Ketika Takdir Yang Memilihku

Ketika Takdir Yang Memilihku
Tertipu


__ADS_3

Huufftt, Aku mengambil nafas panjang setelah mendengar apa yang di katakan oleh pak Ari, Tidak pernah menyangka jika Aisyah adalah anaknya. Apalagi tentang kecelakaan yang di alami Aisyah dua tahun yang lalu.


Selama ini, Aku memang bersahabat dengan Aisyah. Hanya saja aku tidak pernah tau siapa orang tuanya dan di mana tempat tinggalnya, Karna memang Aisyah anaknya cukup tertutup kalau soal kehidupan pribadinya. Sampai-sampai aku tidak tau jika Aisyah adalah anak dari salah satu sahabat dekat papaku.


Aku keluar dari tempatku dengan Dimas yang mengekor di belakangku, Kali ini aku meminta Dimas untuk mengantarku ke tempat pemakaman Aisyah yang ada di salah satu pemakaman umum di daerah jakarta selatan.


Di tengah perjalanan, Entah kenapa wajah Aisyah terus saja melintas dalam pikiranku. Hal itu tentu saja membuatku semakin merasa bersalah, Tak pernah berfikir jika Aisyah akan tekad melakukan hal yang tak seharusnya dia lakukan. Hal dimana dia harus kehilangan nyawanya. Sekarang aku baru sadar, Jika orang yang patah hati akan melakukan apa saja bahkan mengakhiri hidupnya sendiri tanpa pikir panjang.


Sejenak aku tersadar, Jika apa yang Aisyah lakukan cukup persis dengan apa yang aku lakukan satu tahun yang lalu, Tepatnya saat aku tanpa sengaja melihat serta mendengar wanita yang begitu aku cintai melakukan adegan panas dengan sahabat dekatku, Aditya.


Rasa kecewa itu memang bisa membuat seseorang gelap mata. Walaupun kecelakaan yang menimpaku tak semuanya murni karna kecelakaan, Tapi karna sabotase yang sudah di lakukan oleh pak Ari. Ayahnya Aisyah.


Dimas membawa mobil itu dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan aku hanya diam tak banyak bicara, Masih terbayang dan terngiang perkataan Aisyah yang mengutarakan perasaannya padaku.


Aku mencintaimu, Al. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku yang sudah salah mengartikan semuanya


Kata-kata itu kembali terngiang dan berhasil mengganggu pikiranku. Rasa bersalah itu semakin menggebu. Aku tidak pernah menyangka jika akan jadi seperti ini.


"Al, Kita sudah sampai" ucap Dimas sambil menepuk pelan pundakku.


Aku cukup terkejut. Karna memang selama perjalanan aku selalu terbayang akan kejadian di puncak, Hingga tanpa aku sadari, Kami sudah sampai di tujuan.


"Al, Are you oke?" tanya Dimas sambil kembali menepuk pelan pundakku

__ADS_1


Aku mengangguk sambil sekilas menoleh ke arahnya"I'm fine. Kamu mau tunggu di sini atau ikut ke sana?" tanyaku


"Ikut saja" jawabnya"Baiklah, Ayo turun" ucapku dan langsung turun dari dalam mobil.


Kami berdua berjalan beriringan menuju makamnya Aisyah. Dari arah jauh aku sudah bisa melihat nisan yang tertulis nama Aisyah ashari. "Kenapa aku baru sadar dengan nama panjang Aisyah" gumamku sangat pelan. Sehingga Dimas tak dapat mendengarnya.


Setelah tiba di sana. Aku menaburkan kelopak bunga mawar dan juga menyiramnya dengan air yang sengaja kita beli di perjalanan beberapa saat yang lalu. Melihat nisan itu entah kenapa tiba-tiba saja hatiku terasa sangat sakit. Aku terduduk lemas sambil mengusap batu nisan milik Aisyah...


"Maafkan aku, Aisyah. Maafkan aku yang sudah membuat kamu seperti ini. Aku tidak pernah menyangka jika kamu akan melakukan hal itu setelah mendengar jawaban yang aku berikan. Aku benar-benar minta maaf" ucapku lirih, Hingga tanpa sadar air mata itu jatuh begitu saja.


"Sudahlah, Al. Semua sudah berlalu. Kamu tidak perlu merasa bersalah, Ini memang sudah takdir yang di gariskan untuknya" ucap Dimas sambil menepuk pundakku pelan.


Mendengar itu membuatku mengangkat wajahku"Aku tau, Dim. Tapi semua ini juga karna ku. Jika saja waktu itu aku tidak menolak Aisyah, Mungkin hari ini dia masih hidup" balasku yang masih terus saja menyalahkan diri sendiri.


"Al, Tidak usah menyalahkan dirimu atas apa yang sudah terjadi padanya. Kamu tau kan, Jika takdir sudah memilihnya, Apa yang bisa kamu lakukan? Tidak ada. Kita sebagai manusia hanya perlu mengikuti alur skenario dengan semestinya. Serta menjalankan peran kita dengan sebaik mungkin. Sudahlah, Mungkin saat ini Aisyah sudah tenang di alam sana. Kamu hanya perlu mendoakan serta memaafkan kesalahan yang mungkin pernah dia lakukan"


Aku mengusap sisa air mataku, Menatap nisan Aisyah kembali. "Semoga kamu tenang di sana ya, Ai. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Buatku, Kamu bukan hanya seorang sahabat, Tapi juga sosok adik perempuanku" ucapku dan langsung bangun dari sana.


Di saat aku dan Dimas sudah mau pulang, Tiba-tiba saja suara yang cukup familiar menerpa indra pendengaranku. Mendengar suara itu membuatku menghentikan langkahku, Aku membalikkan tubuhku menatap ke arah sosok seorang pria paruh baya yang berdiri di ujung sana.


"Pak, Ari" ucapku sambil terus menatap pak Ari yang sedang berjalan mendekat.


"Untuk apa kamu kesini? Masih tidak puas melihat Aisyah seperti ini. Dengar ya Alkan, Saya tidak akan pernah memaafkan apa yang terjadi pada Aisyah. Dan satu hal yang harus kamu ingat, SAYA TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU HIDUP BAHAGIA!" ucapnya dengan penuh penekanan.

__ADS_1


*****


Tanpa terasa siang sudah berlalu. Malam datang dengan membawa sejuta keindahan di atas sana. Aku menatap ribuan bintang yang bertaburan dan terlihat sangat indah. Hingga tak berselang lama, Ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, Siapa lagi kalau bukan mama.


Tok...Tok ..Tokk ..


"Al, Apa mama boleh masuk?"


Suara itu membuatku berjalan cepat menuju tempat tidurku. Kembali berpura-pura menjadi seorang pria buta yang hanya bisa berdiam di atas ranjang. .


"Al, Apa kamu dengar mama" panggil mama lagi karna aku masih diam tak menjawab sepatah katapun.


"Iya, Ma. Masuk saja, pintunya tidak di kunci kok" jawabku


Mendengar perkataanku, Mama langsung membuka pintu kamarku, Berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"Al, Apa mama boleh bertanya sesuatu sama kamu?"


"Tanya apa, Ma. Tanya saja. Selama aku bisa menjawab pasti akan ku jawab" balasku sambil menatap lurus ke depan.


"Sudahlah tidak usah lagi berpura-pura buta, Mama tau kalau sebenarnya kamu sudah bisa melihat" ucap mama sambil menggenggam tanggaku. Entah dari mana mama bisa tau kalau sebenarnya aku sudah bisa melihat.


"Mama tau dari mana kalau aku sudah bisa melihat?"tanyaku sambil menatap mama.

__ADS_1


"Nah kan benar apa dugaan mama. Jadi kamu sudah benar-benar bisa melihat sayang?" ucap mama lagi dan langsung memelukku erat.


Astaga, Ternyata aku sudah tertipu. Mama sebenarnya tidak tau jika aku sudah bisa melihat. Hanya saja dia menebak dan membuatku mengatakan dengan sendirinya.


__ADS_2