Ketika Takdir Yang Memilihku

Ketika Takdir Yang Memilihku
Menunggu datangnya pelangi


__ADS_3

"Astaga, Cobaan apa ini" ucap Alkan dalam batinnya sambil terus menatap Alena yang saat ini sedang sibuk mencari baju ganti miliknya.


"Kemana baju itu ya" ucap Alena saat tak menemukan baju piyama miliknya.


"Sudah belum ganti bajunya?" tanya Alkan pada Alena.


"Belum, Kak. Baju piyama milikku gak ada, Apa aku lupa tidak membawanya ya. Duh bagaimana ini" balas Alena yang terlihat sangat bingung.


"Pakai saja piyama milikku"


"Hah! Aku pakai piyama milik kak Alkan?"


"Hmm, Memangnya kamu gak bisa dengar. Cepat! saya sudah kelaparan" ucap Alkan dingin.


Alena tak menjawab, Wanita itu hanya mengambil satu stel piyama milik Alkan dan menggunakan piyama milik pria itu di dalam kamar mandi.


Setelah selesai menggunakan baju, Alena keluar dengan rambut yang masih terlihat basah. Sebelum keluar dari dalam kamar, Alena masih mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hairdryer.


"Cepat Alena, Saya sudah sangat lapar. Kamu mau saya cepat mati karna kelaparan, Begitu" ucap Alkan lagi.


Mendengar itu membuat Alena meletakkan kembali hairdryer itu, Padahal rambutnya masih setengah basah. Mau tidak mau Alena turun ke bawah untuk membuatkan makanan sesuai yang Alkan mau. Makanan dengan menu seperti tadi pagi. Makanan yang Alena katana sebagai masakan asisten rumah tangga di sana.


Langkah Alena terhenti saat suara Alkan kembali menerpa indra pendengaran nya. "Bilang sama bibi, Saya mau makanan yang seperti tadi pagi" ucap Alkan yang terdengar dingin.


"Iya, Kak. Akan aku sampaikan sama bibi. Tunggu sebentar ya kak, Maaf kalau aku sudah membuat kak Alkan kelaparan karna lama menunggu" ucap Alena dan langsung melangkah kan kakinya keluar dari dalam kamar Alkan.


"Hmmm" hanya kata itu yang keluar dari mulut Alkan..


Alena mengambil nafas sejenak sambil kembali melangkah kan kakinya. Saat Alena sudah tiba di luar, Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Kenzo yang juga baru saja keluar dari dalam kamar. Karna Kenzo ingin membuat segelas kopi hitam untuk menemani lemburnya malam ini seperti biasa.


Melihat Alena keluar dari dalam kamar Alkan dengan menggunakan baju piyama milik Alkan, Kenzo menatapnya sejenak, Jantungnya berdenyut nyeri. Apalagi saat melihat rambut Alena masih setengah basah.

__ADS_1


"Apa mereka sudah melakukan hal itu" batin Kenzo sambil terus menatap Alena dengan hati yang luka.


Sedangkan Alena, Wanita itu terdiam. Jujur saja, Hingga detik ini dia masih sangat mencintai Kenzo. Sosok pria yang menjadi cinta pertama setelah ayahnya.


"Kak, Kenzo. Aku mencintaimu, Tapi mau bagaimanapun, Aku harus bisa melupakan semua tentang kita, Aku harus membuang jauh-jauh bayangan semua kenangan masa lalu kita" ucap Alena dalam batinnya.


Kenzo melirik ke arah sekitar dan memastikan jika di sana tidak ada siapa-siapa. Setelah itu, Kenzo mendekat pada Alena dan mengambil tangannya.


"Aku mencintaimu, Al. Aku masih sangat mencintaimu" ucap Kenzo pada Alena.


Alena tertegun saat melihat Kenzo menggenggam tangannya. Genggaman itu masih terasa sehangat dulu.


"Tolong jangan seperti ini, Kak. Lupakan aku, Karna aku juga sudah melupakan semua tentang masalalu kita yang tak seharusnya di ingat. Karna saat ini status kita sudah berubah" ucap Alena sambil menarik tangannya dari genggaman Kenzo.


Setelah itu, Alena melangkahkan kakinya menjauh dari hadapan Kenzo. Namun langkahnya terhenti saat suara Kenzo menerpa indra pendengaran nya.


"Bagaimana aku bisa melupakan semua tentang kita, Al. Sedangkan setiap hari kita selalu bertemu seperti ini. Jujur, Keadaan ini semakin membuat aku sulit untuk melupakan semua tentang kita. Kamu masih menjadi pemilik nya, Al" ucap Kenzo yang terdengar sangat lirih.


Kenzo hanya bisa menatap kepergian Alena, Ada rasa rindu yang begitu mendalam dari relung hatinya.


Setelah Alena sampai di bawah, Wanita itu mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat keberadaan kedua mertuanya.


Begitu juga Sinta dan Arseno yang sudah saling lirik sambil mengulum bibirnya. Apalagi saat ini Alena menggunakan piyama milik Alkan.


"Sayang, Suamimu mana?" tanya Sinta pada Alena


"Kak Alkan ada di atas ma, Dia gak mau turun. Katanya minta di bawakan makan ke sana. Ale masak dulu ya ma, Soalnya kak Alkan mau makanan yang kayak tadi pagi"


"Iya sayang"


20 Menit kemudian. Alena sudah selesai memasak makanan seperti yang dia buat pagi tadi"Akhirnya selesai" ucapnya sambil menaruh makanan itu di atas nampan di tangannya.

__ADS_1


*******


"Di mana aku harus mencari tahu tentang keberadaan anakku" ucap Bryan sambil mengacak kasar rambutnya.


Ada rasa menyesal yang begitu dalam dari relung hatinya, Menyesal karna dulu sudah lari dari tanggung jawab yang seharusnya dia berikan pada Larisa.


"Bagaimanapun caranya, Aku harus bisa menemukan anak itu. Tapi bagaimana jika dia beneran sudah meninggal" ucapnya lagi.


Setelah itu, Bryan mengambil ponselnya, Menghubungi seorang detektif untuk mencari tau tentang anaknya.


Tak butuh waktu lama, Orang di ujung telpon sudah menjawab panggilannya.


📲:Halo tuan, Ada yang bisa saya bantu?


📲:Saya mau kamu mencari tahu tentang anak saya. Untuk info selengkapnya, Kita bertemu saja besok siang


📲:Baiklah, Tuan.


Setelah sambungan telpon terputus, Bryan merebahkan tubuhnya, Mencoba memadamkan kedua matanya yang masih terasa susah.


******


Tanpa terasa malam sudah berlalu, Pagi ini Alena bangun lebih dulu karna memang harus berangkat ke kampus lebih awal. Hari ini ada beberapa praktek yang harus Alena lakukan.


"Kak, Aku pamit mau ke kampus, Ya. Kemungkinan hari ini aku pulangnya agak malam" ucap Alena sambil mencium punggung tangan Alkan.


"Mau kamu gak pulang sekalipun, Saya gak perduli" balasnya dingin.


Mendengar itu membuat Alena mengambil nafas pelan"Sabar, Alena. Kamu harus sabar menghadapinya, Bukan kah kamu sendiri yang sudah memutuskan untuk menerimanya. Jadi kamu harus Terima semua konsekuensi ini. Percaya, Suatu saat nanti pasti akan ada pelangi dalam pernikahan ini. Meskipun aku tidak tau seberapa lama harus menunggu datangnya pelangi" ucap Alena dalam batinnya


"Aku berangkat, Kak. Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam" balas Alkan yang terdengar dingin.


__ADS_2