
"Alkanna, Kamu harus menjebak pria itu dan katakan jika anak yang ada dalam kandungan kamu adalah anaknya" ucap Charly sambil tersenyum licik dan menatap Alyssa.
Mendengar perkataan Charly membuat Alyssa mengangkat kedua sudut bibirnya"Kenapa aku gak kepikiran akan hal itu. Good idea Charly. Sepertinya kita memang harus segera melakukan cara itu" balas Alyssa sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Secepatnya kita harus melakukan rencananya"
Aditya yang mendengar pembicaraan Alyssa dengan managernya seketika mengepalkan kedua tangannya"Kurang ajar! Jangan harap kamu bisa berhasil melakukan rencana busukmu, Alyssa. Karna gue tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Gue sendiri yang akan menggagalkan apa yang akan kalian lakukan terhadap Alkanna. Wanita sepertimu, Tidak layak dan tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Mera" ucap Aditya dan langsung pergi dari sana.
"Apa kamu bilang. Maksudnya Alyssa bukan hanya seorang modelling tapi juga wanita panggilan?"'tanya Alkanna dengan raut wajah penasaran dan menarap Aditya.
Suara itu membuat Aditya kembali tersadar dari kejadian beberapa waktu yang lalu. Kejadian yang membuat Aditya dengan terpaksa harus berpura-pura mengkhianati persahabatan yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun.
"Iya, Al. Maafkan aku yang baru bisa mengatakan hal ini sekarang. Karna malam di mana kamu melihat aku berciuman dengan Alyssa, Sebenarnya aku sedang berusaha merekam pembicaraan dia. Tapi ternyata malah kepergok kamu duluan. Sekali lagi maafkan aku, Al. Aku tidak bermaksud untuk mengkhianati persahabatan kita. Aku lakukan semua itu hanya demi kamu, Demi menyelamatkan kamu dari wanita seperti Alyssa" ucap Aditya yang terdengar sangat lirih.
Alkanna terdiam saat mendengar semua penuturan Aditya. Masih berusaha mencerna semua kata-kata itu. "Apa yang dia katakan itu benar adanya. Apa saat ini aku harus langsung percaya begitu saja. Tapi tidak, Tidak boleh langsung percaya begitu saja."batin Alkan sambil menatap Aditya.
"Saya butuh waktu untuk bisa kembali seperti dulu lagi" balas Alkan dan langsung memalingkan wajahnya ke lain arah.
Mendengar perkataan Alkanna membuat Aditya menundukkan wajahnya. Aditya paham dan bisa mengerti bagaimana perasaan Alkanna. Rasa kecewa itu sudah membuat Alkanna seketika berubah menjadi sosok yang dingin.
"Aku tau kamu kecewa, Al. Tapi semoga saja dengan seiring berjalannya waktu kamu bisa melupakan segalanya. Memuliakan kembali persahabatan kita yang sudah terasa sangat hambar, Satu hal yang harus selalu kamu ingat Al. Semua ini aku lakukan demi kebaikan kamu, Karna aku tidak ingin kamu mendapatkan pendamping hidup yang hanya ingin memanfaatkan kamu tanpa ada rasa yang tulus"
__ADS_1
Aditya bermonolog dalam batinnya sambil terus menatap Alkanna yang melihat ke lain arah dengan menampakkan wajah dinginnya.
Hingga tak berselang lama, Pintu ruangan IGD terbuka. Melihat itu Alkanna langsung mendekati dokter yang baru saja keluar dari sana.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Alkanna pada dokter itu.
"Panasnya terlalu tinggi, Pak. Jadi saya saranin untuk malam ini istri bapak dirawat Inap dulu. Agar kami bisa ikut membantu memantau keadaan nya"
"Baiklah, Dok. Jika memang itu yang terbaik menurut dokter, Saya ikut bagaimana baiknya saja"..
" Baiklah, Pak. Saya permisi dulu, Nanti akan ada perawat yang akan membantu memindahkan nyonya Alena ke ruangan rawat inap" seru dokter itu dan langsung berlaku dari hadapan Alkanna.
Setelah kepergian dokter itu, Alkanna langsung masuk ke dalam ruangan IGD tanpa memperdulikan Aditya yang masih terdiam di sana.
Alena membalikkan tubuhnya serta menatap Alkanna yang sudah menaruh tangannya di saku celananya.
"Aku sudah mendingan, Kak. Terimakasih karna kak Alkanna sudah mau membawa aku kesini. Terimakasih banyak, Kak" balas Alena sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Hmmm. Jangan senang dulu, Karna saya membawa kamu ke sini bukan karna saya perduli, Tapi karna saya tidak mau di bilang suami tak bertanggung jawab"
Alena tak Menjawab, Wanita itu hanya menatap Alkanna dengan raut wajah sayu nya. Jika di tanya sakit, Jawabannya sudah pasti iya. Semua kata yang keluar dari mulut Alkanna terdengar begitu menyakitkan.
__ADS_1
Pov Alena.
Entah kenapa aku merasa setiap kata yang ku dengar dari kak Alkanna begitu menyakitkan. Semua perkataannya selalu mampu membuatku terdiam, Terdiam karna tidak tau apa yang harus aku balas di setiap ucapannya. Entah apa sebenarnya salahku, Tapi yang pasti, Aku tidak pernah melihat senyuman mengukir kedua sudut bibirnya.
"Jangan senang dulu, Karna saya membawa kamu ke sini bukan atas dasar karna saya perduli, Tapi hanya karna saya tidak mau di anggap suami yang tidak bertanggung jawab" ucapnya yang terdengar begitu dingin menerpa indra pendengaran ku.
Biarpun saat ini aku belum memiliki rasa untuk nya, Entah kenapa setiap perkataan nya selalu mampu menggores serta meninggalkan bekas yang begitu menyakitkan.
"Sabar, Alena. Kamu hanya memerlukan waktu yang lebih serta rasa sabar yang cukup untuk menghadapi pria sepertinya. Kamu bisa! Kamu pasti bisa" batinku sambil menatap suamiku yang sudah terlihat fokus dengan ponselnya di sofa sana.
Hingga tanpa aku sadari malam sudah semakin larut, Namun semua perkataan kak Alkanna masih bisa terngiang jelas dan membuatku susah untuk sekedar memejamkan kedua kataku.
Aku melirik ke arah sofa, Tempat dimana kak Alkanna sudah memejamkan kedua matanya. "Sebenarnya apa yang membuat kamu seperti ini, Kak. Kenapa merek mengatakan jika dulu kamu adalah orang yang sangat hangat serta memiliki rasa perduli yang begitu besar. Tapi hal apa yang sudah merubahmu menjadi seperti ini" gumam ku sambil menatap ke arah kak Alkanna.
Hal itu selalu saja menjadi pertanyaan yang hingga detik ini belum bisa aku temukan apa jawabannya.
"Jika memang dulu kamu memiliki kepribadian serta sikap yang begitu hangat, Itu artinya aku harus bisa merubahmu seperti dulu lagi" ucapku lagi.
Semenjak mendengar penuturan bu Mira hari itu membuat aku menilai ulang kak Alkanna. Seperti nya dia memang sosok baik yang berubah karna rasa kecewa. Ya, Rasa kecewa. Kenapa aku baru kepikiran jika rasa kecewa bisa merubah siapapun.
"Aku janji, Akan berusaha mengembalikan karakter aslimu, Kak. Untuk saat ini aku tak perduli bagaimana sikapmu, Tapi yang pasti, Aku akan mencoba menghadapi semuanya dengan kesabaran"
__ADS_1
Tanpa terasa malam sudah berlalu begitu saja, Aku mengerjakan kedua mataku saat merasa ada tangan kekar melingkar di perutku. Merasakan hal itu membuatku membuka lebar kedua matanya. Bagaimana tidak, Kak Alkanna tidur bersamaku di sini