Ketika Takdir Yang Memilihku

Ketika Takdir Yang Memilihku
Tempat bersandar


__ADS_3

Astaga, Ternyata aku tertipu. Mama sebenarnya tidak tau jika aku sudah bisa melihat, Mama hanya menebak-nebak saja dan membuatku mengatakan dengan sendirinya.


"Nah kan bener, Kamu bisa melihat beneran. Kenapa kamu tidak mengatakan pada mama dan juga papa, Alkan?" tanya mama sambil terus menatapku.


"Sengaja aja, Ma. Karna awalnya aku ingin membongkar apa yang selama ini sudah di lakukan oleh pak Ari" balasku sambil menatap mama.


Mendengar perkataanku membuat mama mengerutkan kecil keningnya."Jangan bilang kalau apa yang terjadi tadi adalah ulah kamu?" tanya mama lagi


Aku mengangguk"Iya, Ma. Itu memang aku yang melakukan. Selama ini, Aku meminta bantuan dimas untuk menyelidiki siapa yang menjadi tikus di perusahaan kita, Dan ternyata pelakunya adalah sahabat dekat papa sendiri. Dan yang membuat aku tidak habis pikir, Ternyata pak Ari adalah ayahnya Aisyah" ucapku sambil mengambil nafas panjang.


Mengingat akan Aisyah membuat rasa bersalah itu kembali terbesit dalam benakku. "Mama juga tidak menyangka jika Aisyah adalah anak dari Ari. Bagaimana bisa selama ini kita tidak sadar akan hal itu ya" balas mama sambil menatapku.


"Entahlah, Ma. Dan semua ini terjadi karna rasa ingin balas dendam terhadap keluarga kita karna ulah yang tak sengaja aku lakukan" ucapku lirih..


Mama menepuk pelan pundakku"Sudahlah, Jangan menyalahkan dirimu atas semua kejadian ini. Setidaknya saat ini kita sudah tau semuanya. Oh ya, Al. Apa Alena ada menghubungi kamu? Soalnya mama telpon nomornya tidak aktif" ucap mama lagi.


Mendengar nama Alena membuatku tak suka, Entah kenapa rasanya aku benci dengan wanita itu. Entah apa penyebabnya aku pun tidak paham. Tapi yang jelas, Rasa tidak suka itu muncul tepat di saat pertemuan pertama kami di rumahnya. Menurutku, Alena adalah wanita yang tak jauh beda dengan Alyssa. Yang mau menikah denganku hanya karna harta.


"Al, Kenapa kamu malah diam saja. Apa Alena ada menghubungi kamu?" tanya mama lagi karna aku masih diam tak bergeming.


Aku menggeleng"Tidak, Ma. Memangnya kenapa mama cariin dia" ucapku dengan nada dinginku.


Lagi-lagi mama menepuk pundakku"Al, Jangan seperti itu, Nak. Kamu terkesan cuek dan tak perduli pada istrimu. Ingat, Al. Alena itu adalah istri kamu, Dia adalah salah satu tanggung jawab yang harus kamu emban" ucap mama pelan sambil menatapku. .


"Alkan tau jika wanita itu adalah istri Al. Tapi apa mama tau jika Alkanna hanya terpaksa menikahinya. Alkanna sama sekali tidak mencintainya ma. Tolong jangan paksa Alkanna untuk memperlakukan dia seperti papa memperlakukan mama"


Mendengar perkataanku membuat mama mengambil nafas panjang. "Mama tau kamu menikahinya hanya karna terpaksa. Tapi apa sebelumya kamu pernah berpikir bagaimana perasaan Alena. Ingat Al, Jangan membuat istri kamu sendiri merasakan hal yang tak seharusnya dia rasakan hanya karna rasa kecewa yang kamu miliki terhadap wanita sialan itu" ucap mama dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarku.

__ADS_1


Namun sebelum benar-benar keluar, Mama masing menghentikan langkahnya dan menoleh sebentar ke arahku"Ingat, Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari karna apa yang kamu lakukan hari ini" ucapnya lagi dan kembali melangkahkan kakinya.


Perkataan mama membuatku terdiam, Bagaimana mungkin aku akan menyesal, Bukan kah ini memang hal yang seharusnya aku lakukan. Buat apa memperlakukan Alena dengan baik, Sedangkan aku saja masih tidak bisa menerimanya sebagai istriku 100%. Sudahlah, Dari pada pusing memikirkan perkataan mama lebih baik aku tidur.


Akupun merebahkan tubuhku tanpa mau memperdulikan Alena yang saat ini entah ada di mana. I Don't care lah. Dia juga udah dewasa, Sudah tau arah jalan pulang juga.


Di bawah


"Bagaimana, Ma. Apa Alena ada menghubungi Alkan?" tanya Arseno saat melihat Sinta turun dan mendekat ke arahnya.


"Nggak, Pa. Alkan mengatakan jika Alena sama sekali tidak ada menghubunginya" balas Sinta dengan raut wajah khawatir.


Bagaimana tidak khawatir, Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23:00, Namun sama sekali tidak ada tanda-tanda kepulangan Alena.


"Kemana dia, Ma. Ini sudah sangat malam" ucap Arseno.


Di Tempat Lain


Alena mengambil nafas pelan, Perkataan Larisa terus saja mengganggu pikirannya, Bahkan bukan hanya itu, perkataan ayahnya juga sangat melukai perasaannya.


Ya, Alena belum kembali hingga larut karna beberapa jam yang lalu mendapat sebuah kabar jika ayahnya sudah sadarkan diri. Mendengar itu tentu saja membuat Alena terasa begitu bahagia, Akhirnya doanya selama ini terijabah. Namun, Saat Alena sudah tiba di rumah sakit, Ternyata ayahnya tidak bisa mengenalinya. Ayah Alena lupa ingatan.


Kamu siapa? Saya tidak kenal kamu. Pergi dari sini dan jangan pernah datang kembali.


Kata-kata itu terus saja terngiang dan terdengar begitu menyakitkan. Sosok cinta pertama yang begitu dia rindukan melupakannya.


Pergi dan jangan pernah lagi kembali. Karna papa sudah melupakan lho. Lho tau, Itu artinya lho sudah tak di harapkan lagi! Ngerti lho.

__ADS_1


Perkataan Larisa juga terus terngiang dan terasa begitu menyakitkan"Kenapa takdirku harus seperti ini. Aku ikhlas saat kak Alkan belum bisa menerima ku sepenuhnya, Tapi kenapa ayah harus lupa sama aku" ucap Alena yang terdengar sangat lirih.


Di saat seperti ini, Tiba-tiba saja hujan datang membasahi kota itu. Semesta seakan paham bagaimana perasaan Alena saat ini.


Alena memejamkan kedua matanya yang terasa sangat panas, Membiarkan air hujan mengguyur tubuhnya. "Mama. Bawa Alena bersama dengan mama, Alena lelah, Alena kesepian, dan Alena tak sekuat itu" gumam Alena yang terdengar sangat lirih.


Alena terdiam di bawah cahaya lampu yang bersinar redup, Wanita itu tak menyadari jika saat ini ada sebuah mobil yang sedang melaju cepat ke arahnya.


"Alena awas" ucap seseorang sambil menarik tangan Alena dan membuat mereka terjatuh.


"Kak Kenzo" ujar Alena dengan suara seraknya.


Ya, Pria itu adalah Kenzo. Sejak tadi Kenzo memang mengikuti langkah Alena. Bahkan Kenzo juga melihat semua kejadian di rumah sakit, Hanya saja dia memutuskan untuk mengikuti Alena dari arah jauh tanpa mau mendekat ke arahnya. Karna Kenzo sudah tau jelas bagaimana reaksi Alena saat Kenzo mendekatinya.


"Ngapain kamu berdiri di tengah jalan seperti itu, Hah? Apa kamu sudah bosan hidup" sentak Kenzo sambil menangkup kedua pipi Alena.


Pria itu menatap kedua bola mata Alena yang terlihat merah dan sayu. Melihat itu membuat Kenzo ikut merasa sakit"Jangan merasa hidup kamu yang paling menyedihkan, Alena. Perlu kamu ingat, Di luar sana masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih menyedihkan. Aku tau dan aku bisa merasakan apa yang saat ini kamu rasakan. Tapi percayalah, Cepat atau lambat ayah kamu akan mengingat semuanya. Ini hanya soal waktu"


Mendengar perkataan Alkan membuat Alena menatapnya"Kak Kenzo tau?" tanyanya pelan dengan air mata yang terus mengalir"Iya, Aku tau semua yang terjadi hari ini. Jangan seperti ini, Kemana Alena yang dulu" balas Kenzo sambil menatap kedua bola mata Alena.


"Tapi rasanya dunia ini tidak adil, Kak. Kenapa hanya aku yang terus-terusan merasakan ini, Aku tak sekuat itu" gumam Alena di sela isak tangisnya.


Melihat Alena seperti itu membuat Kenzo membawa tubuh Alena dalam dekapannya. Dekapan yang selalu mampu menenangkannya"Sabar, ya. Semua akan berlalu dengan semestinya. Yakinlah, Pelangi akan selalu datang walaupun tidak tepat setelah hujannya reda" ucap Kenzo sambil membelai lembut rambut Alena.


"Mulai hari ini, Anggaplah aku sebagai sosok ipar yang bisa kamu jadikan tempat berbagi. Jangan pendam semuanya sendiri" ucap Kenzo lagi.


"Karna aku akan selalu ada di sini. Memberikan bahu ternyaman untuk menjadi tempat bersandar mu"

__ADS_1


__ADS_2