Alexi dan kedua saudarinya itu adalah dia yang sangat tegas dengan pendiriannya, tidak jarang mereka berdua beradu argument karena tidak sependapat, namun kadang pula pria tua itu melembut tanpa alasan. meskipun begitu, Alexi sangat menghormatinya.
Menyadari keberadaan anaknya Mr Will menyapa tanpa menolehnya sama sekali.
" Kau sudah sampai ? "
" Ya ayah "
" Alexi apa yang membuatmu begitu lama mengunjungi ku? "
" Ah, aku punya sesuatu yang harus ku lakukan yah ". saat ini ia tidaklah berbohong tentunya, beberapa hari yang kalu dia sangat sibuk dengan proyek pembangunan hotel yang akan segera didirikan olehnya. Permasalahan tanah dan tentunya juga mengenai keluarga herven arthur.
" Hanya itukah ? " nasa suara Mr Will semakin rendah dan dalam.
" Aku sudah mengatakannya yah, apa lagi yang ingin kau ketahui? "
" Perempuan kecil itu? siapa dia? "
Alexi terdiam, tentu saja dia cukup kaget, namun ini masih dalam prediksinya, ia sudah tahu mengenai kejadian itu dan tentu saja ia akan bertanya mengenai siapa saja yang terkait dalam hal ini.
" Dia...
__ADS_1