Ketika Takdir Yang Memilihku

Ketika Takdir Yang Memilihku
Biarkan kita seperti ini


__ADS_3

Perkataan Alkanna terdengar begitu menyakitkan. Alena memejamkan kedua matanya yang terasa sangat sakit. Kata-kata itu terdengar sangat menusuk hingga ke relung hati.


"Sabar, Alena. Kamu harus kuat, Kamu pasti bisa melewati semua ini. Dia sudah menjadi suamimu, Mau tidak mau kamu harus bisa menahan semuanya. Mulai hari ini dia adalah surga yang harus kamu hormati. Sosok yang akan menjadi imam dunia dan juga akhirat untukmu" ucap Alena dalam batinnya sambil terus memejamkan kedua matanya yang terasa begitu panas.


Tanpa sadar air mata itu meluruh begitu saja. Menangis tanpa suara, Hanya itu yang bisa Alena lakukan untuk saat ini.


Hari sudah semakin gelap, Namun rasanya Alena sangat susah untuk sekedar memejamkan kedua matanya. Perkataan Alkan terus saja terngiang begitu saja.


Semua wanita itu sama. Begitu juga kamu yang mau menikah dengan saya hanya karna harta, Bukan begitu.


Kata-kata itu berhasil mengganggu pikiran Alena. Alena membalikkan tubuhnya dan menatap raut wajah Alkan yang ternyata sudah terlelap dan damai dalam tidur nya. Melihat itu membuat Alena mengusap lembut rambut Alkan.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu kamu, Mas. Kenapa kamu sampai menganggap jika semua wanita itu sama. Kamu salah, Karna aku tidak tergolong wanita yang hanya mementingkan harta, Aku janji, Bagaimanapun perlakuan kamu terhadapku, Aku akan berusaha memberikan cinta yang seharusnya aku berikan untuk mu" ucap Alena pelan sambil membelai rambut Alkanna.


"Maafkan aku, Jika untuk saat ini hatiku masih untuk Kenzo. Tapi aku janji, Cepat atau lambat, Kamu yang akan menjadi pemiliknya. Kamu yang akan mendapatkan cinta dari ku"


"Aku tidak perduli, Apapun yang akan kamu perbuat terhadapku, aku tidak masalah, Karna setelah ijab qobul itu terjadi, Kamu adalah surga yang harus aku perjuangkan" ucap Alena sambil meninggalkan satu kecupan singkat pada kening Alkan.


"Selamat malam, Surgaku. Selamat istirahat, Semoga besok semua nya lebih baik" gumam Alena lagi dan langsung merebahkan kembali tubuhnya.


******


"Kenapa aku malah gak bisa tidur begini ya" ucap Kenzo sambil menatap langit-langit kamarnya.


Bayangan wajah Alena kembali melintas begitu saja"Seandainya saja aku yang tadi siang menikah dengan Alena, Pasti aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia saat ini. kenapa takdirmu begitu rumit ya allah" ucap Kenzo sambil mengacak rambutnya kasar.


Kenzo mengambil ponselnya dan membuka aplikasi galeri. Menatap sebuah foto yang masih tersimpan rapat di sana. "Aku sangat merindukan saat-saat ini, Al. Aku sangat merindukannya" ucap Kenzo sambil terus menatap fotonya bersama dengan Alena yang di ambil beberapa tahun yang lalu.


Ya, Hubungan mereka memang sudah selama itu, Kenzo dan Alena menjalin hubungan kurang lebih sekitar 3 tahun. Mulai dari jaman Alena SMA hingga kuliah semester 4. Namun hubungan itu terpaksa harus berakhir karna permintaan Larisa dan juga mamanya.


"Apa sebenarnya alasan kamu Al. Kenapa waktu itu tiada hujan tiada angin kamu memutuskan hubungan kita" ucap Kenzo pelan.

__ADS_1


Ingatannya kembali pada kejadian enam bulan yang lalu, Lebih tepatnya saat dimana Alena mengatakan hal yang tak pernah Kenzo harapkan.


Flashback enam bulan yang lalu


Seperti hari-hari biasa, Kenzo memang akan mengantar Alena pulang sehabis kuliah. Berhubung hari ini pekerjaan Kenzo cepat kelar, Pria itu lebih cepat datang dari pada hari-hari sebelumnya.


"Hari ini kan hari Anniversary hubungan aku sama Ale yang ke 3 tahun. Aku akan membelikan dia buket dulu deh, Baru setelah itu akau akan mengajak Ale ke tempat favorit kita. Tempat di mana pertama kali kita bertemu dulu" ucap Kenzo sambil melajukan mobilnya.


Kenzo menepikan mobilnya saat melihat sebuah kios bunga di depan sana. Kenzo turun dengan kedua sudut bibir yang terangkat sempurna.


Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna saat melihat bunga Lily. "Mbk, Saya mau bunga lily ini ya" ucap Kenzo pada penjual bunga itu.


"Baik, Mas. Di tunggu sebentar ya"


"Berapa mbk?"


"400 ribu saja mas"


Kenzo memberikan uangnya dan mengambil alih bunga dari penjual itu. Kemudian melajukan kembali mobilnya menuju kampus Alena yang hanya kurang beberapa meter saja.


Tiba-tiba saja ponselnya bendering, Ada sebuah panggilan masuk yang ternyata dari Alena. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya membuat Kenzo tersenyum bahagia.


My Love


📞:Halo sayang. Kamu sudah kelar kan kelasnya? Aku sebentar lagi sampai di kampus kamu.


📞:Aku sudah pulang, Aku sudah sampai di rumah. Oh iya, Aku mau mulai hari ini kita udahan ya, Jangan pernah datang ke kampusku lagi, Jangan pernah hubungin aku lagi. Kita selesai mulai hari ini.


📞:Tunggu, Kamu lagi bercanda kan sayang. Gak lucu ih


📞:Aku serius. Ini bukan candaan. Mulai hari ini, Detik ini. Cerita kita selesai. Maaf jika selama ini aku selalu merepotkan kamu.

__ADS_1


📞:Tapi ke


Tut.... tut.... tut....


Belum sempat Kenzo menyelesaikan perkataannya, Sambungan telepon nya terputus begitu saja, Hatinya terasa sangat sakit saat mendengar kalimat yang terlontar dari Alena.


"Ini pasti mimpi, Iya, Aku pasti sedang bermimpi" ucap Kenzo sambil menepuk kedua pipinya yang terasa sakit.


"Ini kenyataan, Astaga, Ada apa ini, Kenapa Alena memutuskan hubungan kita tanpa alasan yang jelas"


Semenjak hari itu, Kenzo tak lagi pernah bertemu dengan Alena, Atau lebih tepatnya Alena yang selalu menghindar.


Mengingat itu tanpa sadar air mata Kenzo meluruh begitu saja, Hatinya masih terasa sangat sakit saat teringat akan hubungannya dengan Alena yang berakhir tanpa alasan yang jelas.


"Sebenarnya apa alasan kamu mengakhiri hubungan kita, Al. Dari sorot kedua matamu waktu itu membuat mengerti, Jika sebenarnya kamu masih sangat mencintai ku. Lalu kenapa kamu memutuskan hubungan kita" ucap Kenzo lagi.


****


Tanpa terasa malam sudah berlalu begitu saja. Pagi datang, Alena menggeliat pelan saat merasakan sinar matahari sudah mulai mengusik tidurnya.


"Eeuuumm, Ternyata sudah pagi" ucapnya sambil mengerjab untuk beberapa saat.


Keningnya mengerut kecil saat menyadari ada sebuah tangan kekar yang melingkar di perutnya. Alena menoleh dan menatap raut wajah Alkan yang masih terlihat sangat lelap dalam tidurnya.


Setelah cukup puas menatap wajah Alkan, Alena mencoba melepaskan pelukan itu, Namun bukan nya terlepas, Alkan malah menarik tangan Alena dan membuat posisi mereka semakin dekat.


"Kak, Aku gak bisa nafas" ucap Alena sambil menatap Alkana.


"Biarkan kita seperti ini untuk beberapa saat" ucap Alkan yang terdengar sangat lembut.


Mendengar itu membuat Alena membulatkan kedua matanya, Apa Alena tidak salah dengar. "Apa aku tidak salah dengar" ucap Alena dalam batinnya

__ADS_1


__ADS_2