
"Kenapa tidak, Jika dulu ada Alena yang mau mengerjakan semuanya, Sekarang saatnya mama yang menggantikan semua pekerjaan itu"
Mendengar ucapan itu membuat Lina terdiam, Masih tidak menyangka jika anaknya akan mengatakan hal itu. Anak yang selama ini dia bangga-banggakan malah tega memintanya untuk melakukan pekerjaan yang tak seharusnya dia kerjakan.
"Tunggu apa lagi ma, Ayo cepat masak. Aku sudah sangat lapar ini" ucap Larisa lagi.
Akhirnya, Mau tidak mau, Lina melakukan apa yang baru saja Larisa perintahkan. Menggantikan tugas Alena yang selama ini tak pernah dia kerjakan.
"Larisa ini bener-bener ya, Masa nyuruh aku buat melakukan pekerjaan Alena. Tau gitu kemaren aku gak jadi menikahkan Alena dengan si Alkan" ucap Lina yang terlihat sangat kesal.
"Arrggghhh. dasar anak durhaka gak tau diri" umpat Lina sambil mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas.
Lina memghentakkan kakinya kesal sambil menyiapkan alat-alat masak yang dia perlukan kali ini.
Di dalam kamar
"Butuh juga gak ada si Alena di rumah ini. Biasanya jam segini makanan sudah siap, Aku bangun sudah tinggal makan doang.Lah sekarang aku harus kelaparan seperti ini karna mama juga belum masak"
Di saat teringat akan Alena, Membuat Larisa membayangkan apa yang saat ini sedang Alena rasakan.
"Huuh, Enak banget ya si Alena. Saat ini kan dia sudah menjadi bagian dari keluarga mera. Tapi sayang, Suaminya buta. Hahahha, Rasain kamu Alena, Bagaimana rasanya punya suami buta. Tampan sih, Tapi tidak berguna" ucap Larisa sambil tersenyum puas karna sudah berhasil membuat Alana menderita.
"Tapi kok aku belum puas ya, Aku harus bisa membuat Alena di benci oleh semua anggota keluarga itu, Termasuk suami dan juga mertuanya. Aku gak rela kalau harus liat Alena bahagia. Sampai kapan pun, Alena harus menderita" ucap Larisa lagi.
Entah apa yang membuat Larisa begitu membenci Alena, Tapi yang pasti, Ada satu hal yang membuatnya selalu ingin melihat Alena menderita. Iri, Ya, Satu kata yang tepat untuk Larisa. Rasa iri itu sudah membuat Larisa menaruh rasa tidak suka bahkan melakukan segala cara untuk bisa melihat Alena menderita seperti yang dia harapkan.
__ADS_1
"Kita lihat saja Alena, Aku akan tetap membuat hidup kamu tidak bisa bahagia" ucap Larisa lagi.
"Hanya ada satu cara agar aku bisa membuat hidup Alena menderita di keluarga Mera, Menikah dengan Kenzo. Ya, Satu satunya cara adalah aku harus bisa menikah dengan Kenzo.. Tapi bagaimana caranya, Jangan kan menikah, Melihat aku saja Kenzo sudah tidak mau" ucap Larisa sambil memikirkan cara yang pas untuk bisa menikah dengan Kenzo.
Tak berselang lama, Satu akal licik itu muncul dalam benak Larisa"Seperti nya aku harus mencoba rencana itu" gumam Larisa lagi sambil tersenyum.
*****
"Kemana wanita itu" ucap Alkan setelah keluar dari dalam kamar mandi.
Alkan menatap sekeliling kamarnya, Tidak ada siapapun di sana, Apalagi Alena. Pria itu menatap tempat tidur yang terlihat samar-samar namun Alkan bisa tau kalau tempat itu sudah rapi.
"Apa dia budeg atau gimana, Bukan kah tadi aku sudah bilang untuk menemani ku ke rumah sakit" ucap Alkan yang terlihat kesal.
Ceklek
Alena berjalan mendekat pada Alkan dan berniat untuk membantu pria itu untuk duduk di kursi di sana. Namun Alkan menolak dengan alasan yang langsung membuat Alena terdiam di sana.
"Aku bantu ya kak" seru Alena pelan.
"Tidak perlu, Kamu dengar ya, Biarpun saya pria buta, Tapi saya tidak mau bergantung sama orang lain, Apalagi parasit seperti kamu. Aku tidak sudi, Sama sekali tidak sudi" gumam Alkan dingin dan berlalu dari hadapan Alena.
Kata-kata itu terasa begitu menyakitkan. Kata-kata parasit membuat Alena terpaku di tempatnya.
"Ya allah, Beri aku kekuatan untuk menghadapi sikap suamiku yang begitu dingin dan begitu menyakitkan. Aku yakin, suatu saat nanti dia pasti bisa menerima aku sebagai istrinya" ucap Alena dalam batinnya.
__ADS_1
Tanpa Alena sadari, Ternyata ada Lina yang sejak tadi mendengar apa yang sudah Alkan katakan pada Alena. Mendengar itu membuat Sinta mengambil nafas panjang.
"Maafkan mama, Al. Maafkan mama yang sudah melibatkan kamu dalam kehidupan Alkanna. Tapi mama berharap, Kehadiran kamu dalam hidup alkan bisa membuatnya berubah seperti dulu lagi. Seperti saat di mana Alkanna masih memiliki rasa penyayang dan sikap yang begitu hangat. Gara-gara Alyssa, Semua sikap Alkanna dulu seketika berubah. Sampai kapan pun, Saya tidak akan pernah melupakan kejadian malam itu, Alyssa. Akan saya pastikan, Kamu mendapatkan karna atas semua ini" ucap Sinta dalam batinnya dan langsung berlalu dari depan kamar Alkana.
"Kamu siap-siap, 20 menit lagi kita berangkat ke rumah sakit" ucap Alkanna sambil menikmati makanan yang Alena bawa.
Pria itu begitu menikmati sarapan hari ini, Bahkan Alkanna menghabiskan semua makanan itu. Makanan yang ternyata adalah masakan dari Alena sendiri.
"Iya, Mas. Aku akan bersiap sekarang"
"Jangan pakek lama, Setelah saya selesai makan, Kamu sudah harus siap" ucap Alkan lagi.
Alena tak menjawab, Wanita itu hanya menatap Alkanna yang terlihat begitu menikmati masakannya. Tanpa sadar Alena mengangkat kedua sudut bibirnya. Entah kenapa merasa sangat bahagia saat suaminya terlihat menyukai masakannya.
"Bilang sama bibi, Nanti malam suruh buatkan aku makanan seperti ini lagi"
"Apa kamu menyukainya, Mas?" tanya Alena sambil menatap Alkanna.
"Tidak usah banyak tanya, Kamu hanya perlu melakukan apa yang saya perintahkan. Saya tidak suka orang yang suka banyak tanya"
Alena terdiam. Tak lagi menjawab apa yang baru saja Alkanna ucapkan. Yang penting Alena tau jika suaminya menyukai masakannya.
"Sepertinya mas Alkan tak perlu tau jika itu adalah masakanku, Yang penting dia menyukai apa yang aku buat. Setidaknya masakan ku bisa di terima dengan baik" ucap Alena sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
15 Menit kemudian, Alkanna dan Alena sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit, Melihat Alena dan Alkanna turun dari kamarnya dengan beriringan membuat Kenzo menundukkan wajahnya.. Dadanya terasa begitu nyeri saat melihat wanita yang masih begitu dia cintai bersama dengan kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana caranya aku melupakan kamu, Al. Sedangkan kita setiap hari akan bertemu seperti ini. Seharusnya aku yang ada di samping kamu, Bukan kakak ku" ucap Kenzo dalam batinnya sambil mengambil nafas pelan.