
"Kak K e n z o" Ucapku sambil menatap kedua bola matanya.
Sudah cukup lama aku tidak menatap kedua bola mata indah itu. Melihat itu membuat jantungku berdetak sangat cepat. Bahkan detak jantung itu masih tetap sama seperti beberapa bulan yang lalu. Apa ini artinya cintaku padanya masih sebesar itu.
Jujur saja, Memang sampai detik ini aku belum bisa melupakannya. Mengingat hubungan kami harus berakhir bukan atas dasar kemauan ku, Melainkan atas dasar keterpaksaan ku.
Bagaimana bisa aku melupakannya dengan muda, Sedangkan kak Kenzo adalah laki-laki pertama yang sudah membuat aku merasakan apa itu cinta. Kak Kenzo adalah cinta pertama ku.
"Alena, Aku sangat merindukan mu. Akhirnya kita bisa bertemu dan sedekat ini. Setelah sekian lama Aku harus memendam rasa rindu. Akhirnya hari aku bisa melihat kamu dengan jarak yang begitu dekat" ucap kak Kenzo sambil membuka tangannya dan hendak memelukku.
Namun dengan cepat aku berjalan mundur untuk beberapa langkah "Tahan, Kak. Jangan pernah memeluk aku, Karna kita hanyalah masa lalu" ucapku sambil menatap kak Kenzo.
Perkataan ku membuat kak Kenzo mengambil nafas panjang, Tatapannya masih terus menatapku. Seakan dia menunjukkan jika sedang menyimpan rasa rindu yang begitu dalam.
"Kenapa, Al? Aku sangat merindukan kamu. Aku benar-benar merindukan kamu, Al. Tolong biarkan aku memelukmu walaupun hanya sesaat" ucapnya yang terdengar sangat lirih.
"Jangan meminta hal yang tak bisa aku penuhi kak. Sudahlah, Kita hanyalah masa lalu yang harus saling melupakan" ucapku dan langsung berlalu dari hadapan kak Kenzo.
Namun langkahku terhenti saat suara kak Kenzo kembali menerpa indra pendengaran ku.
"Aku mohon Al. Jangan Terima kak Alkan buat jadi suami kamu"
Kata-kata itu membuatku membalikkan tubuhku. Berjalan kembali mendekat pada kak Kenzo yang masih menatapku intens.
"Kak, Tidak ada pilihan lain selain aku merima permintaan mama Lina. Maafkan aku, dan lupakan masa lalu kita kak, Karna semua hanyalah masa lalu yang tak seharusnya kamu ingat" ucapku sambil berusaha menahan rasa rindu yang sebenarnya juga sebesar itu.
"Apa sebenarnya alasan kamu memutuskan hubungan kita, Al. Kamu ninggalin aku tanpa memberitahu penyebab aslinya itu apa, Tolong beritahu aku, Biar aku tak selalu merasa penasaran dengan alasan yang tak pasti" ujar kak Kenzo sambil menatapku sayu.
Aku memilih pergi, Tak menggubris lagi pertanyaannya. Karna percuma juga lama-lama ataupun mengatakan apa alasanku yang sebenarnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami beberapa bulan yang lalu. Tapi yang pasti, Aku juga merasa terluka karna hal itu.
__ADS_1
Aku melangkahkan kakiku dengan berat. Masuk ke dalam ruangan dosen untuk membagikan tugas yang belum sempat aku kumpulkan hari itu.
"Are you oke, Alena?" tanya bu Fiqoh sambil menatapku.
"I am fine, Bu" balasku sambil berusaha tersenyum.
"Saya permisi bu. Assalamu'alaikum"
Setelah itu, Aku melangkah keluar dari ruangan bu Fiqoh. Salah satu dosen yang selama ini selalu memahami keadaan ku.
Tanpa terasa waktu terus berputar, Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 13:45. Aku mengambil nafas panjang, Perkataan mama pagi tadi kembali mengganggu pikiranku. Siang ini aku akan melakukan fitting baju bersama dengan mama dan juga keluarga mera.
Akhirnya dengan langkah lebar aku keluar dari kampus. Memesan ojek online seperti biasa. Namun, Saat aku masih menunggu ojek online itu datang, Tiba-tiba saja ada sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di depanku.
Melihat itu membuatku mengerutkan kecil keningku. Hingga tak berselang lama, Ada seorang supir yang keluar dari mobil mewah itu.
"Iya Pak, Ada apa ya? Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?"balasku sambil menoleh pada supir itu.
"Ayo nona silahkan masuk. Nyonya besar beserta tuan muda sudah menunggu anda" ucapnya lagi.
Mendengar itu membuatku paham siapa supir ini. Dia pasti supir dari keluarga mera yang di minta untuk menjemput ku.
"Iya, Pak"
Saat aku sudah masuk ke dalam mobil, Supir itu hanya tersenyum tipis, Kemudian melajukan mobilnya sedang yang entah kemana tujuannya. Tapi yang pasti itu akan menuju ke salah satu tempat yang menjadi tempat Fitting baju hari ini.
30 menit kemudian, Mobil itu sudah tiba di sebuah butik yang terlihat sangat elegan. Dari tempatnya saja sudah terlihat jika itu butik tempat persinggahan orang-orang Sultan.
"Silahkan masuk nona. Mama anda, Nyonya dan juga tuan muda sudah menunggu di dalam" ucap supir itu ramah.
__ADS_1
"Baik, Pak. Terimakasih ya"
Aku keluar dari mobil dan berjalan pelan masuk ke dalam butik itu. Berhenti sejenak sambil memutar tubuhku menatap takjub tempat itu. "Indah sekali butik ini. Benar-benar elegan" batin ku sambil terus menatap setiap sudut tempat itu.
Di saat aku masih sibuk memperhatikan sekeliling serta setiap sudut butik, Tiba-tiba suara yang tak terlalu familiar memanggil namaku.
"Alena, Sayang. Ngapain kamu berdiri di sana? Sini masuk sayang" ucapnya yang terdengar sangat lembut.
Sosok itu berjalan mendekat padaku. Mengangkat kedua tangannya dan langsung memberiku pelukan yang terasa sangat nyaman. Sebuah pelukan yang langsung mengingatkan aku terhadap mendiang bunda. Sosok itu bahkan membuat aku merasa nyaman. Siapa lagi kalau bukan tante Sinta, Calon mama mertuaku.
"Ngapain kamu berdiri di sini, Sayang?Ayo masuk. Kamu langsung cobain gaun yang akan di gunakan saat acara resepsi nanti ya" ucapnya lagi yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengaran ku.
"Iya, Tante. Eh mama" balasku sambil tersenyum. Tante Sinta memang meminta aku untuk memanggilnya dengan sebutan mama.
Kami berdua berjalan beriringan. Masuk ke dalam sebuah ruangan dimana di sana terdapat berbagai model gaun serta kebaya pernikahan. Bagus-bagus sekali. Dan tentunya itu akan sangat mahal. Ada harga, Ada rupa. Begitulah kira-kira.
"Nona, Mari ikut saya untuk mencoba gaun ini"
Mendengar suara itu membuat aku yang sejak tadi fokus menatap setiap gaun yang ada di sana tersadar. "Ah, Iya kak" balasku sambil mengangkat kedua sudut bibirku.
Orang itu mengambil salah satu gaun berwarna putih. Gaun yang menurutku terlihat sangat indah, Satu di antara yang lain, Itu yang membuatku terkesan. Tidak terlalu mewah namun terlihat sangat elegan dan berkelas.
Lima menit kemudian, Aku yang sudah selesai menggunakan gaun itu, Akhirnya keluar dengan langkah yang cukup pelan.
"Masyallah. Calon mantu mama cantik sekali" ucap mama sambil mendekat ke arah ku. Meminta aku untuk memutar tubuhnya.
"Makasih ma" balasku sopan.
"Mbk, Saya minta yang ini ya, Ini benar-benar membuat menantu saya terlihat sangat luar biasa"
__ADS_1