Ketika Takdir Yang Memilihku

Ketika Takdir Yang Memilihku
Part Larisa


__ADS_3

Tanpa terasa sudah dua jam Alkanna dan Alena ada di tempat itu, Alkanna mengajak Alena untuk segera kembali setelah Sinta menanyakan keberadaan mereka.


"Kita pulang sekarang" ujar Alkan dengan nada dinginnya.


"Iya, Kak"


"Ingat, Jangan pernah mengatakan apa-apa pada mama dan juga yang lain. Tempat ini hanya saya dan pak Iwan yang tau, Juga kamu. Kalau sampai mama dan yang lain tau, Itu artinya kamu yang sudah mengatakan"


"Iya kak, Kak Alkan tenang saja, Aku tidak akan pernah mengatakan apa-apa sama mama ataupun yang lain"


"Bagus"


Setelah itu, Alena juga Alkan kembali ke mobil, Melewati jalanan bebatuan yang tadi mereka lalui


****


"Akhirnya bisa healing, Rasanya capek juga dengan hidupku yang gak pernah bahagia, Lebih baik sekarang aku menikmati semua harta kekayaan milik Alena, Sebelum dia sadar jika surat wasian yang dulu pernah aku tunjukkan adalah surat wasiat yang palsu. Ya kali papa mau memberikan seluruh hartanya buat aku dan mama. Sedangkan dia saja tidak pernah percaya sama mama" ucap Larisa sambil menikmati segelas jus rasa jambu.


"Alena-alena. Kenapa bisa jadi orang bego banget. Gampang sekali aku kibulin. Bilangnya calon dokter, Tapi kok bodoh begitu" ucapnya sambil tersenyum licik.


"Larisa"


Suara itu membuat Larisa menoleh ke kanan dan ke kiri, Mencari sumber suara yang berasa tidak terlalu asing pada indra pendengaran nya. "Siapa ya, Kok suaranya seperti familiar" ucapnya sambil terus mencari sumber suara.

__ADS_1


"Larisa, Aku di sini" ucap orang itu lagi.


Larisa membalikkan tubuhnya, Kedua matanya membulat saat melihat siap Laki-laki yang saat ini berdiri di depannya.


Melihat sosok itu, Larisa mengambil tasnya dan bangun dari duduknya. Berlalu dari hadapan pria itu. Namun pria yang tadi memanggilnya mengejar Larisa dan menarik tangannya.


"Berhenti, Larisa! Mau sampai kapan kamu menghindar" ucapnya sambil menarik kesar tangan Larisa.


"Lepasin tangan gue. Atau gue akan teriak"


"Teriak saja. Bahkan di tempat ini tidak akan ada orang yang mau membantu wanita iblis seperti mu"


"Tutup mulutmu Bryan. Lepaskan tanganmu! " ucap Larisa sambil berusaha memberontak.


"Jangan harap gue mau kasih tau di mana anak itu, Tapi yang pasti, Dia sudah ada di tangan orang yang tepat Tidak ada satu orangpun yang bisa menemukan dia, Termasuk lho!"


Setelah mengatakan hal itu, Larisa menarik kasar tangannya, Berlalu dari hadapan Bryan yang masih terdiam di sana. Sudah lima tahun Bryan menanyakan perihal anak mereka yang hingga detik ini belum mendapat kepastian dari Larisa.


"Sebenarnya di mana Larisa menyembunyikan anak itu, Kenapa aku sangat sulit untuk menemukan keberadaan nya" ucap Bryan sambil menatap kepergian Larisa.


Sedangkan Larisa, Setelah memastikan Bryan tidak mengikutinya, Larisa menghentikan langkahnya. Duduk di salah satu kursi yang ad di tempat itu.


"Kenapa harus bertemu dengan pria gila itu lagi" ucap Larisa sambil mengambil nafas panjang.

__ADS_1


Hal itu membuatnya teringat akan kejadian lima tahun yang lalu. Kejadian di mana dirinya sudah dengan tega membuang anaknya sendiri, Darah dagingnya sendiri hanya karna ego.


"Maafkan mama yang sudah tega membuang kamu, Sayang. Tapi satu hal yang harus kamu kamu, Setelah kejadian malam itu, Hidup mama benar-benar hancur, Mama kehilangan segalanya. Dimana kamu saat ini, Apa waktu itu ada seseorang yang menemukan kamu" ucap Larisa sambil memejamkan kedua matanya.


"Mama sangat merindukan kamu, Ana. Semoga saja suatu saat nanti kita masih bisa di pertemukan lagi. Maafkan mama yang sudah menjadi orang tua paling jahat di dunia. Mama tega meninggalkan kamu sendirian ditaman itu" ucap Larisa lagi.


Setelah itu, Larisa melangkahkan kakinya keluar dari mall. Rasanya hari ini dia ingin sekali pergi ke taman di mana dulu dirinya sudah membuang anaknya.


Wanita itu melajukan mobilnya menuju taman pusat, Membawa mobil itu dengan cukup cepat, Hingga tak butuh waktu lama Larisa sudah tiba di taman itu.


Larisa turun dari mobilnya dengan langkah lebar, Berjalan menuju sebuah pohon yang menjadi tempatnya meletakkan anak yang baru dia lahirkan kala itu.


"Di tempat ini aku sudah membuang anakku, Malaikat kecil tak berdosa yang harus menanggung akibat dari apa yang sudah aku perbuat bersama dengan Bryan waktu itu" ucapnya sambil duduk di salah satu kursi di sana.


Tanpa sadar air matanya meluruh begitu saja, Larisa merasa begitu bersalah atas apa yang sudah dia lakukan lima tahun yang lalu.


Larisa memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu lalang di hadapannya, Bermain kejar-kejaran bersama dengan anaknya yang memiliki umur kisaran seperti bayi kecil yang sudah dia buang lima tahun yang lalu.


"Ana, Di mana kamu sekarang nak? Apa kamu masih hidup" ucapnya yang terdengar sangat lirih


"Maafkan mama yang sudah tega meninggalkan kamu malam itu, Tapi semua itu mama lakukan karna mama terpaksa, Keadaan yang sudah membuat mama harus membuang kamu" ucapnya lagi.


Sedetik kemudian, Larisa baru tersadar jika hari ini adalah hari dan tanggal di mana dirinya sudah melahirkan sosok malaikat kecil itu.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun anak mama, Maafkan mama yang sudah tega menelantarkan kamu malam itu" ucapnya sambil mencium sebuah foto anak kecil yang ada di galeri ponselnya.


__ADS_2