
Pagi-pagi sekali Riska sudah muncul di sekolah dan Riska selalu mengawali hari dengan semangat. Apalagi hari ini Tim Kelompok Lomba Mading akan berkumpul sepulang sekolah nanti.
Lagi-lagi saat hatinya sedang senang karena akan memberikan ide tentang tema yang sebaiknya dipakai tim mereka untuk lomba, dari kejauhan sudah ada Tasya yang menghadang. Tasya sebenarnya sedang mengobrol dengan Yane sahabatnya, lalu Yane berkata bahwa ada Riska baru datang dan sedang berjalan ke arah mereka berada, langsung Tasya membalikan badannya. Tasya langsung memasang wajah sinisnya dengan pandangan mata memincing terhadap Riska. Riska yang sudah melihat Tasya dari jauh memilih untuk tidak melewati jalan lain untuk menuju kelasnya, karena Riska pikir kenapa dia harus menghindari Tasya, toh Riska tidak merasa bersalah. Riska hanya berdoa didalam hatinya
" Bismillahirrahmanirrahim Allahumma inni a'udzu bika minal 'ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a'udzu bika min 'adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir."
Saat jarak mereka sudah dekat Riska hanya melewati Tasya begitu saja tanpa mau melihat ataupun menanggapi tatapan sinis dari Tasya. Riska menganggap tatapan Tasya hanya halusinasinya saja. Tasya yang dilewati begitu saja oleh Riska tentu merasa marah.
"Sialan itu anak kecil, nga takut dia sama aku" Ucap Tasya.
"Lagi apa yang mau ditakutin sih Sya? Kurang serem tau tadi, hihihiii" Ucap Yane menyindir Tasya.
"Masih kecil masih bau kencur saja sudah berani sama kaka kelas, liat aja nanti" Ucap Tasya dengan penuh kekesalan.
'Sudahlah Tasya, lagi salah Riska sama kamu tuh apa sih aku aja nga ngerti?" Ucap Yane.
"Kok kamu jadi bilang gitu sih Yan, kamu nga liat apa itu anak kecil dekat-dekat melulu sama Reza? Udah jelas kan?? " Jawab Tasya ketus.
"Laaah dekat-dekat gimana? Bukannya mereka dekat karena memang ada didalam satu kelompok yang sama, kalau diluar itu kan mereka nga pernah bertemu? " Ucap Yane, Yane sendiri sebenarnya sudah cape liat kelakuan Tasya yang marah-marah tidak jelas terhadap Riska.
"Kamu kok jadi belain itu anak kecil sih? Kamu itu jadi sebenarnya sahabat aku atau sahabat itu anak kecil sih? Tanya Tasya penuh amarah.
" Ya aku sahabat kamu, justru karena kamu sahabat aku, aku harus memberitahu kamu, kalau yang salah itu kamu, bukan Riska, kamu itu hanya cemburu buta"
"Lagi juga kamu lupa ya, kalau kamu juga nga baik-baik amat, kamu kan menduakan Bima! "
"Jadi menurut aku, ya sudahlah ngapain cari masalah dengan Riska, kita juga sudah tahu sendiri Riska itu siapa? Selain dia anak pengusaha ternama dia juga anak yang terkenal di sekolah karena prestasi dan keramahannya, pihak sekolah juga pasti tidak akan percaya kalau Riska bikin masalah, masih mau dilawan? " Ucap Yane penuh penekanan.
"Iiihhhh..... " Lalu Tasya pergi meninggalkan Yane seorang diri. Jika dilihat dengan microskop mungkin kepala Tasya sedang berasap. Yane mengelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya.
Riska selalu menyapa semua teman-teman yang Riska lewati selama langkahnya menuju kelas, dan saat masuk ke dalam kelas.
"Hai Lili... "
"Kika, Nanik lagi ngobrolin apa nih asiik benar? "
"Pagi-pagi udah makan cilok, awas sakit perut Ras, hehehe"
"Radit, Kaka hayooo PRnya baru dikerjain"
Kira-kira seperti itulah Riska menyapa teman-temannya di sekolah. Dilihatnya Zia sudah ada di bangkunya. Lalu Riska menanyakan pesanan Klapetartnya kepada Zia.
"Zi... Dibawa kan pesanan aku? " Tanya Riska.
"Dibawa dong Tuan Putri, niih Klapetart spesial buatan Ummi Farah" Jawab Zia sambil memberikan empat dus yang berisi Klapetart pesanan Riska.
"Alhamdulillah, ini uangnya ya Zi hitung dulu takut kurang, Terima kasih ya Zi sudah direpotin bawa pesanan aku ke sekolah, sampaikan juga Terima kasih aku ke Ummi Farah sudah mau direpotin bikin pesanan aku yang mendadak, hehehe" Ucap Riska.
"Sama-sama Riska, aku juga Terima kasih sama kamu sudah pesan Klapetart di Ummi aku, sudahlah nga usah aku hitung lagi uangnya, aku percaya kok sama kamu" Jawab Zia.
"MasyaAllah Zi" Jawab Riska.
*flashback*
Kemarin Wali Kelas Riska, yaitu Ibu Meffi, mengumumkan bahwa minggu depan, sekolah akan mengadakan kegiatan sosial ke Panti Asuhan Bina Insan. Karena yang akan dikunjungi adalah panti asuhan khusus bayi dan anak-anak, maka siswa-siswi oleh Ibu Meffi jika ada kelebihan harta diminta untuk mengumpulkan barang-barang seperti pampers, bubur bayi instan, makanan ringan, pakaian bayi dan anak-anak, buku cerita dan mainan. Bahkan jika berkenan menyumbangkan dana tunai pun dipersilahkan.
Saat mendengar pengumuman tersebut, Zia langsung seperti yang binggung. Zia ingin sekali rasanya ikut berpartisipasi menyumbangkan barang-barang yang sudah disebutkan tadi, tetapi Zia yakin kalau Zia bilang kepada Umminya pasti Umminya binggung, uang untuk beli barang yang hendak disumbangkannya darimana. Riska lalu memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada Zia.
"Kenapa Zi, kok langsung diem gitu kayak orang binggung? ' tanya Riska.
" Aku pingin ikut nyumbang tapiiiii.... Kamu kan tahu sendiri Ris, kalau aku minta sama Ummi... Emmm... Ummi saja harus mencari tambahan dengan berjualan kue supaya bisa memenuhi kebutuhan kami, bilang sama Abiiii... Aku takut nambah beban pikiran mereka Ris, duuh gimana ini? " Ucap Zia.
"Ingat Zi, kalau kita menginginkan sesuatu mintanya sama Allah, Allah yang punya segalanya, termasuk rezeki, cara memintanya ya dengan berdoa. Ummi dan Abimu itu kan hanya perantara rezeki" Ucap Riska menasehati Zia.
"Iya.. Ya Ris, tapi... " Ucap Zia menggantung.
__ADS_1
"Tidak usah pakai ada kata tapi Zi, kamu berdoa yang sungguh-sungguh, InsyaAllah akan dikabulkan Allah" Ucap Riska.
"Hmmm... Iya dehhh" Jawab Zia simpel.
'Kalau nga gimana biar sekalian saja ya, aku yang belikan, kamu mau nyumbang apa memangnya? "Ucap Riska.
" Kamu yang belikan??? Ihhhh nga mau aku, masa untuk nyumbang saja harus dari kamu sih Ris, beneran aku nga mau Ris" Jawab Zia.
Ketika waktu Istirahat tiba dan adzan sholat dhuhur sudah berkumandang, Riska dan Zia segera bergegas menuju musholla sekolah mereka. Saat melewati lorong sekolah Riska sempat melihat ke arah taman dilihatnya sedang ada Reza yang masih asik bercengkrama dengan teman-temannya, padahal salah seorang sahabatnya yaitu Eka begitu mendengar suara adzan berkumandang langsung melangkahkan kakinya ke musholla. Sempat ada perasaan kecewa Riska melihat Reza seperti itu.
Selepas sholat dhuhur, Riska melihat Zia masih khusyu berdoa, Riska biarkan saja dengan meninggalkan Zia dan menunggunya didepan musholla. Pada saat Riska sedang menunggu Zia selesai berdoa, tiba-tiba terbesit ide Riska untuk besok memesan Klapetart buatan Ummi Farah kepada Zia, dan Zia menyanggupinya. Saat malam tiba saat Riska mengecek isi tas untuk terakhir kalinya, Riska pun tidak lupa untuk memasukkan uang untuk membayar Klapetart ke dalam amplop, dan uang pembayaran tersebut sengaja Riska lebihkan.
*flashback off*
Ada empat kotak klapetart yang Riska pesan, dua untuk dikelasnya dan dua lagu untuk nanti untuk teman-temannya di kelompok mading saat berkumpul nanti selepas pulang sekolah. Lalu Riska membawa Klapetart tersebut ke meja depan kelas, sambil menawarkan kepada teman-teman sekelasnya.
"Teman-teman aku bawa Klapetart buatan Ummi Farah Umminya Zia niih dijamin enak dan halal, siapa yang mau ambil saja ya" Riska berbicara didepan kelas sambil menyimpan dus yang berisi Klapetart tersebut.
Zia yang melihat kelakuan Riska hanya bisa tersenyum lebar sambil mengelang-gelengkan kepalanya.
"Pantas saja Riska minta Klapetartnya dibawa ke sekolah, ternyata untuk dibagikan dikelas toh" Ucap Zia berbicara dengan dirinya sendiri.
Tentu hal ini membuat teman-teman sekelasnya senang.
"Gratis niiih Ris??? Tanya Arman.
" Iya tiiis... Tiiis tiss... Ambil saja dahh" Jawab Riska santai.
"Ris, boleh ambil 2 nga? Tanya Sisil.
" Bebas.... Yang penting semua harus kebagian ya" Ucap Riska.
Teman-teman ricuh didepan kelas sambil bergiliran mengambil klapetartnya. Ada yang langsung dimakan saat itu juga dan ada yang disimpan dulu untuk dimakan nanti saat jam istirahat tiba.
" Mantap ihhh Klapetartnya" Ucap Sisil.
Tanpa disadari Ibu Meffi sudah masuk ke dalam kelas.
"Waaah ramai sekali kelas pagi ini, ada apa ini? " Tanya Bu Meffi.
"Ini Bu, Riska bagi-bagi klapetart buatan Umminya Zia" Jawab Arman.
"Waaah Klapetart??? Kesukaan Ibu ini mah. Ibu mau juga ya Ris? " Tanya Ibu Meffi sambil tersenyum lebar.
"Iya Ibu silahkan" Jawab Riska dengan penuh sopan santun sambil mengangukan kepalanya.
"Ibu ambil dia ya Ris, satu untuk Ibu satu untuk anak ibu" Ucap Bu Meffi.
"Iya Ibu" Jawab Riska simpel.
"Terima Kasih ya Riska" Ucap Bu Meffi.
"Sama-sama Bu" Jawab Riska.
"Baik kita mulai belajar ya" Ucap Bu Meffi setelah selesai memasukan Klapetartnya ke dalam wadah yang beliau bawa sendiri. Bu Meffi wali kelas Riska kebetulan juga guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.
"Assalamu'alaikum" Ucap Bu Meffi.
"Waalaikumsalam" Jawab kami bersamaan.
"Kita masuk materi ya, hari ini kita masuk ke bab 2, bagian 'Menggunakan kaidah bahasa untuk menyampaikan kritik'. Kaidah adalah patokan atau ukuran sebagai pedoman bagi manusia dalam bertindak. Kaidah juga dapat dikatakan sebagai aturan yang mengatur perilaku manusia dan perilaku sebagai kehidupan bermasyarakat. Secara umum kaidah dibedakan atas dua hal yaitu kaidah etika atau kaidah hukum."
"Bahasa adalah alat komunikasi sosial yang berupa sistem simbol bunyi yang dihasilkan dari ucapan manusia. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sarana untuk berinteraksi dengan manusia lainnya di masyarakat. Untuk kepentingan interaksi sosial itu, maka dibutuhkan suatu wahana komunikasi yang disebut bahasa."
"Kritik adalah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. "
__ADS_1
"Jadi untuk menyampaikan kritik harus adanya kaidah bahasa yang digunakan" Ucap Bu Meffi .
Tidak terasa satu jam lima belas menit sudah Bu Meffi menyampaikan materi lalu memberikan tugas untuk dikerjakan bersama. Pelajaran selanjutnya sudah ada Bapak Marwan yang akan memberikan materi pelajaran ekonomi. Hingga waktu istirahat tiba. Lalu setelah istirahat dilanjutkan dengan pelajaran matematika, karena Ibu Ros hari ini mau ada keperluan jadi kami hanya diberikan latihan tugas saja, sehingga kelas bisa pulang lebih cepat dari biasanya, siapa yang tidak senang? Semuanya pasti senang sekali yang namanya pulang cepat. Apalagi begitu mendengar guru yang mengajar tidak bisa mengajar, bukannya kecewa, tapi malah disambut bahagia oleh siswa-siswi.
Riska dan Zia memutuskan untuk langsung menuju Ruangan Kelompok Mading, mereka berfikir bisa menunggu teman-teman mading lainnya sambil beristirahat sejenak atau setidaknya membaca buku-buku yang ada di ruangan tersebut. Sesampainya di Ruangan Mading, ternyata pintu sudah terbuka lebar, dilihatnya dari jauh sudah ada Reza yang sedang duduk menyamping sambil menaikkan kakinya ke atas meja dan Eka yang sedang berdiri disamping Reza.
"HOOOOOOAAM"
Reza menguap dengan membiarkan mulutnya terbuka lebar dan kedua tangannya diangkat ke atas. Lantas Eka segera menutup mulut Reza dengan tangannya.
"Bro... Tutup mulutnya kalau menguap" Ucap Eka.
"Kaga puas tahu kalau nguap tutup mulut, lagi orang lagi enak-enak nguap diganggu" Jawab Reza sambil mengepak tangan Eka yang tadi menutup mulut Reza.
"Eh bro, ini ada Hadistnya 'Jika seseorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menempelkan tangan pada mulutnya, karena sesungguhnya setan akan masuk (HR Muslim) " Ucap Eka berusaha menasehati Reza.
"Coba bayangin kalau pas kamu lagi nguap terus ada lalat masuk ke dalam mulutmu, hayoooo" Ucap Eka lagi.
"Hadeeuuuhhh lagi ngantuk gini malah dikasih nasehat" Jawab Reza asal.
Riska dan Zia yang melihat kejadian tersebut langsung saling pandang dengan mata yang membukat sempurna karena ingin ketawa lepas tetapi mereka tahan karena merasa tidak enak.
"Ris, Ka Reza ganteng-ganteng bar-bar juga ternyata" Bisik Zia.
"Hussst nga boleh gitu" Jawab Riska sambil menempelkan telunjuk tangan ke mulutnya.
"Ciee dibela" Ucap Zia sambil terkekeh.
"Ziiii..... "
Lalu mereka berdua mengucapkan salam sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Assalamu'alaikum" Ucap Riska dan Zia bersamaan.
"Waalaikumsalam" Jawab Eka.
Hanya Eka yang menjawab salam dari Riska dan Zia.
"Bro kalau ada yang mengucapkan salam dijawab!" Ucap Eka mengingatkan Reza.
"Laaah kan udah diwakilin sama Kamu Ka, lagi aku juga ngantuk" Jawab Reza. Tapi ketika ternyata yang mengucapkan salam salah satunya adalah Riska, Reza langsung merasa bersalah.
Riska hanya bisa menatap sahabatnya Zia, dan Zia menangkap langsung maksud tatapan dari Riska.
"Sabar Ris, semua orang bisa berubah" Bisik Zia.
Reza tidak menyadari bahwa yang tadi mengucapkan salam adalah Riska dan Zia, saat Reza mengetahui bahwa ternyata yang tadi mengucapkan salam adalah Riska dan Zia, Reza langsung mendorong kepala Eka.
"Kenapa nga bilang-bilang kalau Riska yang kasih salam" Ucap Reza.
"Laaah tadi kan sudah aku ingatkan kalau ada yang salam ya dijawab, ngeles aja kamu" Jawab Eka.
"Maaf ya Ris, aku ngantuk banget soalnya" Ucap Reza membela dirinya.
"Iya Ka, tidak apa-apa" Jawab Riska sejenak memandang ke arah Reza lalu menundukkan lagi pandangannya.
Lalu mereka sibuk masing-masing sambil menunggu teman-teman yang lain datang, Reza yang semula merasa mengantuk, karena Riska sudah datang rasa ngantuknya tiba-tiba menjadi hilang.
Lalu beberapa menit kemudian terdengar bel sekolah berbunyi tiga kali, ini menandakan pelajaran berakhir untuk hari ini dan boleh pulang. Tidak lama kemudian, terdengar satu persatu kehadiran teman-teman mading lainnya. Karena semua anggota mading sudah berkumpul, Riska lalu membagikan Klapetart tersebut kepada teman-teman madingnya, termasuk Reza. Pas giliran Riska mendekati Reza untuk memberikan klapetartnya mendadak detak jantung Reza menjadi dag dig dug tidak karuan dan Reza berkali kali menarik nafasnya supaya bisa menenangkan dirinya dan saat Klapetartnya sudah ditangan Reza, tanpa permisi Reza langsung menghabiskan Klapetart tersebut.
"Mmmm enak klapetartnya, manis kayak yang ngasihnya" Ucap Reza spontan. Setelahnya Reza langsung menutup mulutnya yang keceplosan berbicara seperti itu. Sedangkan Riska wajahnya sudah tersipu malu saat mendengar pujian dari Reza.
🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa like dan commentnya ya buat booster author menulis bab selanjutnya. Terima kasih
__ADS_1