Ketika Takdir Yang Memilihku

Ketika Takdir Yang Memilihku
Pertemuan Alkanna dengan Aditya


__ADS_3

Setelah tiba di dalam kamarnya, Alkan menatap raut wajah Alena yang terlihat pucat, Bibirnya membiru serta gemetar. "Kamu adalah wanita cantik, Sangat cantik. Tapi saya tidak mencintaimu. Karna saya tidak yakin jika kamu wanita yang tulus" ucapnya sambil terus menatap Alena


"Mama, Tolong bawa Ale, Ale sudah tidak sanggup dengan semua ini. Sudah tidak ada lagi yang mau mengharapkan keberadaan Alena, Ma. Bukan hanya mereka, Tapi juga dengan Ayah yang sama sekali tidak menginginkan Alena. Bawa Alena pergi'


Lagi-lagi Alena berbicara dalam tidurnya, Butiran bening itu pun kembali lolos membasahi kedua pipi putihnya. Hal itu tentu saja membuat Alkanna mengerutkan kecil keningnya. Sebenarnya apa maksud dari perkataan Alena?


Setelah cukup lama menatapnya, Alkan menepuk pelan pundak Alena dan memintanya bangun sejenak. Namun satu hal yang tak pernah Alkan duga terjadi saat itu juga.


"Alena. Bangun, Kamu minum obat dulu" ucapnya sambil menepuk pundak Alena.


Wanita itu membuka kedua matanya, Mengerjab beberapa saat untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada indra penglihatannya. Alena bangun dan langsung memeluk Alkanna dengan sangat erat.


"Jangan pergi, Jangan pernah tinggalkan aku. Aku takut sendirian, Aku takut kesepian di dunia yang begitu tidak adil untukku. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku" ucapnya yang terdengar sangat lirih.


Mendengar perkataan Alena entah kenapa membuat Alkanna merasa ada belas kasih dari dalam relung hatinya. Pria itu membalas pelukan Alena serta menatap wajahnya yang terlihat sayu.


"Aku akan tetap di sini. Makanlah lalu minum obatnya" seru Alkanna sambil membelai rambut panjang Alena.


Alena mengangguk serta langsung mengambil makanan yang di berikan oleh Alkanna. Mungkin untuk saat ini hanyalah raganya saja yang ada di tempat ini, Tapi tidak dengan pikirannya. Karna pikirannya sedang melalang buana entah kemana.


Setelah memakan sebagian dari isi piring itu, Alena meminum obat paracetamol yang di berikan oleh Alkanna. Wanita itu tidak sepenuhnya sadar jika pria yang ada di hadapannya saat ini adalah Alkanna.


"Tidurlah, Kamu perlu banyak istirahat" ucapnya lagi.


Alena tak lagi menjawab, Wanita itu hanya merebahkan tubuhnya karna merasa kepalanya terasa sangat sakit. Tubuhnya terasa begitu dingin.


Saat melihat Alena sudah tidur kembali, Alkan ikut merebahkan tubuhnya di samping wanita itu, Namun sebelumnya, Alkanna masih menempelkan tangannya pada kening Alena yang ternyata suhu tubuhnya masih saja sama. Malah makin tinggi. Bahkan Alkan melihat jika Tubuh Alena semakin gemetar.


"Astaga. Kenapa suhu tubuhnya semakin tinggi. Kalau seperti ini terus yang ada nanti dia bisa kejang" ucap Alkan samberi kembali bangun.


"Aku harus membawanya kerumah sakit, Biarpun aku tak mencintainya, Tapi setidaknya aku tidak menjadi pria jahat yang membiarkan tanpa melakukan apa-apa" ucapnya lagi sambil mengambil hoodie miliknya lalu di pakaikan pada Alena.


Pria itu menggendong tubuh Alena dan keluar dari dalam kamarnya. "Merepotkan saja ini wanita" ucapnya di sela langkahnya.


"Kalau bukan karna kemanusiaan, Ogah saya mau bawa kamu ke rumah sakit"


Rumah terlihat sangat sepi. Bahkan lampu-lampu di sana sudah pada mati. "Astaga, Kenapa suhu tubuhnya semakin tinggi saja. Lagian kenapa juga dia harus hujan-hujanan, Malem-malem lagi. Apa gak ada kerjaan"

__ADS_1


Setelah tiba di mobil, Alkan melesatkan cepat mobil itu keluar dari Mansion kelurganya. Membelah jalanan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Rintik hujan itu ternyata masih terus membasahi jalanan.


Sesekali Alkan melirik pada Alena yang meringkuk dan memeluk tubuhnya sendiri.


Satu jam kemudian. Mobil itu sudah tiba di salah satu rumah sakit yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.


Alkan keluar dengan menggendong tubuh Alena, Menyusuri setiap koridor dengan langkah lebarnya"Dokter. Tolong istri saya" ujarnya yang tanpa sadar mengakui Alena sebagai istrinya.


"Mari ikut saya, Pak"


"Silahkan tunggu di luar" ucap dokter itu saat mereka sudah tiba di IGD. Alkan hanya mengangguk pelan.


Di saat Alkan sedang menunggu di depan IGD, Tiba-tiba saja ada suara yang begitu familiar memanggil namanya. Mendengar itu membuat Alkanna membalikkan tubuhnya. Menoleh ke arah sumber suara yang sudah memanggilnya.


"Aditya" ucap Alkan pelan. .


Ya, Orang yang baru saja memanggil Alkanna adalah Aditya, Salah satu sahabatnya yang sudah pernah melakukan adegan panas bersama dengan Alyssa.


Alkan menatap tidak suka pada Aditya yang kini sudah berjalan mendekat ke arahnya, Kedua sudut bibirnya terangkat sambil mengangkat kedua tangannya yang hendak memeluk Alkanna. Namun hal itu terhenti karna Alkanna langsung mundur beberapa langkah.


Mendengar itu membuat Aditya mengambil nafas panjang, Ada rasa rindu dari relung hatinya. Rindu akan kebersamaan mereka yang dulu begitu dekat.


Alkan memang memiliki 3 sahabat. Yaitu Reza, Aditya dan juga Aisyah. Persahabatan mereka begitu dekat, Bahkan terlihat seperti saudara.


"Kamu harus dengar penjelasan aku dulu, Al"


"Hah, Penjelasan? Penjelasan apa yang harus saya dengar dari seorang penghianat seperti anda. Saya sudah tidak butuh dengan penjelasan itu" balas Alkan yang masih terdengar sangat dingin.


Lagi-lagi perkataan Alkanna membuat Aditya mengambil nafas, Merasa menyesal dengan rencana yang sudah dia buat sendiri. Padahal sebenarnya ada satu alasan kenapa Aditya melakukan semua itu.


"Aku mohon, Al. Kamu dengarkan dulu penjelasanku, Setelah kamu dengar penjelasan ku, Aku terima jikapun kamu masih mau membenciku" seru Aditya yang terdengar sangat lirih.


"Aku mohon, Kasih aku kesempatan sekali saja untuk menjelaskan semuanya" ulang Adit lagi.


Setelah cukup lama terdiam, Akhirnya Alkanna kembali mengeluarkan suara dinginnya"Baiklah, Cepat! Waktumu hanya 10 menit, Tidak lebih"balas Alkanna lagi yang masih dengan nada dinginnya.


"Terimakasih, Al. Terimakasih karna kamu masih mau memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya"

__ADS_1


"Cepat! Sebelum aku berubah pikiran"


"Jadi begini, Sebenarnya aku melakukan hal itu karna aku mau menyelamatkan kamu dari wanita ular seperti Alyssa. Dia wanita yang tidak pantas buat kamu, Al" terang Adit sambil menatap Alkannna.


Mendengar itu membuat Alkanna terkekeh"Lalu maksud kamu dia lebih pantas bersamamu, Begitu?" jawab Alkanna sambil melirik sekilas pada Aditya.


"No. Bukan seperti itu. Kamu dengarkan dulu penjelasan aku, Ada satu hal yang harus kamu tau"


Di saat seperti ini membuat ingatan Aditya kembali pada bayangan di mana tanpa sengaja dia mendengar obrolan Alyssa dengan managernya.


Flashback beberapa waktu yang lalu.


Seperti hari-hati biasa, Setiap pagi Aditya memang akan melakukan olahraga pagi di salah satu taman yang ada di komplek perumahannya. Saat sedang asik menikmati cuaca dingin di pagi itu, Tanpa sengaja Aditya menoleh ke arah samping dimana di sana sedang ada Alyssa bersama dengan managernya. Melihat itu membuat Aditya berjalan mendekat pada mereka berdua.


Namun langkahnya terhenti saat Aditya mendengar Alyssa mengobrol sambil membawa nama Alkanna.


"Apa yang mereka bicarakan" ucap Aditya sambil berjalan sedikit pelan agar bisa mendengar apa yang saat ini sedang di bicarakan oleh Alyssa.


"Aku hamil, Charly" ucap Alyssa pada managernya.


Mendengar perkataan Alyssa membuat orang yang di panggil Charly terkejut"What!! Kok bisa sih Alyssa. Bukan kah selama ini aku sudah memberikan obat kontrasepsi sebelum kamu melayani mereka" ucap Charly dengan raut wajah terkejut


Aditya yang mendengar itu tentu saja merasa semakin penasaran. Apa maksud dari pembicaraan mereka berdua. Terlebih lagi Charly mengatakan melayani mereka. Hal itu tentu saja semakin membuat rasa penasaran Aditya semakin besar. "Apa maksud omongan mereka?" ucapnya sambil terus memperhatikan Alyssa dan juga Charly.


"Iya aku tau, Tapi yang kemaren aku lupa mengkonsumsinya. Soalnya om Bram terlalu buru-buru" jawab Alyssa.


"Lalu kalau sudah begini kita harus bagaimana, Alyssa? Kalau sampai mereka tau kamu hamil tanpa suami, Jangan harap kamu bisa menjadi top model seperti saat ini" seru Charly lagi.


"Lalu aku harus bagaimana, Cherly. Tolong bantu aku" ucapnya


"Dasar bodoh! Tapi wait, Aku punya satu rencana" balas Charly sambil tersenyum licik menatap Alyssa


"Apa itu?"


"Alkanna. Kamu harus bisa menjebak pria itu dan mengatakan jika anak yang ada dalam kandunganmu adalah anaknya"


Mendengar perkataan Charly membuat Alyssa ikut tersenyum licik"Good idea! Kenapa aku gak kepikiran itu ya.

__ADS_1


__ADS_2