
Mama Sinta terus menatap Alkanna dengan sendu. Kejadian satu tahun yang lalu sudah benar-benar mengubah hidup anaknya.
"Semoga apa yang mama Harapkan bisa menjadi nyata, Al. Mama sangat merindukan sikap kamu yang dulu begitu hangat dan juga penuh samangat. Bukan pesimis kayak gini" ucap Sinta sambil terus menatap Alkanna.
"Alkan sudah kenyang ma, Tolong antar Alkan kekamar"
Sinta menoleh pada makanan Alkan yang masih terlihat banyak. Sama sekali Alkan tidak memakan makanan itu, Pria itu hanya mengaduk tanpa memakannya.
"Sudah kenyang bagaimana, Sayang. Makanan kamu saja belum kamu makan. Kamu hanya mengaduknya saja" ucap Sinta lembut sambil menepuk pundak Alkan pelan.
"Antar Alkan ke kamar ma" balas Alkan yang tak menghiraukan perkataan mamanya.
Di tempat lain
Sudah satu jam lebih Alena di rumah sakit itu, Namun dia masih enggan untuk kembali ke rumah. Alena menatap raut wajah sangat ayah sambil mengambil nafas pelan.
"Ayah, Satu minggu lagi Alena akan menikah, Ayah doakan Ale ya, Semoga ini jalan terbaik buat hidup Alena. Semoga Alena bisa bebas dari kak Larisa dan juga mama yang hanya selalu memanfaatkan Ale" ucap Alena sambil menggenggam tangan Ayahnya.
"Ayah, Berikan Alena restu ya, Alena janji akan melakukan apapun demi ayah"
Setelah itu, Alena mencium punggung tangan ayahnya dan keluar dari ruangan rawat inap sang ayah. "Alena pamit yah. Cepat sadar demi Alena" ucap Alena yang terdengar sangat lirih
Alena keluar dengan langkah yang sangat berat, Menyusuri setiap koridor dengan hati yang terasa sangat pedih. Kedua matanya memanas, Dadanya terasa sangat sesak. Namun sebisa mungkin Alena menahan agar air matanya tidak kembali terjatuh, Namun nyatanya Alena tak sekuat itu. Dia lemah, Dia mudah rapuh.
Setelah keluar dari rumah sakit, Alena memutuskan untuk berjalan kaki. Sore ini cuacanya cukup mendung, Seakan menggambarkan perasaan Alena saat ini.
__ADS_1
Hingga tak berselang lama, Hujan pun mulai turun membasahi kota jakarta. "Yah kok malah hujan" ucapnya sambil mempercepat langkahnya.
Namun saat Alena mau berteduh di halte, Tiba-tiba saja ada sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di samping Alena. Melihat itu membuat Alena mengerutkan kecil keningnya.
"Ini kan mobil kak Kenzo" ucapnya sambil terus menatap mobil itu.
Benar saja, Tak lama kemudian keluar seorang Kenzo dari dalam mobilnya. Membawa sebuah payung dan berjalan ke arah Alena yang masih terdiam mematung di sana.
"Masuklah, Aku akan mengantarmu pulang" ucap Kenzo pada Alena.
"Tidak perlu, Kak. Aku bisa pulang sendiri" balas Alena dan berlalu dari hadapan Kenzo.
Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar tepat di perutnya. Alena menatap tangan kekar itu, Mengambil nafas panjang sejenak lalu mencoba melepaskan tangan Kenzo dari perutnya.
"Lepas, Kak. Tolong jangan seperti ini" ucap Alena sambil mencoba melepaskan pelukan Kenzo yang semakin erat.
"Aku mohon jangan seperti ini, Kak. Lupakan semua tentang kita, Lupa aku. Karna kita hanyalah masa lalu. Apalagi sebentar aku aku akan menjadi kakak ipar mu" ucap Alena pelan.
Namun Kenzo bukannya melepaskan tapi semakin mengeratkan pelukannya"Tapi untuk saat ini masih calon kan. Jadi aku mohon, Biarkan aku menikmati sisa kebersamaan kita. Aku ingin mengulang semua tentang kita. Aku mohon, Al. Untuk kali ini saja. Setelah itu, Aku janji tidak akan menganggu kamu lagi"ucap Kenzo sambil mengeratkan pelukannya pada Alena.
Alena tak menggubris perkataan Kenzo. Wanita itu masih terus berusaha melepaskan tangan Kenzo dari perutnya. "Lupakan semua tentang kita yang hanya sebuah masa lalu, Kak" ucap Alena dan langsung berlalu dari hadapan Kenzo. Meninggal Kenzo yang masih terdiam membeku di sana.
"Sebenarnya apa salahku, Al. Kenapa kamu main putuskan hubungan kita tanpa memberi tahu aku apa alasan yang sebenarnya" gumam Kenzo sambil terus menatap punggung Alena yang sudah menjauh dari tempat itu.
Sedangkan Alena, Setelah berlalu dari hadapan Kenzo, Tangis yang sejak tadi Alena tahan akhirnya berhasil jatuh membasahi kedua pipinya. dadanya benar-benar terasa sangat sesak saat mengingat akan hubungannya dengan Kenzo yang harus berakhir hanya karna permintaan Larisa.
__ADS_1
"Ketahuilah, Kak. Bukan hanya kamu yang luka, Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan kak. Bahkan luka itu lebih dan lebih menyakitkan" ucap Alena di sela langkahnya.
"Selama berbulan-bulan, Aku harus berusaha membuang rasa ini terhadap kamu. Tapi semakin aku berusaha, Rasa itu semakin besar. Kamu masih menjadi pemiliknya. Bagaimana jadinya jika nanti aku akan sering bertemu denganmu kak, Apa aku bisa" ucap Alena lagi.
Hujan semakin deras, Serta hari semakin sore. Alena masih membiarkan tubuhnya di guyur oleh tetesan air hujan yang semakin lebat. Mungkin memang ini adalah cara yang tepat untuk menangis tanpa di sadari oleh orang lain.
"Kenapa rasanya harus sesakit ini. Sakit saat aku harus melupakan sosok yang tak seharusnya aku lupakan" uca Alena sambil mengusap kedua matanya.
*****
Satu minggu sudah berlalu, Hari ini adalah hari di mana yang di tunggu-tunggu oleh semua keluarga Mera. Hari pernikahan antara Alkanna dengan Alena.
Semua tamu undangan sudah duduk di tempatnya masing-masing, Para saksi dan juga penghulu sudah menunggu kedatangan Alena yang masih ada di ruangan rias.
Hingga tak berselang lama, Sosok yang sejak tadi mereka tunggu akhirnya berjalan pelan menyusuri setiap anak-anak tangga di rumah itu. Ada Sinta dan juga Lina yang mendampingi Alena turun dari sana.
Hari ini Alena benar-benar terlihat sangat sempurna, Gaun putih itu melekat indah di tubuhnya. Kalung dengan liontin berlian melingkar indah di leher jenjangnya.
Satu kata yang pas untuk menjabarkan penampilan Alena saat ini, Sempurna. Ya kata itu sangat pas untuk Alena saat ini.
Kenzo yang melihat kedatangan Alena menatapnya tanpa mau berkedip, Sosok yang seharusnya menjadi miliknya hari ini akan menjadi milik pria lain. Pria yang tak lain adalah saudaranya sendiri.
Melihat itu membuat dada Kenzo terasa berdenyut nyeri, Sakit atas apa yang ada di hadapannya saat ini. Menjadi saksi pernikahan antara saudaranya dengan wanita yang begitu dia cintai.
"Kenapa hubungan kita harus berakhir menjadi kakak dan adik ipar, Al. Kenapa kamu harus menjadi istri dari kakakku" batin Kenzo yang terdengar sangat lirih.
__ADS_1
Berbeda dengan Alkan, Saat ini pria itu masih menunjukkan wajah datarnya tanpa menunjukkan ekspresi apapun di sana Hari yang tak pernah dia harapkan akhirnya terjadi hari ini.
"Kenapa hari ini harus datang, Semua wanita itu sama, Mereka hanya akan memandang harta yang aku miliki, Begitu juga dengan Alena. Aku tau apa alasan dia mau menikah dengan pria buta sepertiku. Pasti alasannya tak jauh dari harta dan harta. Kita lihat saja Alena, Saya akan membuat kamu pergi dari kehidupan saya dan menyesal selamanya" ucap Alkan dalam batinnya.