
"Aku berangkat, Kak. Assalamualaikum" ucap Alena sambil mencium punggung tangan Alkan cukup lama.
"Waalaikumsalam" balas Alkan yang terdengar sangat dingin seperti biasa.
Sejenak Alena menatap raut wajah Alkan yang menunjukkan ekspresi dinginnya seperti biasa. "Bisakah aku bertahan dengan pria sepertinya, Kenapa wajahnya tak pernah menampakkan senyuman sedikitpun" batin Alena sambil melangkah keluar dari dalam kamarnya.
"Huuufff. Sabar, Alena. Semua pasti bisa berlalu dengan semestinya. Kamu hanya perlu sabar dan menunggu waktu saja" ucap Alena di sela langkahnya.
Alena turun menyusuri setiap anak-anak tangga di sana. Setelah tiba di bawah, Ternyata ada kedua mertuanya dan juga Kenzo yang masih menikmati secangkir kopi hitam.
Melihat kedatangan Alena, Mereka bertiga menoleh ke arah Alena secara bersamaan. "Kamu mau kuliah, Sayang?" tanya Sinta setelah Alena tiba di sana.
Alena mengangguk pelan sambil mengangkat kedua sudut bibirnya"Iya, Mah. Hari ini Alena ada jadwal kuliah insyaallah sampai malam. Alena pamit dulu ya ma, Pa" ujarnya sambil mencium punggung tangan Arseno dan Sinta.
"Iya, Sayang"
Setelah itu, Alena kembali melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke arah Kenzo. Namun langkahnya kembali terhenti saat suara Sinta menerpa indra pendengarannya lagi.
"Alena, Tunggu sayang" ucap Sinta dan tentunya langsung mampu membuat Alena menghentikan langkahnya. Wanita itu membalikkan tubuhnya"Iya, Ma. Ada apa?" tanya nya.
Sinta tak langsung menjawab, Wanita paruh baya itu masih menoleh pada Kenzo sambil mengangkat kedua sudut bibirnya"Kenapa mama liatin Ken begitu?" tanya Kenzo saat melihat mamanya menoleh ke arahnya.
"Ken. Kamu kan juga mau berangkat ke kantor, Dan kebetulan tujuan kalian searah, Jadi mama mau Alena ikut bersama kamu. Iya kan, Alena? Karna tujuan kalian searah, Jadi lebih baik Alena ikut bersama dengan Kenzo" ucap Sinta sambil menoleh pada Alena dan Kenzo secara bergantian.
Mendengar itu membuat Alena membulatkan kedua matanya"Eh, gak usah ma. Ale bisa naik taksi atau ojek online nanti" balas Alena sambil tersenyum.
"Apa yang mama katakan itu benar, Alena. Tujuan kalian kan searah, Untuk apa kamu masih mau naik kendaraan umum. Sudah kamu berangkat dengan Kenzo saja" timpal Arseno yang ikut mendukung rencana istrinya.
"Boleh kan, Ken" ucap Sinta lagi.
__ADS_1
"Ya kalo Ken sih boleh-boleh saja. Tergantung Alena nya mau apa nggak" balas Kenzo sambil kembali menikmati kopi dan meneguk habis kopi itu.
"Gak usah, Ma. Beneran Alena bisa naik ojek" ucap Alena yang masih berusaha untuk menolak.
"Sayang, Untuk apa naik ojek jika kalian sudah searah. Sudah, Mama mau kamu berangkat dengan Kenzo. Sepertinya itu lebih aman" ucap Sinta lagi.
Mau tak mau akhirnya Alena mengangguk pelan"Tapi ini akan tidak aman untuk jantungku, ma. Jika aku sering bersama dengan kak Kenzo, Bagaimana caranya agar aku bisa melupakannya"batin Alena sambil berusaha mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Baiklah, Ma. Alena mau" jawabnya pelan.
Kenzo yang mendengar jawaban Alena tentu saja langsung menoleh ke arah wanita itu. Entah kenapa ada rasa bahagia saat mendengar jawaban dari wanita yang masih menjadi pemilik hatinya.
"Akhirnya ada kesempatan untuk bersama dengan Alena"batinnya sambil mengangkat tipis kedua sudut bibirnya. Sehingga tidak ada satu orangpun yang sadar jika saat ini Kenzo sedang tersenyum.
"Tapi boleh kan Ken, Jika Alena berangkat bersama dengan mu?" tanya Sinta pada Kenzo.
Kenzo bermonolog dalam batinnya sambil menoleh pada Sinta yang kini sedang menatapnya"Tentu saja boleh, Ma. Kalau begitu Ken pamit ya. Assalamualaikum" ujar Kenzo sambil bangun dari duduk nya dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Setelah itu. Kenzo berjalan keluar dari rumahnya dengan Alena yang mengekor di belakang tubuhnya. Jantungnya berdetak cepat, Detakan itu masih sama seperti beberapa bulan yang lalu. Saat di mana hubungan mereka masih baik-baik saja.
Alena masuk ke dalam mobil milik Kenzo, Mobil sport berwarna hitam. Setelah memastikan Alena menggunakan safety belt, Kenzo melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.
Mobil itu melesat dengan kecepatan sedang. Tidak ada pembicaraan sama sekali antara Kenzo dan juga Alena. Hingga tak berselang lama, Kenzo memutuskan untuk mengangkat bicara lebih dulu terhadap Alena.
"Le" panggilnya
"Iya" balas Alena sambil melirik sekilas pada Kenzo.
Mendengar panggilan Kenzo membuat Alena kembali teringat sama masa-masa mereka pacaran. Panggilan kesayangan Kenzo terhadap Alena memangnya Le, Atau lebih tepatnya Lena. Sedangkan Alena memanggil Kenzo dengan sebutan kak Zo.
__ADS_1
"Hari ini pulang jam berapa?" tanya nya yang hanya ingin basa-basi. Padahal sebenarnya Kenzo sudah tau jika Alena akan pulan malam hari ini.
"Insyaallah malam" balas Alena singkat.
"Bareng aku ya, Hari ini aku juga mesti lembur" lanjut Kenzo
"Tidak usah, Aku bisa naik ojek" balas Alena yang masih singkat.
Kenzo melirik Alena dari kaca spion. Pria itu mengambil nafas sejenak, Perlahan dia sadar jika tak seharusnya masih menyimpan rasa itu.
"Kamu masih menjadi yang spesial, Al. Kamu masih segalanya untukku" batin Kenzo
Akhirnya mobil itu kembali senyap, Tidak ada lagi pembicaraan antara Alena dan juga Kenzo. Melihat Alena seperti itu membuat Kenzo tak ingin lagi banyak bicara.
1 Jam kemudian, Mobil itu sudah tiba di depan kampus Alena. "Terimakasih" ucap Alena dan langsung turun dari dalam mobil Kenzo tanpa menoleh ke arah nya sedikitpun.
Di Rumah
Sudah seperti biasa, Setiap hari kamis Arseno dan juga Sinta akan mendatangi acara pertemuan dengan teman-teman bisnis mereka. Setelah memastikan kedua orang tuanya berangkat, Alkan menghubungi salah satu orang kepercayaannya untuk segera menjemputnya. Siapa lagi kalau bukan Dimas, Orang kepercayaannya sekaligus kaki tangannya selama ini. Karna memang sebelumnya Alkan dan Dimas sudah menemukan sebuah cara untuk mengungkap siapa yang selama ini sudah menjadi racun di perusahaan milik keluarganya.
Alkan mengambil ponselnya, Pria itu mencari nomor kontak yang dia beri nama Dimas, Tak butuh waktu lama, Panggilan itu langsung terhubung.
📱:Jemput saya sekarang. Papa dan mama sudah pergi
📱:Baik, Tuan. Saya akan segera kesana
Setelah itu, Alkan langsung memutuskan sambungan telponnya, Pria itu mengganti pakaiannya dengan menggunakan pakaian serta hitam, Topi hitam serta kaca mata hitam sudah menempel sempurna.
"Kita lihat saja, Pak Ari. Apa yang bisa saya lakukan terhadap anda. Bisa-bisanya selama ini mempermainkan papa saya. Akan saya pastikan, Anda menanggung apa yang sudah anda tanam selama ini" ucap Alkan dingin sambil mengepalkan kuat kedua tangannya. Entah apa yang saat ini menjadi rencana Alkan. Tapi yang pasti, Alkan tidak akan pernah membiarkan siapapun yang sudah berani mengusik kehidupannya.
__ADS_1