
Setelah semua menikmati Klapetart yang Riska berikan, kembali lagi ke tujuan awal mereka berkumpul hari ini di ruangan kelompok mading, yaitu untuk membahas tema yang akan diambil dan judul yang akan dipakai untuk lomba mading. Reza pun lalu mempersilahkan Riska untuk membahas idenya.
"Bismillah"
"Teman-teman setelah aku pikirkan semalaman, sebaiknya kita mengambil tema lingkungan, karena masalah lingkungan ini kan saat ini sedang aktif untuk diperhatikan, apalagi cuaca belakangan saat ini sangat panas sekali, sehingga judul mading untuk lomba kita nanti kita kasih judul 'Selamatkan Bumi Kita' bagaimana setuju tidak? " Ucap Riska semangat.
Semua sangat senang dengan judul yang Riska berikan dan setuju jika judul tersebut yang akan dipakai untuk lomba mading mereka.
"Setujuuuuu.... "
"Bagus sekali Ris idenya"
"Boleh... Boleh Ris keren masukannya"
"Waaaaaw brilliant sekali"
Kira-kira seperti itulah pendapat teman-teman di kelompok mading tentang judul yang Riska berikan. Walaupun ini ide murni Riska, tetapi Riska tetap harus meminta persetujuan yang lain karena dalam hal ini mereka bekerja sebagai tim bukan individual. Riska merasa senang sekali melihat semua teman-temannya suka dengan idenya.
"Gimana Ka Reza, setuju tidak? " Tanya Riska.
Reza yang daritadi memang wajah dan matanya ke arah Riska, tapi tidak dengan pikirannya, pikirannya tidak sedang konsentrasi dengan apa yang Riska paparkan tetapi lebih konsen memperhatikan gerak gerik Riska pada saat sedang berbicara didepan. Tiba-tiba punggungnya ditepuk oleh Eka, karena Eka mengetahui dari tatapan Reza, kalau Reza sedang tidak menyimak serius tetapi sedang mengagumi sosok yang sedang berdiri dihadapannya.
"Za... " Kata Eka.
"Eh iya kenapa? " Tanya Reza
"Riska" Jawab Eka.
"Eh iya Riska kenapa? " Tanya Reza.
"Ka Reza setuju tidak dengan idenya Riska? " Tanya Riska kembali.
"Ehh iya... Iya setuju" Jawab Reza, padahal Reza sama sekali tidak tahu Riska membahas apa, yang dia tahu dia harus menjawab setuju saja biar tidak ketahuan bahwa tadi ia sedang terpesona dengan penampilan Riska.
"Za... Za... Main setuju setuju aja, emang apaan coba idenya? " Bisik Eka meledek.
"Husss diam kamu Ka, jangan menjatuhkan aku" Jawab Reza sambil sok memasang wajah seriusnya.
"Alhamdulillah kalau kalian semua suka dengan ide ku" Sahut Riska.
Lalu mereka ber sama-sama mendiskusikan kira-kira materi apa saja yang cocok untuk dimasukan ke mading. Akhirnya setelah berdiskusi, didapat keputusan akan memasukan materi tentang Pengertian Pelestarian LingkunganLingkungan, Peran Pemerintah DalamMeniaga Lingkungan Hidup, Langkah Yang bisa kita lakukan untuk menjaga lingkungan hidup, Sikap Yang Dilakukan Manusia terhadap Lingkungan Hidup dan Gerakan Program Reduce, Reuse dan Recycle. Untuk isi materi disepakati bisa sambil dicari di rumah via internet ataupun saat di sekolah melalui buku-buku yang ada di perpustakaan. Hari ini Tim mau fokus melengkapi dekor hiasannya terlebih dahulu. Riska mengusulkan untuk membeli di toko perlengkapan pernak pernik yang biasa Riska datangi dan mereka sepakat akan membeli dekor hiasannya disana menggunakan dana yang sudah sekolah siapkan untuk Tim Lomba. Lalu Reza menawarkan diri untuk menemani Riska berbelanja.
"Hari ini kita fokus berbelanja perlengkapan dekor hiasannya dulu ya" Ucap Reza.
"Kalau mau beli di tempat biasa aku belanja saja Ka" Jawab Riska.
"Boleh deh Ris, sudah dipastikan lengkap kan disana, siapa saja kira-kira yang mau ikut? " Tanya Reza.
Lalu Eka, Zia dan Ibam mengacungkan tangannya, menyatakan bahwa mereka bersedia untuk ikut berbelanja bahan keperluan untuk dekor. Hal ini membuat Reza sangat senang sekali karena bisa jalan bersama Riska walau memang hanya untuk berbelanja dekor hiasan lomba mading. Lalu teman-teman kelompok mading yang lainnya yang tidak ikut berbelanja dipersilahkan pulang.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang saja ya" Tanya Reza.
Saat Reza berkata demikian, Riska lalu melihat jam tangannya untuk mengecek sekarang sudah jam berapa.
"Maaf Ka, sebaiknya kita tunggu sholat ashar saja dulu, 8menit lagi sudah masuk waktunya sholat ashar" Ucap Riska.
"Ris... 8 menit kan lumayan lama, lagian waktu sholatnya kan masih bisa sampai sebelum maghrib datang" Jawab Reza santai.
Eka membelalakan matanya sempurna, saat Reza menjawab seperti itu.
"Maaf Ka, kalau Ka Reza memang mau duluan silahkan saja, nanti biar Riska sama Zia menyusul ke toko pernak perniknya"
"Bukannya apa-apa Ka, Riska tidak terbiasa menunda-menunda sholat. Kata Papa, Yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah sholat. Jika sholatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, akan rusak pula seluruh amal perbuatannya"
"Kita harus shalat tepat waktu agar dicintai Allah, Badan senantiasa sehat dan di jaga oleh malaikat"
Riska menjelaskan dengan rinci kepada Reza dengan bahasa yang santun tanpa mengurui sedikitpun.
"Jlebbbbbbbb"
'Deeeegggghhhh"
Reza merasa tertampar dengan kata-kata yang diucapkan oleh Riska barusan. Karena Reza memang tidak pernah berani meninggalkan sholat lima waktunya, tetapi Reza memang tidak selalu mengerjakan sholat lima waktu tepat pada waktunya, bahkan Reza sering meninggalkan sholat berjamaah di masjid.
"Ya Allah mudah-mudahan dengan adanya Riska bisa membuat Reza menjadi lebih baik" Eka berdoa didalam hatinya. Karena hampir setiap hari di sekolah saat jam istirahat, ketika adzan sholat dhuhur berkumandang, Eka selalu mengajak sahabat-sahabatnya untuk segera melangkahkan kakinya ke musholla sekolah, tetapi ada saja jawaban dari sahabat-sahabatnya.
"Nanti saja deh aku mah, kalau sholat jamaah suka lama"
"Duluan saja, aku mau makan dulu, udah lapar banget soalnya"
Tetapi walaupun setiap hari ada saja alasan dari sahabat-sahabatnya, Eka tidak pernah bosan untuk selalu mengajak mereka setiap harinya, walaupun tahu pasti tidak akan ada yang ikut dengannya, tapi setidaknya Eka berusaha, dia berharap siapa tahu lama kelamaan sahabat-sahabatnya mau berubah.
Eka teringat selalu pesan dari Bapaknya yang seorang dosen di salah satu universitas di Jakarta. "Tetaplah berbuat baik meskipun orang lain tidak peduli pada kebaikan kita, karena Allah senantiasa peduli pada sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh hamba yang beriman kepada-Nya. Tidak ada yang sia-sia, sekecil apapun amal kebaikan pasti ada perhitungan dan ganjaran yang berlipat ganda di sisi Allah."
Akhirnya demi Riska, Reza rela mengikuti maunya Riska. Tidak lama kemudian terdengan adzan sholat ashar berkumandang, mereka lalu sholat ashar terlebih dahulu di musholla sekolah, setelah itu baru mereka akan berangkat sama-sama menuju ke toko pernak-pernik. Saat Reza memakai sepatunya, Tiba-tiba Eka berkata
"MasyaAllah Za, terlihat ganteng sekali kamu hari ini"
Mendengar Eka yang berbicara seperti itu, Reza langsung bergidik dan berdiri dari duduknya.
"Iiihhhh Eka, sorry... Aku masih normal Ka, masih suka sama cewe" Ucap Reza.
"Ehh sorry bro, jadi kamu pikir aku suka sama kamu Za?? Hahahaha.... Eike juga masih normal bro" Jawab Eka membalas ucapan Reza tadi.
"Lagi kenapa sih pake bilang aku ganteng segala tadi? Geli tau dibilang ganteng sama cowo! " Ucap Reza.
"Jiiiaaahhh... Maksud aku kan gara-gara baru kali ini liat ente sholat on time bro" Jawab Eka.
"Sudah-sudah yuu kasian Riska sama Zia sudah menunggu.
__ADS_1
Lalu mereka bersama-sama menuju mobil, Reza sudah berbunga-bunga saja hatinya bisa mengajak Riska berangkat sama-sama menggunakan mobilnya.
" Pakai mobilku saja ya" Tawar Reza.
Lalu Riska menghitung jumlah yang ikut.
"Hmm Ka, maaf kayaknya Riska sama Zia pakai mobil Riska saja ya. Ini kan Ka Ibam duduk dibelakang, dan dimobil ini kami cuma perempuan berdua, tidak baik dilihatnya, maaf ya Ka" Ucap Riska.
Reza lantas menyuruh Ibam membatalkan untuk ikut, dan Ibam nurut saja, karena merasa tidak enak. Tapi Riska malah membela Ibam, supaya Ibam tetap ikut saja karena niat dari awal kan Ibam memang pingin ikut, kenapa tiba-tiba hanya karena masalah mobil saja membuat Ibam tidak jadi berangkat. Lagi-lagi Reza mengalah demi Riska. Saat dimobil Reza mengeluarkan keluh kesahnya.
"Ampun dehhh banyak aturannya tuh cewe, nunggu waktu sholat dulu, sekarang apalagi pakai alasan tidak mau karena dimobil ini lebih banyak jumlah laki-lakinya" Ucap Reza.
"Bro... Berlian dia itu, ga gampangan tipenya, kamu mau cari pacar atau istri masa depan, calon ibu anak-anakmu kelak? Nahh Riska cocok tuh" Ucap Eka.
"Istri masa depan??? Ibu anak-anakku kelak??? Hmmm boleh juga"
Disaat semua sibuk memilih untuk dekor hiasan mading, Reza malah sibuk memperhatikan Riska, entah kenapa memandang Riska membuat hatinya adem. Dan memang wajah Riska enak untuk dipandang, dan yang dipandang saking lagi asiknya memilih pernak pernik tidak merasa lagi dipandang.
"Serius sekali dia sampai nga sadar kalau dari tadi aku mandangin dia"
"Benar-benar cantik banget ini mah, wajahnya mau lagi serius, mau lagi santai tetap enak dipandang"
"Riska... Riska... Andai aku bisa mengambil hatimu"
"Ya Allah luar biasa ciptaan-Mu yang satu ini"
Ucap Reza dalam hatinya, sambil tatapan matanya tidak lepas menatap dimana Riska berada.
"Woiiii.... Kirain beneran mau bantuin milih-milih dekor, ehhh tau-taunya ada udang dibalik tepung" Ucap Eka sambil menepuk pundak Reza yang ketangkap basah sedang asik memandang Riska secara intens. Reza malah memilih untuk duduk di sudut ruangan daripada ikut melihat-lihat dan memilih dekor hiasan.
"Udang dibalik tepung??? Bakwan udang dong?? Hahahahhaah" Jawab Reza.
"Kan sambil menyelam minum air dong Ka! " Jawab Reza.
"Sambil menyelam minum air??? Tenggelam dong Za!!! Hahahaha" Jawab Eka sambil terkekeh-kekeh.
"Jalan-jalan ke pinggir empang,
Nemu katak di pinggir empang.
Hati siapa tak bimbang,
Kamu botak minta dikepang" Ucap Reza sambil tertawa.
Yang lain sibuk memilih dekor hiasan, mereka berdua malah sibuk bermain pantun.
"Ris... Liatin tuh Ka Eka sama Ka Reza, bukannya bantuin cari-cari dekor hiasan malah ketawa-ketawaan asik berdua" Bisik Zia kepada Riska.
"Sudah biarkan saja Zi, kan masih bisa kita handel ini" Jawab Riska sambil melirik sebentar ke arah dimana Reza dan Eka yang sedang asik bercanda.
__ADS_1
Akhirnya setelah hampir satu jam berkutak kutik, selesai juga urusan membeli dekor hiasan mading. Karena yang membawa mobil hanya Reza dan Riska akhirnya barang belanjaan dibagi dua, supaya memudahkan untuk besok dibawa kembali ke sekolah untuk disimpan dan dikerjakan di ruangan kelompok mading.