
Alkanna masih terdiam dengan wajah dinginnya. Tak menampakkan sedikit senyuman dari wajah itu. Alena duduk di samping Alkan dengan perasaan yang tak menentu, Ada rasa luka yang begitu dalam dari hatinya.
"Bismillah, Semoga ini adalah yang terbaik buat hidupku, Ya allah. Aku ikhlas menerima semua takdir yang sudah engkau tuliskan. Menjalani semua skenario yang sudah di tetapkan untuk ku. Menjalankan peran ku dengan sebaik mungkin" ucap Alena dalam batinnya sambil mengambil nafas sejenak serta memejamkan kedua matanya pelan.
Alena sudah pasrah dengan semua yang sudah terjadi pada hidupnya. Yang ada di benaknya saat ini, Alena akan berusaha melupakan Kenzo dan belajar mencintai Alkanna, Laki-laki yang akan menjadi kekasih halalnya.
Saat suara penghulu terdengar, Satu bulir bening ini berhasil lolos dari kedua matanya. Apalagi saat mendengar Alkanna menyebut nama ayahnya. Rasanya tangis Alena tak bisa di tahan. Sesak itu sudah membuat tangis Alena terisak tanpa suara.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Sinta sambil menepuk pelan pundak Alena.
"Alena tidak apa-apa ma, Hanya saja Alena sedang merindukan ayah. Sayang sekali ayah tidak bisa menjadi wali serta saksi di hari yang begitu sakral ini" ucap Alena pelan.
"Mama tau apa yang kamu rasakan saat ini, Tapi kamu tidak usah sedih, Kita doakan semoga ayah bisa segera sadar" ucap Lina yang terdengar sangat lembut.
"Iya, Ma. Terimakasih karna mama sudah baik sama Ale"
"Kamu bicara apa, Sayang. Kamu itu adalah menantu mama"
Tak berselang lama, Terdengar suara penghulu yang mengatakan sah atas pernikahan Alena dan juga Alkanna.
"Selamat, Mulai hari ini kalian sudah sah menjadi suami istri"
Suara itu membuat Alena yang sejak tadi menundukkan wajahnya seketika mengangkat wajah itu. Menatap ke arah Alkanna yang masih menunjukkan ekspresi yang sama.
"Silahkan cium punggung tangan suamimu sayang" ucap Sinta pada Alena. Alena hanya mengangguk pelan serta langsung mengambil tangan Alkan dan menciumnya cukup lama.
Setelah itu, Giliran Alkan yang harus mencium kening Alena seperti semestinya. Dengan sangat terpaksa Alkanna melakukan hal itu. Walaupun berat hati, Namun pria itu tetap melakukan agar tidak ada satu orangpun yang tau apa yang saat ini ada di dalam hati Alkanna.
Alena memejamkan kedua matanya tatkala merasakan kecupan lembut menerpa pucuk kepalanya. Ini adalah pertama kalinya sosok pria yang mencium keningnya setelah ayahnya.
__ADS_1
"Mulai hari ini aku harus bisa melupakan kak Kenzo, Karna mau bagaimana pun, Dia sudah menjadi adik iparku" ucap Alena dalam batinnya.
Sejak tadi Larisa menatap Kenzo serta mendekat pada pria itu, Seakan mengambil kesempatan kali ini untuk bisa mendapatkan Kenzo seperti apa yang dia harapkan.
"Kamu liat kan Ken, Alena sudah menjadi kakak ipar mu. Mereka terlihat sangat serasi ya" ucap Larisa sambil melirik pada Kenzo.
Namun Kenzo sama sekali tak menggubris perkataan wanita itu, Kenzo bersikap cuek terhadap Larisa seperti biasa.
"Kenapa kamu diam saja sih Ken, Kamu dengar aku kan?" ucap Larisa lagi.
"Berisik benget sih lho. Minggir! " ucapnya dan langsung berlalu dari hadapan Larisa.
Melihat itu membuat Larisa mengepalkan kuat kedua tangannya "Kurang ajar, Mau sampai kapan kamu seperti ini Ken. Tapi kamu lihat saja, Apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan kamu" gumamnya sambil tersenyum licik. Entah apa yang ada di benak Larisa saat ini.
Kenzo yang merasa hatinya seperti teriris memilih untuk pergi dari sana. Melangkahkan kakinya keluar dari pesta yang saat ini masih berjalan.
Sedangkan Kenzo, Naik ke dalam mobilnya dan melesatkan mobil itu menjauh dari kediaman kedua orang tuanya.
Hatinya benar-benar terasa begitu sakit saat mendengar kakaknya sendiri melakukan ijab qobul terhadap wanita yang masih begitu dia cintai.
"Aarrrrrgggg. Kenapa semuanya malah jadi seperti ini. Kenapa Alena malah jadi kakak iparku. Bagaimana bisa aku melupakannya, Jika setiap hari aku harus bertemu dengannya di rumah" ucap Kenzo sambil mempercepat laju mobilnya.
******
Tanpa terasa hari sudah berlalu. Malam datang. Tempat itu sudah mulai sepi, Hanya tersisa anggota keluarga saja.
"Sayang, Kamu bawa suami kamu ke kamar ya. Kamarnya yang tadi menjadi tempat rias" ucap Sinta yang terdengar sangat lembut.
"Iya, Ma" balas Alena sopan
__ADS_1
Alena menggandeng tangan Alkanna ragu, Merasa takut saat melihat wajah dingin serta tak berekspresi yang Alkan tunjukkan.
"Selamat istirahat sayang" ucap Sinta sebelum Alena pergi.
Alena tak menjawab, Hanya memberi anggukan pelan sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Setelah itu, Alena menggandeng tangan Alkan dan membawanya menaiki anak-anak tangga yang ada di sana. Namun saat sudah tiba di dalam kamarnya, Alkanna mengatakan sesuatu yang tentu saja membuat Alena merasa begitu luka.
"Lepaskan tangan anda" ucapnya sambil menarik kasar tangannya dari genggaman Alena.
Deg!
Hal itu membuat Alena membulatkan kedua matanya, Bagaimana bisa laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya ternyata adalah sosok yang cukup kasar dan menakutkan.
"Mas, Ada apa denganmu. Apa aku ada salah"
"Sudahlah, Tidak usah sok polos. Saya tau apa alasan anda mau menikah dengan pria buta sepertiku. Itu pasti hanya karna harta bukan! Membuat ku jijik saja" balas Alkan sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamarnya.
"Apa maksud kamu mas, Aku malah sama sekali tidak tertarik dengan harta yang kamu miliki, Hanya saja aku tidak punya pilihan lain selain menikah dengan mu. Dan mulai hari ini, Aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu. Aku akan belajar memberikan cinta yang seharusnya aku berikan pada suamiku, Yaitu kamu"
"Hahahhahaahah, Terus saya percaya. Nggak! buat saya kamu tak jauh dengan para wanita yang hanya ingin memanfaatkan harta yang saya miliki. Nikmati saja apa yang akan saya lakukan kedepannya"
Alena menundukkan wajahnya, Entah kenapa perkataan Alkan terasa menyakitkan. "Ya allah, Cobaan apalagi ini" ucap Alena yang terdengar sangat lirih dalam batinnya.
"Dan satu lagi, Biarpun status kita sudah sah menjadi suami istri, Jangan harap saya mau menyentuhmu. Karna bagi saya, Kamu tetaplah orang asing yang akan menjadi benalu dalam hidup saya" ucap Alkan sambil berbalik ke lain arah.
Lagi-lagi perkataan Alkan terasa seperti jarum yang menusuk tepat di ulu hatinya. Kata-kata yang tak pernah dia pikirkan hari ini menerpa indra pendengaran.
"Sabar, Alena. Kamu harus kuat" ucap Alena dalam batinnya. Air mata itu tiba-tiba saja jatuh membasahi kedua pipinya.
__ADS_1