
"Maksudnya bagaimana,Bu? Saya tidak terlalu paham" tanya Alena lagi.
"Iya. Mereka semua adalah anak-anak asuh Alkan. Alkan menemukan mereka di jalanan, Tanpa siapa-siapa, Tanpa ada orang tua yang mendampingi mereka. Sehingga Alkan membawanya dan membuat tempat ini" terang bu Rin sambil terus memperhatikan Alkanna dan kelima anak-anak di sana.
"Coba kamu liat Ara. Alkan menukan Ara di jalanan lima tahun yang lalu, Lebih tepatnya saat Ara masih bayi. Oleh sebab itu, Di antara mereka Ara lah yang paling manja, Karna Ara mengira jika Alkan adalah ayah kandungnya" ucap bu Rin lagi.
"Semenjak kecil, Ara selalu mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari Alkan. Tak jarang Ara bertanya tentang mama, Bahkan Ara mengatakan untuk membawanya mama. Selama ini Alkan memang tidak pernah membawa wanita, Setiap kali datang ke tempat ini, Alkan hanya datang bersama dengan pak Iwan. Hingga saat tadi melihat papanya bersama dengan seorang wanita, Ara langsung terlihat sangat bahagia. Bahagia karna papanya mau mengabulkan permintaannya selama ini"
"Memangnya kak Alkan menemukan Ara di mana, Bu?" tanya Alena yang merasa semakin penasaran.
"Di sebuah taman di bawah pepohonan rindang. Malam itu"
Flashback 5 tahun yang lalu.
Malam sudah sangat larut. Suara rintik hujan seakan menggema terdengar di tempat itu. Bu Rin yang baru saja selesai melakukan sholat isyak, Melangkah kan kakinya keluar saat mendengar suara ketukan pintu.
Tok.... Tok.... Tok....
Mendengar itu membuat bu Rin segera membuka mukenah nya dan langsung berjalan keluar dari dalam kamarnya.
"Siapa ya, Bukan kah anak-anak lagi pada ngaji di kamarnya masing-masing" ucap bu Rin sambil keluar.
Tok.... tok... tok...
"Iya sebentar" ucap bu Rin sambil mempercepat langkahnya.
Saat pintu itu sudah terbuka, Bu Rin memicingkan kedua matanya saat melihat siapa yang datang malam-malam seperti ini.
__ADS_1
"Alkan, Bayi siapa yang kamu bawa nak?" ucap bu Rin sambil membuka pintu rumah itu semakin lebar.
Alkan masuk dengan membawa bayi mungil yang masih terlihat merah, Seperti nya bayi itu baru saja lahir.
"Bayi siapa yang kamu bawa, Al?" tanya bu Rin sambil mengekor di belakang Alkanna.
"Saya juga tidak tau ini bayi siapa, Bu. Tapi yang pasti, Saya menemukannya di taman" terang Alkan sambil membelai lembut bayi mungil itu.
Bu Ririn mengerutkan kecil keningnya "Kamu menemukan bayi ini di taman? Apa kamu tidak melihat siapapun di sana. Ngapain malam-malam kamu di taman, Al?"
"Iya, Bu. Saya menemukan bayi malang ini di taman. Tidak ada satu orang pun di tempat itu. Awalnya saya pergi ke taman karna merasa capek dengan pekerjaan saya, Makanya saya memutuskan untuk menenangkan pikiran di sana seperti biasanya, Tapi saya malah mendengar suara tangis bayi di bawah pohon rindang" terang Alkan lagi.
Bu Ririn duduk di sebelah Alkan. Mengambil alih bayi mungil itu "Kasian sekali bayi ini, Al. Kenapa orang tuanya begitu tega membuang bayi selucu ini" ucap bu Ririn sambil menatap bayi itu.
"Alkan juga tidak tau, Bu. Mulai malam ini, Biarkan dia tinggal di sini. Alkan yang akan menjadi orang tuanya"
Bu Ririn menoleh ke arah Alkan"Kamu serius Al?" tanyanya"Iya, Bu. Saya serius. Mulai malam ini, Dia adalah anak saya. Alkan akan memberikan dia nama Raisya, Dipanggil Ara" gumam Alkan sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Semenjak malam itu, Alkan melakukan peran sebagai seorang papa yang sangat baik. Setiap hari, Setelah pulang dari bekerja, Alkan akan menyempatkan diri untuk datang menemui Ara dan juga anak asuhnya yang lain. Hingga bulan dan tahun berlalu. Ara tumbuh menjadi anak yang sangat cantik. Pipinya squishy, Senyum nya sangat menggemaskan. Anak kecil itu selalu mengira jika Alkan adalah ayah kandungnya.
"Jadi seperti itu ya bu ceritanya. Pantas saja saya perhatian sepertinya Ara sangat sayang sama kak Alkan"ucap Alena sambil terus menatap Alkan dan anak-anak yang lain.
" Iya, Bukan hanya Ara, Tapi mereka juga sangat menyayangi Alkan. Tanpa Alkan, Tidak tau seperti apa hidup kami saat ini. Termasuk saya, Saya merasa sangat berhutang budi padanya"
Alena terdiam. Netrnya masih terus menatap anak-anak yang saat ini sedang terlihat bercanda tawa bersama dengan suaminya. Melihat itu membuat Alena mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Ternyata kamu sebaik itu, Kak. Kamu memiliki hati malaikat yang tak di ketahui banyak orang. Tapi apa sebenarnya penyebab kecelakaan yang kamu alami satu tahun yang lalu" gumam Alena dalam batinnya sambil terus menatap Alkanna yang terlihat begitu hangat pada anak-anak itu.
__ADS_1
"Papa, Kenapa papa belum kenalin mama sama kita?" tanya Ara sambil bergelayut manja pada Alkan.
Mendengar itu membuat Alkan terdiam untuk beberapa saat, Apa memang dia harus memperkenalkan Alena sebagai mama mereka. Tapi Alkan masih sedikit ragu, Pasalnya dia masih belum yakin terhadap Alena. Buat Alkan, Alena tak jauh beda dengan wanita-wanita lain yang hanya memanfaatkan hartanya saja.
"Ayolah papa, Panggil mama suruh kesini" ucap Ara lagi.
"Iya, Pa. Kami ingin sekali foto bersama dengan papa dan juga mama" timpal salah satunya.
Mendengar suara memohon dari anak-anak itu. membuat Alkan merasa tidak tega. Hingga akhirnya Alkan dengan terpaksa memperkenalkan Alena sebagai mama mereka.
"Alena"
Suara Alkan membuat Alena yang sejak tadi terdiam menoleh pada bu Ririn. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan"Pergilah nak, Ibu doakan, Semoga ini awal yang baik buat pernikahan kalian" ucapnya seraya tersenyum hangat pada Alena.
"Saya ke sana dulu ya, bu. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" balas bu Ririn sambil terus menatap Alena
"semoga kalian bisa menjadi suami istri seperti semestinya. Memiliki anak dan saling mencintai. Sepertinya Alena adalah gadis yang pas buat menjadi pendamping Alkan." batinnya dengan penuh harap. Bu Ririn sudah menganggap Alkanna seperti anaknya sendiri.
Alena mendekat pada Alkan dengan langkah yang cukup berat, Masih takut jika Alkan akan mengatakan hal yang akan hal yang mampu melukai perasaannya seperti sebelumnya.
"Kak Alkan panggil aku?"
"Hmm. Duduk lah"
"Papa, Ini mamanya Ara kan? Mama yang katanya ayah selama ini sibuk bekerja. Akhirnya hari ini papa benar-benar membawa mama ke sini" ucap Ara dan langsung memeluk Alena dengan sangat erat.
__ADS_1
"Iya, Dia adalah mama kalian. Maafkan papa yang baru bisa membawa mama hari ini" seru Alkan sambil mengusap lembut kepala Ara.
Alena tersenyum hangat. Entah kenapa hatinya merasa bahagia saat mendengar Alkan memperkenalkan dirinya sebagai sosok mama yang selama ini mereka nantikan.