
Pagi ini Riska berangkat ke sekolah dengan membawa bawaan yang banyak hasil belanjaannya kemarin di toko pernak pernik. Pernak pernik untuk dekor hiasan mading yang sudah Riska satukan semua dan dimasukan ke dalam kardus, untuk memudahkan ia membawanya ke sekolahan. Pada saat tiba disekolah, Pa Yuda sudah menawarkan diri untuk membantu membawakan barang tersebut, tetapi seperti biasa Riska tidak mau merepotkan Pa Yuda.
Riska berjalan sedikit terburu-buru, bahkan hampir sebagian badan hingga mulutnya tertutup oleh kardus yang Riska bawa. Tanpa Riska ketahui langkah kakinya dihadang oleh Tasya hingga membuat Riska jatuh tersungkur dan secara otomatis kardus yang berisi barang-barang untuk dekor hiasan mading jatuh berserakan ke mana-mana. Riska tidak melihat ada Tasya yang memang sudah menunggunya, karena Tasya kesal kemarin melihat Reza dan Riska bersama terus, ditambah kemarin Reza menolak permintaann Tasya untuk menjemputnya di Mall karena Reza mengatakan bahwa ia sudah terlanjur bikin janji dengan kelompok mading untuk berangkat ke toko pernak pernik bersama-sama, yang Tasya menebak pasti ada Riska salah satunya yang ikut pergi.
"Astagfirullah"
"Buuugggh"
"Aaddduuuh"
Riska terjatuh ke depan dan kardus yang dipegangnya terlepas hingga terjatuh yang membuat semua isinya berserakan dilantai sekitar lorong sekolah.
Lalu Riska melihat siapa yang telah menghalau jalannya. Baru kali ini Riska merasa marah sekali, sampai membuat matanya mengeluarkan air mata. Perasaan Riska saat ini campur aduk antara marah,sakit hati dan sedih. Sakit yang dialaminya di lutut karena terjatuh itu tidak seberapa untuknya, karena sebagai seseorang yang menguasai bela diri pada saat latihan terkena tendangan, pukulan dan hentakan tangan adalah hal yang biasa. Yang membuat Riska merasa marah dan sakit hati kali ini karena barang-barang dekor hiasan nya jatuh berceceran dilantai. Mana semalam ada yang baru Riska cetak dari printan komputer dan Riska bentuk dengan cara digunting biar tampak indah. Semuanya jatuh berceceran.
"Ka Tasya... Apa maksud kaka? " Tanya Riska penuh amarah dengan mata yang sudah berair.
"Maksud aku?? Heeehh kamu pikir aku sengaja gitu ngejatuhin kamu? Kamu aja yang jalannya nga liat-liat" Jawab Tasya ga mau kalah.
"Semuanya jatuh Ka, Kaka harus tanggung jawab" Jawab Riska.
'Tanggung jawab??? Aku harus tanggung jawab??? Enak aja kalau ngomong" Jawab Tasya.
"Oooh sekarang sudah berani ngejawab ya, baguuus" Ucap Tasya. Tasya sebenarnya kaget melihat Riska yang mengeluarkan air mata, karena selama ini Tasya menganggu Riska, belum pernah sekalipun Riska menangis. Tasya jadi bertanya pada dirinya sendiri, kenapa kali ini kok tumbenan Riska menangis karena ulahnya.
Tanpa Tasya sadari tadi perbuatan Tasya dilihat oleh Reza dan Ibu Reni yang sedang berbincang di depan taman, Ibu Reni sebagai guru yang akan mendampingi kelompok mading untuk lomba nanti sedang mengajak Reza berbicara menanyakan sudah sejauh mana progres persiapan lomba, pada saat mereka sedang berbicara inilah terjadi Riska yang terjatuh karena dihalau kakinya oleh Tasya. Lalu Reza dan Ibu Reni langsung berjalan cepat mendekati Tasya dan Riska yang sedang beradu mulut.
"Tasya hentikan" Ucap Ibu Reni.
Tasya yang mendengar namanya dipanggil langsung menengok.
"Ibu Reni" Ucap Tasya.
"Ada apa ini kalian ribut? Tanya Ibu Reni.
" Ini Bu, tadi Riska nabrak aku, ehh malah bilang aku yang sengaja bikin Riska jatuh" Ucap Tasya santai walaupun berbohong.
Reza mengusap wajahnya kasar saat Tasya berkata demikian, karena Bu Reni dan Reza mengetahui fakta yang sebenarnya. Hanya saja Bu Reni ingin menanyakan kembali dan ingin tahu apakah akan dijawab jujur oleh Riska atau pun Tasya.
__ADS_1
"Riska nga ngerasa nabrak Bu, Riska sudah hati-hati, tapi tadi saat jalan tiba-tiba kaki Riska seperti ada yang menghalau dan saat Riska lihat ada Ka Tasya didekat Riska" Jawab Riska apa adanya.
"Jangan nuduh kalau nga punya bukti" Ucap Tasya masih santai.
"Maaf ya, Tasya.. Setelah ini langsung ke ruangan saya ya, sudah-sudah tidak usah berargumen lagi, saya dan Reza melihat semuanya tadi" Ucap Bu Reni.
"Deeeegggh"
"Mati deh aku" Tasya berbicara didalam hatinya sendiri.
Lalu Tasya mengikuti Bu Reni ke ruangan guru. Di ruangan guru Bu Reni menanyakan alasan Tasya melakukan hal tersebut kepada Riska. Walaupun awalnya Tasya tidak mau jujur untuk mengakui semuanya, tetapi karena Ibu Reni tidak percaya dengan semua yang sudah Tasya katakan bahwa semuanya karena ulah Riska, akhirnya Tasya menyerah juga, karena ia tidak mau lama-lama berada di ruangan guru. Jelas Ibu Reni tidak percaya dengan ucapan Tasya yang mengatakan bahwa semuanya ulah Riska, karena selama ini Riska dikenal sebagai siswi yang ramah, tidak pernah bikin masalah dan penuh dengan prestasi, berbanding terbalik dengan Tasya.
Reza begitu Tasya mengikuti Bu Reni ke ruangan guru, langsung membungkukan badannya untuk membantu Riska memunguti barang-barang yang berserakan, tanpa berani berkata apapun kepada Riska. Melihat Riska yang pipinya dibasahi oleh buliran air mata membuat hati Reza merasa teriris. Ingin rasanya Reza mengusap air mata itu dengan tangannya atau tissu, atau sekedar memberikan bahunya kepada Riska untuk bersandar supaya Riska bisa melupakan kesedihannya, tetapi Reza menyadari Riska pasti akan menolaknya.
Tasya diminta membuat surat yang isinya berjanji untuk tidak menganggu Riska lagi dan harus mengganti barang-barang tadi yang sudah jatuh berceceran di lantai, dan Tasya menyanggupinya, karena ia tidak mau berlama-lama di ruangan guru. Tasya juga sebenarnya kaget setelah mengetahui ternyata kardus yang tadi Riska bawa ternyata berisi barang-barang untuk dekor hiasan mading yang akan digunakan untuk lomba nanti. Tasya tadi hanya berfikiran bahwa yang dibawa Riska didalam kardus hanyalah perlengkapan milik Riska saja untuk keperluan di sekolah.
Zia yang baru datang, melihat Riska dan beberapa teman-teman termasuk ada Reza disana yang sedang membantu Riska memunguti barang-barang yang berceceran. Kemudian Zia melihat wajah Riska terlihat ada buliran air mata yang sepertinya ditahan untuk menangis tetapi akhirnya air mata tersebut lolos juga keluar. Zia pun mendekati sahabatnya tersebut.
"Ada apa ini Ris? " Tanya Zia pelan, karena mengetahui pasti sesuatu telah terjadi pada Riska sebelum Zia tiba disekolah.
"Riska hanya diam saja masih menahan tangisannya, hanya melihat sebentar ke Zia kemudian melanjutkan memunguti barang-barang yang berceceran dilantai sekolah"
Setelah semua barang-barang yang berceceran berhasil diambil dan dimasukan kembali ke dalam kardus, Riska lalu memilih untuk ke kamar mandi terlebih dahulu ditemani Zia, Zia selalu setia menemani sahabatnya ini. Kemudian Zia menawari untuk memegang kardus tersebut supaya Riska bisa mencuci wajahnya terlebih dahulu. Dari tadi Riska hanya diam tidak menanggapi ucapan Zia, Reza ataupun teman-teman yang lainnya, karena posisi Riska masih dalam keadaan marah. Riska memilih untuk diam dan beristighfar, Riska hanya khawatir saat marah ia khilaf sehingga mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Untuk itu ia memilih ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya lalu kemudian berwudhu untuk menenangkan dirinya.
Riska bersyukur terlahir dari keluarga yang paham agama, sehingga saat mendapati situasi seperti tadi dirinya tidak tersulut api emosi. Riska setiap saat selalu teringat nasihat-nasihat dari Papa Pras, Mama Dinda ataupun Ummi Ida, yang pernah menasehati Riska, jika disaat kita sedang marah yang harus dilakukan pertama kali adalah membaca Ta'awudz, A'udzubillahi minasy syaithanir rajiim. Dengan mengucapkannya, kita memohon perlindungan kepada Allah agar tidak terpengaruh oleh setan. Kedua, ketika amarah membara, menahan lisan untuk tidak berkata dan berbicara merupakan cara terbaik, yang terakhir yaitu dengan berwudhu. Riska juga teringat ketika Ummi Ida pernah menjelaskan tentang hal ini "Mengapa orang yang marah dianjurkan untuk diam, karena diam merupakan perbuatan mulia dan salah satu cara untuk mengantisipasi munculnya luapan amarah.
Akhirnya ketika didalam kelas, ketika Riska sudah mulai tenang, Riska mulai mau bersuara, ia mau menceritakan semuanya kepada Zia, Zia pun selalu menjadi pendengar yang setia untuk Riska.
"Ris, aku binggung deh, kamu kan bisa taekwondo, kenapa nga sekali-kali keluarin aja tuh jurus taekwondo kamu biar tau rasa tuh bunglon! " Ucap Zia kesal.
"Ka Tasya bukan lawan yang seimbang Zi, nyalinya memang besar tetapi tenaganya nol besar, nanti kalau aku keluarin jurus Kyongkyok kisul bisa langsung ambruk dia, masalah besar deh nanti" Jawab Riska sambil terkekeh.
Kyongkok kisul adalah sebuah teknik serangan,ini terdiri dari tusukan, sabetan, pukulan, dan tendangan. teknik ini pun kemudian terbagi menjadi banyak.
Contohnya saja teknik tendangan. Ia terdiri dari tendangan ke depan, tendangan melingkar, tendangan mengayun atau cangkul, tendangan ke belakang, tendangan ke samping,
tendangan sodok depan, dan tendangan balik dengan mengait.
__ADS_1
Beruntung hari ini kelompok mading tidak ada agenda untuk berkumpul, karena mereka masing-masing masih fokus mencari bahan untuk isi materi mading. Jadi Riska bisa menyimpan semua barang-barang keperluan dekor yang tadi sempat terjatuh ke ruangan mading, Riska tidak sempat mengecek lagi barang-barang mana yang rusak dan barang-barang mana yang masih bisa dipakai lagi, karena moodnya sedang tidak baik. Riska akhirnya mengajak sahabatnya Zia sepulang sekolah nanti untuk mampir makan di rumah makan fried chicken kesukaan mereka berdua. Tentu Zia sangat senang sekali, karena Zia hanya bisa makan disana jika diajak oleh Riska saja.
"Zi, aku lagi badmood niih, pulangnya kita makan di rumah makan Fried Chicken yuk? " Ucap Riska.
"Rumah Makan Ayam Chicken kesukaan aku tea Ris? " Tanya Zia. Zia yang dari kecil terbiasa menyebut rumah makan tersebut dengan rumah makan ayam chicken, jadi terbawa hingga sekarang menyebut rumah makan tersebut dengan sebutan yang sama, padahal jika diterjemahkan pengertian ayam dan chicken sama.
"Iya... Ayam Chicken, mau nga? "
"Waaahhh mau banget, tapi aku harus telephone Ummi dulu ya Ris? "
"Iya, aku juga kan nanti harus ngabarin Mama dulu" Ucap Riska.
Sepulang sekolah, Riska dan Zia langsung menuju ke Rumah Makan Fried Chicken tersebut. Saat di mobil Zia men elephone Ummi Farah menggunakan Handphone milik Riska.
📞 "Assalamu'alaikum Ummi, ini Zia, Zia mau ngasih kabar, pulangnya telat ya Um. Zia diajakin Riska makan di rumah makan ayam Chicken dulu" Ucap Zia.
📞 "Waalaikumsalam oh baik kak, Hati-hati ya" Jawab Ummi Farah.
📞 "iya Ummi, sudah dulu ya, Assalamu'alaikum"
📞 "Waalaikumsalam"
Pa Yuda yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Zia, jadi senyum-senyum sendiri, karena Pa Yuda juga sudah mengenal Zia seperti apa, ini karena Riska dan Zia sudah bersahabat dari jaman sekolah dasar.
"Ayam Chicken???? Bukannya sama ya????" Pa Yuda berbicara didalam hatinya.
Pagi ini juga seorang pemuda di Kota Yogyakarta sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Karena sedang libur semester, maka ia memutuskan untuk pulang ke kota dimana orang tua dan kekasihnya tinggal. Ia akan menaiki pesawat dengan penerbangan pagi. Memang sengaja ia memilih penerbangan pagi, selain rindu dengan keluarganya ia juga kangen dengan kekasih hatinya dan ia memiliki kejutan untuk kekasih hatinya. Mengenakan kaos berwarna abu-abu dan celana panjang jeans serta jaket bomber menambah kesan kasual dan terlihat jelas kadar kegantengannya yang tidak diragukan lagi.
Ya, pemuda ini adalah Bima Adhiyaksa, atau yang biasa dipanggil Bima, seorang pemuda yang sedang duduk di semester enam, di salah satu universitas di kota Yogyakarta dan juga sedang merintis usaha kaos distro yang sudah dirintisnya dari setahun yang lalu dan kini makin berkembang pesat bahkan sudah memiliki toko sendiri yang diberi nama "The Bims." Tidak hanya menggunakan sistem penjualan offline, Bima juga menjual kaos-kaosnya secara online.
Bima memang sekarang baru memiliki satu toko kaos, tetapi melihat pangsa pasar yang begitu antusias terhadap produknya, Bima yakin suatu saat dia bisa membuka cabang toko di kota-kota yang lain. Kenapa ia memilih usaha kaos distro, Kaos distro atau kaos distribution outlet umumnya merupakan produk fashion independen hasil desain anak muda. Dengan memakai kaos distro rasanya akan menawarkan kesan unik tersendiri karena sifat eksklusif yang dimilikinya dan desainnya yang tidak dimiliki brand lain. Dengan memiliki usaha ini, Bima jadi bisa menyalurkan bakat desainnya yang diwujudkan ke dalam sebuah kaos.
Selama Bima akan berada diluar kota, Bima menyerahkan semua kegiatan usahanya kepada sepupunya Bagas. Ditentengnya sebuah koper berwarna hitam untuk masuk ke dalam taksi online yang sudah di pesannya. waktu yang dibutuhkan untuk terbang dari Yogyakarta ke Jakarta sekitar 1 jam 13 menit. Selama penerbangan Bima sudah senyum-senyum sendiri sambil membayangkan akan bertemu sang kekasih hati.
Terdengar suara pramugari yang mengatakan bahwa sebentar lagi pesawat akan landing. Landing ini adalah proses pendaratan pesawat yang membuat pilot perlu memposisikan pesawat pada tempat yang tepat serta mengurangi kecepatan dan memperkirakan timing atau waktu yang pas untuk menurunkan roda pesawat bagian bawah.
"Alhamdulillah" Ucap Bima didalam hatinya, sambil melihat ke arah jam tangannya, karena ia ingin sekali memberikan kejutan untuk kekasih hatinya yang sama sekali tidak tahu kalau Bima akan datang.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like, komen dan votenya ya. Untuk booster bikin bab-bab selanjutnya. Terima kasih