
"Mbk. Saya minta gaun yang ini ya, Gaun ini sangat cantik. Pas di tubuh calon menantu saya. Coba liat, Menantu saya terlihat sangat sempurna bukan" ucap mama Sinta sambil terus menatapku.
Aku hanya tersenyum kecut. Antara bahagia atau nggk. Pasalnya, Aku akan menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai. Dan parahnya, Pria itu adalah kakak dari mantan kekasih yang hingga detik ini masih begitu aku cintai.
Tak lama kemudian, Mama Lina yang mungkin memahami ekspresi langsung berjalan ke arahku. Membisikkan sesuatu yang membuat aku harus mengambil nafas pelan.
Jangan hanya tersenyum kecut seperti itu. Kamu harus terlihat sangat bahagia. Ingat hidup dan mati ayah kamu ada di tangan mu. Jadi, Turuti apa yang saya minta
Kata-kata itu tentu saja langsung mampu membuat kedua mataku terasa sangat panas. Bagaimana tidak, Ayah yang selalu dia jadikan umpan untuk mengancamku. Mengancam atas hal yang selalu dia inginkan.
Jujur saja, Rasanya aku sudah sangat lelah dengan semua drama ini, Tapi mau tidak mau aku harus kuat, Kuat demi ayah dan juga kuliahku yang masih di tengah jalan.
"Iya, Ma. Mama tenang saja, Ale akan melakukan apa yang mama Minta" balasku pelan dan hanya bisa terdengar oleh mama.
"Ada apa jeng? " tanya mama Sinta pada mama Lina.
"Oh nggk apa-apa kok jeng. Ini tadi saya hanya membenarkan rambut Ale saja" jawabnya dan langsung kembali duduk di sofa yang ada di sana.
Tak berselang lama, Kak Alkan yang baru saja sudah di ganti pakaian dengan setelan jas berwarna putih keluar dari ruangan sebelah, Kedua mataku di buat terpukau melihatnya yang memang terlihat sangat tampan, Bahkan dia lebih tampan dari pada kak Kenzo. Sayangnya, Dia harus kehilangan penglihatannya atas sebab yang masih belum aku ketahui.
"MasyaAllah, dia bukan hanya tampan, tapi tampan sekali. mungkin dulu dia adalah laki-laki sempurna yang menjadi incaran semua wanita" batin ku sambil terus menatap Alkana
__ADS_1
Setelah itu, Mama manarik tanganku dan memintaku untuk berdiri lebih dekat dengan kak Alkan"Ya ampun, Kalian cocok sekali. Clop banget loh" ucap mama Sinta sambil tersenyum.
"Iya loh jeng, Alena sama Alkan serasi banget ya" timpal mama Lina yang ikut berkomentar
"Iya dong jeng. Alena ini memang pas buat menjadi pendamping Alkan. Yang satu tampan, Yang satunya cantik" seru mama Sinta lagi.
Tanpa aku sadari, Ternyata sudah lebih satu jam ada di butik itu mencoba beberapa gaun serta kebaya untuk di gunakan saat acara ijab qobul. Aku tidak tau seperti apa pesta yang sudah mama Sinta rencanakan, Namun saat melihat gaun serta kebaya yang dia beli, Membuatku menyimpulkan pasti pestanya akan sangat meriah. Sultan mah bebas kan ya.
"Ma, Aku tidak langsung pulang ya, Alena masih mau menjenguk ayah sebentar" ucapku yang sengaja mengatakan itu di depan mama Sinta. Karna aku tau kalau aku mengatakan di saat sudah tidak ada mama Sinta, Bisa saja mama Lina akan melarang ku untuk menjenguk ayah, Dengan alasan aku harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang pagi tadi tidak sempat aku lakukan.
"Iya boleh sayang, Mama langsung pulang ya" balas mama yang terdengar sangat manis.
Padahal aku tau kenapa dia berkata semanis itu, Pasti karna saat ini sedang ada mama Sinta di antara kami. Astaga, Sayang, Ada angin apa mama tiriku berbicara selembut itu.
Mendengar hal itu membuatku mengepalkan kuat kedua tangan ku. Jadi selama ini mama Lina mengatakan pada teman-temannya jika suaminya sudah meninggal. Itu sama saja dia mengatakan jika ayahku sudah tiada.
Ingin rasanya aku memberi perhitungan pada mama Lina, Tapi aku masih berusaha menahan semua ini demi ayah, Demi orang tua satu-satunya yang masih aku miliki.
"Kita lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan, Ma. Setelah ayah sadar, Ale pastikan jika mama dan juga kak Larisa akan merasakan apa yang sudah kalian lakukan terhadap ku selama ini" batin ku sambil menatap ke lain arah.
Karna mama Lina memberikan aku ijin, Dengan langkah lebar aku segera keluar dari butik itu, Sebelum mama Lina berubah pikiran.
__ADS_1
Aku memesan ojek online seperti biasanya, Karna memang uang yang aku miliki tak cukup untuk ongkos ke rumah sakit dan juga ongkos pulang. Tak butuh waktu lama, Tukang ojek itu pun datang.
"Sesuai aplikasi ya pak" ucapku sambil memasang helm.
"Siap neng"
Sore ini jalanan tidak terlalu macet. Sehingga jalanku menuju rumah sakit bisa di bilang mulus tanpa ada halangan. Sudah satu minggu lamanya aku belum me jenguk ayah, Terakhir hanya saat di mana aku harus berakhir tidak makan selama dua hari karna sudah menantang apa yang mama larang.
Mengingat hal itu membuatku menaruh rasa benci pada mama Lina dan juga kak Larisa. Sosok yang dulu begitu baik seketika berubah menjadi jahat hanya karna harta.
20 Menit kemudian, Aku sudah tiba di rumah sakit GAJAH MADA. Salah satu rumah sakit terbesar di tempatku. Aku masuk ke dalam rumah sakit itu dengan langkah yang cukup lebar, Dengan tujuan agar segera sampai di kamar ayah yang ada di lantai dua.
Setelah tiba di sana, Aku menatap wajah ayah yang masih setia menutup erat kedua matanya. Aku pun duduk sambil menggenggam tangan ayah erat.
"Ayah, Sadarlah yah. Ale sangat membutuhkan ayah, Ale mohon sadar demi Ale yah. Ale kesepian, Ale tersiksa" ucapku sambil terus menatap ayah dan menggenggam tangannya.
Melihat keadaan ayah seperti itu membuat dadaku terasa sangat sesak, Seakan pasokan oksigen itu sangat susah untuk sekedar masuk dan menembus pada ronggaku.
Bayangan masa lalu saat aku masih bisa merasakan kasih sayang dari ayah dan juga bunda melintas begitu saja, Aku sungguh sangat merindukan saat-saat itu. Saat dimana hidupku masih terasa begitu sempurna. Seperti tidak ada celah sedikitpun.
"Ayah, Alena harus apa? Apa yang harus Alena lakukan agar mama Lina serta kak Larisa tak selalu mengancam ku dengan mencabut semua alat-alat ini. Kenapa ayah harus menuliskan semua wasiat atas nama mama Lina" ucapku lagi.
__ADS_1
Aku mengambil nafas panjang saat teringat akan surat wasiat uang yang waktu itu pernah mama Lina tunjukkan padaku. Apa memang iya selama ini ayah sudah tidak sayang aku lagi