Ketika Takdir Berkata Lain

Ketika Takdir Berkata Lain
Bab 19 Ikhlas


__ADS_3

Kriiiinngggg....


Krinnggggg...


Kriiiinnnggg...


Bel yang berbunyi tiga kali tersebut disambut sorakan gembira siswa-siswi, karena bel sekolah berbunyi tiga kali, itu menandakan bahwa selesainya kegiatan pembelajaran. Riska dan Zia merapihkan buku dan alat tulisnya untuk dimasukan ke dalam tas mereka. Sebelum keluar kelas seperti biasa doa penutup yang dipimpin oleh ketua kelas. Lalu setelahnya siswa siswi diperkenankan pulang. Riska yang melihat sahabatnya Zia pulang dengan membawa dua buah wadah kue bekas tadi berjualan merasa kasihan, mengingat Zia pun pulang menggunakan angkutan umum. Padahal untuk Zia hal ini sudah biasa sehingga Zia tidak merasa kerepotan sama sekali. Tetapi tetap saja untuk Riska sebagai sahabatnya Zia, sama sekali tidak enak melihat sahabatnya pulang sambil membawa dua wadah kue, akhirnya Riska pun menawarkan Zia untuk pulang bersama Riska, awalnya Zia menolak tetapi karena Riska memaksa dengan mengancam, akhirnya Zia pun harus menuruti kemauan Riska.


"Zi... Kamu pulang sendiri? " Tanya Riska.


"Nga... Kan bareng-bareng teman-teman yang lain" Jawab Zia.


"Ziiiiii... Aku serius nanyanya" Ucap Riska.


"Aku juga serius, kan nanti di angkutan umum ada teman-teman yang lain juga yang sama-sama naik angkutan umum jadi kan aku nga sendirian Riska" Jawab Zia santai.


'Plakkkkkkk'


Riska memukul lengan Zia.


"Addduuuhhhh lama-lama sahabatan sama kamu bisa habis badan aku Ris" Ucap Zia sambil cekikian.


Padahal pukulan Riska ke lengan Zia sama sekali tidak kencang, jadi tidak mungkin kerasa sakit.


"Makanya kalau ditanya itu yang benar jawabnya, aku kan nanyanya kamu pulang sendirian bukan nanya teman-teman yang lain" Ujar Riska.


"Nahhh gitu kek dari tadi nanyanya yang jelas, tadi mah gajebo tau" Jawab Zia asal lagi.


"Ziiiii...... "


"Iya... Iya... Aku pulang sendirian kenapa emangnya?" Jawab Zia yang melihat wajah Riska sudah kesal.


"Ya sudah bareng aku saja pulangnya ya,kasihan kamu bawa-bawa wadah kue gede gitu harus pakai angkutan umum" Ucap Riska.


"Yaelllahhh kirain kenapa nanya-nanya aku pulang sendirian, tadi pagi juga aku berangkat sendirian Ris, santai saja sambil bawa wadah kue juga... Dibawa happy aja" Jawab Zia.


"Laaaahhh aku pikir tadi pagi kamu diantar Abi atau Ka Zidan? " Tanya Riska.


"Abi lagi dinas, dan Ka Zidan lagi kunjungan ke daerah sama kampusnya, sudah tenang saja Riska cantik aku sudah biasa kok" Ucap Zia.


Zia merasa tidak enak dengan Riska, karena tadi sudah cukup merepotkan Riska untuk membantunya berjualan kue-kue buatan Ummi Farah. Ditambah sekarang Riska menawarkan untuk mengantarkan Zia pulang.


"Kamu tuuh kayak ke siapa saja sama aku, aku nga terima penolakan" Ucap Riska sambil menarik tangan Zia menuju mobilnya.


Mau tidak mau karena Riska memaksa ditambah sambil tangan Zia juga ditarik, ya Zia akhirnya mengalah mengikuti kemauan sahabatnya ini.


Dimobil Riska mengirimkan pesan terlebih dahulu ke Mama Dinda, untuk mengabarkan bahwa Riska akan mengantarkan Zia pulang terlebih dahulu, khawatir Mamanya menunggunya di rumah.


Sesampainya di rumah, rumah Zia tampak sepi, Zia sempat mengucapkan salam tiga kali kemudian memanggil nama Ummi beberapa kali, sampai akhirnya Ummi Farah pun membukakan pintu rumahnya.


"Assalamu'alaikum... "


"Assalamu'alaikum... "


"Assalamu'alaikum... "


"Ko sepi Zi? Ummi lagi keluar dulu kali? Ucap Riska.


" Entahlah, tapi masa sih? Ummi jarang sekali keluar tengah hari seperti ini. Kalaupun Ummi ada pengajian biasanya pagi suka bilang dulu ke aku sama Ka Zidan Ris" Jawab Zia.


"Ya sudah kita tunggu beberapa menit lagi ya Zi, nanti kita panggil lagi, siapa tahu Ummi Farah ketiduran" Ucap Riska.


"Bisa jadi, tapi jarang juga sih Ris, karena Ummi kan tahu aku pulang jam berapa, masa tega anaknya nunggu di depan rumah seperti ini? Hehehehhe.... " Jawab Zia.


"Ya Allah jangan-jangan Ummi masih pusing seperti tadi pagi" Ucap Zia kembali sambil mencoba memanggil nama ummi didepan pintu.


"Assalamu'alaikum.. Ummi ini Zia"


Setelah dua kali Zia mengucapkan salam, terdengar dari dalam pintu dibuka. Ummi membuka pintu dengan wajah yang terlihat baru bangun tidur dan terlihat sedang tidak baik-baik saja. Zia dan Riska lalu mencium punggung tangan Ummi Farah dengan takzim.


"Ehh ada na Riska, maaf ya jadi menunggu lama diluar, Ummi ketiduran" Ucap Ummi Farah.


"Tidak apa-apa Ummi, Riska hanya mengantarkan Zia pulang saja kok, habis Riska nga tega liat Zia pulang sambil bawa wadah kue besar" Ucap Riska.

__ADS_1


"Laaah Zi, wadah kuenya sudah dibawa pulang, padahal nanti biar sore seperti biasa Ummi yang ambil di Warung Bu Desti" Ucap Ummi.


"Warung Bu Desti tutup Ummi, anaknya sedang sakit, jadi tadi Zia bawa saja ke sekolah, ehhh taunya sama Riska dibantu jualin ke teman- teman, alhamdulillah laris manis tanjung pentul" Ucap Zia dengan penuh semangat.


"MasyaAllah alhamdulillah, Terima kasih ya Na Riska sudah bantuin jualin kue-kuenya Ummi" Ucap Ummi.


" Sama-sama Ummi" Jawab Riska.


"Makan dulu yuk Na Riska, Ummi tadi bikin bihun sambal kacang sama bakwan sayur, tapi mohon maaf sebelumnya kalau rasanya tidak pas dilidah Na Riska ya" Ucap Ummi Farah.


Ummi Farah lalu mempersilahkan Riska masuk ke dalam, dan kemudian Ummi Farah meninggalkan Riska terlebih dahulu bersama Zia di ruang tamu untuk mengambil bihun bumbu kacang dan bakwan sayur serta minum. Saat Ummi sedang kebelakang Riska yang daritadi memperhatikan wajah Ummi Farah yang terlihat pucat pun berbicara pelan dengan Zia tentang keadaan Ummi. Ternyata kata Zia, Ummi Farah sudah mengeluh sakit kepala dan badan terasa lemas dari dua hari yang lalu, tetapi belum ada niatan untuk periksa ke dokter karena khawatir biayanya yang mahal, jadi untuk sementara Ummi Farah membeli obat-obatan di warung terdekat saja dulu. Memang pada saat meminum obat pusing dan paracetamol yang dijual bebas di warung, rasa pusingnya hilang, tetapi selang beberapa jam kemudian muncul kembali dan badan tetap masih terasa lemas. Riska yang merasa tersentuh hatinya melihat sendiri keadaan Ummi Farah, dan kemudian mendengar langsung cerita dari Zia, mencoba memberanikan diri berbicara dengan Ummi Farah. Riska ingin mengajak Ummi Farah ke Klinik Cinta Sehat Medika, klinik dimana ada tante Riska yang bertugas sebagai dokter disana.


"Hayu Na Riska dimakan dulu bihun sama bakwannya" Ucap Ummi Farah.


"Baik Ummi, Terima kasih"


"Ummi maaf, Ummi terlihat pucat sekali? Ucap Riska dengan hati-hati khawatir ucapannya salah.


" Iya nih Na Riska, sudah dua hari ini kepala Ummi Pusing dan badan terasa kurang bertenaga" Jawab Ummi Farah.


"Ummi sudah ke dokter? " Tanya Riska.


"Ummi mah biasa minum obat warung saja Na Riska, nanti juga sembuh kok" Jawab Ummi Farah.


"Ummi, maaf tapi Riska merasa khawatir melihat kondisi Ummi, belum lagi Abi sama Ka Zidan kan sedang tidak ada di rumah, kalau malam ada apa-apa bagaimana? " Tanya Riska.


"Ahhh Na Riska, bismillah saja Ummi mah" Jawab Ummi Farah polos.


"Ummiiiiii, Riska antar ke dokter saja ya, di Klinik Cinta Sehat Medika punya tante Riska" Ucap Riska.


"Tidak usah Na Riska, nanti malah merepotkan Na Riska harus antar-antar Ummi segala" Jawab Ummi Farah.


"Subhanallah Ummi, Ummi itu sudah seperti Mama Riska sendiri, Ummi tidak usah sungkan sama Riska, Riska senang kok bisa antar Ummi ke Klinik, gimana mau kan? " Tanya Riska lagi.


"Hmmmm... gimana ya, Zi, uang tadi hasil jualan kue mana?" Tanya Ummi Farah.


"Ini Ummi 30 kue x Rp 3000 jadi Rp 90.000 ya Ummi semuanya" Jawab Zia sambil menyerahkan uang hasil jualan kue tadi.


"Ummi, upah Zia jualan di sekolah mana? " Tanya Zia sambil menegadahkan tangannya.


Riska memukul pelan lengan Riska sambil membulatkan matanya karena kesal dengan Zia yang meminta upah jualan ke Ummi Farah.


"Adaaawwww Ris, hari ini kamu sudah tiga kali menganiaya aku ya, nanti lama-lama kamu aku laporin juga ke RT/RW" Ucap Zia asal.


"Lagi kamu tuh Zi, harus Ikhlas atuh kalau membantu itu, apalagi membantu orang tua sendiri, masa kamu minta upah sih" Jawab Riska.


"Hehehehe... Aku kan cuma bercanda Ris, syukur-syukur kalau beneran dapat upah juga, kan lumayan buat uang jajan besok" Jawab Zia santai.


"Ziiii.... " Mata Riska menatap Zia tajam.


"Hehehe... Iya.. Iya" Jawab Zia.


"Hmmm Na Riska, kalau biaya ke Klinik mahal tidak ya kira-kira? Uang Ummi hanya ada kira-kira 150 ribu" Ucap Ummi Farah.


Riska sudah paham dengan perkataan Ummi Farah yang pastinya kalau dibawa ke Klinik akan mengeluarkan biaya . Dari awal tercetus ide ingin bawa Ummi Farah ke Klinik juga Riska sudah memutuskan untuk membiayai semuanya. Riska selalu membawa dompetnya kemanapun, tetapi kalau ke sekolah, dompetnya Riska tinggalkan di dalam mobil khawatir ada hal-hal darurat seperti saat ini. Saat ke sekolah Riska hanya mengantongi uang jajannya yang di masukannya ke kantung kemeja sekolahnya.


"Sudah Ummi, Ummi tenang saja, biar Riska yang ngurus semuanya" Ucap Riska.


"Tapiii Na Riskaaaa..... " Jawab Ummi Farah ragu mengiyakan ajakan Riska, dan Zia juga binggung harus berkata apa kepada Riska ataupun Umminya.


"Tidak ada tapi-tapian, hayuu ikut Riska sekarang, Riska antar ke Klinik Cinta Sehat Medika, tenang saja dokternya wanita kok, kan dokternya tante Riska, adiknya Mama" Ucap Riska.


"Oooh gitu, ya sudah Ummi mau" Jawab Ummi Farah.


"Nahhh gitu dong Ummi" Ucap Riska.


Sebelumnya Riska menelephone Tante Devina Khansa yang merupakan dokter yang praktek sekaligus pemilik Klinik tersebut dan juga adik dari Mama Dinda. Setelah menelephone langsung dokternya yang mengatakan Klinik buka hari ini dan Dokter juga praktek, selanjutnya Riska juga menelephone Mamanya, karena semula Riska hanya ijin untuk ke rumah Zia saja.


Mama Dinda awalnya kaget dengan telephone dari Riska yang mengatakan akan mengantarkan Ummi Farah ke Klinik, tetapi setelah Riska jelaskan tentang kondisi Ummi, Mama Dinda mengerti.


Sampailah mobil yang dikendarai Pa Yuda di depan Klinik Cinta Sehat Medika, dan Riska sudah ditunggu. Tapi sebelumnya Riska harus ke bagian administrasi dulu. Riska yang mengurus semuanya, Riska hanya meminta Zia untuk menemani Ummi Farah saja. Kemudian sebelum masuk ke ruang dokter, Ummi Farah harus ke tempat perawat dulu, disini Ummi Farah ditanya tentang keluhan yang dirasa, di cek tensi dan diukur suhu badan. Karena Ummi Farah mengeluh sudah dua hari merasa pusing kepalanya dan lemas badannya, perawat meminta Ummi Farah untuk terlebih dahulu mengecek darahnya di Laboratorium. Ummi pun akhirnya menuju laboratorium ditemani oleh Zia. Setelah itu mereka harus menunggu sekitar 25 menit untuk bisa mendapatkan hasilnya.


Setelah ada hasilnya, baru Ummi Farah diminta masuk ke ruang praktek dokter.

__ADS_1


Di ruang praktek dokter, Dokter Devina Khansa sudah menyambut kedatangan Ummi Farah, Zia dan Riska dengan senyum yang lebar. Dokter Devina terkenal dengan dokter yang ramah dan berjiwa sosial tinggi.


"Assalamu'alaikum dok" Ucap Ummi Farah.


"Wa'alaikumussalam.. Mari-mari silahkan duduk" Jawab Dokter Devina.


" Eh Riska, gimana kabar Mama dan Papa sehat? Tanya Dokter Devina.


"Alhamdulillah sehat tante" Jawab Riska.


Saat di telephone tadi, Riska sudah menjelaskan kepada Dokter Devina, bahwa Riska akan membawa Umminya Zia berobat.


"Iya ibu, ada keluhan apa? " Tanya Dokter Devina ramah.


"Ini dok, kepala saya terasa pusing sudah dua hari ini dan badan juga terasa lemas, saya sudah minum obat yang beli di warung sih, pusingnya hilang untuk sementara tetapi untuk badan masih tetap lemas" Jawab Ummi Farah.


"Baiklah saya periksa Ibu dulu ya" Ucap Dokter Devina sambil mempersilahkan Ummi Farah untuk berbaring di ranjang periksa pasien dan kemudian Dokter Devina memeriksa Ummi Farah dengan menggunakan stetoskopnya. Stetoskop ini merupakan salah satu alat medis yang digunakan oleh dokter untuk mendengar suara organ dalam, seperti jantung, paru-paru dan organ pencernaan. Kemudian Dokter Devina memeriksa bagian mata dan mulut Ummi Farah diminta untuk dibuka dan disoroti oleh senter kecil dan stik, tujuannya karena mulut adalah pintu atau gerbang pertama tempat berbagai zat masuk ke dalam tubuh, seperti makanan dan minuman, sebelum sampai ke organ lainnya.


Setelah selesai memeriksa Ummi Farah, Ummi Farah dipersilahkan bangun kembali dan duduk di bangku pasien. Kemudian Dokter Devina membaca hasil lab.


"Baik Ibu, setelah saya tadi memeriksa Ibu Farah dan melihat hasil lab Ibu, Ibu Farah mengalami anemia" Ucap Dokter Devina.


"Anemia? Apa itu dok? " Tanya Ummi Farah sambil mengkerutkan keningnya.


"Anemia ini adalah kondisi dimana ketika darah tidak memiliki darah merah sehat yang cukup, yang disebabkan oleh kurangnya sel darah merahyang tidak berfungsi didalam tubuh. Hal ini menyebabkan aliran oksigen berkurang ke organ tubuh" Jawab Dokter Devina.


"Jadi Pusing dikepala dan badan saya terasa lemas disebabkan anemia ini ya dok? " Tanya Ummi kembali.


"Iya Ibu, biasanya gejala anemia ini berupa kelelahan, kulit pucat, sesak nafas, pusing dan detail jantung menjadi cepat" Jawab Dokter Devina.


"Ooh baiklah dok, terus apa yang harus saya lakukan? " Tanya Ummi Farah.


"Ibu Farah nanti akan saya resep kan vitamin zat besi, zat besi ini merupakan nutrisi yang penting untuk pembentukan sel darah merah, kemudian nanti juga saya kasih vitamin B12, ini juga sama berperan untuk pembentukan sel darah merah, dan Ibu juga nanti dirumah harus rajin mengkonsumsi makan makanan yang kaya akan zat besi, seperti daging merah, hati, sayuran hijau dan kacang-kacangan."


"Baik ada yang ingin ditanyakan lagi? " Tanya Dokter Devina.


" Gimana Ummi? " Tanya Riska dengan santun.


"Hmmm sepertinya sudah jelas semua" Jawab Ummi Farah.


" Baik kalau begitu ini resepnya nanti vitaminnya bisa diambil di apotik didepan Klinik ini ya" Ucap Dokter Devina.


"Baik tante kalau begitu kami pamit dulu ya, Terima kasih ya tante" Ucap Riska sambil mengambil resep dari tangan Dokter Devina.


"Mari dok, saya permisi dulu, Terima kasih ya dok" Ucap Ummi Farah.


"Iya iya silahkan, oh ya Ris titip salam ya untuk Mama dan Papamu" Ucap Dokter Devina.


"InsyaAllah nanti salamnya Riska sampaikan ya tante" Jawab Riska.


"Assalamu'alaikum" Ucap Riska, Zia dan Ummi Farah bersamaan.


"Waalaikumsalam" Jawab Dokter Devina.


Kemudian perawat pun membukakan pintu untuk mereka, dan setelah keluar dari Ruang Praktek Dokter, Riska meminta Ummi Farah dan Zia menunggu di Ruang tunggu. Riska yang mengurus semuanya dari mulai ke administrasi, ke kasir lalu ke apotik untuk mengambil vitamin yang tadi sudah diresepkan. Setelah semuanya selesai dan vitamin sudah ada ditangan Riska, Riska menyerahkan vitamin tersebut kepada Zia.


"Nih Zi, vitaminnya Ummi, tolong dipegang ya " Kata Riska.


"Iya Ris, Terima kasih banyak ya" Jawab Zia. Zia merasa terharu dengan semua kebaikan Riska kepadanya. Sampai matanya berkaca-kaca.


"Iya sama-sama" Jawab Riska.


" Na Riska... Terima kasih banyak ya Ummi tidak tahu harus balas kebaikan Na Riska dengan apa? " Ucap Ummi Farah.


"Iya Ummi sama-sama, ahh Ummi ini kayak ke siapa saja ke Riska juga. Cukup doakan Riska dan keluarga saja itu sudah lebih dari cukup Ummi" Jawab Riska.


"MasyaAllah, mulia sekali hatimu Na Riska, Ummi senang sekali Zia memilih sahabat seperti dirimu, sudah cantik, pintar, sholehah, baik pula, beruntung sekali nanti yang kelak akan mendampingi hidupmu" Ucap Ummi Farah.


"Ummi ini, pakai ada kata pendamping hidup segala, masih lama um, lulus SMA dulu, hehehe" Jawab Riska.


Ummi Farah dan Zia tersenyum mendengar jawaban Riska, kemudian mereka masuk kembali ke dalam mobil untuk diantarkan pulang. Sesampainya di rumah Zia, setelah Riska mengantarkan Zia dan Ummi Farah masuk ke dalam rumah, Riska pun langsung berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Sambil mencium dengan takzim lengan punggung tangan Ummi Farah dan mengucapkan salam.


Kemudian saat sudah didalam mobil Riska membuka jendela kaca mobilnya, sambil melambaikan tangannya dan mengingatkan Zia untuk memberikan vitamin ke Ummi Farah.

__ADS_1


Riska merasa senang sekali hari ini bisa membantu sahabatnya Zia. Semua yang Riska lakukan tadi juga tidak luput dari pandangan Pa Yuda yang sudah mengenal Riska dari kecil. Pa Yuda juga mengagumi anak-anak di Keluarga Prasetyo yang dimana ketiga anaknya walaupun kondisi ekonominya berada, tetapi mereka selalu rendah hati dan ringan tangan untuk selalu mengulurkan bantuan. Pa Yuda juga pernah dinasehati oleh Pa Pras, bahwa saat melakukan suatu perbuatan kita harus meluruskan niat semata-mata karena Allah. Tidak mengharapkan imbalan apapun dari selain Allah. Jadi ikhlas itu sangat penting saat beramal dan beribadah agar semua amalan dan ibadah kita tidak sia-sia.


__ADS_2