Ketika Takdir Berkata Lain

Ketika Takdir Berkata Lain
Bab 21 Menambah Daftar Nilai Kekaguman


__ADS_3

Waktu terus berjalan, hari berganti hari. Riska dan sahabatnya Zia terkenal sebagai salah satu anak pandai di sekolahnya. Tidak ada nilai Riska dan Zia yang dibawah rata-rata kelas, semua diatas rata-rata kelas. Mereka berdua tidak hanya saling curhat tetapi juga saling menukar ilmu baik itu ilmu agama ataupun ilmu pelajaran. Jika Zia yang tidak paham tentang materi pelajaran yang telah diberikan, maka Zia pasti akan bertanya kepada Riska dan juga sebaliknya jika Riska yang tidak paham dengan isi materi pelajaran, maka Riska akan bertanya kepada Zia. Bahkan tidak sungkan teman- teman sekelas pun banyak yang meminta Zia ataupun Riska untuk menjelaskan kembali materi pelajaran yang sudah guru berikan dan dengan senang hati Riska dan Zia menjelaskan kepada teman- teman di kelasnya.


Berbagi ilmu menunjukkan kita memiliki sesuatu yang berlebih dari orang lain, dan layak kita bagikan pada orang lain. Hal itu akan menambah rasa syukur kita kepada Allah. Saat kita bisa berbagi ilmu ada rasa syukur dalam hati, ternyata kita bisa memberikan ilmu yang kita milki kepada orang lain. Dan ada keutamaan dari mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, maka baginya pahala sama dengan pahala orang yang mengambil manfaat dari ilmu tersebut, dan pahala tersebut berlanjut tidak terputus kepada setiap orang yang belajar ilmu ini dari jalurnya.


Mata pelajaran favorit Riska adalah Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA. Sedangkan mata pelajaran favorit Zia adalah Pendidikan Agama, Matematika dan PPKn. Bahkan mereka berdua tidak pernah absen untuk mengangkat tangannya ketika guru mengajukan pertanyaan seputar pelajaran yang sedang diajarkan, karena selalu mengacungkan tangannya saat pertanyaan sampai-sampai guru yang memberikan mata pelajaran sudah hafal pasti Riska atau Zia bisa menjawab pertanyaan yang diberikan. Sampai ada satu peristiwa saat pelajaran matematika, guru matematika yang bernama Ibu Rosdiana atau yang biasa dikenal dengan nama Ibu Ros, memberikan soal dipapan tulis tentang akar dan logaritma, lalu menanyakan kepada siswa-siswi dikelas siapa yang bisa menjawab soal tersebut. Lagi-lagi yang mengacungkan tangannya adalah Riska dan Zia, tapi kemudian Ibu Ros lantas tidak meminta Riska atau Zia untuk maju ke depan, karena Ibu Ros tahu bahwa mereka berdua pasti bisa menjawab soal yang diberikan. Akhirnya Ibu Ros berinisiatif untuk menunjuk langsung dari absen siapa yang harus maju ke depan, disinilah suasana kelas jadi tegang, suara gaduh langsung terdengar, murid - murid seperti yang protes kenapa harus ditunjuk dari daftar absen, kenapa bukan Riska atau Zia saja yang ditunjuk untuk maju kedepan. Tapi apa boleh buat mereka harus terima nasib, karena Ibu Ros bosan selalu Riska atau Zia yang maju ke depan.


"Assalamu'alaikum" Sapa Ibu Ros.


"Waalaikumsalam" Jawab siswa-siswi di kelas bersamaan.


"Hari ini sebelum masuk ke materi baru, Ibu mau mengetes materi yang minggu lalu ya tentang akar dan logaritma" Ucap Ibu Ros, lalu Ibu Ros menuliskan soalnya di papan tulis.


"Tentukan nilai dari: 2log 8 + 3log 9 + 5log 125 "


"Tentukan nilai dari √2log 8 "


"Ibu mengingatkan lagi bahwa Akar di dalam matematika adalah salah satu operasi aljabar yang nilainya merupakan hasil dari perkalian suatu bilangan yang sama atau bentuk lain untuk menyatakan suatu bilangan yang berpangkat. Bentuk akar merupakan bilangan yang hasilnya bukan bilangan rasional atau irasional"


" Logaritma adalah suatu invers atau kebalikan dari pemangkatan (eksponen) yang digunakan untuk menentukan besar pangkat dari suatu bilangan pokok" Ucap Ibu Ros. Siswa-siswi dikelas hanya menganggukan kepala saat Ibu Ros sedang menjelaskan materi akar dan logaritma, entah yang sebenarnya mereka paham atau tidak.


Akan ada dua murid yang ditunjuk. Siswa-siswi dikelas pun mencatat soal yang diberikan, dan mereka berfikiran pasti seperti biasa Riska dan Zia yang bisa menjawab pertanyaan, sehingga mereka selamat. Riska dan Zia pun ikut mencatat soal yang diberikan oleh Ibu Ros dan langsung menjawab soal tersebut di buku.


"Siapa yang sudah selesai menjawab soalnya, silahkan maju ke depan" Ucap Ibu Ros.


"Saya bu" Jawab Riska dan Zia bersamaan.


"Siapa lagi selain Riska dan Zia? " Tanya Ibu Ros.

__ADS_1


"Untuk dua soal kali ini mohon maaf Ibu tidak akan meminta Riska ataupun Zia ke depan ya, karena Ibu yakin Riska dan Zia pasti bisa mengerjakannya. Kalau tidak ada yang mengacungkan tangan lagi, maka Ibu akan menunjuk dari daftar absen ya" Kata Ibu Ros.


Mendadak kelas jadi ricuh.


"Yaaaah kok gitu sihh bu"


"Nga bisa gitu dong bu, nga adil namanya"


"Yaaaah bu, aduuh mana nga ngerti lagi materinya"


Macam-macam protes yang dilontarkan oleh siswa-siswi dikelas.


"Sudah-sudah tenang nanti kalau tidak bisa Ibu bimbing nanti jadi bisa kan " Ucap Ibu Ros sambil mengembangkan senyumnya, karena Ibu Ros sebenarnya ingin tertawa melihat wajah-wajah muridnya yang nampak tegang dengan berbagai macam ekspresi, ada yang langsung menjatuhkan kepalanya ke meja supaya tidak terlihat, ada yang menggerak-gerakan tangannya dan ada yang memegang keningnya supaya terlihat seperti orang yang sedang pusing. Akhirnya Ibu Ros pun melihat daftar absen dan memanggil dua nama murid untuk diminta maju ke depan.


"Ibu ingin Audrey Mariska dan Raihan Hanan untuk maju ke depan" Ucap Ibu Ros.


Yang punya nama tersebut pun mau tidak mau walau penuh keterpaksaan, bahkan Audrey maju ke depan sambil wajahnya ditekuk karena kesal namanya disebut dan Raihan dari tadi hanya sibuk menggaruk kepalanya yang tidak gatak karena binggung harus menulis jawaban apa dipapan tulis. Mereka berdua memang sudah mencatat dua soal yang diberikan, tetapi belum ada satu soal pun yang dijawab karena mereka tidak paham. Akhirnya dengan penuh kesabaran, Ibu Ros membimbing mereka, mengingatkan mereka rumusnya dan meminta mereka untuk menghitung sendiri hasilnya, dan ternyata berhasil. Audrey dan Raihan berhasil menyelesaikan soal matematika yang diberikan, mereka berdua lantas tersenyum, dan tidak sadar mengucapkan kata "yesss" sambil tangan dikepal.


Lalu Audrey dan Raihan pun diminta untuk kembali ke bangkunya masing-masing.


Bahkan kepandaian yang dimiliki Riska dan Zia sudah terdengar sampai ke pihak Kepala Sekolah dan jajarannya, sehingga Riska dan Zia sudah dipersiapkan oleh sekolah untuk mengikuti Olimpiade Matematika. Olimpiade Matematika Internasional (IMO) adalah kompetisi tahunan dalam bidang matematika untuk siswa-siswa SMA. Ini adalah olimpiade sains internasional tertua. Mengikuti kelaziman yang berlaku pada IMO (International Mathematical Olympiad), cakupan materi matematika OSN dibagi ke dalam empat kelompok: aljabar, geometri, kombinatorika, dan teori bilangan.


Kabar bahwa Riska sudah dimasukan ke dalam tim olimpiade matematika pun sudah terdengar di telinga Reza, dan hal ini menambah daftar nilai kekaguman Reza terhadap Riska, yaitu cantik, ramah, sholehah, sederhana dan cerdas. Reza pun ketika duduk di kelas 1 SMA sempat terpilih menjadi peserta Olimpiade Matematika, oleh karena itu Reza diminta pihak sekolah untuk terlibat mendampingi adik-adik kelasnya yang akan mengikuti lomba ini. Tentu Reza dengan suka hati menerima tugas tersebut, karena dengan demikian Reza bisa bertemu dengan Riska terus menerus selama masa pelatihan. Reza akan memberikan pengalamannya, yaitu berupa cara belajar menghadapi Lomba Olimpiade yang Efektif, yaitu mempelajari materi dengan mendalam, melakukan latihan soal, mempelajari strategi pemecahan masalah, mengikuti pelatihan lomba Olimpiade, membuat rencana belajar yang teratur, dan menjaga kesehatan. Hal ini tentu membuat Tasya gerah, melihat kedekatan Reza dengan Riska, padahal tidak pernah sekalipun Reza berdua-duaan dengan Riska, pasti selalu ada yang mendampingi Riska, siapa lagi jika bukan sahabat terbaiknya yaitu Zia. Sebenarnya Reza sedikit kecewa, karena setiap kali Reza akan mendampingi pelatihan soal untuk Riska di sekolah Riska tidak pernah sendirian, kalaupun Zia tidak ada pasti ada guru yang mendampingi, karena Riska pernah menyampaikan rasa keberatannya kepada panitia persiapan lomba kalau Riska tidak mau saat sedang latihan soal hanya berduaan saja dengan yang non mahrom. Hal ini pun disanggupi oleh pihak panitia. Tetapi walaupun sedikit kecewa, Reza tetap bersyukur karena bisa berada didekat Riska.


Tasya melihat kedekatan Reza dengan Riska yang berada di kegiatan kelompok mading saja sudah seperti orang kegerahan, apalagi ini Reza dilibatkan untuk memberikan motivasi dan pelatihan soal kepada peserta lomba yang salah satunya adalah Riska. Tasya makin gencar untuk mengusik kenyamana Riska, dan tanpa disadari Tasya semakin posesif terhadap Reza. Hal ini yang membuat Reza sebenarnya makin kecewa dengan sikap Tasya yang menurutnya berlebihan.


Tasya semakin gencar untuk mengusik Riska, yang tujuannya tidak lain adalah supaya Riska menjauhi Reza. Padahal Riska juga binggung kapan Riska berusaha mendekati Reza, yang ada juga mereka selalu bertemu memang karena kondisi yang mengharuskan mereka untuk bertemu.

__ADS_1


Pernah suatu ketika, saat dikantin sekolah, Riska sedang membeli es teh, saat akan membawa es teh tersebut, Tasya pura-pura tangannya menyengol es teh yang sedang Riska pegang, alhasil es teh tersebut sedikit membuat ujung jilbab Riska basah karena tumpah. Belum lagi saat Riska sedang menunaikan sholat dhuhur di musholla sekolah, Tasya menjahili Riska dengan mengambil dan menyimpan sebelah kanan sepatunya Riska di pot tanaman dekat kamar mandi, alhamdulillah sepatu sebelah kanannya Riska dapat ditemukan kembali, karena ada salah seorang siswi yang melihat Tasya saat sedang melakukan aksinya, sehingga ketika Riska sedang sibuk mencari sepatunya, siswi tersebut memberitahukan Riska bahwa sepatunya ada di pot tanaman dekat kamar mandi. Riska merasa bersyukur, masih ada orang baik yang mau menolongnya. Tapi Riska masih bersabar. Sebenarnya Zia sudah gerah melihat kelakuan Tasya terhadap Riska, tetapi lagi-lagi Riska selalu berkata 'SABAR', kemudian Riska mengingatkan Zia kenapa kita harus bersabar, karena sabar dan syukur adalah dua sifat terpuji yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Keduanya merupakan bukti keimanan kepada Allah SWT, yang menciptakan segala sesuatu dengan hikmah dan rahmat-Nya. Sabar dan syukur juga merupakan kunci untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Salah satu contoh sabar adalah dengan menahan diri ketika marah. Ketika Riska sudah mengeluarkan nasihat yang menyejukan hati, seperti biasa Zia langsung mengeluarkan protes asalnya,


"Sabar... Sabar... Orang sabar badannya lebar" Ucap Zia asal sambil mencibir kan bibirnya.


Riska hanya tersenyum melihat kelakuan temannya ini. Tetapi kesabaran Riska pernah sampai pada ujungnya, yaitu pada saat Tasya mencorat coret hasil hiasan dekor mading yang telah Riska dan teman-temannya buat. Sudah susah payah Riska dan teman-temannya di mading mendekor mading biar tampak menarik untuk dibaca, Tiba-tiba Tasya datang dengan membawa spidol di tangannya dan tanpa permisi langsung mencorat-coret didekor tersebut. Tentu hal ini membuat Riska dan teman-temannya marah, lantas Riska pun menegur Tasya.


"Ka Tasya kenapa harus mencorat coret dekor mading, inikan hasil kami kerja keras" Ucap Riska masih dengan bahasa santun.


"Jelek tau dekornya, udik gitu ga menarik, mana enak dilihat, mending aku tambahin hiasan jadi bagus kan sekarang" Jawab Tasya sambil dengan santainya melanjutkan menggambar di karton tempat mading akan ditempelkan.


"Ka Tasya hentikan, nanti aku akan lapor ke sekolah kalau seperti ini" Ucap Riska.


"Lapor saja sekalian, sebelum sekolah menegur aku, kamu juga akan terlebih dahulu bakal bikin kamu keluar dari sekolah ini, tauuuuu... " Ancam Tasya.


"Kaka mengancam aku? Oooh baiklah, Kaka lupa siapa Papa aku? Aku bisa mengeluarkan Ka Tasya dari sekolah ini sekarang juga, bahkan aku juga bisa meminta papaku untuk membuat Ka Tasya tidak diterima di sekolah manapun" Ucap Riska tajam. Riska terpaksa berkata demikian, karena untuk membuat efek jera pada Tasya. Padahal selama ini Riska tidak pernah mau membawa nama besar papanya. Teman-teman Riska pun mengenal Riska karena kepandaian, keramahan, kesederhanaan dan tentu saja kecantikan yang Riska miliki, baru kali ini teman-teman Riska di mading mengetahui siapa Riska sebenarnya dan mereka kagum karena tidak pernah melihat sedikitpun Riska bersikap sombong atau pamer. Zia pun tersenyum puas menyaksikan pertengkaran Riska dan Tasya kali ini, apalagi melihat wajah Tasya yang langsung pucat ketika mendengar ancaman Riska.


"Sukurinnnn tau rasa deh" Ucap Zia di dalam hatinya sambil tersenyum puas.


" Jlegerrrrrrrr... "


Bagai petir di siang bolong mendengar ucapan Riska tadi, Tasya merutuki dirinya sendiri, Tasya lupa bahwa papa Riska adalah salah satu orang ternama, yang pastinya bisa melakukan apapun jika memang diinginkan.


"Ddduuuh bodoh sekali aku, aku lupa siapa papanya Riska" Tasya berbicara sendiri sambil wajahnya terlihat pucat. Akhirnya Tasya tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena sudah di skak mat oleh Riska, karena malu Tasya pun pergi meninggalkan Riska dengan kaki dihentikan, menandakan bahwa Tasya sangat marah.


Tetapi tetap saja, hal ini tidak menyurutkan semangat Tasya untuk selalu mengusik Riska. Selama Riska selalu ada di dekat Reza maka Tasya akan selalu mengibarkan bendera perang terhadap Riska. Zia sempat khawatir dengan hal ini, tetapi lagi-lagi Riska menenangkannya.


"Tenang Zi, kan ada Allah"

__ADS_1


"lagi pula hal yang kita lakukan kan tidak salah"


"Ingat Zi, Islam mengajarkan untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain, apalagi sampai kita mengusik dan menyakitinya. Sejatinya ini hanyalah perbuatan yang buang-buang waktu dan tidak bermanfaat. Bahkan hanya berakhir pada dosa. Ikut campur urusan orang lain dalam konteks ini adalah ikut campur yang memicu penyakit hati atau mengakibatkan dosa" Ucap Riska yang terdengar sangat sejuk ditelinga Zia. Zia pun lalu memeluk sahabatnya ini, Zia selalu bangga terhadap Riska yang bisa bersikap dewasa melebihi usianya.


__ADS_2