Ketika Takdir Yang Memilihku

Ketika Takdir Yang Memilihku
Mereka


__ADS_3

"Jika aku perhatikan, Seperti nya mas Alkan sudah bisa melihat. Buktinya dia bisa keluar sendiri tanpa bantuan siapapun. Apa yang sebenarnya sedang dia sembunyikan" ucap Alena dalam batinnya sambil terus menatap Alkan yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan.


"Bagaimana hasil pemeriksaan nya, Mas?" tanya Alena sambil mendekat pada Alkan.


Namun Alkan tak menjawab pertanyaan Alena, Pria itu masih diam dan tak menunjukkan ekspresi apapun. Datar dan dingin.


"Mas, Kenapa kamu gak jawab pertanyaan aku?" ucap Alena lagi sambil berjalan mengikuti Alkan.


"Mas"


Alkan menghentikan langkah nya"Bisa gak jadi orang tidak usah banyak ngomong. Saya itu tidak suka mendengar suara kamu. Jangan bicara kalau saya tidak mengajakmu bicara, Bisa kan!" bentak Alkan pada Alena.


Mendengar itu membuat Alena terdiam. Apa salah jika dirinya ingin tau bagaimana hasil pemeriksaan dari suaminya sendiri.


"Maafkan aku mas"


Alena menundukkan wajahnya, Entah kenapa setiap perkataan Alkan yang dia dengar terasa begitu menyakitkan.


Mereka menyusuri setiap koridor hanya dengan keheningan. Alena tak lagi banyak bertanya. Wanita itu hanya berjalan pelan mengimbangi langkah Alkan.


Saat sudah sampai di parkiran, Alkan mengatakan jika mereka tak akan langsung pulang, Entah kemana Alkan akan membawa Alena, Tapi yang pasti, Alkan mengatakan untuk pergi ke suatu tempat yang biasa dia kunjungi. .


"Pak, Jangan langsung pulang. Kita ke tempat biasa dulu" titah Alkan pada supir yang selalu mengantarnya.


Biarpun penasaran, Alena berusaha untuk tidak bertanya. Memendam rasa penasaran itu sendiri. Karna Alena takut nanti Alkan akan memberikan jawaban yang justru melukai perasaannya lagi.


Mobil itu melesat keluar dari gedung rumah sakit. Entah kemana Alkan akan pergi kali ini. "Sebenarnya kak Alkan mau kemana," Batinnya


Pagi ini jalanan tidak terlalu padat, Alena menatap ke luar jendela sambil memperhatikan jalanan serta kendaraan yang berlalu-lalang di samping mobil Alkan.


Hingga tak sengaja Alena menatap sosok yang tak begitu asing pada indra penglihatannya, Kedua mata Alena memicing saat melihat sosok itu di lampu merah.


"Orang itu, Bukan kan dia sosok yang dulu pernah di duga pembunuh bunda. Jadi dia sudah bebas" batin Alena sambil terus menatap orang itu.

__ADS_1


"Pak, Saya keluar sebentar ya, Ada urusan penting yang harus saya urus" ucapnya dan membuka pintu mobil Alkanna.


Namun langkahnya terhenti saat suara dingin Alkan menyapu indra pendengaran nya.


"Kalau sampai kamu keluar dari mobil ini, Saya pastikan, Kamu akan jalan kaki pulang ke rumah" serunya dingin.


"Tapi, Mas. Ada hal yang harus aku lakukan"


"Saya tidak suka di bantah. Kalau saya bilang A ya A. Kecuali kamu sudah siap untuk jalan kaki dari tempat ini ke rumah"


Alena mengambil nafas panjang, Karna tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali diam. "Apa aku masih bisa melihat orang itu lagi, Ya. Aku hanya ingin tau apa alasan dia melakukan itu sama Bunda, Apa sebenarnya maksud dia sampai menaruh racun itu" ujar Alena dalam batinnya.


"Pak, Nanti kalau ada mini market kita berhenti sebentar, Saya mau membeli beberapa oleh-oleh buat mereka" ucap Alkan pada pak Iwan. Supir pribadi Alkan semenjak dia kecelakaan dan di nyatakan buta oleh dokter.


"Siap tuan muda. Nanti saya akan mampir di minimarket biasa"


"Oleh-oleh untuk mereka, Sebenarnya kemana ini akan pergi. Kenapa mas Alkan masih mau membeli oleh-oleh. Buat siapa?" batin Alena sambil melirik sekilas pada Alkan.


******


"Woy, Kenapa lho Ken? Gue perhatian dari tadi kayaknya bengong mulu. Awas kesambet sama jin penunggang tempat ini"


Suara itu membuat Kenzo yang sejak tadi terdiam seketika langsung terkejut "Apaan sih Dil, Gak jelas banget tau gak. Dateng-dateng main ngagetin orang aja" balasnya sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Lagian elo, Gue perhatiin dari tadi diem bae. Ada apa sih Ken? Masih tentang Alena?" tanya Fadil pada Kenzo.


Kenzo menoleh pada Fadil, Sejenak pria itu mengambil nafas panjang dan membuangnya kasar"Tanpa gue jelaskan, Lho pasti tau apa yang saat ini sedang gue rasakan" jawabnya yang terdengar sangat lirih.


Fadil mendekat sambil menepuk pelan pundak Kenzo."Gue tau itu berat dan sulit, Ken. Tapi mau gak mau, Bisa gak bisa, Lho harus melupakan Alena. Karna mau bagaimana pun, Saat ini status kalian sudah berbeda. Alena bukan lagi wanitamu, Tapi dia sudah menjadi milik pria lain. Pria yang tak lain adalah kakak lho sendiri"ujarnya pelan.


"Bagaimana bisa gue melupakan Alena, Dil. Sedangkan setiap hari gue akan selalu bertemu dengan Alena di rumah. Gue harus apa?" seru Kenzo sambil mengacak kasar rambut nya.


"Satu hal yang harus lho lakukan saat ini, Ken"

__ADS_1


"Apa? Kasih tau gue bagaimana caranya? "


"Move on, Kalau lho move on dari Alena, Lho gak akan pernah lagi merasakan luka"


"Susah, Dil. Sangat susah buat gue melupakan wanita seperti Alena. Buat gue, Alena segalanya. Alena hidup dan matiku" ucap Kenzo yang terdengar sangat lirih.


Mendengar itu membuat Fadil terkekeh"Elah, Gak usah pakek bilang hidup dan mati. Dia itu sudah menjadi kakak ipar lo Ken. Lo harus bisa membuang perasaan yang tak seharusnya ada"ucap Fadil dan langsung berlalu dari hadapan Kenzo.


"Karna mengatakan tak semudah melakukan. Kalau gue bisa, Sudah dari kemarin-kemarin gue lakukan itu"


****


Alena menatap sekeliling tempat itu, Sebuah tempat yang terlihat begitu asri, Berbagai tanaman hias serta pepohonan tertanam di sana. Sangat menyegarkan mata.


"Tempat apa ini. Kenapa tempat ini terlihat begitu nyaman. Cuacanya sangat sejuk"


Lagi-lagi Alena hanya bermonolog dalam batinnya. Tak ingin membuka suara sebelum Alkan mengajaknya untuk berbicara.


"Tuan muda, Mereka sudah menunggu di tempat biasa" ucap pak Iwan setelah kembali ke mobil.


"Baiklah, Tolong bawa barang-barang yang sudah kita beli ya, Pak"


"Siap, Tuan muda"


"Dan kamu Alena. Nanti jangan lupa bagikan apa yang tadi sudah kita beli sama mereka"


"Mereka siapa, Mas?"


"Anak-anakku"


Kalimat itu membuat Alena terdiam untuk beberapa saat, Keningnya mengerut kecil saat mendengar Alkan menyebut kata anak-anakku. Apa maksud dari perkataan Alkan? Bukan kah selama ini Alkan tidak pernah menikah. Lalu mereka?


"Anak-anak. Maksudnya bagaimana, Mas?Aku tidak paham"

__ADS_1


"Nanti kamu akan tau, Mereka adalah anak-anakku"


__ADS_2