
"Memang, Sejak kejadian itu, Saya sangat dendam terhadap keluarga kalian, Dan sejak hari itu, Saya tak lagi menganggap kalian sebagai sahabat. Karna secara tidak langsung, Anak kalian adalah penyebab kematian pitri saya, Dan sampai kapan pun itu, Saya tidak akan pernah melupakan nya" ucap pak Ari serta langsung pergi dari sana.
Mendadak ruangan itu menjadi sepi, Semua teman-teman bisnisnya yang mendengar penuturan Ari hanya diam tak lagi ikut berkomentar. Cukup paham dengan apa yang di rasakan oleh pak Ari.
"Pa. Jadi penyebab kecelakaan anak kita satu tahun yang lalu adalah dia!" ucap Sinta sambil terus menatap kepergian pak Ari yang sudah semakin menjauh.
Arseno mengambil nafas panjang. Antara marah dan juga merasa bersalah pada Aisyah, Arseno tak pernah menyangka jika kejadian dua tahun yang lalu akan berakhir seperti itu.
"Kenapa kita tidak tau dari dulu jika Aisyah adalah anaknya" gumamnya sambil menatap Sinta"Iya, Pa. Mama tidak menyangka jika Aisyah adalah anak dari pak Ari, Jadi selama ini tidak ad ketulusan darinya, Semua hanyalah karna sebuah dendam" balas Sinta pada Arseno.
"Sabar ya, Jeng. Bukan hanya kalian yang shock mendengar kabar ini, Saya juga tidak menyangka" ucap salah satu wanita paruh baya di sana sambil menepuk pelan pundak Sinta.
Di ruangan yang berbeda
Alkan yang melihat serta mendengar apa yang baru saja di katakan oleh pak Ari membuatnya terdiam sejenak, Bayangannya kembali pada kejadian dua tahun yang lalu, Tepatnya saat di mana Aisyah mengatakan atau lebih tepatnya mengungkapkan perasaannya pada alkan sore itu.
Flashback dua tahun yang lalu
Sudah seperti biasa, Setiap akhir pekan Alkan dan Aisyah akan pergi berdua menghabiskan waktu di salah satu tempat favorite mereka. Bukan hanya mereka berdua, Kedua orang tuanya juga ikut untuk kali ini.
Kali ini mereka berempat pergi ke salah satu wisata yang sangat bisa memanjakan mata. "Tempat ini bagus sekali ya, Tente" ucap Aisyah pada Sinta yang sedang menikmati pemandangan di depannya saat ini.
"Iya, Aisyah. Pemandangan itu masih sangat asri sekali ya" balas Sinta sambil memejamkan kedua matanya.
Aisyah dan Alkan adalah teman sejak jaman kuliah. Karna kebersamaan itu, Membuat perasaaan yang tak seharusnya ada itu muncul dari dalam relung hati Aisyah.
__ADS_1
Hingga hari ini menjadi pilihan Aisyah untuk mengutarakan apa yang sebenarnya dia rasakan selama ini.
Tanpa terasa hari sudah semakin sore, Aisyah melirik ke arah Alkan yang sedang terdiam sendiri di depan sana.
Aisyah yang melihat Alkan duduk sendiri di kursi panjang itu pun membuatnya berjalan mendekat. "Alkan" panggil Aisyah sambil duduk di samping Alkanna.
"Ya, Ai. Ada apa?" tanya Alkan sambil sekilas menoleh pada Aisyah dan kembali menikmati pemandangan yang ada di depannya.
"Aku mau *ngomong Al" serunya sambil duduk di samping Alkanna
"Ngomong aja, Ai" balas Alkan dengan sekilas melirik pada Aisyah dan kembali fokus pada pemandangan yang ada di depannya sambil menikmati kopi kaleng yang tak pernah Alkan lupakan.
"Aku mencintaimu, Al" gumam Aisyah yang langsung to the poin.
Namun sedetik kemudian tawa itu mendadak hilang tatkala Aisyah mengulangi perkataannya lagi"Aku tidak sedang bercanda, Al. Aku serius. Aku jatuh cinta sama kamu" ulang Aisyah lagi.
Kata-kata itu membuat Alkanna terdiam. Meletakkan kopi itu dan menoleh ke arah Aisyah yang sejak tadi sudah menatapnya dengan tatapan sendu.
"Kenapa kamu bisa mencintaiku, Ai?" tanya Alkan sambil terus menatap Aisyah.
Aisyah bangun dari duduknya"Entahlah, Aku juga tidak tau kenapa aku bisa mencintai kamu, Al. Tapi yang pasti, Rasa itu ada setelah kebersamaan kita yang sering menghabiskan waktu bersama" jawabnya.
"Maafkan aku, Ai. Maafkan aku yang tidak bisa membalas perasaan kamu. Kami tau sendiri kan ada seseorang yang sudah lebih dulu mengambil hatiku. Maafkan aku"
Mendengar jawaban Alkanna membuat Aisyah menundukkan wajahnya. Tentu saja kata-kata itu berhasil membuat perasaannya begitu luka, Pasalnya selama ini Alkan menunjukkan seperti orang yang juga meniliki rasa terhadap nya. Tapi ternyata hal itu hanya ada dalam pemikiran Aisyah. Aisyah yang terlalu baper dengan semua perhatian yang pernah Alkan berikan untuknya. Aisyah sudah salah mengartikan semua kebaikan Alkanna.
__ADS_1
"Aku paham. Terimakasih karna kamu sudah mau jujur, Semoga kamu dengannya bisa bersatu ya. Aku pamit dulu, Soalnya masih ada hal yang harus aku urus" gumam Aisyah dan langsung pergi dari sana tanpa pamit pada kemuda orang tua Alkan. Karna memang kebetulan Aisyah juga membawa mobil sendiri.
Arseno dan Sinta yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa saling lirik. Mereka membiarkan Aisyah pergi dari sana. Karna memang cukup paham dengan apa yang dia rasakan saat ini.
Aisyah berlalu dengan membawa sejuta luka serta perasaan kecewa yang begitu dalam. Ternyata selama ini dirinya yang terlalu berlebihan mengartikan semua kebaikan Alkan.
"Bodoh kamu Aisyah. Kenapa kamu harus mengatakan pada Alkan, Kenapa kamu tidak pikir-pikir dulu sebelumnya. Jika sudah seperti ini bagaimana, Yang ada kamu hanya akan menanggung malu" ucap Aisyah di sela langkahnya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Dadanya terasa begitu sakit saat mendengar apa yang baru saja Alkan katakan.
Sedangkan Alkan. Hanya bisa menatap kepergian Aisyah. Pria itu tidak menyangka jika wanita yang dia anggap sebagai sahabat bahkan saudara mengatakan kata cinta.
"Maafkan aku, Aisyah. Tapi aku benar-benar hanya menganggap kamu sebagai saudara, Sebagai adik perempuanku, Tidak lebih" ucapnya pelan*.
"Kenapa kamu diam saja, Al?" ucap Dimas sambil menepuk pundak Alkanna.
Hal itu tentu saja langsung mampu membuat Alkanna tersadar dari kejadian dua tahun yang lalu di puncak.
"Jadi kecelakaan yang menimpa Aisyah secara tidak langsung karna aku" ucap Alkanna yang terdengar sangat lirih.
Setelah mendengar semua yang di katakan oleh pak Ari, Mendadak Alkan merasa sangat bersalah. Pria itu tidak pernah menyangka jika kejadian dua tahun yang lalu ada sangkut pautnya dengannya.
Alkan memejamkan kedua matanya, Tiba-tiba saja bayangan Aisyah muncul begitu saja. "Dimas. Tolong antarkan saya ke suatu tempat" gumamnya dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Baiklah, Kemana kamu akan pergi?"tanya Dimas sambil mengekor di belakang Alkan
"Makan Aisyah. Aku benar-benar merasa bersalah"
__ADS_1