
Malam ini aku, Mbah Rasid, beserta mama dan aba aku, tidak tidur semalaman.
Mbah Rasid sengaja menunggu kiriman santet itu datang. Untuk mehalanginya dan menghilangkannya.
Untuk masuk kedalam tubuhku lagi.
Santet ini sengaja dikirimkan oleh Ardi dengan niat aku menjadi depresi, tak bisa aku bayangkan diriku yang semuda ini dan masih umur produktif ini akan dibuatnya ketawa-ketiwi di jalanan.
Tentu aku tidak akan mau itu terjadi, dan orang tuaku tidak akan membiarkan itu juga terjadi.
Aku sendiri sholat dan berzikir di kamarku agar aku terlindungi dan minta perjagaan kepada Allah.
Didalam doaku Semoga Mbah Rasid mampu menghalau datangnya sihir itu. Dan agar aku terbebas dari terornya Ardi.
Karena tidak main-main teror itu datang melalui alam gaib. Seandainya itu di dunia nyata aku tinggal lapor polisi dan masalah selesai.
Mama dan aba ku juga sholat di kamarnya, mereka tidak tidur semlaman mereka menghawatirkan diriku.
Aku tau ibuku sangat gelisah dan khawatir saat Mbah Rasid mengatakan bahwa Ardi akan mengirimi aku santet lagi malam ini.
Mbah Rasid dan asistennya sendiri berada di kamarnya.aku tidak tau ritual apa yang dilakukannya didalam tapi aku mencium bau kemenyan dari kamar tersebut.
Disaat aku tengah sholat, Pas tengah malam terdengar suara letupan dari atas rumahku, aku tidak tau itu suara berasal dari apa tapi tidak mungkin ada petasan,mana ada orang main petasan tengah malam. Aku mengabaikannya saja suara itu.
Tanpa memperdulikan suara itu aku fokuskan sholatku dan berzhikir saat itu,
Lepas subuh baru aku tertidur dan siang baru aku bangun. Karena bergadang semalam membuatku lelah dan sangat mudah terlelap.
Saat aku keluar kamar, aku liat Mbah Rasyd duduk di ruang tamu sendiri.
__ADS_1
Mungkin asisten beliau masih tidur, pikirku.
"Mbah Rasid.Santy sini dulu." panggil mbah rasyd.
"Santy.Aku pun duduk .ada apa Mbah?" tanya Santy kepada Mbah Rasyd.
"Mbah Rasid.Baru bangun" Tanya Mbah Rasid.
"santy.Geh Mbah. "Jawab aku
" Mbah Rasid.Lalu beliau bertanya apa ada hal aneh tadi malam?"
Karena aku yang baru bangun tidur belum terkoneksi dengan sempurna, aku mengigat kembali kejadian apa yang ada.
"Sajty.Malam tadi seperti ada suara letupan mbah di atas genteng tapi tidak tau berasal dari apa suaranya." Santy menjelaskan kepada Mbah Rasid.
"Mbah Rasid. Beliau hanya tersenyum."
Beliau lalu tersenyum lagi.
"Mbah Rasid.Nanti jodohmu itu orang sabar, tinggi dan hidungnya mancung."ujar Mbah Rasid kepada Santy.
" Santy.Kalo masalah rezeki mbah?" tanya Santy kepada Mbah Rasid
"Mbah Rasid.Kalo masalah rezeki, kalo kamu cari pasti dapat. Tapi ingat apapun yang di lakukan awali dengan membaca "basmalah".Jawab Mbah Rasid.
" Santy.Aku pun mengangguk".
Lalu Mbah Rasid menyuruhku mengambilkan segelas air. Dibacakannya air itu dengan doa-doa, lalu menyuruh aku untuk meminumnya.
__ADS_1
Mbah Rasid mengatakan kalo sore hari ini akan pulang kembali kekampung.
Sudah hampir satu minggu istri dan anaknya ditinggalkan.
Aku pun berinisiatif untuk memberikan oleh-oleh untuk istri dan anak Mbah Rasid di kampung.
Aku ambil HPku di kamar, kutelpon Evi untuk mengantarku ketoko pusat oleh-oleh.
Aku segera bersiap, sebentar lagi Evi datang dengan membawa motornya.
Tiiittttt... Tttiiittt... Suara klakson motor Evi di depan rumahku tanda Evi sudah sampai.
Aku langsung bergegas naik motor dan Evi lansung tancap gas ketoko pusat oleh-oleh yang cukup lengkap.
Sesampai di toko, aku ambilkan snack khas oleh-oleh di kota ini. Beberapa cemilan untuk dimakan di perjalanan nantinya oleh Mbah Rasid dan asistennya.
Dirasa sudah cukup banyak aku membeli. aku dan Evi pulang, diperjalanan aku bercerita kalo Mbah Rasid bisa membaca garis tangan. Dan aku tadi diramal oleh Mbah Rasid
Dan Evi bersemangat untuk kerumahku, karena ingin dibaca juga garis tangannya.
Sampai di rumah dengan rasa malu-malu Evi meminta dibacakan garis tangannya.
Tentang jodoh dan rezekinya.
Mbah Rasid pun membaca doa dan kemudian membaca garis tangan Evi.
Mbah berkata kalo suami Evi nanti orangnya ganteng, putih dan hidungnya mancung
Evi merasa senang mendengar hal itu.
__ADS_1
Tapi aku merasa aneh kok ciri-ciri yang disebutkan sama dengan ciri-ciriku.
Atau mungkin Mbah Rasid cuma bercanda supaya kami senang.