Ketika Takdir Berkata Lain

Ketika Takdir Berkata Lain
Bab 27 Kaka Sepupu


__ADS_3

Tibalah Riska dan Zia di depan Rumah Makan Fried Chicken favorit mereka berdua dari dulu.


"Masuk yu Zi"


"Hayuuu"


Ketika didepan kasir Riska langsung memesan menu yang biasa selalu mereka pesan ketika makan disini.


"Mas, Chicken Crispy Paha Bawah 2, puding coklat 2, soup 2, sama mocca float 2 ya, Sama minta satu lagi yang sama untuk dibungkus" Riska memesan satu lagi untuk Pa Yuda.


Tidak berapa lama kemudian pesanan mereka pun datang, lalu mereka mengambil saus tomat dan saus sambal terlebih dahulu. Lalu memilih tempat duduk yang nyaman untuk berbicara. Riska ijin dulu ke tempat parkiran untuk memberikan makanan yang tadi sudah dibungkus untuk Pa Yuda.


Sambil menikmati makanan, Riska dan Zia sambil bertukar cerita. Padahal kalau dipikir mereka selalu bertemu setiap hari, tetapi selalu ada saja hal-hal untuk dibahas dan diceritakan.


"Ris, kalau aku jadi kamu mah sudah habis aku maki-maki itu bule, kamu mah sih terlalu sabar jadi orang" Ucap Zia.


"Zi, ingat tidak Ummi Ida pernah berkata 'Orang yang kuat itu bukanlah karena ia jago berkelahi, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah" Pesan Riska.


"Iya aku ingat, tapi kan sekali kali dia harus dikasih pelajaran Ris, jangan mentang-mentang kita adik kelas bisa diinjak-injak" Jawab Zia.


"Aku juga kalau ngikutin hawa napsu sih pinginnya seperti itu Zi, tetapi alhamdulillah aku selalu ingat nasihat-nasihat yang sudah diberikan ke aku, Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam "


"Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai " Jelas Riska.


"Iya deh Neng Ustadzah... Dakwah terus" Jawab Zia.


" Ingat Zi, Sebaik-baiknya sahabat adalah sahabat yang mampu menasehatimu"


"Makanya kalau datang ke pengajian itu dicatat materi yang disampaikan supaya bisa kita baca ulang saat dirumah jadi biar nga lupa" Ucap Riska.


"Siap Ustadzah Riska" Jawab Zia sambil mengangkat tangannya seperti orang sedang hormat. Sambil di bibirnya ada sedikit noda float. Riska pun tertawa melihatnya.


"Liat dulu itu mulut, floatnya sampai nempel di bibir" Ejek Riska.


"Ehhh... Eh... Masa, waahhh bisa turun pamor ini" Jawab Zia, sambil buru-buru mengambil tisu dan kaca kecil dari dalam tasnya.


"Hahahahha... Zi... Zi" Riska senang sekali melihat tingkah Zia.


Diperjalanan menuju tempat makan favorit Bima dan Tasya, Bima sesekali menggenggam tangan Tasya erat dan wajah Tasya tidak pernah bosen untuk selalu memandang ke arah Bima.


"Kenapa mandangin terus? Makin ganteng kan aku?" Tanya Bima dengan penuh percaya diri.


"Tasya kangen lihat wajah Ka Bima" Jawab Tasya sambil terus melihat ke arah Bima.


"Makanya selama aku ada disini, puas-puasin lihat wajah aku" Ucap Bima sambil tersenyum.


"Ka Bima jahat ih sama Tasya, kok nga kirim kabar dulu kalau mau datang? " Tanya Tasya.


"Sengaja kan mau kasih surprise buat kamu. Kalau ngabarin dulu bukan surprise namanya. Gimana berhasil kan?" Tanya Bima.


"Berhasil Ka, Tasya kaget banget tiba-tiba ada Ka Bima muncul, kayak mimpi" Jawab Tasya.


"Senang nga aku datang? " Tanya Bima.


"Itu sih nga usah ditanya lah Ka, aku senang banget ada Ka Bima" Jawab Tasya.


Tidak terasa mobil Bima pun sampai diparkiran tempat makan favorit mereka berdua.


"Hayuu kita turun" Ajak Bima. Lalu Bima bergegas keluar mobil untuk membukakan pintu mobil penumpang supaya Tasya bisa turun. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah makan tersebut sambil bergandengan tangan.


"Tasya mau pesan apa? " Tanya Bima.


"Biasa Ka" Jawab Tasya.


"Ok... Mas minta Spaghetti Deluxe, Frech Fries sama manggo float satu. Terus original burger sama air mineral satu" Ucap Bima kepada kasir di rumah makan tersebut, lalu Bima membayar pesanannya tersebut dan tidak lama kemudian pesanan mereka datang.


Saat Bima sedang memesan makanan, Tasya sempat melihat -lihat sekeliling tempat makan tersebut dan Tasya mendapati ada sosok Riska dan sahabatnya sedang makan di bangku paling ujung.


"Haddduh gawat ada tuh anak kecil sama sahabatnya lagi" Ucap Tasya didalam hatinya.


"Mau duduk dimana? " Tanya Bima.


"Dimana saja Ka, Tasya ngikut saja, tapi kayaknya disebelah sini juga asik deh Ka buat kita ngobrol" Jawab Tasya. Tasya memilih tempat duduk yang sekiranya Riska ataupun Zia tidak bisa melihat dirinya.


"Ya sudah Tasya duduk duluan, Ka Bima mau ambil saus tomat dan saus sambal dulu ya" Ucap Bima, sambil menuangkan saus ke mangkuk plastik yang tersedia, kemudian Bima menyimpan nampannya di meja mereka. Lalu Bima ke tempat cuci tangan dahulu, setelah selesai cuci tangan mata Bima melihat ada Riska di tempat duduk paling pojok.

__ADS_1


"Riska" Ucap Bima dalam hatinya sambil memandang ke arah dimana Riska berada.


Kemudian Bima menuju tempat duduknya terlebih dahulu untuk ijin kepada Tasya mau menghampiri kaka sepupunya dahulu sebentar.


"Tasya tunggu sebentar ya, Ka Bima mau menghampiri Kaka sepupu Ka Bima dulu, tadi Ka Bima lihat dia sedang makan disini juga dan duduk dipojok sebelah sana" Ucap Bima.


"Oh iya Ka, jangan lama-lama ya, masa Tasya harus makan sendirian" Jawab Tasya.


"Nga akan lama kok hanya say hello saja" Ucap Bima.


"Kaka sepupu Ka Bima? "


"Siapa??? "


"Jangan katakan kalau kaka sepupunya Ka Bima itu Riska atau bisa jadi siapa tuh sahabatnya Riska aku lupa namanya"


Tasya bertanya didalam hatinya, kemudian Tasya mengikuti kemana arah Ka Bima berjalan menuju ke tempat dimana kaka sepupunya sedang makan. Tasya mengikuti Bima sudah seperti detektif saja karena tujuannya supaya tidak kelihatan oleh Riska ataupun Zia dan juga supaya tidak ketahuan Bima kalau Tasya sedang mengikutinya.


"DDEEEEGGH"


"Ka Bima nyamperin tempat duduk dimana Riska dan sahabatnya duduk???? Terus yang kaka sepupunya yang mana??Riska atau sahabatnya??"


Kepala Tasya langsung dipenuhi pertanyaan. Kemudian Tasya kembali ke tempat dimana ia duduk, sebelum ketahuan oleh Bima bahwa ia mengikutinya.


"Assalamu'alaikum Riska" Sapa Bima.


"Ehhhh Mas Bima!!!! Waalaikumsalam" Jawab Riska.


"Kapan tiba? " Tanya Riska.


"Baru tadi pagi" Jawab Bima.


"Mas Bima sama siapa ke sini, sama Tante Sekar bukan? " Tanya Riska penasaran, karena hanya melihat Bima sendirian.


"Nga, aku sama pacar aku, tempat duduk kita dibelah kanan pojok sana" Jawab Bima sambil menunjukan arah tempat duduknya. Memang kalau dari tempat dimana Riska dan Zia duduk sekarang tidak bisa terlihat dimana tempat duduknya Bima.


"Eh ada Zia juga, sehat Zi? " Tanya Bima.


"Alhamdulillah Mas Bima" Jawab Zia sambil menikmati supnya.


"Ya sudah ya, Mas Bima mau nerusin makan dulu, nanti besok-besok Mas Bima mau main ke rumahmu ya Riska" Ucap Bima.


Kemudian Bima kembali ke tempat duduknya, dimana ada Tasya sudah menunggu sambil wajahnya sudah menunjukan rasa kesal karena ditinggal sebentar. Pada saat Bima meninggalkan Riska dan Zia, Riska sempat memperhatikan ke arah mana Bima berbelok.


"Duh itu wajahnya kenapa cemberut gitu? " Tanya Bima sambil tersenyum karena gemas melihat wajah Tasya yang cemberut.


"Habis Ka Bima,. Ninggalin Tasya sendirian disini, udah laper ini" Jawab Tasya.


"Iya maaf... Ka Bima kan hanya nyamperin Kaka Sepupu, nga lama kan? Ya sudah kita makan yu sekarang" Jawab Bima.


Kemudian di sela-sela makan. Tasya mencoba bertanya mengenai siapa kaka sepupu yang Bima maksud, karena Tasya benar-benar penasaran dengan apa yang dilihatnya tadi, saat mengetahui bahwa Bima ternyata menuju ke arah tempat duduk dimana Riska dan Zia sedang menikmati makannya.


"Ka Bima, Kaka sepupu Ka Bima siapa namanya? " Tanya Tasya.


"Kamu nanya?? Atau bertanya-tanya?? " Jawab Bima sambil tersenyum.


"Ka Bimaaaaaa..... Tasya lagi serius nanya nih! " Ucap Tasya kesal.


"Iya... Iya... Habis wajahmu itu loh ngegemasin kalau lagi ngambek ditambah itu bibir kenapa manyun gitu hehehehe" Jawab Bima sambil terkekeh.


"Kaka sepupuku namanya Riska... " Jawab Bima baru mau menjelaskan sudah dipotong oleh Tasya karena terkejut ternyata Riska yang disebut.


"Riska????? " Tanya Tasya dengan ekspresi kaget.


"Iya kenapa, kamu kenal? " Jawab Bima sambil mengkerutkan keningnya, karena merasa heran dengan ekspresi Tasya.


"Ahhhh engga, Tasya nga punya teman yang namanya Riska" Jawab Tasya. Lalu Tasya sibuk bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Mati deh aku kalau Riska sampai ember cerita-cerita soal Reza ke Ka Bima!!! Hadduhhh gimana ini??? Sudah pasti aku kehilangan Reza, nga mungkin kan harus kehilangan Ka Bima juga???? "


"Heyyyyyy... Kok makan sambil melamun gitu sih? " Kejut Bima yang melihat Tasya malah jadi melamun sambil mulut tetap mengunyah.


"Ehhhhh engga... Engga apa-apa kok Ka" Jawab Tasya sambil tersenyum kecil.


Lalu mereka melanjutkan makannya sambil Bima melanjutkan cerita tentang kaka sepupunya ini. Tentu saja Tasya tertarik mendengarnya, karena dengan begini Tasya jadi mengetahui lebih dalam tentang siapa Riska, yang selama ini Tasya hanya mengetahui bahwa Riska adalah anak pengusaha ternama dan anak cerdas disekolahnya.

__ADS_1


"Riska itu dikeluarga besarku dijuluki kecil-kecil cabe rawit Sya" Ucap Bima semangat sekali ketika menceritakan tentang Riska, karena memang hubungan persaudaraan antara keluarga Bima dan keluarganya Riska sangat dekat sekali. Mereka kalau ada waktu senggang sering berlibur bersama. Apalagi di keluarganya Riska kan tidak ada anak laki-laki jadi waktu kecil Bima sering diminta untuk menginap di rumah pakdenya, untuk mengobati rasa kangen keluarga tersebut akan hadirnya anak laki-laki.


"Kecil-kecil cabe rawit??? Mulutnya pedas gitu maksud Ka Bima??? " Tanya Tasya tidak mengerti apa yang dimaksud Bima.


"Hahahahhaha..... Bukan Tasya, itu mah makan cabe rawit kali makanya mulutnya jadi pedas " Bima langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Tasya.


"Maksudnya itu biarpun badannya kecil tapi pemberani dan tampaknya kecil tetapi cerdik" Jawab Bima.


"Pemberani?? Maksud Ka Bima jago berantem gitu? " Tanya Tasya lagi.


"Iyaaaa, Riska itu biarpun badannya kecil jago beladiri, dia kan ikutan taekwondo sudah sampai sabuk merah strip hitam, tingkat ini merupakan tahap akhir yang diperoleh, sebelum siswa melanjutkan ke level penguasaan sabuk hitam" Ucap Bima menjelaskan kepada Tasya.


"Apaaaa???? Taekwondo???? " Tanya Tasya kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan Bima. Tasya terkejut, karena selama ini selama Tasya suka menjahili Riska, tidak pernah sekalipun Riska melawannya ataupun mengeluarkan jurus apapun yang menandakan bahwa dirinya menguasai ilmu beladiri.


"Kenapa? Kamu kok kayak yang kaget gitu sih Sya? " Tanya Bima karena melihat ekspresi Tasya yang terkejut saat Bima mengucapkan kata taekwondo.


"Nnnnggggaaaa... Tasya cuma binggung aja kalau liat cewe tapi kok ikutan beladiri, kayak cowo aja jadinya. Biasanya kan kalau cewe ikutannya balet, dance-dance gitu Ka" Jawab Tasya.


"Ehhh kata siapa cewe nga boleh ikutan bela diri? Justru bagus, belajar bela diri itu penting, selain untuk kesehatan mental dan fisik, belajar bela diri dapat meningkatkan ketangkasan dalam berpikir dan bergerak. Bela diri juga bagus untuk emosional kita, sebab dalam seni bela diri, kita akan diajarkan cara menghindari dan menghadapi lawan secara efektif dan juga efisien dan yang terpenting dapat melindungi diri sendiri" Jawab Ka Bima.


"Oooooo pantas saja Riska tidak pernah memakai jurus taekwondonya ke aku dan pantas saja Riska tidak pernah melawan sedikit pun kalau aku ganggu, ddduuuh ternyata baik juga tuh anak, coba kalau sampai dia ngeluarin jurusnya???? Haddduuuh baru juga kena tangkisan udah memar nih kulit aku!!! " Tasya berbicara dengan dirinya sendiri sambil bergidik merinding membayangkan kalau Riska menggunakan ilmu taekwondonya ketika sedang dijahili oleh Tasya.


"Ehhh tuhh kan ngelamun lagi! " Ucap Bima.


"Iiih siapa yang ngelamun, orang Tasya lagi ngebayangin kalau cewe beladiri seperti apa" Jawab Tasya asal.


"Makanya belajar beladiri, biar nanti jadi tahu manfaatnya, jangan cuma tahunya nongkrong aja" Ucap Bima sambil terkekeh.


"Ehhh Ka, nongkrong juga ada manfaatnya tahu.. buat hiburan diri sendiri supaya nga stresssss" Jawab Tasya nga mau kalah.


"Iya... Iya tidak apa-apa sekarang suka nongkrong, tapi nanti kalau sudah jadi istri aku, kurangi ya kebiasaan nongkrongnya" Ucap Bima.


"Nga janjiiiii... " Ucap Tasya sambil memajukan bibirnya.


Sambil Bima dan Tasya menikmati makan sambil diselingi obrolan, maklum selama ini mereka berdua kan menjalin hubungan jarak jauh, jadi sekalinya bertemu pasti banyak hal yang ingin diceritakan. Lagu yang di putar saat mereka sedang makan pun berkisah tentang kesempurnaan cinta dari artis ibukota Rizky Febian. Lagu "Kesempurnaan Cinta" ini bercerita tentang perasaan bahagia dan menyenangkan seseorang yang telah menemukan pasangan hidupnya yang sempurna. Lagu ini melengkapi kebahagiaan Bima dan Tasya yang sedang meluapkan rasa rindunya karena sudah lama tidak berjumpa.


"Sya.. Dengerin deh lirik lagunya kita banget ya" Ucap Bima.


"Iya Ka... " Jawab Tasya sambil tersenyum karena mendengar ucapan Bima.


Disudut tempat duduk yang lain Riska dan Zia hampir menyelesaikan makannya. Riska sebenarnya penasaran seperti apa sosok pacarnya Bima, karena selama ini Bima memang belum pernah cerita apapun tentang pacarnya ketika mereka sedang bertemu.


"Ris... Ka Bima kok pacaran?" Tanya Zia.


"Ya itulah Zi, aturan tiap keluarga kan berbeda-beda, walaupun Mamanya Mas Bima sama Papa aku bersaudara" Jawab Riska. Riska disini walaupun kedudukan Papanya adalah Kaka dari Mamanya Bima, tetapi Riska tetap memanggil Bima dengan sebutan Mas, karena usia Bima yang lebih tua dari Riska.


"Aku penasaran nih Zi, siapa sih pacarnya Mas Bima" Ucap Riska.


"Bentar Ris, pudingnya nanggung niih dikit lagi" Jawab Zia, sambil menghabiskan puding coklatnya.


Lalu setelah mereka cuci tangan, Riska mengajak Zia untuk berpamitan kepada Bima sekalian mereka penasaran dengan sosok yang menjadi pacarnya Bima. Posisi Tasya kebetulan membelakangi arah datangnya Riska dan Zia saat hendak mendekati dimana Bima duduk.


"Mas Bima... Riska sama Zia pamit duluan ya" Ucap Riska sambil berjalan mendekati mejanya Bima.


"Oh iya.... Riska ... Zia silahkan" Jawab Bima.


Saat sudah berada didepan meja Bima dan Tasya, saat itulah mata Riska dan Tasya bertemu. Riska dan Zia membulatkan matanya dengan sempurna, mencoba meyakinkan dengan apa yang dilihatnya, kemudian Riska dan Zia pun saling pandang seperti sedang berbicara tetapi melalui transferan tatap mata. Sedangkan Tasya sendiri tidak usah ditanya, jantungnya berdetak kencang sekali dag dig dug tidak beraturan. Tasya sangat-sangat malu ketangkap basah sedang berduaan dengan Bima, karena Tasya sudah menduga pasti Riska dan Zia tahunya selama ini Tasya adalah pacarnya Reza. Ditambah lagi Tasya juga ketakutan Riska ataupun Zia akan mengadu kepada Bima perihal Reza.


"Ehh lupa kenalin dulu ini pacar Mas Bima, Tasya" Ucap Bima.


"Ta... Ta... Tasya" Ucap Tasya sambil menjulurkan tangannya. Tidak Tasya duga Riska dan Zia membalas uluran tangan Tasya.


"Riska"


"Zia"


"Emmm... ma.. Mas Bimaaaa... Emmmm... Adawwww" Ucap Zia sambil meringis kesakitan karena ketika ingin mengatakan sesuatu kepada Bima tetapi kakinya keburu diinjek oleh Riska.


"Ngapain sih Ris kamu pakai injek sepatu aku segala, rusak nanti sepatu aku niih" Ucap Zia polos tidak menangkap maksud dari injekan kakinya Riska tadi.


" Iya nanti kalau sepatu kamu rusak aku ganti, udah ya Mas, Tasya.... Riska ma Zia pamit... Assalamu'alaikum " Ucap Riska sambil menarik tangan Zia, khawatir Zia kelepasan cerita kepada Bima tentang siapa Tasya.


"Waalaikumsalam" Jawab Bima.


Riska bergegas meninggalkan meja Bima dan Tasya sambil memegang tangan Zia, setelah didepan pintu keluar barulah ia lepas tangannya Zia. Akhirnya setelah Riska dan Zia beranjak dari depan meja mereka, Tasya bisa bernafas lega, karena apa yang dipikirkannya tadi ternyata tidak terjadi.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, dengan menekan like, comment dan vote. Terima Kasih


__ADS_2