
Setelah cukup lama di sana. Kenzo membawa Alena masuk ke dalam mobilnya. Tubuhnya membiru serta gemetar, Ini pasti karna Alena sudah terlalu lama ada di bawah derasnya hujan.
"Kita pulang sekarang. Tubuh kamu dingin sekali, Al" ucap Kenzo sambil membawa tubuh wanita itu masuk dalam mobilnya. Alena hanya terdiam tanpa menjawab sepatah katapun dari perkataan Kenzo.
Mobil hitam itupun melesat membelah jalan malam ini dengan kecepatan tinggi. Di bawah rintik hujan yang masih menyiram bumi malam ini.
"Kak, Tolong jangan mengatakan apa-apa pada siapapun atas apa yang hari ini kamu ketahui" seru Alena dengan suara seraknya"Kenapa memangnya?" Kenzo sedikit melirik pada Alena dengan kening yang sedikit mengerut.
"Tidak perlu ada yang tau soal ini" lanjutnya lagi"Baiklah. Tapi satu hal hang harus kamu ingat, Ada aku yang akan selalu ada untuk menjadi tempat kamu berbagi. Karna untuk saat ini kita adalah keluarga"
Alena tak lagi menjawab perkataan Kenzo. Wanita itu hanya menatap jalanan dari arah jendela. Memainkan air yang ada di sana. Hatinya benar-benar terluka saat mendengar jika sang ayah sama sekali tidak bisa mengingatnya.
"Kenapa ayah harus lupa akan Alena. Kenapa yah" batin Alena yang terdengar sangat lirih.
Kenzo hanya melirik Alena dari kaca spion, Pria itu memilih untuk diam tak lagi banyak bertanya, Apalagi saat mengingat kejadian yang dia lihat tadi siang. Hal itu sudah membuat Kenzo paham apa yang saat ini sedang Alena rasakan.
"Kasian kamu Alena. Kenapa takdir yang di gariskan untukmu begitu rumit, Semoga suatu saat ada kesempatan untuk aku memberikan kebahagiaan yang tak pernah kamu dapatkan. Jujur saja, Melihat kamu seperti ini hatiku juga ikut merasa luka. Sakit tapi aku tak bisa apa-apa. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam dan menyaksikan segalanya. Seandainya saja saat ini kamu bukan istri dari kakakku, Mungkin aku sudah membawa kamu pergi jauh"batin Kenzo sambil terus menatap Alena dari kaca spion.
40 Menit kemudian, Mobil itu sudah tiba di mansion keluarga Mera. Kenzo menghentikan mobilnya dan menekan klakson karna pagar rumah masih tertutup.
Hingga tak lama kemudian, Penjaga rumah datang dan membukakan pintu pagarnya.
"Terimakasih, Pak" ucap Kenzo sopan seperti biasanya. .
__ADS_1
Kenzo memang memiliki sedikit kepribadian yang berbeda dengan Alkan. Jika Alkan lebih bersikap sedikit dingin dan cukup irit bicara kecuali orang yang cukup dekat dengannya. Berbeda dengan Kenzo yang selalu bersikap hangat kepada siapapun. Bahkan terhadap asisten dan juga penjaga rumah di sana.
"Terimakasih pak" ujarnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya seperti biasa
"Sama-sama den Kenzo" balas penjaga rumah itu.
Setelah itu, Kenzo memarkirkan mobilnya di tempat biasnya. Pria itu menoleh ke arah Alena yang ternyata sudah tertidur. Sejenak Kenzo menatap wajah wanita itu, Kedua matanya terlihat sangat sembab, Kedua tangannya juga terasa sangat dingin.
"Jangan pernah merasa sendiri, Al. Karna aku akan selalu ada buat kamu, Aku akan selalu siap untuk menjadi tempat mu berbagi rasa sakit itu" ucapnya sambil mengusap pelan rambut Alena. Menyibak beberapa anak-anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
Setelah cukup lama menatap wajah Alena, Akhirnya Kenzo turun dari dalam mobilnya, Menggendong tubuh Alena dan membawa masuk ke dalam rumahnya. Setelah sampai di dalam rumah, Arseno dan juga Sinta yang melihat kedatangan Kenzo sambil menggendong Alena tentu saja merasa penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada anak menantunya. Pasalnya, Mereka berdua pulang dengan baju yang masih basah tentunya.
"Astaga, Apa yang terjadi pada Alena, Ken?" tanya Sinta sambil berjalan mendekat pada Kenzo.
"Alena tadi kehujanan ma, Sekarang dia sudah ketiduran. Mungkin karna Alena kedinginan. Coba mama lihat, Badannya sangat dingin, Bibirnya juga membiru" seru Kenzo sambil terus membawa tubuh Alena menyusuri setiap anak-anak tangga di sana.
Kenzo masuk dan langsung menidurkan tubuh Alena di atas sofa panjang di sana. Tiba-tiba saja suhu tubuhnya berubah menjadi panas.
"Astaga, Ma. Alena demam. Lebih baik sekarang mama ganti bajunya Alena, Ini pasti karna dia masuk angin" ucap Kenzo sambil menatap mama dan juga papanya.
"Biar mama minta Alkan buat mengganti pakaian Alena" ucap Sinta dan langsung berjalan menuju tempat tidur Alkanna serta langsung membangunkan pria itu.
Sedangkan Kenzo yang mendengar perkataan mamanya seketika mengusap dada kirinya yang terasa begitu nyeri"Kenapa rasanya harus sesakit ini. Ya allah, Rasanya aku tidak sanggup" batinnya dan memutuskan untuk keluar dari sana.
__ADS_1
"Kenzo ganti baju dulu ma, Pa" seru Kenzo di sela langkahnya.
Arseno hanya mengangguk sambil menatap ke arah Sinta yang sedang berusaha membangunkan Alkanna.
"Al, Bangun. Al ayo bangun" ucap Sinta sambil menepuk pipi Alkanna yang masih terlihat sangat nyenyak.
Setelah beberapa kali membangunkan, Akhirnya Alkanna membuka kedua matanya. Pria itu mengerjab beberapa saat untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada indra penglihatannya.
"Iya, Ma. Ada apa mama bangunin Al?" tanya nya dengan suara seraknya.
"Bangun dan tolong ganti kan baju Alena. Dia kehujanan dan sekarang demam karna masuk angin"
"Apa!!" balas Alkan sambil menoleh ke arah sofa
"Kamu liat, Istri kamu kehujanan kamu malah enak-enakan tidur di sini. Apa kamu tidak ada rasa kasihan sedikitpun. Ingat nak, Yang namanya penyesalan tidak akan datang di awal. Jadi mama mohon, Bersikap baiklah sedikit saja pada Alena, Perlakukan dia sebagai mana semestinya" ucap Sinta sambil mengusap kepala Alkanna.
Mendengar itu membuat Alkanna menoleh pada sang mama"Mengucapkan tak semudah melakukannya ma"
"Iya mama tau. Tapi setidaknya kamu mencoba. Jangan biarkan dirimu merasakan penyesalan untuk yang ke dua kalinya. Sekarang tolong kamu ganti bajunya Alena, Kasian dia kedinginan"
"What! Kenapa harus aku sih ma? Kan ada mama. Kenapa gak mama saja yang mengganti pakaiannya Alena" protes Alkan pada mamanya.
"Apa salahnya. Kamu itu adalah suaminya, Jadi sudah sewajarnya kamu menggantikan baju istri kamu. Mama sudah si tunggu papa di bawah, Ada hal penting yang harus kita bicarakan" ucap Sinta dan langsung pergi dari sana. Meninggalkan Alkanna yang mau tidak mau harus menggantikan pakaian Alena yang basah.
__ADS_1
"Merepotkan saja" umpatnya sambil bangun dari duduknya. Berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian Alena.
Sejenak Alkan menatap wajah wanita itu. Tangannya di angkat lalu di tempelkan pada kening Alena yang terasa panas. "Ternyata benar apa kata mama, Alena demam. Dan ini panas sekali"