
"Biarkan kita seperti ini untuk beberapa saat" ucap Alkan dan semakin mengeratkan pelukannya terhadap Alena.
Mendengar itu membuat Alena membulatkan kedua matanya "Apa aku tidak salah dengar" ucapnya dalam batin.
Alena menatap raut wajah Alkan yang masih begitu lelap."Ya allah, Semoga ini adalah awal yang baik buat pernikahanku. Semoga saja kak Alkan bisa menerima aku sebagai istri nya" ucap Alena dengan penuh harapan.
Tiga puluh menit sudah berlalu, Namun posisi Alkan dan Alena masih tetep seperti tadi. Alkanna sama sekali tak melepaskan dekapan itu, Sehingga membuat Alena kembali terlelap dalam dekapan hangatnya.
Tak berselang lama, Alkanna membuka kedua matanya. Pria itu mengambil nafas panjang saat masih tak bisa melihat dengan jelas, Hanya bisa melihat samar-samar saja.
Memang selama ini Alkan tidak buta sepenuhnya, Pria itu masih bisa melihat sedikit cahaya walaupun hanya dengan samar-samar. Terapi serta pengobatan yang dilakukan rutin oleh Alkanna ada hasilnya. Namun pria itu tidak mengatakan apa-apa kepada semua keluarganya, Termasuk mamanya sendiri.
Merasakan Alena memeluknya, Seketika membuat Alkan mendorong wanita itu. Dan membuat Alena hampir saja terjatuh dari atas Ranjang.
"Jangan pernah mengambil kesempatan dalam kesempitan, Apalagi saat saya sedang tidur" ucap Alkan yang terdengar sangat dingin.
Mendengar itu membuat Alena mengambil nafas dan membuangnya kasar"Siapa yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, Mas. Tadi pagi kamu sendiri yang memelukku, Bahkan aku sampai tidak bisa nafas " terang Alena
"Jangan mengada-ngada"
"Aku tidak mengada-ngada, Mas. Memang tadi pagi kamu memelukku, Bahkan kamu mengatakan untuk tetep dalam posisi itu beberapa saat saja" ujar Alena lagi.
Hal itu membuat Alkanna teringat akan mimpinya. Sebuah mimpi indah yang di mana Alkan bertemu dengan seorang wanita cantik yang memiliki cinta tulus untuknya. Sayangnya, Alkan tidak tau siapa wanita itu.
"Siapa wanita yang ada di dalam mimpiku, Kenapa aku bisa merasakan jika cinta yang dia miliki begitu tulus, Tidak seperti wanita lain yang hanya mementingkan harta kekayaan keluarga ku saja" ucap Alkanna dalam batinnya.
"Antar saya ke kamar mandi. Saya mau mandi"
"M... mau mandi? tapi mandi sendiri ya mas"
"Siapa juga yang mau di mandiin sama kamu" balas Alkanna dengan nada dingin.
Perkataan Alkan membuat Alena bernafas lega, Karna mau bagaimanapun, Alena tidak mungkin membantu Alkan untuk mandi.
"Ayo cepat! Setelah itu kamu antar saya ke rumah sakit. Hari ini ada jadwal terapi"
__ADS_1
"Bagaimana ini, Hari ini kan aku ada jadwal kuliah. Apa aku ambil jadwal sore atau malem aja kali ya, Setidaknya aku harus lebih mendahulukan mas Alkan" ucap Alena yang merasa bingung.
Pagi ini memang seharusnya Alena ada jadwal kuliah pagi, Tapi karna Alkanna ingin di antar ke rumah sakit, Dengan sangat terpaksa Alena harus merubah jadwal kuliahnya lagi.
"Iya, Mas" jawab Alena lembut.
"Ck, Tidak usah sok lembut, Saya tau bagaimana kamu sebenarnya"
Alena tak menjawab, Hanya mengambil nafas pelan saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Alkan. Rasanya juga percuma menjawab pertanyaan itu, Ujung-ujungnya Alkan akan memberikan jawaban yang lebih menyakiti hatinya.
"Lalu apa maksud kamu tadi pagi, Mas. Apa itu kamu hanya sedang bermimpi saja" ucap Alena dalam batinnya.
Alena menggandeng tangan Alkan dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. "Siapkan saja air di dalam bathtub, Saya mau berendam" ucap Alkan dingin
"Iya, Mas"
Alena menyiapkan air di dalam Bathtub, Setelah itu, Alena membantu Alkan untuk melepaskan bajunya."Tidak perlu, Saya bisa sendiri. Kamu bisa keluar dari sini, Dan satu lagi, Siapkan baju untuk saya"
"Iya, Mas"
"Kenapa sudah rame saja di bawah. Memangnya ini jam berapa ya" ucap Alena sambil menoleh ke arah jam dinding yang di di depan kamarnya.
Kedua mata Alena membulat saat melihat jam yang sudah berputar di angkat 09:00. "Astaga, Jam 09:00. Aku baru bangun jam 09:00. Bagaimana ini, Apa yang harus aku lakukan" ucap Alena sambil terdiam di sana.
Kakinya terasa sangat berat walaupun hanya untuk sekedar turun dari atas. Rasanya benar-benar malu. Apalagi di bawah ada Kenzo yang sedang sibuk memainkan ponsel nya.
"Bagaimana ini" ucap Alena dalam batinnya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
Suara itu membuat Alena terkejut. Alena membalikkan tubuhnya dan menemukan mama mertuanya yang sudah tersenyum hangat" Mama" ucap Alena sambil tersenyum.
"Kamu sudah bangun, Sayang. Maaf ya, Mama memang sengaja tidak membangun kamu, Tidak mau mengganggu pengantin baru" seru Sinta sambil mendekat pada mama.
Perkataan Sinta membuat Alena tersenyum kecut, Pasalnya, Malam pengantin yang seharusnya bahagia, Dia lalui dengan air mata.
__ADS_1
Kamu hanya benalu
Suara itu tiba-tiba saja kembali terngiang pada indra pendengaran Alena. Seketika kedua matanya terasa sangat perih. Namun dengan sebisa mungkin, Alena berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata itu di depan mama mertuanya.
"Alkan mana, Sayang?" tanya Sinta di sela langkah mereka
"Mas Alkan lagi berendam ma"
"Begitu ya. Ya sudah, Sekarang lebih baik kamu sarapan dulu saja ya. Alkan biarkan nanti mama yang bawakan makanan untuknya"
"Tidak ma, Sebagai istri, Alena harus makan menunggu mas Alkan dulu. Biar nanti aku makan bareng sama mas Alkan saja ya ma"
"Istri idaman sekali kamu, Sayang" puji Sinta pada Alena.
*****
Di tempat Lain
"Ma, Larisa laper tau ma. Ini serius kita pesen makan dari luar lagi?" tanya Larisa pada mamanya.
"Ya mau bagaimana lagi, Sekarang kan sudah tidak ada Alena yang mau masak buat kita. Jadi mau tidak mau kita harus pesan makan di luar"
"Masak setiap mau makan kita pesen terus ma. Nanti yang ada pemborosan dong"
"Kalau begitu kamu aja yang masak"
"Kok malah Larisa sih ma. Ya mama lah yang masak. Larisa gak mau tau, Sekarang lebih baik mama masak buat Larisa. Larisa sudah laper banget"
"Gak mau mama. Kamu saja masak sendiri"
"Ya sudah kalau begitu. Apa mama mau Larisa usir dari rumah. Mama lupa kalau rumah ini sudah di pindah tangan atas nama aku"
Perkataan Larisa membuat mamanya terdiam. Wanita paruh baya itu baru sadar jika nama kepemilikan rumah itu memang sudah menjadi atas nama Larisa.
"Larisa, Kamu berani menyuruh mama untuk melakukan semua itu?"
__ADS_1
"Kenapa tidak, Jika dulu ada Alena yang mengerjakan semuanya, Sekarang mama yang harus menggantikan tugas itu"