Ketika Takdir Berkata Lain

Ketika Takdir Berkata Lain
Bab 22 Mading


__ADS_3

Di kelompok mading, Riska dikenal proaktif, inovatif dan kreatif. Riska selalu mempunyai ide-ide cemerlang untuk membuat tampilan mading menjadi lebih menarik peminat untuk membacanya, karena untuk Riska mading yang utama bukan hanya isi beritanya saja tetapi juga dekor hiasannya. Riska berinisiatif mengganti dekor hiasan mading setiap dua minggu sekali. Untuk minggu pertama dan kedua di bulan ini, Riska akan mendekor mading dengan tema film, untuk tema film, Riska sudah menyiapkan hiasan berupa segala sesuatu yang berkaitan dengan film, seperti kamera, lensa, audio, filter, steadicam, tripod, gimbal, piala, bintang, dan clapper board.


Sedangkan untuk dua minggu selanjutnya, Riska sudah mempunyai ide untuk mendekor mading dengan tema lingkungan, dan lagi-lagi Riska juga sudah menyiapkan hiasan-hiasannya, hiasan berupa hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan, seperti matahari, air, udara, pohon, bola dunia dan bunga -bunga. Semua hiasan itu Riska beli dari dana pribadinya, ada yang beli langsung di toko pernak-pernik di mall, ada yang pesan di toko online dan ada juga hasil dari cetakan komputer.


Untuk isi berita madingnya biasanya mereka rapat terlebih dahulu untuk pembagian tugasnya, yang kemudian nanti dituangkan ke dalam sebuah kertas lalu ditempelah di mading yang telah dihias tadi.


Untuk tema film, Riska dan Zia menulis tentang Sejarah Penemuan Film, dimana sejarah penemuan film pada tahun 1892, Lumiere bersaudara membuat kamera dan proyektor untuk membuat gambar bergerak. Akhirnya, pada tahun 1895 Louise dan Auguste Lumiere mengadakan pertunjukan mereka di Salon du Grand Caf, di Kota Paris. Lumiere bersaudara menampilkan film-film yang mereka ciptakan kepada dunia.


Kemudian teman- teman lainnya, seperti Azka dan Delia menulis tentang Sejarah Film di Indonesia, yaitu Bangsa Indonesia mulai mengenal film pada 1900, ketika masih dijajah oleh Belanda. Kala itu, diadakan pemutaran film dokumenter perdana yang masih bisu tentang perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Kebon Jae, Tanah Abang.


Dalam kurun waktu dua setengah dekade berikutnya, film-film dari Amerika dan China mulai masuk ke Indonesia. Pada 1926, Indonesia mulai memproduksi film sendiri yang berjudul Lotoeng Kasaroeng, karya G. Kruger dan L. Heuveldorp.


Reza sendiri sebagai Ketua Mading menulis tentang Bapak Film Indonesia. Dimana Hari Film Nasional adalah sebuah perayaan yang diadakan setiap tahun di Indonesia pada tanggal 30 Maret untuk memperingati hari lahirnya Usmar Ismail. Ia seorang tokoh penting dalam sejarah perfilman Indonesia dan disebut sebagai Bapak Film Indonesia.


Sedangkan Lina dan Ibam menulis tentang Film-film Indonesia yang mendunia, diantaranya Ada beberapa film Indonesia yang telah mendunia, di antaranya adalah: Habibie & Ainun,dan The Look of Silence.


Eka yang dulunya tidak aktif alias malas-malasan untuk muncul di mading, sekarang berubah 180 derajat menjadi anak mading yang rajin. Reza sudah tahu perubahan dari Eka ini, yaitu tidak lain karena biar bisa lebih dekat dengan Zia sahabatnya Riska. Bahkan ketika rapat pun fokus Eka hanya kepada Zia. Zia awalnya tidak sadar jika sedang dipandang oleh Eka, tapi lama kelamaan, Zia sadar juga jika Eka sering menatapnya, apalagi ketika sedang rapat, yang berbicara Reza, seharusnya Eka menatap Reza, tetapi yang ada siapapun yang sedang berbicara ternyata yang ditatap Eka hanyalah Zia.


Tahun lalu, sebenarnya saat Tasya baru masuk menjadi siswi di sekolah tersebut, Tasya juga memilih mading sebagai ekstrakulikulernya, tetapi tujuan Tasya memilih mading tidak lain adalah karena Tasya ingin dekat dengan Reza. Tetapi berbanding terbalik dengan Riska, Tasya hanya rajin diawal-awal saja karena ada maksud terselubung, setelah maksudnya berhasil yaitu menjadi pacarnya Reza, Tasya langsung terlihat sifat aslinya. Menjadi jarang hadir di kelompok mading, sekalinya hadir sering telat. Tasya juga lebih senang menerima jadi saja, sangat jarang bahkan hampir tidak pernah memberikan ide ataupun masukan yang berkaitan dengan mading. Makanya sekarang sejak mengetahui Riska bergabung dengan kelompok mading, Tasya menjadi rajin kembali di kelompok mading, tetapi bukan untuk aktif menjadi anggota mading, hanya untuk supaya bisa nempel dengan Reza. Supaya bisa menjaga Reza agar tidak dekat-dekat dengan Riska. Tentu hal ini membuat Reza merasa malu dan risih, begitu juga dengan teman-teman lainnya, merasa kehadiran Tasya hanya menganggu konsentrasi mereka saja, belum lagi karena posisinya adalah pacarnya Reza, Tasya suka seenaknya memerintah kepada teman-teman di kelompok mading, termasuk kepada Riska dan Zia.


Pernah suatu ketika, saat sedang rapat, Tasya tiba-tiba hadir untuk mengikuti rapat, semua mata langsung melotot ke arahnya, dan saat sedang rapat Tasya hanya mengumbar kemesraannya dengan menyandarkan kepalanya dibahu Reza, sambil sesekali menatap intens wajah Reza dan mengelap keringat Reza dengan tisu. Bukannya menarik untuk dilihat, tetapi malah bikin beberapa mata menjadi sakit. Walaupun ada beberapa teman memaklumi sikap mesra Tasya tersebut.


"Tasya, biasa aja dong nga usah mesra gitu" Ucap Eka.


"Kenapa???"


"Reza kan pacar aku, kok kamu yang ngatur! " Jawab Tasya sinis.


"Bukan begitu, kita kan lagi rapat, masa kamu malah sibuk sendiri" Ucap Eka.


"Iya nih Tasya, bikin nga semangat rapat tauuuu" Ucap Lina.


"Lagi, kalau mau mesra-mesraan gitu ya jangan di sini dong didepan kita-kita, nanti saja saat kalian berdua" Ucap Ibam.


"Tasya, mata aku jadi ternoda nih" Ucap Angki anggota mading lainnya.


"Ka Reza kalau mau mesra-mesraan dengan Ka Tasya, rapatnya lebih baik kita pending saja dulu" ucap Zia memberanikan diri untuk bersuara.


Tasya yang merasa terpojok oleh ucapan teman-temannya di mading akhirnya meminta bantuan Reza, tetapi tanpa Tasya duga Reza malah mengusir Tasya secara halus.


"Tasya, kalau tidak mau ikut rapat mending kamu ke kantin saja ya, tunggu aku disana" Ucap Reza.


Sebenarnya Reza risih dan mau menegur Tasya untuk sikapnya saat ini, tetapi Reza juga tidak mau membuat Tasya menjadi malu.


Riska yang daritadi hanya menundukan pandangannya dan diam mendengarkan teman-temannya menghardik Tasya, hanya bisa beristighfar didalam hatinya, karena sudah melihat hal yang tidak pantas untuk dilihat.


Lalu Tasya pun menuruti apa kata Reza, Tasya keluar dari ruangan mading, tetapi dengan rasa kesal dan pipi dicemberutkan. Reza hanya mengelengkan kepala melihat tingkah Tasya tersebut.


Lalu Zia berbisik kepada Riska


"Dasar bunglon " Ucap Zia.


"Huzzz tidak baik mengejek orang lain, ingat Zi mengejek samaengan menghina dan ini adalah sebuah perbuatan tercela, dan Allah tidak menyukai hal tersebut" Jawab Riska sambil berbisik supaya tidak terdengar oleh yang lain.


"Iya... Iya... " Jawab Zia singkat tidak mau memperpanjang ucapannya, karena situasinya mereka sedang rapat.

__ADS_1


Sejak Riska bergabung dengan kelompok mading, semua anggota lama mading merasa mading menjadi lebih hidup dan maju. Karena Riska selalu saja mempunyai ide-ide baru dan tidak pelit untuk berbagi pengetahuan. Belum lagi Riska semangat sekali untuk membuat dekor hiasan mading agar lebih menarik tampilannya.


Bahkan mading angkatan sekarang, membuat siswa-siswi bahkan kepala sekolah serta guru-guru di sekolah menjadi selalu penasaran dengan isi informasi-informasi yangdisajikan oleh mading. Setiap hari mading selalu ramai dikunjungi, karena selalu menampilkan informasi yang akurat, terbaru dan bermanfaat. Ditambah lagi dengan hiasan dekor yang menarik minat seluruh penghuni sekolah untuk mendekat. Hal inilah yang membuat sekolah memberanikan diri untuk mengikuti sertakan kelompok mading angkatan sekarang untuk mengikuti lomba mading antar sekolah. Dipilihlah Reza sebagai Ketua Mading, kemudian Riska, Zia, Ibam dan Lina untuk mewakili sekolah.


Tim peserta lomba mading pun tentu harus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar memperoleh hasil yang maksimal. Mereka lalu melihat pamflet perlombaan mading yang tadi diberikan oleh Kepala Sekolah, lomba yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota tempat Riska bermukim, dimana yang dinilai dalam lomba mading meliputi: teknik penulisan, kelengkapan dan kesesuaian isi, tema, komunikatif, informatif dan edukatif, kebahasaan dan kreativitas. Lagi-lagi Riska dipercayakan oleh Tim untuk mencari ide dekor hiasan mading untuk kemudian dijadikan tema mading yang akan diikut sertakan dalam lomba. Riska meminta waktu satu hari untuk memikirkan semuanya dan semua setuju.


Majalah dinding atau mading adalah salah satu bentuk dari majalah sekolah. Bentuk lain dari majalah sekolah bisa berupa korlem atau koran lembar yang diterbitkan harian, atau juga majalah sekolah yang terbit bulanan seperti bulletin sekolah.


Majalah dinding berfungsi bukan sekadar sebagai media komunikasi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan sekolah/penyelenggara. Mading memiliki fungsi sebagai media pembelajaran bagi siswa untuk mengembangkan ketrampilan menulis.


Bagi yang duduk di bangku sekolah pasti sudah tidak asing dengan istilah majalah dinding atau yang biasa disebut dengan mading. Mading umumnya berisi tentang informasi sekolah, trivia, karya siswa, hingga update terkait jadwal ujian sekolah atau informasi perguruan tinggi.


Artikel pada mading ditulis tangan dan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bagi yang menulis artikel wajib mencantumkan sumber yang digunakan sebagai bahan artikel mading. Untuk membuat suatu mading, berikut adalah alat dan bahan yang kita gunakan: kertas, triplek, lem, gunting, hiasan.


Sesampainya dirumah, ada yang berbeda kali ini, Mama Dinda tidak menyambut kedatangan putri bungsunya, setelah Riska mencari tahu kemana gerangan Mamanya kepada Bi Iyem, ternyata Mama Dinda sedang dipijit oleh Mak Odah di kamar utama. Mungkin Mama Dinda merasa cape badannya, setelah kemarin seharian ikut wisata bersama ibu-ibu di komplek ke Kota Tua. Riska tidak mau menganggu Mamanya yang sedang dipijit, Riska hanya menitipkan pesan kepada Bi Iyem, kalau Mak Odah sudah selesai mijit dan Mama Dinda mencarinya, tolong bilang saja Riska di kamarnya.


Di Kamar seperti biasa jika dari luar rumah, Riska membersihkan dirinya lalu kemudian berganti pakaian. Tidak lama menghabiskan waktu di kamarnya, Riska mendengar suara Mak Odah yang sangat nyaring sekali, sehingga Riska memutuskan untuk keluar kamar, dan ternyata benar Mama Dinda sudah selesai dipijat dan sekarang Mak Odah sedang menikmati sajian yang sudah disiapkan oleh Bi Iyem, yaitu kue lumpur dan segelas air putih. Mak Odah sudah bertahun-tahun biasa Mama, Kedua kaka Riska dan Riska sendiri panggil jika mereka merasa badannya pegal atau cape ketika pulang dari luar kota.


"Assalamu'alaikum Mama dan Mak Odah" Ucap Riska.


"Waalaikumsalam" Jawab Mama Dinda dan Mak Odah bersamaan.


"Ehh sudah wangi lagi anak Mama" Ucap Mama Dinda.


"Iya dong, maaf Ma tadi pas Riska datang Mama kan lagi dipijit kata Bi Iyem, Riska kan tahu Mama kalau lagi dipijit suka ketiduran, jadi Riska nga mau ganggu Mama" Jawab Riska.


Lalu Riska kemudian salim kepada Mama Dinda, karena Riska merasa tadi belum salim ketika datang dari sekolah kepada Mamanya. Kemudian seperti biasa, Mama selalu menanyakan kegiatan hari ini disekolah, Riska pun memceritakannya sambil menikmati kue lumpur buatan Bi Iyem.


Sore hari setelah selesai sholat ashar, Riska mendekati Ka Rina yang sedang berada di ruang baca di rumah.


"Biasa de, lagi baca buku novel" Jawab Ka Rina.


"Kaka punya ide nga untuk aku jadiin bahan mading untuk lomba nanti? " Tanya Riska.


"Emang temanya apa saja? Ka Rina balik bertanya.


" Hmmmm.. Kemerdekaan, tokoh inspiratif, pendidikan, dan lingkungan" Jawab Riska.


"Kalau menurut Kaka, cari yang temanya kalian kuasai saat presentasi nanti dan mudah untuk mencari bahan-bahan materi maupun hiasannya" Jawab Ka Rina.


"Hmmm iya juga ya... " Ucap Riska.


"Emang siapa saja de yang ikutan lomba? " Tanya Ka Rina.


"Aku, Ka Reza, Ka Lina, Zia, dan Ka Ibam" Jawab Riska.


"Reza??? "


"Reza adiknya teman Kaka bukan yang waktu itu kita ketemu di rumah makan? " Tanya Ka Rina.


"Iya, itu" Jawab Riska simpel.


" Waaah hebat juga ya Reza bisa terpilih ke dalam tim lomba? " Tanya Ka Rina lagi.


"Ka Reza kan Ketua Mading di sekolah ditambah emang Ka Reza juga pintar kok Ka anaknya,kan Ka Reza juga yang mendampingi kita untuk Lomba Olimpiade Matematika nanti" Jawab Riska.

__ADS_1


"Cieeee... Lengkap banget penjelasannya, Jangan-jangan....... Emmmmmm..... Ada yang udah jatuh hati nih sama sosok Reza? " Tanya Ka Rina kepo tingkat maksimal.


"Ihhh apaan Ka Rina, Ka Reza itu sudah punya pacar, Tasya namanya, cantik pula, blasteran soalnya" Jawab Riska.


"Yaaa itu kan baru pacar, janur kuning belum terpasang de, lagi pula untuk sementara kalau untuk sekedar kagum saja juga tidak apa-apa kok" Ucap Ka Rina menggoda Riska.


"Iiihhh Ka Rina apaan siih, ingat jaga mata dan jaga hati, ayoooo.... " Jawab Riska.


"Iya... Iya, Kaka kan cuma bercanda, lagi kalau benar juga tidak apa-apa kok, hehehehehe.... " Ucap Ka Rina.


Lalu Riska hanya menanggapi dengan senyuman saja ucapan terakhir Ka Rina, karena jika dijawab bakal panjang obrolan sore ini, biasanya teman ngobrol Ka Rina adalah Ka Rini tapi belakangan Ka Rini juga sedang disibukan dengan kegiatan di kampusnya. Riska lalu mencari-cari buku di rak perpustakaan rumah, siapa tahu ia bisa menemukan ide, lalu ia lanjutkan dengan membuka internet di laptop miliknya. Akhirnya Riska menemukan ide untuk tema lomba tim kelompok madingnya.


Saat Riska hendak melakukan kebiasaannya sebelum tidur, yaitu menulis diary, handphonenya berbunyi.


'Ting'


Lalu Riska mengambil handphonenya untuk mengecek kira-kira siapa yang malam-malam mengirimkannya pesan.


"Ka Reza??? " Ucap Riska didalam hatinya sambil mengerutkan keningnya. Reza sejak Riska bergabung dengan kelompok mading, lalu kemudian mereka dipertemukan kembali di tim untuk persiapan lomba olimpiade matematika dan tim lomba mading jadi punya alasan untuk mengirimkan pesan kepada Riska dengan modus menanyakan kegiatannya, padahal diam-diam Reza lagi melakukan pendekatan kepada Riska. Reza sudah lama mempunyai no handphone Riska tetapi baru malam ini ia memberanikan diri untuk mengirimkan pesan kepada Riska. Sebelum mengirimkan pesan, Reza melihat foto profilenya Riska terlebih dahulu. Foto Riska yang terlihat sedang dipantai tetapi diambil dari samping, sehingga tidak terlalu jelas wajahnya, tetapi walaupun hanya melihat foto profile Riska dari samping saja sudah membuat hati Reza berbunga-bunga dan detak jantung tidak beraturan.


💬 "Selamat malam Riska"


💬 "Iya malam, ada apa Ka Reza? "


Reza yang melihat pesannya dibalas oleh Riska langsung melotot kan matanya tidak percaya bahwa pesannya dibalas langsung oleh Riska, lalu Reza mengembangkan senyumnya sambil melanjutkan pesannya yang akan dikirim ke Riska.


"Yesss... Dibalas" Oceh Reza.


💬 "Riska lagi apa? Sudah makan malam belum? "


Untuk pertanyaan yang ini tidak Riska balas.


"Halaahhh kok nga dibalas??? Apa udah tidur?? Tapi masa sih dalam sekian detik sudah langsung tidur? Coba lagi ah" Reza mengoceh sendiri dikamarnya.


💬 "gimana sudah menemukan ide untuk tema mading? "


💬 "Alhamdulillah sudah Ka"


"Laaah ini langsung dibalas, kenapa yang tadi tidak dibalas ya? " Oceh Reza.


💬"Alhamdulillah, ya sudah ya selamat malam Riska, selamat tidur. "


💬 "iya.... " Jawab Riska simpel.


"Iya??? Iya apa?? Udah gitu aja cuma bilang iya?? Romantis dikit kenapa, iya Ka Reza selamat malam juga, selamat tidur, kan jadi enak dibacanya dan bisa bikin aku tidur nyenyak malam ini. Ahhh tapi ya sudahlah yang penting pesan aku dibalas" Reza sibuk berbicara sendiri dikamarnya.


Reza awalnya kaget ketika Riska membalas datar pesannya, Reza berharap Riska pun mengirimkan ucapan yang sama, tetapi ternyata tidak. Tetapi Reza tidak marah, malah semakin dibuat penasaran dengan sosok Riska dan ingin mengenal lebih dalam lagi tentang Riska.


Setelah membalas pesan Reza, Riska mematikan handphonenya dan Riska simpan di atas meja belajar, lalu Riska melanjutkan untuk menulis diarynya. Riska sangat suka menulis di diary, hal ini sudah rutin Riska lakukan sejak di bangku sekolah dasar tepatnya sejak Riska duduk di bangku kelas 4. Buku harian atau biasa kita kenal dengan diary, berasal dari bahasa Latin yaitu diarium 'diaria', artinya masukan sehari-hari 'memasukkan atau menulis setiap hari' tentang sesuatu yang terjadi atau peristiwa dalam sehari yaitu 24 jam. Ada sekitar 10 buku diary yang sudah terisi penuh dengan tulisan Riska yang terlihat indah dan rapih, dan buku-buku diary tersebut berjejer rapi di rak buku yang terdapat di kamar Riska. Tidak ada siapapun yang berusaha membaca isi buku tersebut, karena selain memang buku diary tersebut dikunci, semua orang di rumah menghargai privasi masing-masing.


🌹🌹🌹🌹


Selamat membaca.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan commentnya ya.

__ADS_1


__ADS_2