
Tut.....Tut...
Mendengar suara klakson membuat Alkan berjalan cepat keluar dari dalam kamarnya, Beruntung pagi ini rumah kosong, Tidak ada siapapun di sana kecuali pak Iwan. Namun pak Iwan sudah tau jika Alkan sudah bisa melihat.
"Pak, Saya titip rumah. Jangan lupa kunci pagarnya ya, Karna pak Iwan hanya sendiri di sini. Bibi tadi pagi ijin buat pulang kampung selama seminggu" ucap Alkan pada pak Iwan.
"Aman atuh den. Den Alkan hati-hati, Jika butuh bantuan langsung hubungi saya, Saya akan siap 45 buat bantu den Alkan" ucap pak Iwan sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Nanti tolong jemput saja saya di suatu tempat. Akan saya Sherlock" ucap Alkan dan langsung masuk ke dalam mobil seseorang yang sudah menunggunya.
Setelah itu, Dimas melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat, Selama ini Alkan dan Dimas memang sudah menyelidiki apa yang di lakukan oleh Ari. Salah satu orang kepercayaan Arseno.
"Bagaimana, Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Alkan pada Dimas.
"Sudah, Al. Aku sudah menyiapkan sesuai dengan apa yang kamu suruh. Hari ini aku pastikan, Semua orang akan menjadi saksi bagaimana pak Ari mendapatkan hukuman" balas Dimas sambil terus fokus mengemudi.
"Good. Semoga setelah ini papa tau bagaimana kelakuan orang kepercayaannya"
Mobil itu terus melaju cepat, Setelah tiba di depan salah satu gedung bertingkat, Dimas menghentikan laju mobilnya. Mereka berdua keluar dari mobil itu dan masuk ke salah satu ruangan yang sudah di siapkan oleh Dimas sebelumnya.
Bukan hanya itu, Ternyata dimas juga sudah memasang alat cctv tersembunyi di tempat acara. Hari ini memang ada acara pertemuan sekaligus perayaan ulang tahun salah satu teman bisnis kedua orang tua Alkan.
Dari rekaman cctv, Mereka bisa melihat apa yang saat ini di lakukan oleh Ari. Melihat itu membuat Alkan mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Ck! Dasar ular, Bisa saja berpura-pura seperti itu" ucap Alkan sambil terus menatap layar laptopnya.
"Dia bagaikan ular yang sangat berbisa Al. Sangat membahayakan. Harus segera di basmi" timpal Dimas.
2 Jam sudah berlalu. Saat ini sudah masuk dimana acara inti akan segera di mulai. Pemutaran semua video tentang kebersamaan mereka selama ini. Namun siapa sangka, Jika file yang seharusnya di putar sudah di tukar oleh Dimas beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
"Bom waktu akan segera meledak" ucap Dimas sambil tersenyum.
"Kita cukup bergerak dan menjadi penonton dari sini saja" balas Alkan pelan.
Di dalam ruangan
"Gak nyangka ya. Pertemanan kita sudah berjalan 5 tahun" ucap Sinta pada salah satu di sana.
"Iya, Semoga saja kita akan selalu menjadi teman baik seperti ini" balas satunya.
"Gak sabar liat vidio momen-momen kebersamaan kita dari tahun ke tahun ya" ucap salah satu dari mereka.
Selama itu juga kalian semua tidak pernah menyadari apa yang sudah saya lakukan selama ini
Pak Ari bermonolog dalam batinnya sambil menikmati makanan yang ada di depannya. Pria itu tidak menyadari apa yang saat ini sedang di putar di depan sana. Pak Ari masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apa-apaan ini!" ucap Arseno sambil memukul meja keras.
Ari yang merasa tidak paham langsung mengangkat wajahnya. Menoleh ke arah layar di mana di sana saat ini sedang menayangkan sebuah video yang tak sebelumnya tak pernah Ari duga.
Deg!
Ari yang melihat itu tentu saja reflek dan menjatuhkan sendok serta garpu yang ada di tangannya. Apa hari ini semuanya akan terbongkar?
"I....itu saya bisa jelaskan" ucapnya terbata"Apa maksud dari video ini, Ari? Jadi selama ini kamu yang sudah menjadi tikus di perusahaan saya!?" sentak Arseno sambil menatap tajam Ari.
"Katakan, Apa yang mau kamu jelaskan!" titah salah satu di sana"Cepat katakan!" ulangnya.
"Itu tidak seperti yang kalian lihat, Ini hanyalah salah paham. Siapa sih yang sudah memutar video seperi ini" sergah Ari yang masih ingin membela diri.
__ADS_1
"Apa saya tidak salah dengar, Salah paham. Dimana letak ke salah pemahamannya?"
"Astaga. Jadi selama ini kita semua sudah bergaul dengan manusia yang gak tau diri sepertinya" timpal salah satunya sambil menoleh pada Ari.
"Sudahlah. Lebih baik kita bawa dia ke kantor polisi. Ini bisa menjadi bukti yang kuat untuk membuat dia mendekap di penjara"
"Saya benar-benar tidak nyangka, Ini balasan atas apa yang sudah saya lakukan terhadap anda dulu" ucap Arseno dengan raut wajah marahnya.
Seketika ruangan itu menjadi sangat tegang. Pasalnya selama ini Ari atau lebih tepatnya Ashari adalah salah satu teman baik Arseno. Namun siapa sangka jika sebenarnya ada hal lain di balik apa yang dia lakukan selama ini.
"Anda mau tau kenapa saya melakukan hal ini"
"Kasih saya satu alasan, Kenapa anda bisa membalas kebaikan saya dengan cara ini" ucapnya
Ari terdiam sejenak, Dadanya terasa sesak saat teringat akan putrinya yang rela bunuh diri karna Alkan. Ya, Karna Alkanna, Anak dari Arseno dan juga Sinta. .
"Mungkin ini memang sudah saat nya anda tau siapa saya. Apa anda ingat dengan gadis yang bernama Aisyah?" tanya Ari sambil menatap Arseno dan Sinta.
Mendengar nama Aisyah membuat Sinta menoleh pada Arseno. "Apa hubungannya dengan anak itu?" tanya Sinta sambil mengerutkan kecil keningnya.
"Dia adalah putri saya, Putri satu-satunya yang saya miliki. Tapi gara-gara anak kalian, Saya harus kehilangan Aisyah untuk selamanya"
"Apa maksud anda?" tanya Arseno yang merasa semakin tidak paham dengan apa yang telah di katakan oleh Ari.
"Gara-gara Alkan menolah Aisyah, Dia bunuh diri. Karna anak kalian, Hidup saya hancur. Dunia saya berantakan. Oleh karena itu, Saya memutuskan untuk menghancurkan hidup kalian semua. Biar kalian tau apa yang saya rasakan. Apa kamu tau, Kecelakaan yang menimpa Alkan itu juga ulah saya, Tapi saya heran, Kenapa dia harus selamat, Kenapa dia tidak mati saja"
Perkataan Ari membuat kedua orang tua Alkan membulatkan kedua matanya."Apa! Jadi anda yang menjadi dalang di balik kecelakaan Alkan satu tahun yang lalu!!?" Sentak Arseno sambil menatap tajam Ari.
"Memang. Saya sudah membuat rem mobilnya blong. Karna saya mau dia merasakan apa yang di rasakan oleh Aisyah. Yang meninggal karna bunuh diri. Membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata dan membuatnya kecelakaan hingga tewas di tempat"
__ADS_1
"Sejak hari itu. Saya sangat dendam terhadap keluarga kalian. Dan sejak hari itu juga, Saya tidak lagi menganggap kalian sahabat!" ucap Ari dan langsung pergi dari sana.