
Hari ini adalah hari yang kami nanti-nantikan. Hari berangkat untuk pergi study tour, sudah beberapa hari mengadakan persiapan dari baju seragam warna merah yang sama dan cemilan yang kami beli di minimarket.
pagi-pagi sekali aku dijemput Lia di rumah agar tidak terlalu ribet membawa motor. Dan dilanjutkan naik bus dari kampus
Di jalan Lia agak sedikit ragu bercerita kalo Ardi dan Yuni akan menikah dua minggu lagi. Lia mendapat undangan melalui fecebook yang di kirim ardi melalui inboxnya.
Dan untuk memastikan hal itu benar atau tidak Lia bertanya kepada teman-teman di hotel tempat kami magang dulu
Entah maksudnya apa. Setelah yang dia lakukan padaku, dan sekarang memberi undangan pernikahan kepada Lia, yang jelas-jelas itu sahabat aku. Dan seperti menyuruh Lia untuk memberitahu aku.
Aku berpikir Mungkin itu triknya supaya aku menjadi depresi dan ketawa-ketiwi di jalan. Makanya setelah mengambil fotoku difecebook dia mengejutkanku dengan berita pernikahannya.
Tapi aku tidak terkejut sama sekali Aku hanya ketawa dalam hati.
"Santy.Sorry ya imanku masih kuat jadi guna-gunamu tidak mempan." Ucap Santy dalam hati.
Aku dan Lia bersenang-senang menikmati study tour ini. Dengan musik yang disetel di bus, kami seperti berada di ruang karoke. Riuh karena satu kelas bernyanyi bersama.
Sepertinya Allah sudah mengabulkan doaku, aku begitu bersemangat rasanya, keceriaanku kembali dan badanku terasa ringan tanpa adanya beban.
Mungkin karena kebanyakan meliburkan diri saat kuliah aku tidak tau kalo ada mahasiswa baru.
Aku melihatnya duduk di kursi bus didepan, dibelakang para dosen-dosen
Karena aku dan Lia duduk dibagian belakang, kami ikut kelompok paling risuh. Kelompok yang paling anti jaim menurutku.
Tujuan pertama dari bus ini adalah sebuah musium daerah, dan kami sudah sampai di lokasi tersebut.
__ADS_1
Karena kehausan aku Turun dari bus, aku langsung menuju orang yang menjual air minum, sangat haus dan panas hawa di luar bus.
Saat aku antri membeli air, Lia mendatangiku bersama mahasiswa baru itu.
"Lia.Santy kenalin ini Robbi mahasiswa baru. " Ujar Lia memberitahu Santy.
"Santi. aku hanya senyum dan melambaikan tanganku." kapada Robbi
"Santy.Aku tidak menyangka Lia cukup kenal dengan mahasiswa baru ini. Atau jangan-jangan ini pacarnya Lia." Pikir Santy saat melihat Lia begitu akrab sama Robbi.
Aku pun langsung bertanya.
"Santy.Ini pacar atau gebetanmu lia?" Santy bertanya kepada Lia.
"Lia.Pengennya sih."Jawab Lia tapi saingannya berat, coba kamu tengok banyak yang melirik Robbi dari tadi.
Robbi, nama mahasiswa baru itu.
Orangnya bersih dan ganteng. Dia cuti selama beberapa tahun karena sibuk bekerja. Dan sekarang kembali kuliah karena dia bekerja di bagian night audit shiff malam. Jadi pagi bisa berkuliah.
Robbi pasti binggung karena aku baru hari ini terlihat.
Aku sebenarnya libur selama 1 bulan karena masalah kemarin. Tapi aku tidak mau cerita selain kepada Lia sahabatku dan hanya Lia yang tau betul kondisiku.
Selama diperjalanan Robbi ikut dalam kelompok kami, yang beranggota tujuh orang. Terdiri empat laki-laki dan tiga wanita.
Karena Robbi bisa dibilang yang paling ganteng di kelas dan juga mahasiswa baru, banyak mahasiswi yang melirik atau pun yang mencari perhatian kepadanya.
__ADS_1
Bahkan ada yang sengaja ingin bertukar kelompok kepadaku. Hanya karena ingin akrab dengan Robbi.
Kami berkeliling di musium dan banyak mencatat untuk meyelesaikan tugas kelompok, aku merasa Robbi selalu ada di dekat aku. Walau pun aku pindah posisi didekat teman laki-laki aku yang lain. Dan Robbi seperti memperhatikan setiap tingkah lakuku.
Setiap Robbi memperhatikanku, aku membalasnya dengan tersenyum dan mengangkat kedua alisku.
Dengan arti kode "Santy.ada apa Robb." kepada Robby.
Dan dia hanya membalas dengan senyuman juga.
Aku tidak ingin langsung salah tingkah seperti wanita-wanita yang lain.
Di kelas aku duduk berdekatan dengan Robbi.
Aku selalu membantunya dalam pelajaran kuliah karena aku kasihan dia selalu mengantuk saat jam kuliah.
Itu disebabkan karena dia kuliah sambil bekerja tadi, jadi malam dia bekerja jadi night audit. Pagi dia kuliah untuk mencari ijasah yang selama ini sudah tertunda beberapa tahun.
Diantara kasihan dan bangga melihatnya begitu berusaha. Itulah mengapa aku selalu membantunya di kampus.
Aku selalu mendengarkan keluh kesah Robbi, baik itu tentang pekerjaannya atau pun tentang kesehariannya.
dan sebagai gantinya aku selalu ditraktirnya makan di kantin.
Maklumkan ya... Karena dia sudah bekerja jadi uang jajannya lebih banyak dari pada kami yang hanya minta pada ortu.
Karena begitu dekat lama-lama muncul lah perasaan yang lain.kepada Robbi
__ADS_1