Ketika Takdir Berkata Lain

Ketika Takdir Berkata Lain
Bab 41 Kunjungan Aimar


__ADS_3

Rina pulang ke rumah dengan perasaan bahagia, sangat-sangat bahagia. Bagaimana tidak, keadaan atau perasaan senang dan perasaan tenteram yang di mana dalam kondisi bebas dari segala hal yang menyusahkan hidup Rina akhirnya tuntas, Rina sudah lulus dari sidang skripsinya ditambah dapat bonus kebahagian dilamar oleh Aimar yang merupakan pujaan hatinya.


Mama Dinda yang melihat wajah berseri-seri Rina saat tiba dirumah lantas bertanya-tanya ada apa gerangan yang menyebabkan Rina seperti orang yang berjalan di atas awan. Apa iya karena lulus sidang bisa membuat perasaannya berbunga-bungaberbunga-bunga seperti itu??


"Assalamu'alaikum Mamaku yang cantik seantero jagat raya" Ucap Rina.


"MasyaAllah dipuji cantik sama anak cantik, ada apa niih gerangan terlihat bahagia banget? " Tanya Mama sambil tersenyum.


"Jelas bahagia dong Ma, alhamdulillah akhirnya perjuangan Rina skripsi selesai juga tinggal nunggu wisuda"


"Dan.... Emmmm... Ma, nanti malam Kaka senior Rina mau datang ke rumah, boleh tidak? " Ucap Rina malu-malu.


"Wahhh Kaka Senior??? Siapa Rin namanya? Terus dia mau apa ke rumah? " Tanya Mama menyelidiki.


"Iya, dua tahun diatas Rina. Namanya Aimar Wicaksana, sekarang bekerja dan juga kuliah S2 hukum di Amerika dapat beasiswa Ma. Katanya dia nanti mau datang menemui Papa sama Mama, mau melamar aku" Jawab Rina sambil tersenyum malu-malu.


"Terus... Anaknya seperti apa? " Tanya Mama Dinda.


"InsyaAllah Ma, Ka Aimar anak baik-baik dan bertanggung jawab. Dia sudah yatim dari kecil, ibunya hanya seorang Guru Tk, tapi Ka Aimar menempuh pendidikan SD sampai SMA nya di Pondok Pesantren, jadi Ka Aimar InsyaAllah tidak hanya pandai ilmu dunia tetapi juga pandai ilmu agamanya Ma" Jawab Rina lengkap.


"Kamu tahu darimana? " Tanya Mama Dinda.


"Kan Ka Aimar Senior favorit Rina ma.... Ya tahulahhh " Jawab Rina semangat.


"InsyaAllah Mama percaya dengan pilihanmu Rin, nanti Mama telephone Papa dulu ya, menjelaskan semuanya dan supaya papamu pulang cepat" Ucap Mama Dinda.


"Iya.. Ma, Ma... Rina ke kamar dulu ya, mau siap-siap, ehhh... Salah... Mau bersih -bersih dulu, hihiiii, I Love U my mom because Allah" Ucap Rina sambil senyum-senyum sendiri.


"I Love U Too Ka, Because Allah" Jawab Mama, sambil mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak gadisnya.


Rina pun masuk ke kamarnya. Di kamar ia membersihkan dirinya terlebih dahulu setelah beraktifitas di luar rumah. Setelah bersih dan berganti pakaian, ia mengirimkan pesan kepada Aimar, bahwa ia sudah memberitahu mamanya perihal kedatangan Aimar nanti malam.


💬 "Assalamu'alaikum Ka" Tulis Rina.


💬"Waalaikumsalam bidadariku, ada apa? " Tanya Bima.


"Bluuushhhh"


Wajah Rina merah merona dan terukir senyum yang merekah di bibirnya, saat dikatakan bidadariku oleh Aimar.


💬 "Tadi sudah aku sampaikan ke Mama kalau Ka Aimar mau datang ke rumah dan juga tujuan Ka Aimar mau datang. Nanti Mama juga mau telephone Papa katanya" Jawab Rina.


💬 "Alhamdulillah, InsyaAllah bada maghrib Ka Aimar ke rumahmu ya Rin, tunggu Kaka ya" Tulis Aimar.


💬" Terima kasih sudah menunjukkan keseriusanmu padaku Ka Aimar, kamu buktikan bahwa kamu benar-benar menyayangiku" Tulis Rina.


💬" Setiaku hanya untukmu Rina, jadi jangan pernah kecewakan aku" Jawab Aimar dan lagi-lagi kata-kata Aimar mampu membuat Rina melayang ke langit ke tujuh.


Rina baru mengetahui sisi lain Aimar yang ternyata romantis. Karena selama ini yang Rina ketahui Aimar layaknya laki-laki hanya bersikap ramah dan tidak banyak bicara.


💬"Baik Ka, sudah dulu ya, Assalamu'alaikum " Tulis Rina.


💬"Wa'alaikumsalam" Jawab Aimar.


"Masyaallah aku sudah tidak sabar pingin buru-buru nanti" Ucap Rina pada dirinya sendiri sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Cinta adalah perasaan positif yang kuat dan dirasakan oleh seseorang. Cinta juga perasaan positif terkuat yang pernah dirasakan oleh manusia. Dari setiap jenis cinta yang dirasakan, elemen yang paling penting adalah perhatian terhadap orang yang dicintai.


Akhirnya matahari tenggelam, dan perlahan langit pun menjadi gelap. Keluarga Prasetyo terutama Papa Pras, Mama Dinda dan Rina sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Aimar selepas bada maghrib ini.


Tidak lama terdengar suara mobil datang, Pa Mamat yang sudah diamanatkan oleh Papa Pras bahwa nanti selepas bada maghrib akan ada tamu, segera membukakan pintu pagar agar mobilnya bisa segera masuk. Setelah mobil masuk ke halaman rumah, keluarlah seorang pemuda gagah yang terlihat kharismatik, Aimar Wicaksana. Melangkahkan kakinya dengan pasti menghampiri Papa Pras dan Mama Dinda yang sudah menunggu kedatangannya.


"Assalamu'alaikum Om Tante" Ucap Aimar.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" Jawab Papa Pras dan Mama Dinda bersamaan.


Kemudian Aimar mencium takzim punggung tangan Papa Pras dan kepada Mama Dinda, Aimar hanya menangkup kan kedua tangannya didepan dadanya sambil mengangukan kepala. Disini Papa Pras dan Mama Dinda sudah bisa melihat seperti apa Aimar.


"Santun dan Sholeh" Ucap Papa Pras didalam hatinya.


"Oh iya Om, ini ada saya bawakan kue untuk Om dan Tante" Ucap Aimar sambil menyerahkan goodie bag yang berisi kue yang tadi sempat ia beli siang hari di sebuah toko kue.


"Terima Kasih ya Nak Aimar" Ucap Papa Pras sambil menerima goodie bag yang Aimar berikan.


Kemudian Papa Pras mempersilahkan Ainar untuk duduk diruang tamu. Sedangkan Mama Dinda masuk dulu ke dalam untuk memberitahu Rina bahwa Aimar sudah datang, jadi Rina harus ber siap-siap untuk datang ke ruang tamu saat Papanya memanggil namanya. Kemudian Mama Dinda meminta Bi Iyem untuk menyajikan camilan dan minuman untuk Aimar.


"Silahkan Nak Aimar duduk" Ucap Papa Pras.


"Baik Om, Terima Kasih" Jawab Aimar santun.


"Jangan panggil Om lah, saya sudah tua gini masih dipanggil Om, panggil Papa saja ya biar kelihatan lebih akrab" Ucap Papa Pras untuk memecahkan kekakuan suasana.


"Baik Om... Ehhh... Baik Papa" Jwab Aimar terbata-bata. Bagaimana tidak Aimar gugup menghadapi Papa Pras yang Aimar tahu bahwa Papa Pras adalah seorang pengusaha ternama, dan ternyata setelah Aimar bertemu langsung Papa Pras tidak seperti yang dibayangkannya akan bersikap dingin dan angkuh. Papa Pras malah bersikap friendly, dan setiap obrolannya selalu disertai canda.


"Oh... Iya, Nak Aimar ada apa ya datang kemari? " Tanya Papa Pras untuk memastikan kembali tujuan datangnya Aimar ke rumahnya, walaupun tadi saat tiba dirumah Papa Pras sudah mendengar dari istrinya maksud kedatangan Aimar.


"Bismillah... Begini Om, ehhh.. Papa, saya datang ke sini bermaksud untuk melamar Puteri Papa" Jawab Aimar lugas.


"Puteri saya?? Puteri saya yang mana?? Karena saya kan punya tiga Puteri" Ucap Papa Pras yang sengaja sedikit obrolannya dibikin tidak serius, karena melihat Aimar yang gugup dan berkeringat padahal hawa malam ini sejuk.


"Emmmm... Puteri Papa yang bernama Rina Pradiskia yang saya maksud " Jawab Aimar.


"Ooohhhh Rina..., yakin kamu mau sama dia? " Tanya Papa Pras.


"InsyaAllah yakin Pa" Jawab Aimar mantap.


"Yakin tetap mau sama Rina, dia kan suka marah-marah nga jelas dan cerewet lagi" Ucap Papa.


"Ddduuuh ini kok obrolannya malah lebih mengerikan dari sidang skripsi ya" Ucap Aimar didalam hatinya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa yang membuat kamu yakin dengan Rina? " Tanya Papa penuh selidik sambil menatap Aimar intens karena dari pancaran mata bisa terlihat apakah Aimar jujur atau tidak dengan jawabannya.


"Karena saya sudah menyukai Rina dari awal Rina masuk kuliah Pa, dan saya tahu bahwa Rina tidak pernah berpacaran karena menjaga amanah kedua orangtuanya, inilah yang membuat saya yakin bahwa Rina adalah gadis sholehah karena patuh dengan aturan yang dibuat orang tua" Jawab Aimar.


"Cuma itu saja? " Tanya Papa Pras lagi.


"Banyak sih Pa"


"Rina cantik jelas tidak usah diragukan lagi, menggunakan jilbab, cerdas dan saya suka melihat ketika waktunya sholat tiba, Rina langsung buru-buru melangkahkan kakinya ke masjid kampus, ditambah juga saya hampir tidak pernah melihat Rina nongrong-nongkrong tidak jelas dengan teman-temannya, palingan hanya makan di kantin berdua dengan sahabatnya Mika" Jawab Aimar penuh dengan keyakinan.


"Wahhh ternyata sudah sejauh itu ya Nak Aimar mengetahui tentang Rina"


Ucap Papa Pras.


Aimar hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala.


Rina yang sudah duduk didekat ruang tamu, mendengar semua percakapan antara Papa Pras dan Aimar. Rina merasa tersentuh dengan apa yang sudah terucap oleh Aimar dihadapan papanya. Sebentar ya Nak Aimar, Papa tanya dulu Rinanya mau atau tidak nih dengan Nak Aimar, siapa tahu saja Rina menolak semua maksud Nak Aimar.


Mama yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa tersenyum, Mama Dinda mengetahui kalau Papa Pras sedang ngerjain Aimar.


"Degggghhh"


Jantung Aimar langsung berdetak kencang mendengar ucapan Papa Pras.


"Coba Ma, tolong panggilkan Rina" Ucap Papa Pras.


"Sebentar ya Nak Aimar, Mama panggilkan dahulu Rinanya" Ucap Mama Dinda.

__ADS_1


"Baik Ma" Jawab Aimar.


Datanglah Rina yang ditemani oleh Mama Dinda. Menggenakan gamis berwarna abu-abu polos dan jilbab panjang warna senada dan bermotif bunga-bunga, menambah kecantikan Rina malam itu. Sampai membuat Aimar terpesona menatapnya. Dan tatapan Aimar ini membuat Rina semakin malu sehingga menundukan pandangannya, sedangkan Papa Pras dan Mama Dinda bisa menilai arti tatapan Aimar tersebut.


"Nahhh ini Rina nya sudah ada"


"Papa tanya dulu ya, Rina.....ini Nak Aimar datang untuk melamarmu, bagaimana kamu mau terima atau tidak lamarannya? " Tanya Papa.


Rina memejamkan matanya terlebih dahulu lalu membukanya kembali.


"Bismillah"


"Rina mau Pa.. Ma" Ucap Rina.


"Mau apa Rin, yang jelas dong"


"Mau makan, mau minum, mau pergi" Ucap Papa sedikit bercanda agar suasana tidak tegang.


"Papa ih.... " Ucap Rina gugup sambil memandang wajah Papa dan Mamanya.


"Rina mau menerima lamaran Ka Aimar" Jawab Rina malu-malu sambil menundukan kepalanya.


"Alhamdulillah" Terdengar ucapan yang sama dari Aimar, Papa Pras dan Mama Dinda.


"Jadi kapan Nak Aimar mau membawa keluarga ke sini untuk acara lamaran resminya? " Tanya Papa Pras.


"Insyaallah Sabtu besok, saya akan ke sini bersama keluarga saya ya Pa" Jawab Aimar.


"Baiklah Nak, Papa dan Mama tunggu ya kedatangan Nak Aimar dan keluarga" Ucap Papa Pras sambil tersenyum.


"InsyaAllah Pa.. Ma.. " Jawab Aimar.


"Nak Aimar diminum dulu minumnya dan dicicip kue-kuenya, maaf alakadarnya ya" Ucap Mama Dinda.


"Baik Ma, Terima kasih" Jawab Aimar, sambil meminum teh hangat dan mengambil sosis solo yang sudah disajikan Bi Iyem.


Sambil menikmati camilan yang sudah disajikan sambil diselingi obrolan-obrolan ringan antara Papa Pras, Mama Dinda, Rina dan Aimar. Obrolan lebih mengarah kepada cerita tentang keluarga Aimar, keluarga Rina, pendidikan master yang sedang Aimar tempuh dan juga pekerjaannya sekarang. Rina begitu mengagumi sosok calon Imamnya, begitupun juga Aimar sesekali mencuri pandang ke arah calon makmumnya yang duduk diapit diantara kedua orangtuanya.


Tidak lama kemudian terdengar suara adzan Sholat Isya berkumandang.


"Pa.... Ma... Maaf, disini masjidnya disebelah mana ya? " Tanya Aimar, karena ini memang pertama kalinya Aimar berkunjung ke Rumah Rina. Karena memang tidak pernah ada teman laki-laki yang diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah Rina.


"Ooohhh di belokan sebelah kiri tidak jauh dari sini Nak, hayuu bareng sama Papa berangkatnya" Jawab Papa sambil merangkul bahu Aimar.


"Ma... Rina, Papa berangkat ke masjid dulu ya bareng Aimar" Ucap Papa Pras.


"Iya Pa.... " Jawab Mama Dinda dan Rina bersamaan.


Sungguh pemandangan yang luar biasa untuk Mama Dinda dan Rina, kedua lelaki dihadapan mereka melangkahkan kakinya untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid.


Sepulangnya dari masjid, Aimar langsung berpamitan kepada Papa Pras, Mama Dinda dan Rina. Ainar mencium takzim punggung tangan Papa Pras dan menangkup kan kedua tangannya didepan dadanya saat berpamitan dengan Mama Dinda dan Rina dan tidak lupa mengucapkan salam. Kemudian Papa Pras, Mama Dinda dan Rina mengantarkan kepulangan Aimar sampai mobil yang Aimar kemudikan keluar dari halaman rumah.


Karena hari juga sudah malam, Rina memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Sebelum masuk ke kamar, Papa Pras dan Mama Dinda sempat mengatakan bahwa Aikar adalah calon imam yang tepat untuk Rina dan mereka berdua sangat menyukai sosok Aimar dan Rina sangat-sangat bersyukur, karena Papa dan Mamanya bisa menerima Aimar.


Aimar pun diperjalanan jadi senyum-senyum sendiri, ia tidak menyangka sosok Papanya Rina, yaitu Papa Pras adalah sosok yang begitu bersahabat, humoris dan juga dekat dengan agama. Aimar kini paham kenapa Rina terbentuk menjadi wanita yang cerdas dan sholehah, karena dilahirkan, dibesarkan dan dididik oleh Orang Tua yang sholeh sholehah. Aimar tidak sabar untuk sampai ke rumah, ia ingin menceritakan semuanya kepada Ibu dan adiknya tentang kunjungannya hari ini ke rumah Rina.


Dalam Al Qur'an surat An Nur ayat 26 Allah menjelaskan bahwa wanita yang tidak baik akan dipersunting dengan pria yang tidak baik pula. Begitu pun sebaliknya, pria yang baik untuk wanita yang baik. Jodoh itu saling melengkapi, jadi dia cerminan diri sekaligus saling melengkapi.


Jodoh juga merupakan sebuah misteri kehidupan yang tidak kita ketahui kepastiannya. Namun Allah telah mengaturnya untuk kita. Jodoh sebenarnya bukanlah pilihan, melainkan takdir yang telah tercatat dengan jelas dan tegas di Lauhul Mahfudz.


💐💐💐


Jangan lupa berikan Like, Vote dan Hadiahnya, untuk booster melanjutkan bab-bab selanjutnya. Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2