
Jumat pagi yang sangat sibuk, hari ini ada perubahan jam masuk kuliah lebih awal dari biasanya karena dosenku ada kesibukan yang lain.
Akhirnya, Jam istirahat sudah tiba dengan perut yang sudah terasa lapar aku mengajak Lia untuk ke kantin.
Kantin favorit kami berada di belakang kampus, suasana kantin yang sedikit sunyi dan dinaungi oleh pohon-pohon yang tinggi rindang,makanannya yang lebih enak dan murah Menambah kenyamanannya.
Aku pergi lebih dulu kekantin, karena Lia ada yang harus diurus di bagian adminitrasi kampus, aku sangat merasa lapar sehingga aku tidak bisa ikut antri menemani Lia di bagian adminitrasi.
Aku berjalan sendiri kekantin, Aku memilih tempat duduk yang nyaman untuk bersantai dan mengisi perutku. Aku memesan makanan terlebih dahulu Dan sambil menunggu Lia aku mencek sosmedku yang dari semalam belum terbuka aku liat banyak sekali pemberitahuan di group sosmedku.
karena aku sibuk di rumah Pak Kasim dan perjalanan yang jauh membuatku sangat lelah malam tadi. Bahkan saat tidur malam pun aku tidak terbangun sama sekali saking lelahnya.
Tiba-tiba seseorang pria duduk di sampingku, betapa terkejutnya diriku. Ketika Ardi tiba-tiba berada dihadapanku.
Dia memang tau tempat favoritku karena aku pernah mengajaknya kekantin ini. Dan di kantin ini bebas bukan khusus untuk mahasiwa saja tapi banyak siswa SMA yang datang untuk makan disini.
aku tidak tau kalo dia mengikutiku dari tadi semenjak aku keluar kampus, atau dia sengaja menungguku di sini.
Aku diam saja saat melihatnya didepanku.
Aku tidak merasa senang sedikit pun saat bertemu dengannya, tapi tetap aku bawa santai seakan-akan aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sudah dia lakukan kepadaku.
Ardi memulai percakapannya, berbasa-basi tanpa aku tau tujuan sebenarnya dia apa datang menghampiriku di sini.
"Ard.hai santi apa kabar?" tanya Ardi kepada Santy.
"Santy.baik, ada apa kataku." jawab Santy
__ADS_1
"Ardi.kamu yakin baik-baik saja, aku liat wajah kamu begitu sedih dan seperti orang banyak pikiran. apa yang kamu pikirkan?" Ardi bertanya kepada Santy.
"Santy.owh begitu ya, tapi kayanya aku ngak mikirin apa-apa deh!" sahut Santy secara langsung.
Ardi pun langsung mengalihkan pembicaraan.dia memancingku untuk bisa mengungkapkan perasaanku dengan mengutarakan perasaannya.
"Ardi.aku rindu padamu?" kata Ardi kepasa Santy.
"Ardi.nomor hp mu ganti ya? Aku tiddak bisa menuhungimu lagi!" tanya Ardi lagi kepda Santy.
Padahal aku begitu merindukan mu San'. Ujar Ardi dengan wajah yang sedikit sendu memelas seolah-olah ucapannya itu benar bukan sebuh kebohongan.
"Santy iya."jawab Santy singkat.
Seandainya mukaku bisa diganti aku pun akan mengganti mukaku, supaya kamu tidak mengenaliku lagi dan aku terbebas darimu. Tambahku
Ardi mulai bercerita tentang masa kami pacaran dia mengigatkanku, kalo dia masih ingat makanan favoritku, tempat favoritku ini dan dia juga berkata sering lewat di depan rumahku tapi sengaja tidak mampir,
Aku pun langsung berpikir buat apa juga dia mampir kerumahku, mungkin dia sedikit depresi. Pikirku
Akupun langsung membalikkan kata-katanya, kesabaranku yang setipis tissu rasanya ingin meledak tapi tetapku tahan. Aku akan berpura-pura tidak tau apa-apa masalah santet dan guna-guna itu dan yang ada di dalam diriku, biarlah aku berobat dulu. Baru kemudian kita membalasnya. Dengan cara hidup yang lebih bahagia.
"Santy.apa kamu ingat apa yang telah di lakukan, atau berpura-pura lupa." tanyaku pada Ardi dan aku teruskan kata-kataku.
"Santy.Hanya mengingat hal indah tanpa ingat siapa yang merusaknya." ujarku kepada ardi.
Kamu mengertikan maksudku bahwa kamu yang sudah membut masalah.
__ADS_1
Lia pun akhirnya datang, Ardi dengan cepat pergi karena tidak mau berurusan dengan Lia.bahkan dia belum menjawab pertanyaanku.
"Lia.itu ardi ya? "tanya Lia keoada Santy.
"Santy.iya, tiba-tiba mengikutiku dan aku juga liat dia sering lalu-lalang di depan rumahku. Dan tadi dia mengatakan itu juga, bearti pandanganku masih jelas walau lampu jalanan sedkit kurang terang." unakap Santy kepada Lia.
Dan mamaku juga kenal dengan perawakan tubuh dan motornya. Tapi aku tidak menyangka kalo itu beneran Ardi
Mungkin selama ini dia penasaran kenapa guna-gunanya tak berhasil, dari waktu pacaran dia mengasihku makanan yang sudah di macam-macami, supaya aku menurut padanya, dan saat sudah putus dia ambil fotoku supaya aku mengejar-ngejarnya.
Aku percaya akan ilmu-ilmu semacam itu, tapi aku tidak terlalu memikirkannya aku hanya berdoa kepada Allah kalo memang dia jodohku mudahkan kalo bukan jauhkkan. Dan ini terbukti aku dijauhkan dengan cara mengetahui sifat aslinya.
Dan jodohku tidak mungkin menyakitiku. Dan yang mampu menyayangiku hanya diriku sendiri.
Aku tidak mau diriku terluka dengan memaksakan suatu hal yang salah.
Itulah prinsip dasarku dalam berpacaran. Kalo dari awal saja sudah berbuat jahat bagaimana saat kita berumah tangga nanti.
Aku dan Lia melanjutkan memesan makanan dan memakannya, karena move-on butuh tenaga dan sejenak melupakan masalah tentang ardi.
Aku fokus saja untuk menikmati hidup, bersenang-senang dan menemukan jodohku.
Lia yang melihatku lumayan lebih baik dari sebelumnya juga terlihat senang karena memang kami agak sulit untuk mencari pacar dan pacar pertamaku justru bukan orang yang baik.
Itu seperti pelajaran hidup untuk tidak melihat sesuatu dari casingnya saja.
Dan aku tidak ingin memiliki status pacaran lagi. Walaupun nanti ada yang ingin mendekatiku. Aku pastikan itu orang yang baik.
__ADS_1
Selesai makan dan beristirahat kami lanjut kekampus. Sebentar lagi pelajaran di mulai. Dan kami sedikit bergegas.